Kesalahan Jalaluddin Rakhmat Terbongkar dalam Dialog Syiah di Makassar

7 01 2009

tree_ahlulbayt1Ketua Dewan Syura Jamaah Ahli Bait (Ijabi) Indonesia Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat (JR) tampil Sebagai pemateri tunggal dalam Dialog Muballigh dengan tema : “Syiah dalam Timbangan Alquran dan Sunnah”. Kamis Malam, 1 Januari 2009 di hotel horison Makassar.

Dedengkot Syiah Indonesia, yang biasa disapa Kang Jalal ini, memaparkan makalahnya dengan judul “Mengapa Kami Memilih Mazhab Ahlulbait as.?”.

Acara yang dilaksanakan oleh Lembaga Studi dan Informasi Islam (LSII) Makassar , yang diketuai Syamsuddin Baharuddin dan didukung ICC dan Ijabi ini dihadiri tiga asatidzah dari Wahdah, yakni Ust. M. Said Abd.Shamad, Ust. M. Ikhwan AJ, Ust. Rahmat AR dan beberapa ulama, cendekiawan dan muballigh Kota Makassar, di antaranya Prof. Dr. Rusydi Khalid, Prof.Dr. Ahmad Sewang, Prof.Dr. Qasim Mathar, Fuad Rumi, Das’ad Latif, DR.Mustamin Arsyad, MA .

Dalam sesi kedua, dialog yang dipandu oleh pengamat politik Islam UIN DR.Hamdan Juhannis ini, Ustadz Rahmat mendapat kesempatan pertama, mengutarakan argumen.

Ustadz yang merupakan Ketua Lembaga Kajian dan Konsultasi Syariah (LKKS) Wahdah Islamiyah ini, sebelum mengomentari makalah JR, mengatakan bahwa Ahlus Sunnah tidak pernah membenci Ahlul Bait, Ahlussunnah sangat paham terhadap Sunnah dan menjunjung tinggi wasiat Rasulullah untuk mencintai Ahlul Bait.

Dari makalah tersebut, Ustadz memberikan komentar tentang buku acuan yang dituliskan JR, “ini adalah suatu bentuk pengelabuan terhadap data, dalam pembicaraan tentang buku-buku yang diambil acuan ternyata tidak seperti apa yang dituliskan atau kurang menyimpulkan secara sempurna”.

Pembatasan Ahlul Bait hanya Ali, Fatimah, Hasan, Husain Radhiyallahu Ajmain
Misalnya, tentang pembatasan ahlul bait hanya Ali, Fatimah, Hasan, Husain Radhiyallahu Ajmain yang berkenaan dengan Surah Al Ahzab:33.

Disebutkan dalam makalah JR:
“Masih dari Ummu Salamah: Ayat ini-Sesungguhnya Allah…-turun di rumahku. Aku berkata:Ya Rasululah, bukannkah aku termasuk Ahlulbait?Beliau bersabda:Kamu dalam kebaikan. Kamu termasuk istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.. Ia berkata Ahlul bait adalah Ali, Fathimah, Al Hasan dan Al Husain. Kata Ibn Asakir:Hadits ini Shahih (Al Arbain fi Manaqib Ummil Mu’minin 106). Hadits-hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa ahlulbait itu tidak termasuk ke dalamnya istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Ketua Departemen Dakwah DPP Wahdah ini sambil memegang laptop yang dilengkapi dengan program Maktabah Syamilah (kumpulan ribuan kitab), menegaskan bahwa adanya pembatasan tersebut di atas tidak sesuai dengan apa yang ada dalam syarah Shahih Muslim yang bekenaan dengan hal tersebut. Ketika kita kembali kepada surahAl Ahzab:33, ayat ini justru turun kepada Istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Hadits yang menyebutkan pembatasan di atas sebenarnya tidak bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Zaid Ibnu Arqam Radhiyallalu ‘Anhu yang disebut juga dalam penjelasan JR sebelumnya.

“Said Ibnu Arqam Radhiyallalu ‘Anhu ditanya tentang siapa itu Ahlul Bait, apakah hanya khusus Ali, Fathimah, Al Hasan dan Al Husain? kata beliau Radhiyallalu ‘Anhu, bahwa istri-istri Nabi adalah ahlul bait beliau, kemudian siapa yang diharamkan memakan sedekah, beliau mengatakan alu ja’far, alu atiq, alu Abbas (HR.Muslim). Menurut Ustadz Rahmat bahwa semua itu dari keturunan bani Abdul Muttalib, dan tentu termasuk Istri-istri Nabi, sebab ayat tersebut memang turun untuk mereka.

Dari hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa JR hanya mengambil hadits yang mendukung pemahaman Syiah, tanpa melihat hadits shahih yang lainnya, sehingga mengambil kesimpulan pembatasan ahlul bait yang keliru.

Masalah Kepemimpinan Setelah Rasulullah jatuh ke tangan Ali Radhiyallalu ‘Anhu
Contoh kedua, tentang Ayat Wilayah (kepemimpinan) yang tercantum dalam makalah. Disebutkan pemimpin dalam alquran disebut ‘waliy”. Al Quran sudah memberikan petunjuk siapa yang sepatutnya dijadikan pemimpin setelah Allah dan RasulNya: Sesungguhnya pemimpin kamu itu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat dalam keadaan rukuk (Al Maidah:55). Berkata Ibn Abbas, Al Suddi, Utbah bin hakim dan tsabit bin Abdullah:yang dimaksud dengan orang-orang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat dalam keadaan rukuk adalah Ali bin Abi Thalib. Seorang pengemis lewat (meminta tolong) dan Ali sedang rukuk di Masjid. Lalu Ali menyerahkan cincinnya (tafsir al Tsa’labi 4:80).

Di antara rujukan yang dipakai JR dalam menetapkan sebab turunnya ayat ini adalah Tafsir Ibnu Katsir, namun setelah diperiksa ternyata Ibnu Katsir sendiri melemahkan riwayat yang menyatakan ayat ke 55 ini turun karena Ali ibn Abi Thalib dan menegaskan bahwa sebab turunnya ayat-ayat al-Maidah ini adalah untuk Ubadah ibn as-Shamit Radhiyallalu ‘Anhu.

Sebelumnya, Ibnu Katsir menjelaskan makna (wa hum raki’un), bahwa kalimat ini bukan menunjukkan keadaan bagi orang yang berzakat sebab jika demikian berarti berzakat dalam keadaan ruku’ lebih afdhal dari berzakat tidak dalam keadaan ruku’ dan tidak ada seorang ulama pun yang mengatakan akan hal itu. Namun sayang JR tidak menyebutkan komentar Ibnu Katsir untuk sebab turunnya ayat ini, metode penetapan yang dipakai menyiratkan bahwa Ibnu Katsir sepakat dengan mazhab ini padahal itu jauh panggang dari api. (Tafsir Ibnu Katsir, Qs. Al-Maidah:55)

Tidak Mengakui Kedudukan Hadits perintah untuk kembali kepada “Al Qur’an dan Sunnahku”.
Terakhir, komentar Ustadz Rahmat, tentang hadits kembali pada Al Quran dan Assunnah yang didhaifkan. Sayang JR tidak kembali ke perkataan al-Albani sebagaimana kuatnya, ia merujukkan hadits al-Qur’an dan al-Ithrah ke beliau, padahal al-Albani menshahihkan keduanya. (Hadits al-Kitab dan Sunnahku dishahihkan dalam Shahih at-Targib wat Tarhib, Hadits No. 40)

Hadits Itrati kalau dilanjutkan dalam As-Shahihah al-Albani sangat jelas mengatakan orang-orang Syiah menggunakan hadits ini untuk membenarkan mazhab Rafidhah dan hal itu sama sekali tidak benar, tidak seperti itu, beliau bantah dalam kitab tersebut, bahkan dalam mukaddimah kitab tersebut.

Kitab lain yang dipakai oleh JR dalam membenarkan mazhabnya adalah Kitab as-Shawaiq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajaral-Haitami, justru kitab itu untuk membantah Syiah, judulnya adalah: as-Shawaiq al-Muhriqah fi ar-Raddi ala Ahli ar-Rafdhi wa ad-Dhalali wa az-Zandaqah , ini bantahan Syiah yang “menuhankan” Ahlul Bait, namun sayang JR tidak jujur dalam mengambil pendapat-pendapat penulis.

“Seandainya ada waktu mengecek semua riwayat ini (dalam makalah JR), saya yakin bahwa riwayat-riwayat dalam buku tersebut, tidak seperti yang diinginkan Kang Jalal dalam Istidlalnya”, tegas Ustadz menutup komentarnya.

Pada kesempatan kedua, Ustadz Muh.Said Abd.Shamad, Lc mengutarakan komentarnnya. Ketua Dewan Syariah WI ini diawal pembicaraannya mengusulkan agar pembicaraan ini tuntas, “ Biar sampai jam 1 malam saya siap, karena kita mencari kebenaran”, katanya.

Ustadz juga sangat menyesalkan kepada panitia karena makalahnya tidak dibagikan sebelum hari H, sehingga tidak punya banyak waktu untuk mengkritisi.

Mencela dan Melaknat Sahabat Amr bin Ash
Pada sisi yang lain, Ustadz mengingatkan tulisan Supha Atana pada konferensi Syiah di Makassar beberapa waktu lalu, yang berjudul “Mahzab Cinta dan Akhlak” yang banyak memuji JR sebagai Ulama dan Cendikiawan yang paling intens membicarakan dan menganjurkan Mahzab Cinta dan Akhlak. Supha Atana yang sekarang Pimpinan Iran Corner Unhas mengatakan juga bahwa andaikata tidak karena cinta dan akhlak maka setiap hari kita akan mengkafirkan orang lain.

Dan dalam forum malam ini JR mengemukakan hadits yang menurutnya sudah banyak dilupakan oleh kaum muslimin, yaitu bahwa darah kamu, harta kamu dan kehormatan kamu diharamkan dan tidak boleh dirusak . Ungkapan di atas sangat bertolak belakang sekali dengan tulisan JR dalam bukunya terbitan 2008 yang lalu yang sangat mempermalukan dan mengkafirkan Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam buku tersebut JR menyebut Sahabat Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu sebagai anak haram yang tidak diketahui bapaknya secara pasti dan dia sangat banyak dilaknat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Siapa yang dilaknat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berarti dilaknat oleh Allah.

Ternyata kitab rujukan JR adalah kitab golongan Syiah yang memang sangat membenci Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sangat banyak memalsukan keterangan-keterangan dengan dalil-dalil yang lemah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga Imam Syafii mengatakan bahwa golongan yang paling berani dan paling banyak membuat kepalsuan dan dusta ialah golongan Syiah.

Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memuji Amr bin Ash dengan sabdanya: Manusia sekedar masuk Islam, tapi Amr Bin Ash masuk Islam dengan iman (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Tirmidzi). Juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Kedua anak al Ash (termasuk Amr bin Ash) adalah orang berimannya Qurais. Beliau masuk Islam dalam perjanjian Hudaibiyah kemudian ditugaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memimpin tentara Islam dalam perang Dzat al salasil dan selanjutnya ditugaskan sebagai penguasa di Oman. Beliau terkenal sebagai Panglima Islam yang banyak merebut daerah-daerah baru termasuk Palestina dan sekitarnya serta negeri Mesir, maka beliau ditunjuk sebagai Gubernur di Mesir oleh Muawiyah RA pada tahun 38 H. Beliau meriwayatkan 39 hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (lihat Nushatul Muttaqin Syarah Riyadul Shalihin Hal.1324). Oleh karena itu Ustadz Said meminta JR mempertanggung jawabkan tulisannya dengan dalil yang Shahih.

Mengkafirkan Sahabat Muawwiyah Radhiyallahu ‘Anhu
Selanjutnya, JR menulis tentang Sahabat Muawwiyah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia itu bukan saja fasik bahkan Kafir menurut riwayat versi Syiah. Ustadz Said sangat tersinggung akan hal tersebut.

Kata Ustadz, Muawiyah, iparnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan penulis wahyunya. Mungkinkah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memilih orang yang berjiwa kafir sebagai Penulis Wahyu? Juga Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu ditunjuk oleh Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu dan sesudahnya Khalifah Utsman juga menunjuk sebagai Gubernur di Syam. Bahkan beliau menjabat sebagai Khalifah sesudah Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘Anhu sekitar 20 tahun. Beliau meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebanyak 130 (lihat Nushatul Muttaqin Syarah Riyadul Shalihin Hal.1330).

Dan ternyata Muawwiyah Radhiyallahu ‘Anhu telah didoakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Ya Allah jadikanlah iya orang yang memberi petunjuk, orang mendapat petunjuk dan berilah petunjuk manusia dengannya (Hadits Shahih riwayat at Tirmidzi). Begitu banyak kelebihan Muawiyah yang tidak dapat disebut satu per satu dapat kita lihat diantaranya dalam kitab al ‘awashim min al qawasim hal.202-210 karangan al Qadhi Abi Bakr al Arabi

Bukan itu saja bahkan JR menulis dari sumber yang sama bahwa Muawiyah itu tidak senang mendengar nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selalu disebut dalam Adzan dan menganggapnya sebagai tanda bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat ambisius karena tidak senang kecuali namanya digandengkan dengan nama Allah Rabbul Alamin.

Beginikah Mahzab cinta dan akhlak?dan beginikah menjaga kehormatan kaum muslimin?

“Kami, Pak Jalal, sangat sakit hati kalau keluarga kami dicela, apalagi dikatakan anak haram, dan dikafirkan. Tapi kami lebih sakit hati lagi kalau Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dikatakan anak haram, tidak ditau orangtuanya, dikatakan kafir”, Ungkap Ustadz dengan nada sedikit tinggi.

Lanjut Ustadz, Kalau tulisan JR yang berdasarkan keterangan yang lemah tersebut diterima, berarti kita mendustakan al Quran dan Hadits yang Shahih yang sangat banyak memuji para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan juga dapat berdampak kita meragukan al Qur’an yang telah dikumpulkan oleh para Sahabat dan juga menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mampu mendidik para Sahabatnya dengan baik. Naudzu Billahi min Dzalik dan sangat mengherankan JR sampai hati menulis tentang Sahabat dengan secara keji.

Ustadz sempat membacakan surah al Fath ayat 29: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir”, Imam Malik mengatakan, orang-orang Syiah yang benci terhadap Sahabat adalah orang kafir berdasarkan ayat ini.

Fathimah Melaknat Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu (Pada akhirnya dikatakan Rasulullah dan Allah Melaknat Abubakar)

Dalam buku kecil yang memuat ceramah Asyura, JR mengatakan bahwa Fatimah Radhiyallahu ‘Anha telah mengutuk Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu karena tidak memberikan kepadanya harta peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hal tersebut dibenarkan oleh JR berdasarkan hadits bahwa Fathimah itu adalah bahagian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa yang menjadikan Fathimah murka berarti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga akan murka dan melaknatnya dan apa yang dilaknat oleh Rasul berari dilaknat oleh Allah. Lalu JR membaca ayat surat al ahzab ayat 58.

Ustadz Said mengatakan bahwa sebenarnya Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu tidak memberikan harta peninggalan tersebut karena berdasarkan hadits yang shahih bahwa para Nabi itu tidak diwarisi, harta yang dia tinggalkan adalah menjadi sedekah (Hadits Bukhari Muslim).

Dan dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Fathimah telah memaafkan Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu diahir hayatnya, setelah Abubakar datang menjenguknya dan meminta ridhanya (Hadits Riwayat Baihaqi dengan sanad yang kuat, lihat albidayah wa al Nihayah Juz V Hal.253)

Di akhir sesi dialog, Ustadz Said dengan lantang menantang JR untuk berdiskusi pada waktu yang lain dan menegaskan bahwa Sunni-Syiah tidak akan mungkin dapat dipertemukan. Alasannya karena Sunni sangat menghormati Sahabat Abubakar, Umar, dan Ustman dan Ali Radhiyallahu ‘Anhu Ajmain, sedangkang Syiah hanya mengakui Syaidina Ali Radhiyallahu ‘Anhu dan sangat mencerca tiga sahabat sebelumnya serta menganggap bahwa melaknat seluruh Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selain ahli bait dan pengikutnya, sebagai ibadah.

Lain halnya dengan Ustadz Ikhwan yang menjadi penanggap berikutnya, Ustadz memulai dengan sedikit nostalgia pada masa SMU, terkesan dengan buku karangan JR yang berjudul Islam Alternatif, “lama-kelamaan saya menyadari barangkali yang dimaksud JR Islam alternatife itu adalah Syiah”, ungkap Ustadz dengan nada bertanya.

Komentar Wakil Ketua Umum DPP WI ini selanjutnya, tentang ketertarikannya dengan ungkapan JR mengenai orang Syiah yang ahlul wara wal wafa, orang yang obyektif dan adil dalam memberi penilaian. Ustadz sedikit terusik, dikatakan JR dalam bukunya bahwa Imam Adzahabi menulis Mizanul I’tiqadi untuk memberi komentar kepada perawi dhaif.

Lanjut Ustadz, justru dalam mukaddimah Mizanul I’tiqadi diungkapkan bahwa, Imam Adzahabi mengatakan “saya tidak mengatakan semua yang saya sebutkan dalam buku saya, adalah perawi-perawi dhaif, tetapi orang-orang yang dianggap dhaif”. Maka dapat dikatakan itu adalah mizan (timbangan), apakah benar itu dhaif atau tidak.

