Problematika Ummat, Tarbiyah Sebagai Solusi


Tarbiyah IslamiyahSeorang ahli pikir Perancis bernama Dr. Gustave Le Bone mengatakan, “Dalam satu abad atau tiga keturunan, tidak ada bangsa-bangsa manusia dapat mengadakan perubahan yang berarti. Bangsa Perancis memerlukan 30 keturunan atau 1000 tahun baru dapat mengadakan suatu masyarakat yang bercelup Perancis. Hal ini terdapat pada seluruh bangsa dan umat, tak terkecuali selain dari umat Islam, sebab Muhammad El-Rasul sudah dapat mengadakan suatu masyarakat baru dalam tempo satu keturunan (23 tahun) yang tidak dapat ditiru atau diperbuat oleh orang lain” Yakinlah, Kemenangan itu Hanya Milik Islam Dalam al-Qur’an Allah  berfirman, ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali-’Imran(3): 110). ”Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (Qs. Muhammad(47): 35).

Yakinlah, kemenenangan itu hanya milik Islam. Pada zaman Rasulullah , sahabat, dan beberapa generasi sesudahnya selama 700 tahun ummat Islam menguasai dunia. Islam berkibar dari Ternate, India, Timur Tengah, Yugoslavia, Albania, Bulgaria, Yunani, bahkan hingga Spanyol. Ummat Islam mampu mengalahkan orang-orang kafir, bahkan dua kerajaan super power saat itu yaitu Romawi dan Persia. Semangat jihad ummat Islam begitu tinggi sehingga 200 ribu pasukan Romawi selama tujuh hari pertempuran tidak mampu mengalahkan pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Walid  yang berjumlah hanya tiga ribu orang. Dalam Perang Salib antara ummat Kristen dengan Ummat Islam yang terjadi beberapa kali dari tahun 1096 hingga 1291 untuk memperebutkan Palestina, hanya perang Salib pertama yang dimenangkan ummat Kristen. Setelah itu ummat Islam yang menang dan berkuasa hingga abad 20 sebelum akhirnya jatuh ke tangan Israel. Ketika perang Salib dan Raja Richard the Lion Heart sakit, tak ada satu dokter Eropa pun yang mampu mengobatinya. Justru Sultan Salahuddin Al Ayyubi yang menyelinap ke tenda Richard yang bisa mengobatinya. Ini sekaligus menjadi bukti keunggulan ilmu kedokteran Islam saat itu. Yakinlah, kemenenangan itu hanya milik Islam. Namun, realitas ummat Islam hari ini berada dalam belenggu-belenggu kebinasaan yang siap meluluhlantakkan mereka. Realitas yang menunjukkan adanya Baca lebih lanjut

Kekhalifahan dan Keutamaan Umar al-Faruq


Umar-Bin-Khattab

(Ilustrasi)

(102) Kemudian (kekhalifahan itu kami tetapkan) untuk Umar bin Khaththab—semoga Allah meridhainya.

Matan di atas adalah penggalan matan ke-102—dan masih akan dilanjutkan pada beberapa edisi mendatang, insya Allah. Seperti penggalan sebelumnya, matan ini menegaskan keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah tentang keutamaan para shahabat, khususnya yang disebut oleh Rasulullah sebagian calon penghuni surga, dan kali ini adalah al-Faruq Umar bin Khaththab. Akidah ini berbeda dengan akidah Syi’ah yang selain membenci Umar bin Khaththab, mereka juga menyatakan kefasiqan, kemunafikan, dan kekafiran beliau. Mereka pun menyebut beliau sebagai berhala Quraisy kedua setelah Abu Bakar ash-Shiddiq.

Gelar al-Faruq
Abu Umar Dzakwan berkata, “Kepada Aisyah aku bertanya, ‘Siapa yang menggelari Umar dengan al-Faruq?’ Baca lebih lanjut

Daurah Syar’iyyah bersama Syaikh Abdullah Az-Zaidani (Murid Syaikh al-Utsaimin rahimahullah)


books21-640x480Sehubungan dengan kedatangan Syaikh Abdullah Az-Zaidani (Murid Syaikh al-Utsaimin rahimahullah) ke Makassar,maka diundang kepada seluruh Kaum Muslimin, Ikhwah dan Akhwat untuk mengikuti Daurah Syar’iyyah pada Hari Selasa, 08 April 2014 mulai pukul 13.00 di Masjid Durul Hikmah (Belakang Kantor DPP Wahdah Islamiyah – Antang) yang akan membahas Syarah Qawaidh al Arba’ karya Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhab.

Sebarkan….!

Sumber Info : FB Ustadz Syaibani Mujiono

Ahlussunnah dan Pemilu


Ahlus Sunnah dan PemiluSalah satu kriteria ahlussunnahwaljamaa’ah adalah komitmen mereka terhadap sunnah dan kesatuan jamaah.

Olehnya itu seharusnya dalam menyikapi persoalan ummat seharusnya keberpihakan dan perhatian mereka kepada kemaslahatan ummat haruslah didahulukan.

Alangkah sedihnya untuk sebuah masalah “Pemilu” sikap ahlussunnah dan para tokohnya berbeda-beda. Tidak ada kesatuan visi, kebersamaan pandangan terhadap pentingnya keikutsertaan dalam pemilu. Semua pihak kokoh mempertahankan pendapat masing-masing dan “enggan” meninggalkan pendapatnya yang tentunya masih dapat dikompromikan untuk kemaslahatan ummat.

Apa jadinya ahlussunnah pada masa yang akan datang jika keadaan negara jauh lebih genting, di saat ahlulbathil berkuasa dan mencengkeramkan kuku-kukunya di wilayah Indonesia. Kalau untuk kasus pemilu saja ahlussunnah belum bisa melakukan koordinasi yang kuat, apalagi dalam agenda yang lebih besar…??? Baca lebih lanjut