“Makanya saya semakin terusik lagi ketika sempat membaca kitab al Mustafa pada bagian masa muda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Pak Jalal di situ mengomentari seseorang yang sangat terkenal, Sufyan Ats Sauri disebut :yudallis (mengelabui) wayaktubu anil kadzabin (pembohong). Saya merasa terheran-heran karena sebelumnya saya pernah membaca tahzibut tahdzib Ibnu hajar, sebagian ulama mengatakan bahwa beliau adalah amirul mukminin fil hadits. Di buku Mizanul I’tidal Di buku Mizanul I’tidal, ternyata Sufyan Ats Tsauri adalah al Hujjah Ats Sabtu (Sumber yang dipercaya), ada kata yang tidak dimasukkan kang jalal, saya tidak tahu apakah itu kutipan langsung atau kutipan antara dari kitab sirah an nabi al a’dham.

Dikatakan bahwa: Laa ‘ibrata liman qala innahu yudallis (mengelabui) wayaktubu anil kadzabin, yang artinya : tidak ada atau tidak dianggap (ini kata yang tidak dimasukkan), orang yang mengatakan bahwa ats Tsauri melakukan tadlis dan menulis dari orang-orang dusta. Sekali lagi saya tidak tahu dan saya tidak ingin menghakimi di sini apakah Pak Jalal menyengajakan diri mengutip atau tidak membaca”, terang Pengurus MUI Kota Makassar ini.

“Saya berharap bahwa kita dapat berjumpa di dalam media yang lebih tepat, dalam dialog yang lebih sehat dan dalam ruang yang lebih obyektif”, tutup Ustadz dalam komentarnya.`

Senada dengan Asatidzah Wahdah, Dr.Hj.Amrah Kasim, MA, Dosen UIN Alauddin Makassar di awal komentarnya menyatakan penolakannya terhadap ajaran Syiah. Lulusan Al Ahzar Kairo ini pernah menanyakan ke Ulama-ulama Al Ahzar, kenapa referensi Syiah tidak diajarkan di kampus yang dikenal menara ilmu ini. Lalu Ulama-ulama Al Ahzar menjawab: “Ya Binti, nahnu nuhibbu Rasulallah wa Ahlal Bait, wa lakin laa natasyayya’ ”, disambut teriakan Alllahu Akbar dari beberapa peserta, artinya: kami mencintai Rasulullah dan Ahlul Bait dan kami tidak bersyiah. “Sikap saya seperti itu juga, saya mencintai Rasulallah, Ahlul Bait tapi saya tidak bersyiah”, tegas yang mengaku Azhary ini di dalam forum itu.

Kesalahan Fatal Menerjemahkan Penggalan Surah Al Maidah:55 dan Surah Al Ahzab:33
Yang kedua, yang dikomentari Direktur Pesantren Putri IMMIM Makassar ini setelah menyimak buah-buah pikiran JR. Kesalahan fatal JR dalam penerjemahan surah al Maidah:55 dalam penggalan ayat, …innama waliyyukum…. “ , suatu kekeliruan menerjemahkan innama menjadi sesungguhnya. “innama itu, tidak bisa diterjemahkan sesungguhnya di situ, itulah salah satu perilaku orang Syiah dalam membelokkan makna ayat untuk kepentingannya”, jelas Istri Doktor Tafsir Al Ahzar, DR.Mustamin Arsyad MA ini.

Berikutnya, yang fatal sekali, tidak dimasukkannya Istri Nabi dalam Ahlul Bait. “Keluarnya zaujati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Ahlul Bait, saya pikir ini adalah suatu kekeliruan besar (disambut ucapan Allahu Akbar dari Ustadz Said). Saya banyak mengkaji buku-buku Syiah, memang metodenya sama, banyak membelok-belokkan makna ayat “, tegasnya lagi.

Sementara itu, JR dalam jawabannya mengakui kesalahannya, termasuk tanggapannya terhadap Dr. Hj. Amrah, tentang kesalahannya dalam menerjemahkan Al Qur’an surat Al Maidah: 55, JR minta maaf.

Sebagai kesimpulan dari dialog tersebut, JR yang terpojok dialog ini akhirnya berkilah kalau dirinya bukan syiah, “Saya cinta ahlul bait, dan Saya tidak jadi Syiah, (lalu dilanjut) tapi Syiah menurut definisi saya, dan itu definisi yang diajarkan oleh para iman ahlul bait kami,” kilah JR. Meskipun dari ucapan itu dapat dipahami hanyalah kedok semata, sebab selama ini JR selalu mengagung-agungkan mazhab Syiah, termasuk banyak mengangkat referensi syiah, bahkan JR dianggap sebagai pelopor Syiah di Indonesia.

Sebagai penguat, kami kutip dua sms dari salah seorang tokoh dan pengamat Islam yang hadir malam itu ke asatidzah Wahdah:

“TADI MALAM, IJABI LAKSANA MULAI MENGGALI LUBANG KUBURNYA SENDIRI. MESKIPUN TAMPAKNYA MEREKA TDK MENYADARI DAN BOLEH JADI JUSTRU SEBALIKNYA.”

“ ALHAMDULILLAH. SAYA TERINGAT, SEBGMNA KETIKA BUKU ISLAM ALTERNATIF DITIMBANG O/ORG DEWAN DAKWAH, KETIDAKJUJURAN (KELICIKAN?) KG JALAL SEMALAM, KEMBALI TERULANG-PAMER REFERENSI. TAPI MENGUTIP SEC TIDAK FAIR. SMOGA KG JALAL MAU MENYADARINYA. WALLAHU A’LAM”

Kepada para pengagum dan pengikut JR agar tidak menelan mentah-mentah pemikiran JR, yang banyak mengambil dalil dan pendapat Ulama Ahlussunah secara sepotong-potong yang “menguntungkan” mazhabnya sendiri, namun perkataan yang membantah mazhab tersebut dari ulama yang sama tidak akan dikutip bahkan meskipun datang dalam konteks dan rujukan yang sama. Semoga Allah menunjuki kita semua jalan yang lurus dan mengembalikan ke jalan lurus itu orang-orang yang tersesat dan menyimpang.

Sumber ; Wahdah.or.id


Tindakan

Information

113 tanggapan

10 01 2009
ibnukus

wah…ini baru info yang sangat bagus…boleh ya saya sebarkan?

10 01 2009
Edi Hendri M

Salam.
Biar adil, jujur dan transparan sebaiknya blog Anda memuat lengkap makalah Kang Jalan dan tanggapan belaiu terhadap kritik pembahas pada seminar/dialog tersebut. Kalau tidak, blog (Anda) tidak jujur dan tentu saja tidak Islami!

10 01 2009
Edi Hendri M

MOHON DITANGGAPI ARTIKEL BERIKUT

Hadis-Hadis Ahlus-Sunnah tentang Kekafiran Sebagian Sahabat Sepeninggal Rasulullah saw

Definisi kekafiran

Perkataan “kekafiran” adalah pecahan dari perkataan “kafir”. Menurut Kamus Dewan, perkataan “kekafiran” memberi pengertian sifat-sifat kafir. Dan kafir adalah orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Sementara perkataan “mengkafirkan/ mengafirkan” berarti menganggap kafir/mengatakan kafir (Kamus Dewan, Kuala Lumpur,1991, hlm.514). Perkataan “murtad” berarti seorang keluar dari agamanya, tidak setia kepada agamanya (Kamus Dewan, Kuala Lumpur,1991, hlm.846) Justeru itu orang Islam yang menjadi kafir atau murtad adalah orang yang keluar agama Islam.
Kajian mengenai para sahabat yang telah menjadi kafir-murtad selepas kewafatan Nabi (Saw.) amat mencemaskan, tetapi hal itu suatu hakikat yang tidak dapat dinafikan oleh siapa pun karena ia telah dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka di mana kedua dua kitab tersebut dinilai oleh Mayoritas umat Islam sebagai kitab yang paling Sahih selepas al-Qur’an. Di samping itu ia juga telah dicatat oleh pengumpul-pengumpul Hadis dari mazhab Ahlu l-Bait (a.s) di dalam buku-buku mereka.
Amatlah disesali bahwa sebagian tokoh ahlussunnah terutama kaum Wahabi (yang berwawasan sempit) yang mengklaim sebagai penegak as-Sunnah senantiasa mempropagan-dakan sentimen anti Syi‘ah dengan slogan “Syi‘ah mengkafirkan para sahabat” bagi mendapatkan sokongan orang ramai kepada gerakan mereka, dan pada saat yang sama hendak menjauhkan umat dari dakwah syi’ah yang sebenarnya mengajak umat kepad sumber Islam yang asli yakni al-Quran dan Ahll l-Bait Nabi (as). Walau bagaimanapun tulisan ringkas ini sekadar mengajak mereka menelaah kitab-kitab hadist kebanggaan mereka (al-Bukhari dan Muslim) untuk menyingkap hakikat sebenarnya serta menjawab tuduhan tersebut, dan tidak sekali-kali bertujuan meresahkan kaum Muslimin di rantau ini.
Sekiranya al-Bukhari dan Muslim telah mencatat kekafiran mayoritas para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) di dalam Sahih-Sahih mereka, kenapa kita menolaknya dan melemparkan kemarahan kepada orang lain pula? Dan jika mereka berdua berbohong, merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah (swt). Dan jika kita Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya kita menerimanya. Jika tidak, kitalah Ahli anti Sunnah/Hadis Nabi (Saw.)

Definisi sahabat
Berbagai pendapat mengenai definisi sahabat telah dikemukakan. Ada pendapat yang mengatakan: “Siapa pun yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya dari orang-orang Islam, maka ia adalah dari para sahabatnya.”
Definisi inilah yang dipegang oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm.1). Sementara gurunya Ali bin al-Madini berpendapat: Siapa pun yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya, sekalipun satu jam di siang hari, adalah sahabatnya (Ibid). Manakala al-Zain al-Iraqi berkata: “Sahabat adalah siapa pun yang berjumpa dengan Nabi sebagai seorang Muslim, kemudian mati di dalam Islam.” Said bin Musayyab berpendapat: “Siapa pun yang tinggal bersama Nabi selama satu tahun atau berperang bersamanya satu peperangan.”
Pendapat ini tidak boleh dilaksanakan karena hal itu mengeluarkan sahabat-sahabat yang tinggal kurang dari satu tahun bersama Nabi (Saw.) dan sahabat-sahabat yang tidak ikut berperang bersamanya. Ibn Hajar berkata: “Definisi tersebut tidak boleh diterima(Ibn Hajr, Fath al-Bari, viii, hlm.1)
Ibn al-Hajib menceritakan pendapat ‘Umru bin Yahya yang mensyaratkan seorang itu tinggal bersama Nabi (Saw.) dalam masa yang lama dan “mengambil (hadist) darinya (Syarh al-Fiqh al-‘Iraqi,hlm.4-3) Ada juga pendapat yang mengatakan: “Sahabat adalah orang Muslim yang melihat Nabi (Saw.) dalam masa yang pendek(Ibid).
Kedudukan para sahabat
Kedudukan para sahabat dibagi kepada tiga:
1. Sahabat semuanya adil dan mereka adalah para mujtahid. Ini adalah pendapat Ahlu s- Sunnah wa l-Jama‘ah.
2. Sahabat seperti orang lain, ada yang adil dan ada yang fasiq karena mereka dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Justeru itu yang baik diberi ganjaran karena kebaikannya.Sebaliknya yang jahat dibalas dengan kejahatannya.Ini adalah pendapat mazhab Ahlu l-Bait Rasulullah (Saw.) /Syi‘ah/Imam Dua belas.
3. Semua sahabat adalah kafir-semoga dijauhi Allah-. Ini adalah pendapat Khawarij yang terkeluar dari Islam.
Dikemukan dibawah ini lima hadis dari Sahih al-Bukhari (Al-Bukhari, Sahih, (Arabic-English), by Dr.Muhammad Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Medina al-Munawwara, Kazi Publications, Chicago, USA1987, jilid viii, hlm.378-384(Kitab ar-Riqaq,bab fi l-Haudh)dan enam hadis dari Sahih Muslim Muslim,Sahih, edisi Muhammad Fuad ‘Abdu l-Baqi, Cairo,1339H,

Terjemahan hadis-hadis dari Sahih al-Bukhari

1. Hadis no.578.Dari Abdullah bahwa Nabi(Saw.) bersabda:Aku akan mendahului kamu di Haudh dan sebagian dari kamu akan dibawa di hadapanku.Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Aku akan bersabda: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi).Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)
2. Hadis no.584.Dari Anas dari Nabi (Saw.) bersabda: Sebagian dari sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai/Kolam Susu) sehingga aku mengenali mereka,lantas mereka dibawa jauh dariku.Kemudian aku akan bersabda: Para sahabatku(ashabi)! Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdatsu ba‘da-ka)
3. Hadis no.585.Abu Hazim dari Sahl bin Sa‘d dari Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh.Dan siapa yang akan melaluinya akan miminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya. Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali, dan mereka juga mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka.Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi ‘iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah mendengar sedemikian dari Sahl? Aku menjawab: Ya.Aku naik saksi bahwa aku telah mendengar Abu Sa ‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah:Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah dariku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka Aku akan bersabda: Jauh!Jauh! (dari rahmat Allah) /ke Neraka mereka yang telah mengubah/menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (suhqan suhqan li-man ghayyara ba‘di) ”
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan dari para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat.kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda:Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi).Dijawab:Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la ‘ilma la-ka bima ahdatsu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy)
4. Hadis no.586.Dari Ibn Musayyab bahwa Nabi (Saw.) bersabda: Sebagian dari para sahabatku akan mendatangiku di Haudh, dan mereka akan dipisahkan dari Haudh.Maka aku berkata:Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku (ashabi), maka akan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka.Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad ke belakang selepas anda meninggalkan mereka (inna-hum irtaddu ba ‘da-ka ‘ala Adbari-ka l-Qahqariyy)
5. Hadis no.587. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi (Saw.) bersabda: Manakala aku sedang tidur,tiba-tiba sekumpulan (para sahabatku) datang kepadaku.Apabila aku mengenali mereka,tiba-tiba seorang lelaki(Malaikat) keluar di antara aku dan mereka. Dia berkata kepada mereka :D atang kemari.Aku bertanya kepadanya:Ke mana? Dia menjawab: Ke Neraka, demi Allah. Aku pun bertanya lagi: Apakah kesalahan mereka? Dia menjawab: Mereka telah menjadi kafir-murtad selepas kamu meninggalkan mereka( inna-hum irtaddu ba‘da-ka ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Justeru itu aku tidak melihat mereka terselamat melainkan (beberapa orang saja) sepertilah unta yang tersesat/terbiar dari pengembalanya(fala ara-hu yakhlusu min-hum illa mithlu hamali n-Na‘ am).
Terjemahan hadis-hadis dari Sahih Muslim
1. Hadis no.26. (2290) Dari Abi Hazim berkata: Aku telah mendengar Sahlan berkata: Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Siapa yang melaluinya, dia akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya, dia tidak akan dahaga selama-lamanya. Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku (para sahabatku). Kemudian dipisahkan di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata: Nu‘man bin Abi ‘Iyasy telah mendengarnya dan aku telah memberitahu mereka tentang Hadis ini. Maka dia berkata: Adakah anda telah mendengar Sahlan berkata sedemikian? Dia berkata:Ya.
(2291) Dia berkata:Aku naik saksi bahwa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri menambah:Dia berkata:Sesungguhnya mereka itu adalah dariku(inna-hum min-ni).Dan dijawab:Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka).Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda:Jauh !Jauh! (dari rahmat Allah)/ke Neraka mereka yang telah mengubah/menukarkan (hukum Tuhanku dan Sunnahku) selepasku ( Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di)
2. Hadis no.27 (2293)Dia berkata:Asma‘ binti Abu Bakar berkata:Rasulullah (Saw.) bersabda:Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu(man yaridu ‘alayya min-kum).Dan mereka akan ditarik dengan pantas (dariku), maka aku akan bersabda:Wahai Tuhanku!Mereka itu dari (para sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab:Tidakkah anda merasai/menyedari apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)?Demi Allah, mereka senantiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka(Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un ‘ala a‘qabi-him)Dia berkata:Ibn Abi Mulaikah berkata: “ Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan dariMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”
3. Hadis no.28.(2294) Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi): Aku akan menunggu mereka di kalangan kamu yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik dengan pantas dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka). Mereka senantiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) (Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him)
4. Hadis no.29(2295)Dari Abdullah bin Rafi‘; Maula Ummi Salmah;isteri Nabi (Saw.)Rasulullah (Saw.) bersabda:Sesungguhnya aku akan mendahului kamu di Haudh. Tidak seorang dari kamu(para sahabatku) akan datang kepadaku sehingga dia akan dihalau/diusir dariku(fa-yudhabbu ‘anni) sebagaimana dihalau/diusir unta yang tersesat(ka-ma yudhabbu l-Ba‘iru dh-Dhallu).Aku akan bersabda:apakah salahnya? Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)Maka aku bersabda:Jauh!(dari rahmat Allah) (suhqan).
5. Hadis no.32(2297) Dari Abdillah, Rasulullah (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh.Dan aku akan bertelagah dengan mereka (aqwaman).Kemudian aku akan menguasai mereka. Maka aku bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku. Mereka itu adalah para sahabatku (Ya Rabb!Ashabi,ashabi). Lantas dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)
6. Hadis no.40.(2304)Dari Anas bin Malik bahwa Nabi (Saw.) bersabda:Akan datang kepadaku di Haudh beberapa lelaki(rijalun) dari mereka yang telah bersahabat denganku(mimman sahabani) sehingga aku melihat mereka diangkat kepadaku. Kemudian mereka dipisahkan dariku.Maka aku akan bersabda:Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku.Mereka adalah para sahabatku (Usaihabi) Akan dijawab kepadaku: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka).
Perkataan-perkataan yang penting di dalam hadist-hadist tersebut.

Dari hadis-hadis di atas kita dapati al-Bukhari telah menyebut perkataan:
a. As-habi (para sahabatku) secara literal sebanyak empat kali
b. Inna-ka la tadri/la ‘ilma la-ka ma ahdatsu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan/diada-adakan (ahdatsu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) sebanyak tiga kali.Perkataan ahdatsu berarti mereka telah melakukan bid‘ah-bid‘ah/inovasi yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah nabi (Saw.).
c. Inna-hum Irtaddu (Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad) sebanyak empat kali.
d. Suhqan suhqan li-man gyayara ba‘di (Jauh! Jauh! (dari rahmat Allah)/ke Nerakalah mereka yang telah mengubah/menukarkan-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali.perkataan “Ghayyara” berarti mengubah/ menukarkan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
e. Fala arahu yakhlusu minhum mithlu hamali n-Na‘am (Aku tidak fikir mereka terselamat melainkan (beberapa orang saja) sepertilah unta yang tersesat/terbiar dari pengembalanya) satu kali.

Sementara Muslim telah menyebut perkataan:

a. Ashabi (para sahabatku) secara literal satu kali.
b. Ashabi-hi (para sahabatnya) satu kali,
c. Sahaba-ni ( bersahabat denganku) satu kali
d. Usaihabi (para sahabatku) dua kali.
e. Innaka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka (sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdatsu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali.
f. Inna-ka la tadri/sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui/menyedari apa yang dilakukan (ma ‘amilu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali .Perkataan “Ma ‘amilu”(Apa yang dilakukan oleh mereka) adalah amalan-amalan yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya..
g. Ma barihu/Ma zalu Yarji‘un ‘ala a‘qabi-him (mereka senantiasa kembali kepada kekafiran) dua kali
h. Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di (Jauh! Jauh! (dari rahmat Allah)/ ke Nerakalah mereka yang telah mengganti/ mengubah/ menukar-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan “Baddala” berarti mengganti/mengubah/menukar hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
Dari hal itu, sebab-sebab mereka (sebagian besar) menjadi kafir-murtad menurut al-Bukhari dan Muslim adalah karena mereka:
(1) Ahdatsu=Irtaddu/ yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(2) ‘Amilu =Irtaddu/ yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(3) Ghayyaru=Irtaddu/ yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(4) Baddalu=Irtaddu/ yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
Ini berarti mereka yang telah mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya dilaknati (mal‘unin). Lantaran itu sebarang justifikasi (tabrirat) seperti Maslahah, Masalihu l-Mursalah, Saddu dh-Dhara’i‘, Maqasidu sy-Syari‘ah‘, dan sebagainya bagi mengubah/ menukar/menangguh/ membatalkan sebagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Jika mereka terus melakukan sedemikian, maka mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), malah mereka adalah Ahli anti Sunnah nabi (Saw.)
Sebab utama yang membawa mereka menjadi kafir-murtad (Irtaddu/La yazalun yarji‘un ‘ala a‘qabi-him) di dalan hadis-hadis tersebut adalah karena mereka telah mengubah sebagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya (baddalu wa ghayyaru) dengan melakukan berbagai bid‘ah (ahdatsu) dan amalan-amalan (‘amilu) yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Perkara yang sama akan berlaku kepada kita di abad ini jika kita melakukan perkara yang sama.Menurut al-Bukhari dan Muslim,hanya sebilangan kecil dari mereka terselamat seperti bilangan unta yang tersesat/terbiar (mithlu hamali n-Na‘am) .Justeru itu konsep keadilan semua para sahabat yang diciptakan oleh Abu l-Hasan al-Asy‘ari (al-Asy‘ari, al-Ibanah, cairo,1958, hlm.12) dan dijadikan aqidah dari Mayoritas umat Islam adalah bertentangan dengan hadis-hadis tersebut.
Walau bagaimanapun hadis-hadis tersebut adalah bersesuaian dengan firma-Nya di dalam Surah al-Saba’(34):131 “Dan sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur”, firman-Nya di dalam Surah Yusuf (12):103 “Dan kebanyakan manusia bukanlah orang-orang yang beriman, meskipun engkau harapkan”, dan firman-Nya di dalam Surah Sad (38):24 “Melainkan orang-orang yang beriman, dan beramal salih,tetapi sedikit (bilangan) mereka” Dia berfirman kepada Nuh di dalam Surah hud(11):40 “ Dan tiadalah beriman bersamanya melainkan sedikit saja.” Mukminun adalah sedikit.Justeru itu tidak heranlah jika di kalangan Para sahabat ada yang telah mengubah Sunnah Nabi (Saw.), tidak meredhai keputusan yang dibuat oleh Nabi (Saw.) Malah mereka menuduh beliau melakukannya karena kepentingan diri sendiri dan bukan karena Allah (swt).
Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, hlm. 47 bab al-Sabr ‘Ala al-Adha meriwayatkan bahwa al-A’masy telah memberitahu kami bahwa dia berkata:”Aku mendengar Syaqiq berkata: “Abdullah berkata: Suatu hari Nabi (Saw.) telah membagi-bagikan sesuatu kepada para sahabatnya sebagaimana biasa dilakukannya. Tiba-tiba seorang Ansar mengkritiknya seraya berkata: “Sesungguhnya pembagian ini bukanlah karena Allah (swt). Akupun berkata kepadanya bahwa aku akan memberitahu Nabi (Saw.) mengenai kata-katanya. Akupun mendatangi beliau ketika itu beliau berada bersama para sahabatnya. Lalu aku memberitahukan beliau apa yang berlaku. Tiba-tiba mukanya berubah dan menjadi marah sehingga aku menyesal memberitahukannya. Kemudian beliau bersabda:”Musa disakiti lebih dari itu tetapi beliau bersabar.”
Perhatikanlah bagaimana perlakuan (ma ‘amilu) sahabat terhadap Nabi (Saw.)! Tidakkah apa yang diucapkan oleh Nabi (Saw.) itu adalah wahyu? Tidakkah keputusan Nabi (Saw.) itu harus ditaati? Tetapi mereka tidak mentaatinya karena mereka tidak mempercayai kemaksuman Nabi (Saw.).
Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, Kitab al-Adab bab Man lam yuwajih al-Nas bi l-’Itab berkata:”Aisyah berkata:Nabi (Saw.) pernah melakukan sesuatu kemudian membenarkan para sahabat untuk melakukannya. Tetapi sebagian para sahabat tidak melakukannya. Kemudian berita ini sampai kepada Nabi (Saw.), maka beliau memberi khutbah memuji Allah kemudian bersabda:”Kenapa mereka menjauhi dari melakukannya perkara yang aku melakukannnya. Demi Allah, sesungguhnya aku lebih mengetahui dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya dari mereka.”
Al-Bukhari juga di dalam Sahihnya Jilid IV, hlm. 49 bab al-Tabassum wa al-Dhahak (senyum dan ketawa) meriwayatkan bahwa Anas bin Malik telah memberitahukan kami bahwa dia berkata:”Aku berjalan bersama Rasulullah (Saw.) di waktu itu beliau memakai burdah (pakaian) Najrani yang tebal. Tiba-tiba datang seorang Badwi lalu menarik pakaian Nabi (Saw.) dengan kuat.” Anas berkata:”Aku melihat kulit leher Nabi (Saw.) menjadi lebam akibat tarikan kuat yang dilakukan oleh Badwi tersebut. Kemudian dia (Badwi) berkata:Wahai Muhammad! Berikan kepadaku sebagian dari harta Allah yang berada di sisi anda. Maka Nabi (Saw.) berpaling kepadanya dan ketawa lalu menyuruh sahabatnya supaya memberikan kepadanya.”
Di kalangan mereka ada yang telah menghina Nabi (Saw.) dan mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahwa Nabi (Saw.) “Sedang meracau” di hadapan Nabi (Saw.)“ Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)”. ( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]” “ Mereka telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.) Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar.”[Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida”,Tarikh, I, hlm. 156] merampas Fadak dari Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II ,hlm.14;Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’, III, hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79,92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain,karena Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku ,dia menyakiti Allah” “Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku,dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah” “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga” (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.129-131 dan lain-lain).
Mereka telah membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V , hlm. 140), “ menghalangii orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) ” [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I ,hlm. 7], meragukan Nabi (Saw.) apakah berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111] , mengubah sebagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti,Tarikh al-Khulafa’ hlm.136)
Al-Bukhari meriwayatkan bahwa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda karena anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (Saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukari, Sahih, v, hlm.343 (Hadis no.488 )
Kesemua hadis-hadis tersebut tidakkah menafsirkan ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144:”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.” Dan bilangan yang sedikit saja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13:”Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”
Kesesatan mayoritas para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) sebagaimana dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka amat menakutkan sekali. Dan hal itu bertentangan dengan aqidah mayoritas umat Islam yang menegaskan bahwa semua para sahabat adalah adil (kebal). Bertentangan dengan aqidah sebagian besar pada ustadz, mubaligh, dan ulama yang bekeyakinan bahwa para sahabat tidak boleh dikritik dalam periwayatan hadist atau pelaksanaan syariat. Lantaran itu mana-mana Muslim apakah dia seorang yang bergelar sahabat, tabi‘in, mufti, kadi dan kita sendiri, tidak boleh mengubah/menangguhkan/ melanggar/ membatalkan mana-mana hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya dengan alasan Maqasidu sy-Syari‘ah, Maslahah, dan sebagainya. Karena Allah dan Rasul-Nya tidak akan meridhai perbuatan tersebut. Firman-Nya“ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35)
Firman-Nya “Tidak, demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka, kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau,dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya”(Al-Nisa’(4):65)Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir”(al-Ma ‘idah(5):44)
Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”(al-Ma ‘idah(5):45) Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq”(al-Ma‘idah(5):47)
Dan firman-Nya “Barang siapa yang menentang Rasul, sesudah nyata petunjuk baginya dan mengikut bukan jalan orang-orang Mukmin, maka kami biarkan dia memimpin dan kami memasukkan dia ke dalam nereka Jahannam.Itulah sejahat-jahat tempat kembali”(Al-Nisa ‘(4);115)
Semoga semua orang Islam apakah sahabat atau tidak, dahulu dan sekarang, akan diampun dosa mereka dan dimasukkan ke dalam Syurga-Nya. Amin!.

24 01 2009
Edi Hendri M

Salam.

Al akh Abu Thalhah tolong kasih tanggapan tentang hadist-hadist dari kalangan ahlussunnah semisak bukhori yang meriwayatkan kekafiran sebagian shahabat sepeninggal Nabi saw.

13 02 2009
onemoslem

wah…puanjang…bisa mabok neh balasnya…hehehe…
uda ah…damai aja napa…yang salafi udah ah ga ada kerjaan laen apa??? ente ga pernah bakalan bisa menang lawan syiah…(kalo bisa mereka pasti udah punah sejak jaman umayyah) yang ada juga sama2 bonyok..ia ga???
yang syiah juga ngalah yah….
love n peace…SALAM..

17 02 2009
amatullah

bismillah

ana menyarankan kepada saudara
Edi Hendri M,jika ingin mengetahui tentang kesesatan syi’ah…
sebaiknya anda berbicara dengan para asatidzah ahlussunnah…
karena jika anda ingin mencari kebenaran makacarinya ke tempat yang benar….

saya mengatakan bahwa syi’ah adalah agama yang sesat!!!!!sesat!!!dan sesat!!!!!

kalau anda ingin berdiskusi kunjungi saja blog dari salah satu asatidzah yang saya kenal yaitu abu miqdad al madany….

cari saja di google,insyaa allah akan ketemu!!!!

semoga Allah memberimu hidayah

17 02 2009
amatullah

siapa bilang kami ga akan menang melawn syi’ah????
kebenaran akan selalu tegak di bumi ALLAH!!!!

berbicaralah dan berbuatlah asal dasar ilmu….

memberitahu seseorang kepada kebenaran dan mengajak orang ke jalan yang benar adalah sesuatu yang wajib…
apakah ini dikatakan tidak punya pekerjaan???
subhanallah…
banyak-banyak belajarlah islam wahai “onemoslem”….

semoga allah memberimu hidayah

19 02 2009
Abu Fatih

FAJRI FM 91,4 MHz jam 20:00 bedah syiah tiap malam kamis

2 03 2009
uga

untuk edi hendri, klo udah dpt hidayah kasih kabar ya, klo blm, sy ikut prihatin…untuk onemoslem, kalian hrs bersikap, krn netral bkn pilihan..tdk mungkin sunni dan syi’i bersatu.. masa sich golongan tauhidin bersatu dgn munafikin wal musryrikin..? moga Allah beri kalian hidayah…(sy sebut “kalian” bkn kamu krn banyak org yg tersesat sprti anda)

2 03 2009
ressay

Sekali-kali undang donk ustadz syiah ke acara bedah syiah.

Tulisan ini udah ada tanggapannya di http://secondprince.wordpress.com/2009/03/02/studi-kritis-jalaluddin-rakhmat-dalam-dialog-syiah-di-makassar/

21 05 2009
ibnu hanafi

Pertengahan april lalu ane dpat info bahwa akan diadakan dialog ilmiyah ahlussunnah vs agama syiah\rafidhah.sepekan sebelum hari H ana tanyakan ke pihak panitia ? ternyata acara dialognya ditunda smpai waktu yang tidak ditentukan kaerna tidak ada jawaban dari pihak syi’ah.Ada apa ? ? ? ? ?

2 03 2009
antiwahabi

Buat perbandingan saja nih, buka dan baca ini;
http://secondprince.wordpress.com/2009/03/02/studi-kritis-jalaluddin-rakhmat-dalam-dialog-syiah-di-makassar/

Supaya fair gitu. Masa pendapat cuman satu arah saja, ga siip dong.

eh Uga, bilang-bilang sy ya kalo udah baca blog itu. Sy ada di rumah.

5 03 2009
halwa

iya yah, pengen denger dialog syiah – wahabi.

8 03 2009
azerila

@ Amatullah

Mengeluarkan fatwa? :shock:

11 03 2009
antirafidhah

hehehe.. orang syi’ah kebakaran jenggot tuch.. liat tuch si endri, ga bisa mbedain mana yg namanya sahabat (menurut syar’i) dengan kafirin, murtadin dan munafiqin.. kasian dech dia..

mereka bangga banget ya dg artikelnya si SP.. apanya yg bisa dibanggain yg jelas sudah ada yg bantah tuch.. misalnya tentang apakah istri-istri Nabi termasuk ahlul bait, jelas sekali dia subyektif yaitu hanya mengambil dalil2 yg mnrt dia mendukung, pdhal ada dalil2 yg jelas menyebutkan istri2 Nabi adl termasuk ahlul bait Nabi. dan dia brsh menghindar dr kenyataan bhwa ayat Al-Ahzab:33 adlh bicara ttg istri2 Nabi dg hujjah yg tdk kuat (katanya mirip Al-Maidah:3, hehe), juga mengabaikan bhwa dlm hadits shahih Rasulullah memanggil istri2-Nya dg panggilan ahlul bait, ini adlh hal yg cukup jelas, tapi dia brusaha membenturkannya dg hadits kisa’ demi untuk mendukung faham syi’ah, pdhal sebenarnya dua hadits tsb tdk saling bertentangan..

13 03 2009
antigegabah

@anitrafhidah: hehehe.. orang syi’ah kebakaran jenggot tuch.. liat tuch si endri, ga bisa mbedain mana yg namanya sahabat (menurut syar’i) dengan kafirin, murtadin dan munafiqin.. kasian dech dia..

apa engga terbalik mas ? kalau gw perhatikan org2 Sunni selalu ngotot semua sahabat itu adil. Ngapain ada Surat al- Munafiqun segala dlm Al_Quran kalau kenyataannya di sekitar Nabi saw tidak ada org munafik ? Tau perbedaan musuh dan org munafik ? Kalau musuh itu jelas ada di depan kita. Tapi kalau org munafik itu engga jelas. Tiap hari ngumpul di mesjid bersama-sama dg Nabi, tapi di belakang bersikap lain alias musuh dalam selimut.

Kalau org munafik itu bukan org2 yang terdapat di kalangan para sahabat lantas siapa ? Setan atau jin gundul ?

13 03 2009
Dindin

Salam. Semoga Allah SWT menyatukan hati kaum mukminin di manapun mereka berada.
Cuma mau nebeng tanya, jika ada dua orang A dan B sedang diadili di ruang sidang. Kesalahan A adalah membunuh seseorang tidak bersalah (baik si korban itu ada hubungan kekerabatan dengan si B atau tidak), dan “kesalahan” si B adalah mencaci-maki dan menyumpahserapahi si A karena perbuatan membunuhnya. Kira-kira hakim akan menghukum yang mana, A atau B, atau keduanya? Jika dua-duanya dihukum, siapa yang hukumannya lebih berat?

13 03 2009
antirafidhah

@antigegabah

hehehehe… munafiqin ya munafiqin, sahabat ya sahabat, kalo munafiqin berarti bukan sahabat (pengertian syar’i), kalo sahabat (pengertian syar’i) berarti bukan munafiqin.. hehehe gitu aja kok bingung tho.. saya mau tanya kepada anda, si endri dapat riwayat2 bukhari dll di atas dari riwayat siapa? sahabat apa bukan? jika dari sahabat, kenapa dia percaya & kutip? bukankah menurut dia mereka sebagian besar adlh munafiq?, ayat2 Al-Qur’an (mushaf Utsmani)yg si endri kutip di atas, siapa yang mengumpulkan dan mengkodifikasinya? sahabat atau bukan? jika sahabat mengapa anda & si endri percaya dan kutip ayat2 Al-Qur’an? bukankah menurut anda & si endri sebagian besar sahabat adalah murtad dan munafik? gegabah sekali anda & si endri itu ya.. hehehehe…

13 03 2009
antirafidhah

Wahai para Rafidhah, kalo kalian ragukan sahabat Nabi, Mengapa kalian tidak ragukan Al-Qur’an? yang jelas-jelas dikumpulkan dan dikodifikasi oleh mereka para sahabat Nabi?? ataukah memang bener kalo rafidhah itu punya Al-Qur’an sendiri?? jika bener demikian, maka jangan pernah kalian mengaku sebagai muslim ya.. pergilah sana jauh2 dari kami.. hehehe..

16 03 2009
antigegabah

@antirafhidah :
hehehehe… munafiqin ya munafiqin, sahabat ya sahabat, kalo munafiqin berarti bukan sahabat (pengertian syar’i), kalo sahabat (pengertian syar’i) berarti bukan munafiqin.. hehehe gitu aja kok bingung tho..

weleh, weleh, rupanya ente sendiri yg masih belum “mudeng” dan belum memahami definisi sahabat yang yang dikutip Edi Hendri M dari pendapat para ulama Sunni, Syi’ah dan Khawarij, tapi belagak sudah faham.

Dari pengertian harfiah saja istilah “sahabat” belum tentu menunjukkan suatu hubungan yang positif. Coba saja lihat dlm kehidupan sehari-hari, ada sahabat yg setia dan ada juga sahabat yang tdk setia. Apalagi yang menentukan definisi sahabat dan batasan sahabat setia atau bukan sahabat setia adalah orang2 yang datang kemudian spt Ibnu Hajar, Bukhori dll yg sudah pasti dipengaruhi oleh “ideologi/keyakinan mazhab yang dianutnya. Dan pandangan ente kelihatannya mengacu kepada pandangan Bukhori yang menurut ane definisinya tentang pengertian sahabat terlalu umum dan tidak sesuai dg fakta di lapangan. Padahal Al-Quran banyak mengecam kelakuan sebagian “sahabat” yg tidak setia kpd Nabi saw spt. lari dari medan peperangan, cinta dunia, menyakiti Nabi saw dsb. Kmd Nabi saw memperkuat lagi dg pernyataan2 yg diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim dll sbgmana dikutip oleh Edi Hendri. Memang benar apa yg dikutip oleh Edi adalah dari kitab hadis Sahih Bukhori & Sahih Muslim.

@antirafhidah :
saya mau tanya kepada anda, si endri dapat riwayat2 bukhari dll di atas dari riwayat siapa? sahabat apa bukan? jika dari sahabat, kenapa dia percaya & kutip? bukankah menurut dia mereka sebagian besar adlh munafiq?

wah pertanyaan ente diatas lagi2 menunjukkan ente masih belum bisa memilah-milah antara pengertian sahabat sejati dan kafir/munafik dg masalah periwayatan hadis. Riwayat hadis dari seorang sahabat yg dlm sejarah pernah umpamanya menyakiti Nabi saw atau diragukan sbg sahabat setia nabi saw, belum tentu ditolak oleh para ahli hadis spt Bukhori atau yg lainnya. Kalau riwayatnya bisa memenuhi kriteria ilmu hadis dan secara maknawi/matannya tidak bertentangan dg hadis yang lebih sahih dan ayat2 Al-Quran kenapa harus ditolak ?

Suatu contoh, Aisyah pada suatu riwayat dia bisa bersikap obyektif. Tetapi pada riwayat lain yang menyangkut Ali bin Abi Talib dia tdk obyektif karena orang sudah pada tahu bahwa Aisyah sangat dendam pd Ali bin Abi Talib.
Jadi masalah definisi sahabat engga perlu dipertentangkan dg masalah periwayatan hadis.

Dan satu lagi yg paling penting, dalam kasus definisi sahabat diatas, Edi Hendri saya rasa sengaja tdk mengutip dari kitab hadis Syi’ah, tetapi mengutip dari kitab hadis Sunni sendiri spy lebih obyektif.

@antirafhidah:
ayat2 Al-Qur’an (mushaf Utsmani)yg si endri kutip di atas, siapa yang mengumpulkan dan mengkodifikasinya? sahabat atau bukan? jika sahabat mengapa anda & si endri percaya dan kutip ayat2 Al-Qur’an? bukankah menurut anda & si endri sebagian besar sahabat adalah murtad dan munafik? gegabah sekali anda & si endri itu ya.. hehehehe

wah, lagi2 ente keliru besar menganggap ayat2 Al-Quran hanya dikumpulkan dan dikodifikasikan oleh para sahabat spt. Usman. Cara pandang ente masih terkerangkeng oleh doktrin pengkultusan sahabat.

mas, di kalangan para ahli sejarah AlQuran, ada beberapa pendapat mengenai kodifikasi Al-Quran. Yg pertama berpendapat bahwa kodifikasi Al-Quran dilakukan oleh para sahabat setelah Nabi wafat. Yg kedua berpendapat bahwa Al-Quran sudah dikodifikasi atau tersusun menjadi sebuah Kitab Suci sebelum Nabi saw wafat.
Dari kedua pendapat itu saya lebih condong ke pendapat yg kedua.

Memang Al-Quran yg kita gunakan skrg ini adalah versi Usmani .Tapi jangan sekali-lagi ente menganggap bahwa ayat2 Al-Quran setelah Nabi saw wafat masih berantakan dan kemudian dikodifikasikan pada masa khalifah Usman. Apa yang dilakukan Usman lebih pada penyeragaman “qiraat” Al-Quran

Kalau ente mengimani Al-Quran itu sebuah Kitab Suci yang berasal dari Zat Yang Maha Suci dan diturunkan kepada seorang hamba yang suci, maka secara aqliah pembukuannyapun harus dilakukan oleh yang menerima ayat2/wahyu2 itu sendiri. Kenapa harus dikodifikasikan oleh orang2 lain yg tidak maksum ?
Coba ente perhatikan QS 75 : 17,19 dimana dijelaskan bahwa urusan Allahlah pembukuan/kodifikasi beserta penjelasannya.

Indikasi bahwa ayat2 Al-Quran sudah tersusun menjadi sebuah Kitab sebelum Nabi wafat adalah terlihat dalam istilah “kitab” yang sering digunakan Allah dlm Al-Quran. Disamping itu Allah pernah menantang kaum kafir untuk membuat ayat2 semisal ayat2 Al-Quran. Logikanya kalau Allah menantang org2 kafir berarti pada saat itu Kitab Al-Quran sudah ada dalam masyarakat dan tidak berserakan lagi. Bagaimana Allah mau menantang org kafir untuk membuat semisal ayat Al-Quran padahal Kitab-Nya belum tersusun dan beredar di tengah-tengah masyarakat ?

Sekali lagi coba ente perhatikan bahwa yg mengatakan sebagian sahabat murtad/kafir dn munafik itu bukan siapa2 TAPI AYAT2 AL-QURAN DAN HADIS2 RIWAYAT BUKHORI & MUSLIM yang dikutip oleh Edi Hendri atau org2 lain. Kok engga ngerti2 sih ? Permasalahannya tinggal dua : Bukhori dkk bohong atau ente bahlul !

Makanya banyak2 membaca dan meneliti kitab2 ulama ente sendiri.

17 03 2009
antigegabah

@Dindin, apakah kalau seseorang MENGUTIP ayat atau hadis Bukhori atau Muslim yang mengungkap keburukan sebagian sahabat spt dilakukan oleh Edi Hendri sama dg ybs mencaci maki atau menyumpah serapahi sahabat ?

17 03 2009
yuzman

@antigegabah yg amat gegabah sekali,

Perhatikan tulisan mengenai Sahabat di bawah ini :

Dan sungguh Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman, dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang munafik. (al-Ankabut: 11)

Dan Allah berjanji akan memberitahu ciri-ciri mereka secara detail. Bahkan dalam beberapa kejadian, Allah telah memisahkan siapa munafiqin dan siapa para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Allah berfirman:

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ… ال عمران: 179

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisih-kan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)… (Ali Imran: 179)

MOHON DICATAT!

Tentang ayat ini Ibnu Katsir berkata: “…yaitu pasti Allah akan berikan suatu cobaan yang akan menampakkan wali-wali-Nya dan mem-permalukan musuh-musuh-Nya dan akan di-ketahui siapa mukmin yang sabar dan siapa munafik yang jahat…” (Tafsir Ibnu Katsir 1/468)

Juga Allah mengancam orang-orang munafik untuk membongkar kedok mereka dalam ayat-Nya:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ (29) وَلَوْ نَشَآءُ َلأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ. محمد: 29-30

Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mere-ka? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-k-iasan perkataan mereka dan Allah menge-tahui perbuatan-perbuatanmu. (Muham-mad: 29-30)

Dan Allah memiliki hikmah dalam taqdir-Nya ketika Ia menguji setiap orang yang mengaku beriman dengan berbagai ma-cam ujian, hingga terlihat siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa-kah yang berdusta (munafik).

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ. العنكبوت: 1-3

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) berkata: “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami te-lah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah menge-tahui orang-orang yang benar dan sesung-guhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (al-Ankabut: 1-3)

Ujian pertama yang dihadapi oleh orang-orang yang beriman dari kalangan para shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah gangguan dan penyik-saan dari kaumnya di Mekah. Sebagian mere-ka disiksa dengan api. Sebagian lainnya di-usir, dicela dan dicaci-maki dengan berbagai macam tuduhan yang keji.

Dengan demikian semua orang paham bahwa para shahabat yang masuk Islam di Mekah sebelum hijrah adalah orang-orang yang telah terbukti keislaman dan keima-nannya, dan terbebas dari tuduhan munafik, karena tidak mungkin ada seorang yang ber-pura-pura masuk Islam ketika itu untuk dicaci-maki, dan disiksa. MOHON DICATAT!

Ujian berikutnya adalah perintah untuk hijrah yaitu untuk meninggalkan negeri dan tanah tumpah darahnya serta meninggalkan sanak saudaranya yang masih kafir dalam rangka mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah katakan tentang mereka:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. الحشر: 8

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari har-ta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (al-Hasyr: 8)

Dalam ayat ini Allah memuji para muhajirin dengan kalimat ash-Shadiqiin (orang-orang yang jujur dan benar imannya). MOHON DICATAT!

Demikian pula orang-orang yang beriman di Madinah, mereka menyambut dan mempersiapkan tempat bagi para muhajirin, bahkan mereka lebih mementingkan tamu-tamunya tersebut melebihi daripada diri dan keluarganya. Maka Allah pun memuji para shahabat dari kalangan Anshar tersebut.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَاْلإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَ يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. الحشر: 9

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Mu-hajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (al-Hasyr: 9)

Dalam ayat ini Allah menjuluki kaum Anshar dengan kalimat al-Muflihuun (orang-0rang yang akan mendapatkan kemenangan dan kemuliaan). Merekalah yang disebut sebagai as-Saabiqunal Awwalun yaitu kaum muha-jirin dan kaum Anshar.

MOHON DICATAT!

Jihad Sebagai Tolok Ukur

Ketika kaum muslimin mulai kuat dan banyak di Madinah, muncullah orang-orang yang berpura-pura mengaku sebagai muslim, pengikut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun dalam hatinya menyimpan kekufuran. Hal ini mereka laku-kan agar terlindung jiwa dan harta mereka, yakni karena takut dibunuh dan dirampas hartanya sebagai pampasan perang.

Tentu saja mereka (orang-orang mu-nafiq) itu adalah kaum yang paling tidak suka sesuatu yang akan mengorbankan diri dan hartanya. Sehingga ketika turun perintah un-tuk berjihad, terlihat bahwa merekalah yang paling pertama menolak dan menghindarinya dengan alasan yang dibuat-buat. Dengan perintah untuk berjihad ini terpisahlah de-ngan jelas antara dua golongan yaitu mereka yang lulus (mukmin) dan yang gagal (munafik).

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ. محمد: 31

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) keadaan kalian. (Muham-mad: 31)

Tentang mereka yang lulus pada ujian ini, Allah katakan:

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. الأنفال: 74

Dan orang-orang yang beriman dan ber-hijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediam-an dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Me-reka memperoleh ampunan dan rezeki (nik-mat) yang mulia. (al-Anfaal: 74)

MOHON DICATAT!

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. الحجرات: 15

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman ke-pada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mere-ka tidak ragu-ragu dan berjuang (ber-jihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang be-nar. (al-Hujuraat: 15)

Dalam ayat di atas, Allah kembali memuji mereka dan menggelarinya sebagai ash-Shaadiquun yaitu orang-orang yang jujur dan be-nar-benar beriman, bukan kaum munafik.

Adapun orang-orang yang tidak jujur alias pendusta, berpura-pura masuk Islam, tetapi memendam kekafiran dan penentangan dalam hatinya, mereka telah gagal dalam menghadapi ujian yang berat ini. Allah tampakkan kemunafiqan mereka dalam beberapa kejadian.
Setiap mereka berupaya untuk meng-hindari jihad dengan kedustaan-kedustaan dan sumpah-sumpah palsu, Allah menurun-kan ayat-Nya yang menceritakan alasan-alasan mereka itu. Allah katakan dalam ayat-ayat tersebut dengan kalimat: “Berkata kaum munafik…” atau kalimat “Berkata dengan mulutnya yang tidak ada dalam hatinya”. Sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya mengerti tentang siapa-siapa orang-orang munafik. Bahkan kaum muslimin setelahnya dan kita semua mengetahui siapa para muna-fik itu satu persatu.

Allah berfirman:

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالاً لَاتَّبَعْنَاكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ. ال عمران: 167

Dan supaya diketahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka ber-kata: “Sekiranya kami mengetahui peperangan, tentulah kami mengikutimu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan de-ngan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (Ali Imran: 167)

أَلَمْ تَر إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ. الحشر: 11

Apakah kalian tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada sauda-ra-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kalian diusir nis-caya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kalian diperangi pasti kami akan membantu kalian.” Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (al-Hasyr: 11)

يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَؤُلآءِ دِينُهُمْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ. الأنفال: 49

(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (al-Anfaal: 49)

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلاَّ غُرُورًا. الأحزاب: 12

Allah berfirman: Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. (al-Ahzaab: 12)

Selain dengan kalimat-kalimat tersebut di atas, Allah juga jelaskan mereka dengan kalimat yang semakna dan senada seperti al-Mukhalafuun (yakni orang-orang yang meng-hindar dari jihad), “yang tidak jujur”, atau “yang di hatinya ada penyakit” dan lain-lainnya.

Allah berfirman:

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لاَ تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ. التوبة: 81

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan ting-galnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mere-ka berkata: “Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui. (at-Taubah: 81)

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ اْلأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا. الفتح: 11

Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merinta-ngi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hati-nya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerang-an) yang dapat menghalang-halangi ke-hendak Allah jika Dia menghendaki kemu-dharatan bagimu atau jika Dia meng-hendaki manfa’at bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Fath: 11).

Perhatikan sekali lagi, ayat-ayat di atas telah menunjukkan dengan jelas perbedaan yang amat nyata antara Sahabat sejati Rasulullah dengan kaum munafik saat itu.. Allah telah menyaringnya dengan ujian-ujian, dan hanya yang lulus-lah yang disebut Sahabat, maka jika Ahlussunnah bicara mengenai Sahabat, ya sahabat dalam pengertian ayat-ayat di atas-lah yang dimaksud..

17 03 2009
antirafidhah

@antigegabah

hehehe, anda bener mas Yuzman, memang si antigegabah amat gegabah sekali orangnya…

“Definisi sahabat yang paling lengkap adalah apa yang didefinisikan oleh Al-hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani : “Definisi yang paling shahih tentang Shahabat yang telah aku teliti ialah : “Orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam”.

Definisi di atas merupakan definisi Jumhur Ulama diantara mereka ialah Imam Bukhari, Imam Ahmad, Imam Madini, Al’iraqi, Al-Khatib, Al-Baghdadi, Suyuti dll. Ibnu Hajar berkata : Inilah pendapat yang paling kuat. Di antara ahli Ushul Fiqih yang berpendapat demikian Ibnul Hajib, Al-Amidi dan lain-lain. (Lihat Fathul Mughits 3/93-95, ‘Ulumul-Hadits oleh Ibnu Shaleh hal. 146; At-Taqyid wal-idah Al-’Iraqi hal. 292 fiyah Suyuti hal. 57; Fathul Bari 7/3;Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam Lil-Amidi:83; Tanbih Dzawi Najabah ila’Adalatis Shahabah hal. 11.)

Jelas sekali definisi di atas diambil berdasarkan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Shalallahu A’laihi Wassallam.

Dari definisi di atas jelas sekali bahwa orang-orang yang murtad sepeninggal Nabi SAW, orang-orang munafik, Khawarij (yang diperangi Imam Ali), Syiah Saba’iyah (yang sebagian mereka dibakar oleh Imam Ali karena mengkultuskan beliau) adalah bukan sahabat Nabi SAW secara syar’i yang adil, kalau sahabat secara lughah memang iya, karena memang diantara mereka ada yang hidup di sekitar Nabi SAW saat itu. Dan merekalah yang justru membuat fitnah yang besar sepeninggal Rasulullah sehingga terjadi tragedy pertumpahan darah diantara kaum muslimin saat itu. hingga sakitnya terasa sampai saat ini dan merekalah yang lebih pantas terkena hadits2 tersebut.

Adapun sahabat Nabi SAW yang Allah dan Rasul-Nya ridha kepada mereka serta Allah dan rasul-Nya menjadi saksi atas keutamaan mereka yang disebutkan dalam banyak ayat Alqur’an dan hadits-hadits Nabi SAW, maka bukan merekalah yang dimaksud hadits2 yang disebutkan oleh si Hendri. Kalau kita yakin bahwa seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat lain yang dijamin masuk surga yang dimaksud hadits2 tsb, berarti kita menganggap ada pertentangan antara al-Quran dengan hadits, antara hadits shahih yang satu dengan hadits shahih yang lain, dan seakan-akan kita menganggap Allah tidak mengetahui kesudahan orang-orang yang Dia telah ridhai…dan Dia perlu membatalkan keridhaan-Nya? Naudzubillah…Subhanallahi amma yashifun…

Perhatikan ayat yang mulia berikut ini :

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) (QS 48:18)

Lihatlah Allah mengetahui isi hati mereka.. BUKAN ENTE BUNG! MAKANYA JANGAN GEGABAH KALO NGOMONG!, jadi jelas sekitar 1400 org yang hadir dalam bai’atur Ridhwan (di dalamnya termasuk tiga sahabat terkemuka Abu Bakar ra, Umar ra dan Ali ra, sedangkan Utsman ra adalah factor utama terjadinya bai’atur Ridhwan tsb) saat itu adalah BUKAN BAGIAN DARI KAUM MUNAFIK.. oce.. Allah sendiri yang menjadi saksi atas kebenaran isi hati mereka! Apakah ente menganggap Allah telah salah meridhai mereka? Jadi.. Hadits2 Bukhari-Muslim yg si Hendri bawakan jelas-jelas bukan untuk Sahabat dalam pengertian ayat2 di atas! Yang merupakan pengertian Ahlus Sunnah wal Jama’ah! Jelas ga ENTE? MAU ENTE KEMANAKAN AYAT2 DI ATAS DAN JUGA HADITS2 YG MENUNJUKKAN KEUTAMAAN SAHABAT NABI? JANGAN TERLALU GEGABAH & BAHLUL AH! GA BAIK!

Mungkin ente & si Endri bertanya mengapa dalam hadits-hadits tersebut Rasulullah memanggil “Ashabi” atau di riwayat lain “Asihabi” atau diriwayat lain “Ummati” padahal mereka adalah bukan sahabat atau umat islam yang berhak menghampiri telaga beliau, jawabannya adalah karena Rasulullah mengenali umat beliau dari tanda bekas wudhu mereka di dunia, sebagaimana disebutkan dalam kitab Muwatha’ hadits riwayat Abu Hurairah ra “… Para sahabat bertanya, ‘Bagaimana Anda mengenali orang dari umat Anda yang datang sepeninggal Anda nanti, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya mereka akan datang dengan muka, lengan, dan betis yang berkilauan bekas dari air wudhu.”

Maka pada hari pembalasan nanti beliau memanggil-manggil mereka yang bertanda seperti itu dan kemudian diberitahukan kepada Nabi bahwa mereka ini bukan dari golongan orang yang engkau janjikan, karena mereka tidak mati dalam Islam. Atau mereka yang dilihat oleh Rasulullah di dalam masa hayat baginda kemudian mereka ini murtad selepas baginda Atau mereka kaum muslimin yang melakukan dosa2 besar sehingga mereka terhalang dari telaga beliau, atau para pelaku bid’ah dll. Dan satu faedah yang bisa kita ambil dari hadits-hadits tersebut bahwa Rasulullah sungguh sangat mencintai dan menyayangi umatnya sehingga beliau pada waktu itu begitu antusias memanggil-manggil dan membela umatnya berdasarkan tanda-tanda yang beliau kenali. Semoga kita termasuk yang mendapat syafaat Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Amin…Wallahu A’lam.

Satu lagi, siapa tokoh yang memerangi kaum murtad sepeninggal Nabi Shalallahu A’laihi Wasallam? Tidak lain adalah Khalifah Abu Bakar ra dengan dibantu sahabat-sahabat Rasul yang lain, termasuk di dalamnya adalah Ali bin Abi Thalib ra. Maka orang yang murtad atau mati dalam keadaan tidak berislam berarti otomatis bukan Sahabat yang dimaksudkan.. SO INTINYA JANGAN SAMAKAN SAHABAT NABI DENGAN MUNAFIK! DAN SAHABAT NABI ITU BUKAN HANYA SEGELINTIR ORANG SAJA SPT KATA ROFIDHOH YANG BAHLUL ITU! hehehe

wah pertanyaan ente diatas lagi2 menunjukkan ente masih belum bisa memilah-milah antara pengertian sahabat sejati dan kafir/munafik dg masalah periwayatan hadis. Riwayat hadis dari seorang sahabat yg dlm sejarah pernah umpamanya menyakiti Nabi saw atau diragukan sbg sahabat setia nabi saw, belum tentu ditolak oleh para ahli hadis spt Bukhori atau yg lainnya. Kalau riwayatnya bisa memenuhi kriteria ilmu hadis dan secara maknawi/matannya tidak bertentangan dg hadis yang lebih sahih dan ayat2 Al-Quran kenapa harus ditolak ?

Tuch di atas sudah dijelaskan sama mas Yuzman.. mudeng kagak ente? siapa sahabat yang menyakiti Nabi? yakin ente kalo sahabat tsb telah menyakiti Nabi? tuch liat QS 48:18, ayat tsb adalah pembersihan dan penjelasan yang paling gamblang dari Allah Azza wa Jalla thd para sahabat.. so omongan ente ga ada pa2nya.. hehehe..

Memang Al-Quran yg kita gunakan skrg ini adalah versi Usmani .Tapi jangan sekali-lagi ente menganggap bahwa ayat2 Al-Quran setelah Nabi saw wafat masih berantakan dan kemudian dikodifikasikan pada masa khalifah Usman. Apa yang dilakukan Usman lebih pada penyeragaman “qiraat” Al-Quran.

Kalau ente mengimani Al-Quran itu sebuah Kitab Suci yang berasal dari Zat Yang Maha Suci dan diturunkan kepada seorang hamba yang suci, maka secara aqliah pembukuannyapun harus dilakukan oleh yang menerima ayat2/wahyu2 itu sendiri. Kenapa harus dikodifikasikan oleh orang2 lain yg tidak maksum ?
Coba ente perhatikan QS 75 : 17,19 dimana dijelaskan bahwa urusan Allahlah pembukuan/kodifikasi beserta penjelasannya.

Justru jelas sekali bahwa para sahabat telah teruji keadilannya dengan adanya mushaf Utsmani ini… dan Justru Allah telah menunjukkan keutamaan para sahabat Rasul-Nya yang sebelumnya telah dipilih-Nya menjadi bagian dalam menjalankan kehendak Allah tersebut…

yg jelas versi ahlussunnah adalah bahwa sepeninggal Rasulullah Shalallahu Alaihi wasalam para shahabat-lah yang mengumpulkan dan mengkodifikan Al-Qur’an yang sebelumnya telah dihapal oleh para sahabat dan tercatat pada tulang dan pelepah korma, ini berdasarkan riwayat-riwayat yg shahih dan mutawatir.. GA USAHLAH PLINTAT PLINTUT ENTE PERCAYA KAGAK DENGAN MUSHAF UTSMANI YG ADA SKRG INI? JUJURLAH! JIKA ENTE PERCAYA, MAKA SUNGGUH MENGHERANKAN JIKA ENTE MERAGUKAN KEADILAN ABU BAKAR, UMAR DAN UTSMAN! JIKA GA PERCAYA, LAKUM DINNUKUM WALIYADDIN AJA DECH!

Indikasi bahwa ayat2 Al-Quran sudah tersusun menjadi sebuah Kitab sebelum Nabi wafat adalah terlihat dalam istilah “kitab” yang sering digunakan Allah dlm Al-Quran. Disamping itu Allah pernah menantang kaum kafir untuk membuat ayat2 semisal ayat2 Al-Quran. Logikanya kalau Allah menantang org2 kafir berarti pada saat itu Kitab Al-Quran sudah ada dalam masyarakat dan tidak berserakan lagi. Bagaimana Allah mau menantang org kafir untuk membuat semisal ayat Al-Quran padahal Kitab-Nya belum tersusun dan beredar di tengah-tengah masyarakat ?

Sekali lagi justru ayat tersebut menunjukkan keutamaan sahabat.. penyebutan Al-Qur’an dengan istilah “Kitab” justru merupakan legalisasi dari Allah akan proses pengumpulan dan pengkodifikasian Al-Qur’an menjadi satu mushaf yang dilakukan oleh sahabat setelah Nabi wafat sehingga menjadi sebuah kitab yang mudah dibaca oleh manusia.

Wah ternyata ente yg kagak mudeng sejarah hehehe… anak kecil aja dr SD dah ngerti soal ginian lho.. hey bung kalo yg ente maksud kitab di sini adlh dalam bentuk satu mushaf, baik renungkan uraian saya : ayat yang terakhir turun adalah Al-Maidah : 3 yang turun di saat Rasulullah berhaji Wada’ dan tdk lama kemudian Rasulullah wafat.. berarti hampir seluruh kehidupan beliau semenjak diangkat menjadi rasul, beliau menerima wahyu Al-Qur’an secara berangsur-angsur sampai ayat tsb di atas yang terakhir turun, jadi kapan sempatnya Al-Qur’an dijadikan dlm satu mushaf spt skrg ini? sedangkan wahyu masih saja turun secara berangsur-angsur saat Rasulullah masih hidup? saat itu memang belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang menasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur`an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan ditempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu. Andaikata (pada masa Nabi)Qur`an itu seluruhnya dikumpulkan diantara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi. Az-zarkasyi berkata:

`Qur`an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur`an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah.`

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabit yang mengatakan: `Rasulullah telah wafat sedang Qur`an belum dikumpulkan sama sekali.` Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

Al-Katabi berkata:` Rasulullah tidak mengumpulkan Qur`an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya . Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar
Pengumpulan Qur`an dimasa Nabi ini dinamakan : a) penghafalan, dan b) pembukuan yang pertama.

yang jelas Al-Qur’an memang adalah sebuah kitab yang tersimpan dalam dada2 manusia saat itu (Rasulullah dan sahabat2nya) QS 75:17 dan oleh para sahabat telah dicatat pula di tulang dan pelepah kurma saat Rasulullah masih hidup,sebelum disusun dalam satu mushaf..

Sekali lagi coba ente perhatikan bahwa yg mengatakan sebagian sahabat murtad/kafir dn munafik itu bukan siapa2 TAPI AYAT2 AL-QURAN DAN HADIS2 RIWAYAT BUKHORI & MUSLIM yang dikutip oleh Edi Hendri atau org2 lain. Kok engga ngerti2 sih ? Permasalahannya tinggal dua : Bukhori dkk bohong atau ente bahlul !

Udah dijawab tuch.. ama mas Yuzman juga tuch.. Bukhori tidak bohong, tapi entenya aja yang memang bahlul! terinfeksi virus rafidhah.. hehehe…

18 03 2009
falseto

mas Yuzman, sblm diskusi lbh lanjut terlebih dulu ingin menjelaskan bahwa istilah “sahabat” yg saya maksud adalah suatu istilah yg masih umum. Salah satu ayat yg acu adalah Surat Ali Imran 153 :”(Ingatlah) ketika kalian lari dan tdk menoleh kpd seorangpun, sedang Rasul yg berada diantara kawan2 kalian yg lain, memanggil kalian….” Tafsir ayat ini bisa dilihat umpamanya dlm “Al-Ishobah”, Ibnu hajar, jilid III hal 108 yg menjelaskan sebagian sahabat lari dri medan perang meninggalkan Rasul saw. Kemudian dlm hadis2 riwayat Bukhori kitab ar-Riqaq, bab fil Haudh dan riwayat Muslim kitab al-Fadhail, bab Ithbat Haudhi n-Nabi saw spt juga dikutip oleh sdr Edi Hendri diatas, di situ disebut-sebut “ashabi” sahabatku). Ini sekali lagi menunjukkan bhw pengertian “sahabat” bisa umum dan bisa khusus. Kalau mengacu kpd ayat yg anda kutip spt :”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman ke-pada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mere-ka tidak ragu-ragu dan berjuang (ber-jihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang be-nar. (al-Hujuraat: 15)saya setuju banget bahwa yg dimaksud dlm ayat itu adalah para sahabat. Namun dg adanya ayat Ali Imran 153 dan ayat2 sejenisnya, maka para sahabat yg dimaksud dlm al-Hujurat 15 adalah para sahabat yg beriman dan bukan para sahabat yg dikecam dlm ayat Ali Imran 153. Ayat al-Hujurat 15 sejalan dg definisi sahabat dari Ibnu Hajar.

Intinya, siapapun yang bertemu/bergaul dg Nabi baik di Mekkah maupun Madinah dg mengacu kpd ayat dn hadis diatas tidak bisa dipukul rata semuanya sahabat yang beriman smp wafatnya.

@Yuzman :
Dan sungguh Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman, dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang munafik. (al-Ankabut: 11)

mas, perlu anda ketahui bahwa istilah “munafik” itu dikenakan kpd ORANG DALAM yang bermuka dua. Org kafir spt Abu Jahal atau Abu Sufyan adalah bukan orang dalam Nabi saw. Mereka adalah musuh yg sangat terlihat jelas di depan mata. Sedangkan org munafik adalah musuh dlm selimut yg berbaju “sahabat”, shg tidk diketahui oleh Nabi saw dan hanya diketahui oleh Allah SWT spt dijelaskan oleh ayat yg anda kutip diatas atau at-Taubah 101.

@Yuzman :
Dan Allah berjanji akan memberitahu ciri-ciri mereka secara detail. Bahkan dalam beberapa kejadian, Allah telah memisahkan siapa munafiqin dan siapa para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Allah berfirman:

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ… ال عمران: 179

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisih-kan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)… (Ali Imran: 179)

Benarkan mas, dari kumpulan para sahabat (dlm pengertian umum) Allah memisahkan yang munafik dari yg mukmin.

@Yuzman:
Dan Allah memiliki hikmah dalam taqdir-Nya ketika Ia menguji setiap orang yang mengaku beriman dengan berbagai ma-cam ujian, hingga terlihat siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa-kah yang berdusta (munafik).

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ. العنكبوت: 1-3

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) berkata: “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami te-lah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah menge-tahui orang-orang yang benar dan sesung-guhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (al-Ankabut: 1-3)

Apalagi ayat yg anda kutip itu lebih mempertegas fakta yg saya ungkap bahwa boleh jadi awalnya dia masuk Islam tapi Allah SWT kmd menguji orang itu dg siksaan dan caci maki orang2 kafir Quraisy Mekkah untuk mengetahui apakah imannya sejati atau palsu shg ketika dia meninggal bisa saja dlm keadaan iman atau murtad/kafir. Sekali lagi yg diceritakan dlm ayat tsb adalah orang2 yang diistilahkan dg “sahabat” dlm pengertian umum.

@Yuzman :
Ujian berikutnya adalah perintah untuk hijrah yaitu untuk meninggalkan negeri dan tanah tumpah darahnya serta meninggalkan sanak saudaranya yang masih kafir dalam rangka mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah katakan tentang mereka:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. الحشر: 8

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari har-ta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (al-Hasyr:8)

Dalam ayat ini Allah memuji para muhajirin dengan kalimat ash-Shadiqiin (orang-orang yang jujur dan benar imannya).

Benar mas, ayat ini menceritakan orang Islam yg hijrah ke Madinah. Tapi jangan lupa yang Allah ceritakan dlm ayat tsb adalah para sahabat yang shadiqin, karena dalam suatu hadis yg menjelaskan ayat tsb Rasulullah saw bersabda bahwa : Amal itu itu tergantung niatnya. Barang siapa yang hijrahnya karena wanita atau dunia, maka dia hanya akan mendapatkan apa yg diniatkannya itu. Jadi tdk semua sahabat yg hijrah disebut shadiqin.

@Yuzman :
Ketika kaum muslimin mulai kuat dan banyak di Madinah, muncullah orang-orang yang berpura-pura mengaku sebagai muslim, pengikut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun dalam hatinya menyimpan kekufuran. Hal ini mereka laku-kan agar terlindung jiwa dan harta mereka, yakni karena takut dibunuh dan dirampas hartanya sebagai pampasan perang.

perlu dicatat mas, orang munafik yang muncul di Madinah itu tidak hanya org2 asli Madinah, tetapi juga org2 yg hijrah dari Mekkah (ingat hadis yg saya kutip diatas).

@Yuzman :
Adapun orang-orang yang tidak jujur alias pendusta, berpura-pura masuk Islam, tetapi memendam kekafiran dan penentangan dalam hatinya, mereka telah gagal dalam menghadapi ujian yang berat ini.

nah, anda sendiri mengatakan bahwa diantara org2 yang disebut shabat itu ada org2 yg berpura-pura masuk Islam….ikut salat bersama Nabi dan ikut ngaji dll, tapi bermuka dua. Ini yg saya maksud dg istilah sahabat dlm pengertian umum.

@Yuzman :
Perhatikan sekali lagi, ayat-ayat di atas telah menunjukkan dengan jelas perbedaan yang amat nyata antara Sahabat sejati Rasulullah dengan kaum munafik saat itu.. Allah telah menyaringnya dengan ujian-ujian, dan hanya yang lulus-lah yang disebut Sahabat, maka jika Ahlussunnah bicara mengenai Sahabat, ya sahabat dalam pengertian ayat-ayat di atas-lah yang dimaksud..

Saya garis bawahi pernyataan anda : “…antara Sahabat sejati Rasulullah dengan kaum munafik saat itu…” Sekali itu yg saya maksud bahwa istilah sahabat secara umum itu menggambarkan siapa saja yang bergaul/bertemu dg Nabi saw baik di Mekkah maupun Madinah yang pada akhir hayatnya bisa dlm keadaan Islam atau murtad/kafir/munafik. Para sahabat yg sejati, Allah telah memuji mereka dalam Al-Quran dan adapun yg murtad/kafir Allah pun telah mengecamnya spt anda kutip ayat2nya ditas.

Jadi dari ayat2 yg anda kutip ditas dan ayat2 lain yg menjelaskan hakekat para sahabat atau org2 yang bertemu/bergaul dg nabi saw, maka Al-Quran membagi sahabat menjadi 2 kelompok:

I. Para sahabat yg saleh atau dlm istilah anda: sahabat sejati
II. Para sahabat yang tidak saleh/tidak sejati.

Kelompok I dibagi lagi menjadi :

1. As-Sabiqun Al-Awwalun, yaitu orang2 yang paling awal masuk Islam dari Muhajirin dan Anshar. Mereka ridha kepada Allah dan Allah ridho pula kepada mereka. (QS At-Taubah 100)
2. Al-Mubayi’un Tahta Asy-Syajarah, yaitu orang2 yang berbaiat di bawah pohon (QS Al-Fath 18)
3. Al-Muhajirin (QS Al-Hasyr 8)
4. Ash- Habul Fath (QS Al-Fath 29)

Kelompok II dibagi lagi menjadi :

1. Orang2 Munafik Yang Makruf (QS Al-Munafiqun 1)
2. Orang2 Munafik Yang Tersembunyi (QS At-Taubah 101)
3. Muradhal Qulub, yaitu kelompok sahabat yang mengikuti jejak orang2 munafik dalam hal spiritual dan sifat2 lemahnya iman kpd Allah SWT dan Rasul-Nya (QS Al-Ahzab 12)
4. As_Samma’un , yaitu kelompok sahabat yang hatinya bagaikan bulu yang tertiup angin.(QS At-Taubah 45-47)
5. Mencampur-baurkan Amal Saleh dengan Selainnya (QS At-Taubah 102)
6. Orang2 Yang Nyaris Murtad (QS Ali Imran 154)
7. Al Fasiq (QS Al-Hujurat 6)
8. Al-Muslimun Bukan Al-Mukminun, yaitu kelompok sahabat yang iman mereka belum masuk dalam hatinya. (QS Al-Hujurat 14)
9. Al-Muallafatu Qulubuhum (QS At-Taubah 60)
10. Al-Muwallun ammal Kuffar, yaitu kelompok sahabat yang lari/mundur dari peperangan (tawalli ‘anil-jihad). Ini termasuk dosa besar. (QS Al-Anfal 15-16)

Setelah mengelompokkan para sahabat tsb. Al-Quran menutup dengan pernyataan yang tegas :”Maka apakah orang yang beriman sama seperti orang fasik ? MEREKA TIDAK SAMA.” (QS As-Sajadah 18).

Nah itulah 10 jenis sahabat Nabi saw dlm Kelompok II yang tidak mungkin bagi kita untuk memberi sifat adil dan takwa.

18 03 2009
antirafidhah

Oaalah antigegabah itu si falseto tho.. pantesan gegabah sekali komentarnya hehehe…

Intinya, siapapun yang bertemu/bergaul dg Nabi baik di Mekkah maupun Madinah dg mengacu kpd ayat dn hadis diatas tidak bisa dipukul rata semuanya sahabat yang beriman smp wafatnya.

makanya perhatiin lagi definisi sahabat versi sunni dg carefully.. kalo versi rafidhah kan kita tau.. hanya 4 & paling banyak 5 orang yang dianggap sebgai sahabat yang beriman, wadoh pada kemana yang lain, mungkin hanya 4 org itu saja kali ya yg telah berhasil menaklukkan imperium romawi dan persia saat itu hehehe…

Benar mas, ayat ini menceritakan orang Islam yg hijrah ke Madinah. Tapi jangan lupa yang Allah ceritakan dlm ayat tsb adalah para sahabat yang shadiqin, karena dalam suatu hadis yg menjelaskan ayat tsb Rasulullah saw bersabda bahwa : Amal itu itu tergantung niatnya. Barang siapa yang hijrahnya karena wanita atau dunia, maka dia hanya akan mendapatkan apa yg diniatkannya itu. Jadi tdk semua sahabat yg hijrah disebut shadiqin.

Hey bung, ya memang benar para shahabat yang hijrah pada waktu itu adalah shadiqin bukan munafik!.. dan hadits tentang niat adalah hadits yang diriwayatkan oleh Umar ra (yang ente anti pati kan ama beliau, ngapain ente ambil juga hadits ini? hehehe), isinya adalah peringatan thd kaum muslimin untuk selalu menjaga niatnya.. dan Allah telah memuji dan bersaksi thd kaum muslimin yang berhijrah saat itu.. apakah Allah tidak mengetahui isi hati orang2 yg berhijrah tsb? sehingga Allah salah dalam memuji mereka sebagai Shadiqin? ente lebih percaya sama Al-Qur’an ato sama prasangka ente?

Intinya.. POKOKNYA munafik itu beda dengan sahabat Nabi (definisi Ahlussunnah) jadi ga usah berandai-andai lah… jelas sekali yang disampaikan mas Yuzman, sahabat menurut definisi ahlussunnah adalah SAHABAT SEJATI! BUKAN MUNAFIK! Kholas… ente mau bagi2 sahabat mnrt versi ente ya silahkan aja.. bukan urusan kita lagi…

18 03 2009
falseto

@antirafhidah :
“Dari definisi di atas jelas sekali bahwa orang-orang yang murtad sepeninggal Nabi SAW, orang-orang munafik, Khawarij (yang diperangi Imam Ali), Syiah Saba’iyah (yang sebagian mereka dibakar oleh Imam Ali karena mengkultuskan beliau) adalah bukan sahabat Nabi SAW secara syar’i yang adil, kalau sahabat secara lughah memang iya, karena memang diantara mereka ada yang hidup di sekitar Nabi SAW saat itu. Dan merekalah yang justru membuat fitnah yang besar sepeninggal Rasulullah sehingga terjadi tragedy pertumpahan darah diantara kaum muslimin saat itu. hingga sakitnya terasa sampai saat ini dan merekalah yang lebih pantas terkena hadits2 tersebut.”

Makanya ente baca dulu tulisan ane baik2. Jangan menuduh gegabah dulu. Kan ane bilang istilah sahabat itu masih umum. Bisa sahabat sejati atau sahabat yg tdk sejati alias pengkhianat. Maksud ane jelas kita jangan menggeneralisir seluruh sahabat itu adil dan takwa karena Al-Quran dan hadis2 sahih telah mengelompokkan para sahabat menjadi 2 kelompok spt dlm jawaban ane kpd mas Yuzman.

@antirafhidah:
“Adapun sahabat Nabi SAW yang Allah dan Rasul-Nya ridha kepada mereka serta Allah dan rasul-Nya menjadi saksi atas keutamaan mereka yang disebutkan dalam banyak ayat Alqur’an dan hadits-hadits Nabi SAW, maka bukan merekalah yang dimaksud hadits2 yang disebutkan oleh si Hendri. Kalau kita yakin bahwa seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat lain yang dijamin masuk surga yang dimaksud hadits2 tsb, berarti kita menganggap ada pertentangan antara al-Quran dengan hadits, antara hadits shahih yang satu dengan hadits shahih yang lain, dan seakan-akan kita menganggap Allah tidak mengetahui kesudahan orang-orang yang Dia telah ridhai…dan Dia perlu membatalkan keridhaan-Nya? Naudzubillah…Subhanallahi amma yashifun…”

1. Ane kan dari awal engga pernah nunjuk nama sahabat mana saja yg dimaksud hadis yg dikutip Edi Hendri. Tekanan ane di situ adalah bahwa memang ADA sahabat yang munafik/kafir disamping ada juga yg saleh dan takwa serta setia kpd Rasul saw.

2. Kenapa harus ada pertentangan antara ayat yg menjelaskan para sahabat yg saleh dan para sahabat yg murtad dan hadis2 yg memuji para sahabat dan hadis2 yg mengecam para sahabat ? Ente tinggal memasangkan saja. Kalau ayat2 yang memuji sahabat spt At-Taubah 100 umpamanya ente tinggal pasangkan dg hadis2 yg serupa. Sebaliknya ayat2 yg mengecam para sahabat ente pasangkan dg hadis2 yg dikutip oleh Edi hendri. Gitu aja kok repot !

@antirafhidah:
“…dan Dia perlu membatalkan keridhaan-Nya? Naudzubillah…Subhanallahi amma yashifun…”

itulah…kalau ente engga mikir secara mendalam akhirnya berucap spt itu….

@antirafhidah:
“Perhatikan ayat yang mulia berikut ini :
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) (QS 48:18)

Lihatlah Allah mengetahui isi hati mereka..” BUKAN ENTE BUNG! MAKANYA JANGAN GEGABAH KALO NGOMONG!, jadi jelas sekitar 1400 org yang hadir dalam bai’atur Ridhwan (di dalamnya termasuk tiga sahabat terkemuka Abu Bakar ra, Umar ra dan Ali ra, sedangkan Utsman ra adalah factor utama terjadinya bai’atur Ridhwan tsb) saat itu adalah BUKAN BAGIAN DARI KAUM MUNAFIK.. oce.. Allah sendiri yang menjadi saksi atas kebenaran isi hati mereka! Apakah ente menganggap Allah telah salah meridhai mereka? Jadi.. Hadits2 Bukhari-Muslim yg si Hendri bawakan jelas-jelas bukan untuk Sahabat dalam pengertian ayat2 di atas! Yang merupakan pengertian Ahlus Sunnah wal Jama’ah! Jelas ga ENTE? MAU ENTE KEMANAKAN AYAT2 DI ATAS DAN JUGA HADITS2 YG MENUNJUKKAN KEUTAMAAN SAHABAT NABI? JANGAN TERLALU GEGABAH & BAHLUL AH! GA BAIK!”

1. Ya jelaslah kalau Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu baik yg nyata maupun yg gaib.

2. Tapi darimana ente tau bahwa si fulan dan fulan adalah yg dimaksud oleh QS 48:18 ? Dari hadis ? hadis riwayat siapa ?

3. Kapan ane memasukkan org2 munafik dalam kelompok org yg dimaksud QS 48:18 ? Atau kapan ane memasukkan para sahabat yg saleh kedalam kelompok yang dimaksud oleh hadis2 Bukhori & Muslim yg dikutip Edi Hendri. Makanya teliti dan pikir dulu yg sangat2 mendalam dong spy engga gegabah.

@antirafhidah:
SO INTINYA JANGAN SAMAKAN SAHABAT NABI DENGAN MUNAFIK! DAN SAHABAT NABI ITU BUKAN HANYA SEGELINTIR ORANG SAJA SPT KATA ROFIDHOH YANG BAHLUL ITU! hehehe”

1. Koreksi : seharusnya ente mengatakan : SO INTINYA JANGAN SAMAKAN SAHABAT YG SALEH DG MUNAFIK !

2. Memang jumlah sahabat yg saleh dan setia kpd Nabi saw tidak segelintir, tetapi tetap saja minoritas dalam masyarakatnya. Hal ini sdh sunatullah. Coba ente baca Al-Quran, ente akan banyak ketemu dg kalimat “qolilan maa tasykurun” amat sedikit orang2 yang bersyukur. Atau coba ente bandingkan jumlah orang2 baik dg orang2 tdk baik. Pasti akan berbentuk piramida. Makin keatas makin menyempit. Begitu juga jumlah para Nabi, Wali dan org2 saleh.
Baca….baca….

@antirafhidah:
“Tuch di atas sudah dijelaskan sama mas Yuzman.. mudeng kagak ente? siapa sahabat yang menyakiti Nabi? yakin ente kalo sahabat tsb telah menyakiti Nabi? tuch liat QS 48:18, ayat tsb adalah pembersihan dan penjelasan yang paling gamblang dari Allah Azza wa Jalla thd para sahabat.. so omongan ente ga ada pa2nya.. hehehe”

1. Lagi-lagi ente gagal memilah-milah antara ayat2 yg memuji sahabat dan ayat2 yg mengecam sahabat. Jelas saja antara QS 48:18 yg memuji sahabat berbeda sekali dg QS Ahzab 57 yg mengecam sahabat yg menyakiti Nabi saw.

2. Berdasarkan pengertian bahwa sahabat itu terbagi dua kelompok sesuai petunjuk Al-Quran yg juga dijelaskan mas Yuzman, kenapa ada istilah yakin atau tdk yakin ? Kalau QS Ahzab 57 ngomong spt itu, ya wajib yakinlah !

@antirafhidah:
“Justru jelas sekali bahwa para sahabat telah teruji keadilannya dengan adanya mushaf Utsmani ini… dan Justru Allah telah menunjukkan keutamaan para sahabat Rasul-Nya yang sebelumnya telah dipilih-Nya menjadi bagian dalam menjalankan kehendak Allah tersebut…”

astagfirullah …anda sangat berani mengatakan bahwa Allah telah memilih para sahabat menjadi bagian bagian dalam menjalankan kehendak Allah tsb (kodifikasi Al-Quran).
Bukankah masalah penyusunan Kitab Suci hanya urusan Allah dan orang yang dipilih-Nya (Rasul-Nya) saja sbgmana ditegaskan dlm QS 75:17-19
Coba simak :
17] Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya dan membacanya.

[18] Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.

[19] Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya

Jadi dari sejak penurunan kedalam hati Muhammad, penulisan, pengumpulan/kodifikasi smp penjelasannya adalah HANYA URUSAN ALLAH DAN ORANG YG DIPILIHNYA, karena seutama-utamanya para sahabat, mereka tetap saja manusia biasa yg tidak maksum. Oleh karena itu manusia di luar (para sahabat) itu hanya sekedar membantu secara teknis.

Ane tdk menafikan kenyataan sejarah bahwa ada Mushaf Usmani. Tapi sifatnya tidak lebih dari menyatukan / menyeragamkan bacaan ayat2 Al-Quran saja dari tujuh macam bacaan yg dikenal dg al-Qira’ah as-Sab’ah. Kebijakan ini diambil untuk mencegah timbulnya pertentangan diantara sesama umat Islam. Apalagi ente tau wilayah kekuasaan Islam meluas smp keluar Jazirah Arab dan banyaknya org ‘ajam yg memeluk Islam.

@antirafhidah:
“yg jelas versi ahlussunnah adalah bahwa sepeninggal Rasulullah Shalallahu Alaihi wasalam para shahabat-lah yang mengumpulkan dan mengkodifikan Al-Qur’an yang sebelumnya telah dihapal oleh para sahabat dan tercatat pada tulang dan pelepah korma, ini berdasarkan riwayat-riwayat yg shahih dan mutawatir.”

1. Makanya ente perlu banyak baca, jangan telan begitu saja dan menganggap mutlak pendapat yg ada. Perlu penelitian dan perbandingan.

2. Kalau ayat2 Al-Quran dikumpulkan & dikodifikasikan oleh para sahabat yg tdk maksum itu, itu sama artinya dg mendegradasikan tingkat Al-Quran sbg Kitab Suci ke tingkat hadis.

3. Kan udah ane bilang bahwa sahih tdknya suatu hadis bukan ditentukan oleh sanadnya saja, tetapi juga apa bertentangan atau tdk dg ayat ? Sekalipun hadis mutawatir atau super mutawatir tapi makna riwayat tsb jelas bertentangan dg QS Al-Qiyamah 17-19 diatas.

@antirafhidah:
GA USAHLAH PLINTAT PLINTUT ENTE PERCAYA KAGAK DENGAN MUSHAF UTSMANI YG ADA SKRG INI? JUJURLAH! JIKA ENTE PERCAYA, MAKA SUNGGUH MENGHERANKAN JIKA ENTE MERAGUKAN KEADILAN ABU BAKAR, UMAR DAN UTSMAN! JIKA GA PERCAYA, LAKUM DINNUKUM WALIYADDIN AJA DECH!

waduh galaknya ! emang sorga cuma ente yg punye ? weleh…weleh

Dari tadi kan udah dibilangan bahwa permasalahannya bukan Mushaf Usmani atau bukan. Secara isi antara yang dikodifikasi pada zaman Nabi saw masih hidup dan yg dikodifikasi oleh Usman itu sama saja. Yg ane tekankan adalah bahwa urusan kodifikasi Al-Quran adalah MUTLAK URUSAN ALLAH SWT ! Ayatnya kan jelas spt udah ane ungkapkan diatas. Tinggal gantian ane yg harus tanya : ente percaya engga sama ayat tsb ?

@antirafhidah:
Sekali lagi justru ayat tersebut menunjukkan keutamaan sahabat.. penyebutan Al-Qur’an dengan istilah “Kitab” justru merupakan legalisasi dari Allah akan proses pengumpulan dan pengkodifikasian Al-Qur’an menjadi satu mushaf yang dilakukan oleh sahabat setelah Nabi wafat sehingga menjadi sebuah kitab yang mudah dibaca oleh manusia

1. Hebat ! Para sahabat lebih utama dari Nabi Muhammad saw, karena Nabi smp wafatnya tidak melakukan kodifikasi, sementara para melakukannya. Hebat bener !

2. Untuk diperhatikan bahwa penamaan Al-Quran dg “Al-Kitab” menandakan jika Al-Quran di masa hidup Rasulullah saw, telah tersusun rapi diantara dua sampul (baina daffatain) dlm satu Mushaf, karena menghafal atau menulisnya dlm tulang belulang atau dedaunan tidak bisa disebut dg “Al-Kitab”.

3. Adanya tantangan Allah kpd kaum musyrikin Quraisy untuk membuat yg semisal dg Quran menunjukkan bahwa Al-Kitab secara mudah bisa didiapat dimana saja. Engga mungkin dong Allah menantang kaum musyrikin tapi Qurannya masih berserakan dimana-mana.

4. Akal sehat kita menolak anggapan bahwa Rasulullah saw meninggalkan umatnya sementara Al-Quran yg akan menjaga umatnya dari kesesatan masih tersebar pada tulang, pelepah, dedaunan dan tempat2 lainnya. Padahal sebelum wafat beliau berwasiat dua hal yg berat, yaitu Kitabullah dan Ithrah Ahlul Bait (HR Muslim) atau Kitabullah dan Sunah Rasul yg diriwayatkan selain Muslim.

@antirafhidah:
“Wah ternyata ente yg kagak mudeng sejarah hehehe… anak kecil aja dr SD dah ngerti soal ginian lho.. hey bung kalo yg ente maksud kitab di sini adlh dalam bentuk satu mushaf, baik renungkan uraian saya : ayat yang terakhir turun adalah Al-Maidah : 3 yang turun di saat Rasulullah berhaji Wada’ dan tdk lama kemudian Rasulullah wafat.. berarti hampir seluruh kehidupan beliau semenjak diangkat menjadi rasul, beliau menerima wahyu Al-Qur’an secara berangsur-angsur sampai ayat tsb di atas yang terakhir turun, jadi kapan sempatnya Al-Qur’an dijadikan dlm satu mushaf spt skrg ini? sedangkan wahyu masih saja turun secara berangsur-angsur saat Rasulullah masih hidup? saat itu memang belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang menasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur`an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan ditempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu. Andaikata (pada masa Nabi)Qur`an itu seluruhnya dikumpulkan diantara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi.”

Sekarang saya balik : kalau memang pembukuan Al-Quran dilakukan setelah Nabi wafat, siapa yg menjamin bahwa ayat2 yg tertentu dimasukkan kedalam Surat tertentu sesuai petunjuk Nabi, padahal banyak para sahabat yg hafal Quran tewas dalam peperangan ?

Untuk ente perhatikan bahwa dlm masalah Al-Quran ada dua istilah, yaitu pertama, istilah “jam’u dlm QS Qiyamah 18 diatas adalah jaminan Allah untuk menghimpun apa yg telah diturunkan kpd Nabi saw dan menjaganya di dada beliau. Kedua, istilah “jam’al-Quran berarti kodifikasi Al-Quran dlm satu mushaf. Kalau yg dimaksud adalah yg kedua, maka ada 2 pendpat para ulama :

1. Al-Quran telah dihimpun secara lengkap sejak masa Nabi saw.
2. Al-Quran baru dihimpun secara lengkap setelah Nabi wafat.

Yang mana dari kedua pendapat tsb yg benar coba kita perhatikan riwayat2 ini :

Pertama, riwayat dari Zaid bin Tsabit yg intinya Alquran dihimpun menjadi mushaf pada masa Abu Bakar yg kmdn berpindah kpd Umar dan seterusnya kpd Hafsah.

Kedua, riwayat dari Anas bin malik dari Ibnu Syihab. Ini pada zaman Kahlifah Usman. Atas perintah Usman, zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash, Abdurahman bin Al-Harits bin Hisyam untuk menuliskan mushaf yg dipegang Hafsah kedlm mushaf2 dg dialek Quraisy.
Ibnu Syihab berkata :”Saya mendengar dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit bahwa ia diberitahu oleh Zaid bin Tsabit yg berkata :” Saya kehilangan sebuah ayat dari Surat Al-Ahzab tatkala menyalin mushaf2, padahal saya pernah mendengar Rasulullah saw pernah membacanya. Lalu kamipun mencarinya, hingga akhirnya kami dapatkan pada Huzaimah bin Tsabit.

Ketiga, juga dari Anas bin Malik yg diriwayatkan oleh Qatadah. Qatadah bertanya kpd Anas :Siapakah yg mengumpulkan Al-Quran pd zaman nabi saw ? Ia menjawab :”Empat org seluruhnya dari Anshar yaitu Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid.”

Keempat, diriwayatkan oleh Masruq dari Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Mas’ud, ia berkata :”Aku mendengar dari Rasulullah saw bersabda:”Ambilah Al-Quran dari 4 org, yaitu Abdullah bin mas’ud, Salim, Mu’adz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab.

Empat contoh riwayat diatas adalah baru sebagian kecil dari banyaknya riwayat ttg proses pengumpulan Al-Quran di kalangan Sunni yg saling bertentangan. Ini baru dari segi riwayat yg tentu saja untuk menilai mana yg benar maka harus dikembalikan kpd Al-Quran.

18 03 2009
falseto

Mengacu kpd keempat riwayat tsb maka pengumpulan Al-Quran terjadi pada tiga masa yg berbeda yaitu di masa Abu Bakar, Umar dan Usman. Bila ente mencermati ucapan Zaid bin Tsabit dlm riwayat kedua:”selesai menyalin Mushaf, kami kehilangan sebuah ayat dari Surat Al-Ahzab…kmd kami mencarinya dan kami temukan pada Huzaimah bin Tsabit….” dan kita anggap riwayat pertama sbg kebenaran, maka berarti bahwa Mushaf yg sudah dihimpun semasa Abu Bakar berkuasa terdapat kekurangan dg tidak adanya sebuah ayat dari Surat Al-Ahzab ! Sementara riwayat ketiga dan keempat mengisyaratkan bahwa Al-Quran telah dikumpulkan oleh sebagian sahabat semasa Nabi masih hidup.
Jadi mana yg mau ente ambil ?

Untuk ente ketahui bahwa riwayat kodifikasi Al-Quran di masa sahabat bertentangan dg ijma’ umat islam yg menyebutkan cara penetapan Al-Quran sejak pertama kali diturunkan hingga saat ini melalui jalur mutawatir al-Qath’iy. Sedangkan dlm riwayat tsb hanya dg satu atau beberapa orang saksi saja, dg demikian tidak masuk kategori al-Mutawatir, melainkan hanya khabar ahad saja.

Kesimpulan: menyandarkan proses pengumpulan Al-Quran pada para sahabat sepeninggal Nabi saw merupakan pendapat yg tdk berlandaskan pada bukti otentik dan bertentangan dg Al-Quran, Sunnah dan Ijma’ umat Islam.

19 03 2009
antigegabah

@antirafhidah:
“Wah ternyata ente yg kagak mudeng sejarah hehehe… anak kecil aja dr SD dah ngerti soal ginian lho.. hey bung kalo yg ente maksud kitab di sini adlh dalam bentuk satu mushaf, baik renungkan uraian saya : ayat yang terakhir turun adalah Al-Maidah : 3 yang turun di saat Rasulullah berhaji Wada’ dan tdk lama kemudian Rasulullah wafat.. berarti hampir seluruh kehidupan beliau semenjak diangkat menjadi rasul, beliau menerima wahyu Al-Qur’an secara berangsur-angsur sampai ayat tsb di atas yang terakhir turun, jadi kapan sempatnya Al-Qur’an dijadikan dlm satu mushaf spt skrg ini?”

1. mang, ane ngerti sejarah yg gituan. Ane kan terlahir di Sunni blongkotan. Cuma bedanya ane engga betah “tinggal di bawah kerakap” seumur hidup.

2. apa argumentasi ente bahwa turunnya Quran secara berangsur-angsur menjadi halangan proses penghimpunan Quran menjadi suatu mushaf ? bukankah Nabi saw tidak bekerja sendirian dlm proses penghimpunan itu dan bukankah lebih terjamin proses tsb karena diawasi oleh Nabi-Nya sendiri ? suatu mushaf tdk mesti bersifat final mengingat turunnya ayat secara berangsur-angsur.

3. sangatlah berisiko ketika ayat2/surat2 Al-Quran yg masih berserakan di pelepah, dedaunan, kulit dll itu baru dihimpun menjadi suatu mushaf pada masa setelah Nabi-Nya wafat atau pada masa sahabat, khususnya pada zaman Usman. Artinya kalau menurut versi riwayat pertama dan kedua yg jg menjadi pendapat ente, maka Al-Quran baru terhimpun menjadi mushaf setelah kurang lebih (23th + masa khalifah) = 45 – 50 tahun !

@antirafhidah:
“sedangkan wahyu masih saja turun secara berangsur-angsur saat Rasulullah masih hidup? saat itu memang belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang menasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya.”

1. kata siapa pada waktu Nabi saw masih hidup belum diperlukan mushaf ? nyang bener aja mang. Di Madinah itu Nabi saw mimpin negara yg bukan setingkat bukan RT lho ! Makanya saya katakan turunnya ayat secara gradual itu tdk mesti menjadi halangan proses penghimpunan (jam’u al-Quran).

2. mang, walaupun ada ayat yg dimansukh, tdk berarti ayat itu mesti dihilangkan dari suatu Surah. Asal ente tau pengertian “mansukh” itu bukan menghapus atau merevisi, tapi mengganti suatu ayat dg ayat lain yg lebih baik menurut kontekstual/tuntutan tahapannya. Bukan berarti ayat sebelumnya tdk baik, tetapi itu konsekuensi dari sifat kehidupan dunia yg meruang dan mewaktu. Itu sebabnya nuzulnya harus berangsur-angsur. Makanya jangan sok pinter ilmu tafsir.

@antirafhidah:
“Susunan atau tertib penulisan Qur`an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan ditempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu. Andaikata (pada masa Nabi)Qur`an itu seluruhnya dikumpulkan diantara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi.”

Sekali lagi saya tanya, apa hal tsb menjadi halangan suatu proses penghimpunan sehingga harus menunggu sampai 40-50 tahun ?
Janganlah mencari-cari alasan pembenaran demi pengagungan para sahabat namun sangat berakibat fatal bagi kesucian Al-Quran !

@antirafhidah:
“`Qur`an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur`an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah.`”

perubahan dlm suatu proses itu wajar sajalah karena turunnya ayatpun secara berangsur-angsur. kenapa jadi alasan ? Tapi mas tolong bedakan antara berubah dan belum lengkap. Sebenarnya engga tepat istilah berubah setiap waktu. Yg ada adalah ayat2 diturunkan secara bertahap untuk merespon suatu kejadian demi kejadian, walaupun ada juga ayat2 yg diturunkan bukan merespon kasus per kasus. Artinya walaupun bukan merupakan mushaf final, ayat2 yg baru turun dan ditulis pada suatu medium sesuai petunjuk Nabi saw langsung digabung dg ayat2 yang sudah turun sebelumnya. Adanya ayat2 baru pada suatu Surah yg sudah dihimpun menurut ane engga menjadi masalah atau halangan shg menjadi alasan untuk menunda penghimpunan secara final. Katakan saja ayat terakhir dalam Surat Al-Maidah harus diletakkan pada ayat yg sudah lama turun sebelumnya. Apa kesulitannya secara teknis untuk melakukan “inserting” dalam ayat yg sudah ada ?

@antirafhidah:
Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabit yang mengatakan: `Rasulullah telah wafat sedang Qur`an belum dikumpulkan sama sekali.` Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

Makanya mang hadis ini harus dikonfrontir dg hadis lebih sahih lagi, yaitu hadis Sahih Muslim yg berbunyi kira2:”Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalin) yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan Ithrah Ahlul Baitku”.
Bagaimana mungkin Nabi berwasiat berpegang teguh dg Al-Quran yg masih berserakan dan harus menunggu 40-50 tahun ? Mustahil Allah dan Rasul-Nya main2. Apalagi ada faktor tewasnya para sahabat yg menghafal Al-Quran dan kasus hilangnya ayat Surat Al-Ahzab dan yg terpenting faktor telah wafatnya Nabi-Nya yg punya otoritas mutlak penyusunan ayat2 Al-Quran ?

@antirafhidah :
“Al-Katabi berkata:` Rasulullah tidak mengumpulkan Qur`an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya.”

Itu kan menurut pendapat yg tdk bisa dipertahankan lagi mas. Kan sdh dibilang apakah adanya ayat nasikh mansukh menjadi halangan yg sangat berarti bagi proses penghimpunan ?

@antirafhidah:
“Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya . Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar”

Waduh kapan Allah kasih ilham/wangsit penulisan mushaf sama para sahabat ? Jangan ngarang2 ah !

Mang, janji Allah ttg jaminan pemeliharaan Kitab Suci-Nya engga ada hubungannya dg ilham kpd sahabat karangan ente. Sudah jelas kan di QS Al-Qiyamah 17-19 penghimpunan Al-Quran adalah urusan Allah semata. Kalaupun ada hamba-Nya yg dilibatkan ia pasti seorang pilihannya, yaitu nabi Muhammad saw. Masalah keterjaminan kesucian/keutuhan Al-Quran dlm kehidupan sehari-hari tidk tergantung pd seorang dua orang, tapi pada banyak orang (mutawatir).

Mang, ente bilang diatas ayat2 Quran mulai dikumpulkan pada masa Abu Bakar atas usulan Umar. Ane mau tanya gimana kalau Umar engga ngasih usul atau lupa ngusulin kpd Abu Bakar ? Apa Umar dapet ilham/wangsit juga dari Allah ? Gimana nasibnya Al-Quran ? Apa engga bertentangan dg QS Al-Qiyamah 17 ?

Jadi konsekwensi pendapat yg mengacu pd riwayat 1 & 2 adalah menyamakan proses penghimpunan Al-Quran dg hadis yg baru dihimpun kira2 abad ke 2 H. Jangan karena ingin memuliakan para sahabat, Al-Quran secara tdk sadar didegradasikan ke level periwayatan hadis.

19 03 2009
antirafidhah

@Falseto/antigegabah

Kenapa harus ada pertentangan antara ayat yg menjelaskan para sahabat yg saleh dan para sahabat yg murtad dan hadis2 yg memuji para sahabat dan hadis2 yg mengecam para sahabat ? Ente tinggal memasangkan saja. Kalau ayat2 yang memuji sahabat spt At-Taubah 100 umpamanya ente tinggal pasangkan dg hadis2 yg serupa. Sebaliknya ayat2 yg mengecam para sahabat ente pasangkan dg hadis2 yg dikutip oleh Edi hendri. Gitu aja kok repot !

Ente gegabah sekali ya.. Apakah menurut ente setiap ayat yang berupa peringatan kepada sahabat, berarti adalah kecaman? dan pensahan bahwa sahabat tsb murtad atau munafik? dangkal dan gegabah sekali pikiran ente! justru ayat-ayat berupa peringatan terhadap sahabat adalah merupakan tarbiyah langsung dari Allah kepada orang-orang yang menemani dan membela Rasul..

2. Tapi darimana ente tau bahwa si fulan dan fulan adalah yg dimaksud oleh QS 48:18 ? Dari hadis ? hadis riwayat siapa ?

hehehe makanya jangan hanya riwayat yg seolah-olah nyerang sahabat aja yang diapal..

1. Koreksi : seharusnya ente mengatakan : SO INTINYA JANGAN SAMAKAN SAHABAT YG SALEH DG MUNAFIK !

DASAR NGEYEL! kalo ente bukan sunni ga usah lah bahas ginian! dijelasin berulang-ulang ga mudeng2 juga.. sono plajari sndiri kitab2 agama rafidhah ente yg ga jelas itu!

2. Memang jumlah sahabat yg saleh dan setia kpd Nabi saw tidak segelintir, tetapi tetap saja minoritas dalam masyarakatnya. Hal ini sdh sunatullah. Coba ente baca Al-Quran, ente akan banyak ketemu dg kalimat “qolilan maa tasykurun” amat sedikit orang2 yang bersyukur. Atau coba ente bandingkan jumlah orang2 baik dg orang2 tdk baik. Pasti akan berbentuk piramida. Makin keatas makin menyempit. Begitu juga jumlah para Nabi, Wali dan org2 saleh.
Baca….baca….

Kalo saat itu sahabat minoritas dibandingkan umat-umat lain, emang iya.. tapi untuk umat Islam sendiri pada saat Nabi masih hidup maka mereka umat Islam satu-satunya di dunia saat itu dan mereka adalah mayoritas… jadi ayat yg ente pake itu ga ada relasinya..
Baca….baca….

1. Lagi-lagi ente gagal memilah-milah antara ayat2 yg memuji sahabat dan ayat2 yg mengecam sahabat. Jelas saja antara QS 48:18 yg memuji sahabat berbeda sekali dg QS Ahzab 57 yg mengecam sahabat yg menyakiti Nabi saw.

2. Berdasarkan pengertian bahwa sahabat itu terbagi dua kelompok sesuai petunjuk Al-Quran yg juga dijelaskan mas Yuzman, kenapa ada istilah yakin atau tdk yakin ? Kalau QS Ahzab 57 ngomong spt itu, ya wajib yakinlah !

hehehe ternyata ente yg salah dalam memamahi ayat, coba ente baca lg ayat 33:57, ayat sesudah dan sebelumnya juga.. ayat2 tersebut berupa perintah, larangan, nasehat/peringatan dari Allah kepada kaum muslimin saat itu sebagai tarbiyah Allah kepada orang-orang yang bersama dengan rasul-Nya.. apakah ayat-ayat berupa peringatan yang turun yang ditujukan kepada orang2 yang beriman dianggap suatu kecaman yg mengeluarkan mereka dari keimanan? ente pernah ga dimarahi oleh guru ente? hal itu menunjukkan guru ente sedang mendidik ato benci sama ente? wah parah juga nich orang..

astagfirullah …anda sangat berani mengatakan bahwa Allah telah memilih para sahabat menjadi bagian bagian dalam menjalankan kehendak Allah tsb (kodifikasi Al-Quran).
Bukankah masalah penyusunan Kitab Suci hanya urusan Allah dan orang yang dipilih-Nya (Rasul-Nya) saja sbgmana ditegaskan dlm QS 75:17-19
Coba simak :
17] Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya dan membacanya.

[18] Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.

[19] Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya

Jadi dari sejak penurunan kedalam hati Muhammad, penulisan, pengumpulan/kodifikasi smp penjelasannya adalah HANYA URUSAN ALLAH DAN ORANG YG DIPILIHNYA, karena seutama-utamanya para sahabat, mereka tetap saja manusia biasa yg tidak maksum. Oleh karena itu manusia di luar (para sahabat) itu hanya sekedar membantu secara teknis.

Susah juga kalo orang yg sudah terjangkit virus rafidhah ini dijelaskan.. dikumpulkannya Al-Qur’an menjadi satu mushaf oleh para sahabat adalah tidak lepas dari kehendak Allah dalam proses penjagaan Al-Qur’an ini.. sebagaimana dimenangkannya umat Islam atas kaum musyrik, munafik, imperium Persia dan Rumawi di tangan Sahabat adalah merupakan kehendak Allah dalam proses memenangkan agama-Nya.. jadi apanya yg bikin ente heran?

baik coba simak tafsiran Ibnu Abbas thd ayat2 di atas :

16] Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk Al Qur’an karena hendak cepat-cepat
17]Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya.
18]Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
19]Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.”
(al-Qiyamah:16-19 ).

Ibn Abbas mengatakan: “Rasulullah SAW sangat ingin segera menguasai Qur’an yang diturunkan, ia menggerakkan lidah dan kedua bibirnya karena takut apa yang turun itu akan terlewatkan. Ia ingin segera menghafalnya. Maka Allah menurunkan: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Qur’an karena hendak cepat-cepat untuk menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya , maksudnya Kami yang mengumpulkannya didadamu, kemudian kami memebacakannya. Apa bila Kami telah selesai memebacakannya, maksudnya ‘ apabila Kami telah menurunkannya kepadamu maka ikutilah bacaan itu, maksudnya dengarkan dan perhatikanlah ia’, kemudian atas tanggungan Kamilah penjelasannya, yakni menjelaskannya dengan lidahmu.’ Dalam lafal yang lain ia katakan : ‘atas tanggungan Kamilah membacakannya’ maka setelah ayat ini turun bila jibril datang, Rasulullah SAW diam. Dalam lafal lain: ‘ ia mendengarkan’.dan bila jibril telah pergi, barulah ia membacanya sebagaimana diperintahkan Allah.”

Tuch kan beda dengan penafsiran ente hehehe..

2. Kalau ayat2 Al-Quran dikumpulkan & dikodifikasikan oleh para sahabat yg tdk maksum itu, itu sama artinya dg mendegradasikan tingkat Al-Quran sbg Kitab Suci ke tingkat hadis.

Itu kan kata ente yang merendahkan sahabat.. ingat ya.. mereka menjadi sahabat Rasul yang Agung juga atas kehendak Allah.. mereka dipilih oleh Allah untuk menemani sang Nabi berjuang dalam menegakkan Dien ini, mereka yang dipilih oleh Allah untuk siap mengorbankan harta, keluarga dan jiwanya untuk menegakkan risalah-Nya.. mereka-pun dipilih oleh Allah untuk menyampaikan Al-Qur’an kepada umat manusia setelah Nabi wafat.. maka Al-Qur’an yang ada sekarang tidak akan sampai ke generasi kita melainkan melewati generasi sahabat.. inilah misi Rofidhoh sesungguhnya dengan usaha mendiskreditkan sahabat agar umat sesudahnya ragu terhadap Al-Qur’an.. jadi ubah-lah mindset ente yg telah teracuni virus rafidhah itu sebelum terlambat..

Dari tadi kan udah dibilangan bahwa permasalahannya bukan Mushaf Usmani atau bukan. Secara isi antara yang dikodifikasi pada zaman Nabi saw masih hidup dan yg dikodifikasi oleh Usman itu sama saja. Yg ane tekankan adalah bahwa urusan kodifikasi Al-Quran adalah MUTLAK URUSAN ALLAH SWT ! Ayatnya kan jelas spt udah ane ungkapkan diatas. Tinggal gantian ane yg harus tanya : ente percaya engga sama ayat tsb ?

Ya jelas percaya.. tetapi bukan spt pemahaman ente itu! lihat tafsir dari Ibnu Abbas di atas yang dimaksud ayat tersebut adalah pengumpulan dalam dada Nabi SAW, sedangkan mengenai penyusunan dalam bentuk tulisan, Allah berkehendak dengan berbagai cara, bagi Allah sangat mudah itu.. Sahabat yang menyusun Al-Qur’an menjadi satu mushaf adalah atas kehendak Allah.. dan sebagai bentuk penjagaan Allah thd Al-Qur’an tsb.. yaitu dengan memberi ilham terhadap para sahabat untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushaf.. sekarang pertanyaan saya, ente percaya ga sama mushaf Utsmani ini? kalo ente menganggap Utsman adalah bukan sahabat yg adil.. maka ente seharusnya ragu thd mushaf ini.. bisa aja Utsman ra nambah atau ngurangi isi mushaf? hayyo.. tetapi jika ente percaya bahwa Al-Qur’an yang ada adalah asli dan dijaga oleh Allah.. mau ga mau ente harus yakin bahwa sahabat Utsman ra, 2 khalifah sebelumnya dan sahabat2 yang lainnya saat itu sebagai orang-orang adil dan yang dipilih oleh Allah dalam proses penjagaan Al-Qur’an.. karena Al-Qur’an yg ada sekarang ini tidaklah sampai ke kita melainkan melewati generasi sahabat terlebih dahulu.

1. Hebat ! Para sahabat lebih utama dari Nabi Muhammad saw, karena Nabi smp wafatnya tidak melakukan kodifikasi, sementara para melakukannya. Hebat bener !

2. Untuk diperhatikan bahwa penamaan Al-Quran dg “Al-Kitab” menandakan jika Al-Quran di masa hidup Rasulullah saw, telah tersusun rapi diantara dua sampul (baina daffatain) dlm satu Mushaf, karena menghafal atau menulisnya dlm tulang belulang atau dedaunan tidak bisa disebut dg “Al-Kitab”.

3. Adanya tantangan Allah kpd kaum musyrikin Quraisy untuk membuat yg semisal dg Quran menunjukkan bahwa Al-Kitab secara mudah bisa didiapat dimana saja. Engga mungkin dong Allah menantang kaum musyrikin tapi Qurannya masih berserakan dimana-mana.

4. Akal sehat kita menolak anggapan bahwa Rasulullah saw meninggalkan umatnya sementara Al-Quran yg akan menjaga umatnya dari kesesatan masih tersebar pada tulang, pelepah, dedaunan dan tempat2 lainnya. Padahal sebelum wafat beliau berwasiat dua hal yg berat, yaitu Kitabullah dan Ithrah Ahlul Bait (HR Muslim) atau Kitabullah dan Sunah Rasul yg diriwayatkan selain Muslim.

Akal ente itu yg sudah terjangkit virus rafidhah jadi ga sehat, baca lagi tuch penjelasan ane di atas!.. kok ga mudeng2 juga nich orang..

Emangnya Al-Qur’an langsung turun, jatuh dari langit berbentuk kitab??? astaghfirullah… kayaknya butuh waktu lama nich ente sembuhnya dr virus rafidhah!

Pada permulaan Islam, kebanyakan orang bangsa Arab Islam adalah bangsa yang buta huruf, sangat sedikit di antara mereka yang tahu menulis dan membaca. Mereka belum mengenal kertas seperti kertas yang ada sekarang. Perkataan “al waraq” (daun) yang digunakan dalam mengatakan kertas pada masa itu hanyalah pada daun kayu saja. Kata “al qirthas” digunakan oleh mereka hanya merujuk kepada benda-benda (bahan-bahan) yang mereka pergunakan untuk ditulis seperti kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelepah tamar/kurma, tulang binatang dan sebagainya.

Setelah mereka menaklukkan negeri Persia, yaitu sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW barulah mereka mengenal kertas. Orang Persia menamakan kertas itu sebagai “kaqhid”. Maka digunakan kata itu untuk kertas oleh bangsa Arab Islam semenjak itu. Sebelum Nabi Muhammad atau semasa zaman Nabi Muhammad kata “kaqhid” itu tidak ada digunakan di dalam bahasa Arab, atau pun dalam hadis-hadis Nabi. Kemudian kata “al qirthas” digunakan pula oleh bangsa Arab Islam ini kepada apa yang dinamakan “kaqhid” dalam bahasa Persia itu. Kitab atau buku tentang apapun juga belum ada pada mereka. Kata-kata “kitab” di masa itu hanyalah bermaksud dalam bentuk seperti sepotong kulit, batu atau tulang dan sebagainya. Begitu juga dalam arti kata surat seperti pada ayat 28 dari surah An Naml di bawah.

“Pergilah dengan surat saya ini, maka jatuhkanlah dia kepada mereka..”

Begitu juga “kutub” (jama kitab) yang dikirimkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada raja-raja di masanya untuk menyeru mereka kepada Islam.

Walaupun kebanyakkan bangsa Arab Islam pada masa itu masih buta huruf, namun mereka mempunyai ingatan yang sangat kuat. Pegangan mereka dalam memelihara dan meriwayatkan syair-syair dari pujangga-pujangga dan penyair-penyair mereka, ansab (silsilah keturunan) mereka, peperangan-peperangan yang terjadi di antara mereka, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dan kehidupan mereka tiap hari dan lain-lain sebagainya, adalah kepada hafalan semata-mata. Demikianlah keadaan bangsa Arab di waktu kedatangan Islam itu. Maka dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW suatu cara yang amali (praktis) yang selaras dengan keadaan itu dalam menyiarkan Al Quran dan memeliharanya. Tiap-tiap diturunkan ayat-ayat itu, Nabi Muhammad SAW menyuruh menghafalnya dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelepah tamar dan apa saja yang bisa disusun dalam sesuatu surat. Nabi Muhammad menerangkan tertib urut ayat-ayat itu. Nabi Muhammad mengadakan peraturan, yaitu Al Quran sajalah yang boleh dituliskan. Selain daripada Al Quran, Hadis-hadis atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi Muhammad dilarang menuliskannya. Larangan ini bermaksud supaya Al Quran itu terpelihara, jangan campur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Nabi Muhammad.

Nabi menganjurkan supaya Al Quran itu dihafal, selalu dibaca dan diwajibkannya membacanya dalam solat. Maka dengan itu banyaklah orang yang hafal Al Quran. Surah yang satu dihafal oleh ribuan manusia dan banyak yang hafal seluruh Al Quran. Dalam pada itu tidak ada satu ayatpun yang tidak dituliskan. Kepandaian menulis dan membaca itu amat dihargai dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad sehingga baginda bersabda, “Di akhirat nanti tinta ulama-ulama itu akan ditimbang dengan darah syuhada (orang-orang yang mati syahid)” Hal ini menunjukkan bahwa beliau ridho akan penulisan selain Al-Qur’an setelah beliau wafat. Maka tidaklah mengapa penulisan Hadits, ilmu fiqih, dan penulisan ilmu-ilmu lainnya setelah beliau SAW wafat.

Sekarang saya balik : kalau memang pembukuan Al-Quran dilakukan setelah Nabi wafat, siapa yg menjamin bahwa ayat2 yg tertentu dimasukkan kedalam Surat tertentu sesuai petunjuk Nabi, padahal banyak para sahabat yg hafal Quran tewas dalam peperangan ?

Kan ada orang-orang yang ditunjuk Nabi sebagai pencatat Wahyu? Diantaranya adalah Zaid bin Tsabit, dan beliaulah yang terakhir kali membaca Al-Qur’an di hadapan Nabi sebelum wafatnya, itulah makanya peran sahabat di sini sangat menentukan, maka akal & keislaman ente yg perlu dipertanyakan jika merendahkan mereka.. memang banyak sahabat yang hafal Qur’an yg tewas dalam peperangan, tetapi kan ga semua!

Mengacu kpd keempat riwayat tsb maka pengumpulan Al-Quran terjadi pada tiga masa yg berbeda yaitu di masa Abu Bakar, Umar dan Usman. Bila ente mencermati ucapan Zaid bin Tsabit dlm riwayat kedua:”selesai menyalin Mushaf, kami kehilangan sebuah ayat dari Surat Al-Ahzab…kmd kami mencarinya dan kami temukan pada Huzaimah bin Tsabit….” dan kita anggap riwayat pertama sbg kebenaran, maka berarti bahwa Mushaf yg sudah dihimpun semasa Abu Bakar berkuasa terdapat kekurangan dg tidak adanya sebuah ayat dari Surat Al-Ahzab ! Sementara riwayat ketiga dan keempat mengisyaratkan bahwa Al-Quran telah dikumpulkan oleh sebagian sahabat semasa Nabi masih hidup.
Jadi mana yg mau ente ambil ?

Justru mereka para sahabat adalah instrument penjagaan Kalamullah, ente perhatikan baik2 ya.. Al-Qur’an awalnya adalah dihapal oleh Rasul dan para sahabatnya, sedangkan para sahabat memang sebagian telah menuliskan ayat2 Al-Qur’an di masa Nabi masih hidup, mereka menuliskannya di kulit, pelepah korma dan tulang yang memang sebelum penaklukan Negara adi kuasa yaitu Persia dan Rumawi belum-lah dikenal yang namanya kertas, setelah Rasulullah wafat, dan terjadi peperangan yang banyak menewaskan para penghapal Qur’an, maka atas usul Umar ra, Abu Bakar memerintahkan para sahabat yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu Mushaf, perbedaannya dengan pengumpulan mushaf pada masa Utsman,. adalah mushaf yang dikumpulkan pada masa Abu Bakar hanya dikumpulkan karena khawatir akan byknya para Qurra yg gugur dan kemudian hanya disimpan di rumah Hafshah dan sahabat tetap mempunyai mushaf masing2, jadi mushaf Abu Bakar sifatnya belum mengikat, sedangkan pada masa Utsman, pengumpulan dan pengkodifikasian lebih sempurna disertai penyeragaman cara baca, tata letak sesuai yang diajarkan Rasulullah dan pada masa beliau ini selain mushaf Utsman diperintahkan untuk dibakar.. Jadi Mushaf Utsman ini adalah mushaf Final dan lebih lengkap dari mushaf sebelumnya dan sifatnya mengikat..

Sebelum Khalifah Utsman ra mengumpulkan seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum, beberapa sahabat sudah ada yg menulis ayat ayat Al Qur’an, termasuk Imam Ali bin Abi Thalib ra, namun beliau menuliskannya berdasarkan urutan turunnya ayat, ayat pertama adalah Al ‘Alaq 1-5, lalu kemudian Al Muddatsir, lalu Al Qalam, lalu Al Muzammil, lalu Al Lahb, Attakwir, dst.

Namun setelah sahabat dikumpulkan, yaitu di zaman Utsman bin Affan ra, maka Imam Ali ra pun menyetujui susunan tersebut dan memusnahkan mushaf yg lain, untuk agar tak terjadi ikhtilaf kelak.
Jazahullah khairul jaza alaihim ajma’iin.. yg sangat menjaga agar tak terjadi perbedaan pendapat pada ummat yg selanjutnya. Betapa luhur murid murid Rasulullah saw ini, dan mereka manusia manusia termulia dalam Ummat ini.
[Sumber : kitab Al Itqan fi ulumil qur'an juz 1 hal 291]

Maka tidak diragukan lagi, para sahabat Nabi adalah termasuk salah satu instrument penjagaan Allah thd Al-Qur’an sebagaimana firman Allah :

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Al-Hijr 9

Itulah kedudukan Sahabat di mata Ahlussunnah, kedudukan mereka begitu penting dalam agama ini, maka jika orang semacam rafidhah, orientalis, liberalis berusaha mendiskreditkan mereka, sebenarnyalah mereka sedang berusaha mencabut akar pohon Islam ini, maka kalian akan berhadapan dengan kami..

Kesimpulan: menyandarkan proses pengumpulan Al-Quran pada para sahabat sepeninggal Nabi saw merupakan pendapat yg tdk berlandaskan pada bukti otentik dan bertentangan dg Al-Quran, Sunnah dan Ijma’ umat Islam.

Hayyah, tungguin aja versi Al-Qur’an ente yg masih Ghaib itu hehehe… kalo kita ma yang pasti-pasti aja dech hehehe… yang jelas sekali & tak bisa diingkari bahwa Al-Qur’an saat ini tidak-lah sampai ke kita melainkan melewati generasi mereka (sahabat). kalo ente ga percaya sama mereka sama saja ente ga percaya akan keotentikan Al-Qur’an.. itu aja.. hehehe…

19 03 2009
antirafidhah

@antigegabah/falsetto

1. mang, ane ngerti sejarah yg gituan. Ane kan terlahir di Sunni blongkotan. Cuma bedanya ane engga betah “tinggal di bawah kerakap” seumur hidup.

Soalnye ente sudah terjangkit virus Rafidhah! Itu yg jelas hehehe..

2. apa argumentasi ente bahwa turunnya Quran secara berangsur-angsur menjadi halangan proses penghimpunan Quran menjadi suatu mushaf ? bukankah Nabi saw tidak bekerja sendirian dlm proses penghimpunan itu dan bukankah lebih terjamin proses tsb karena diawasi oleh Nabi-Nya sendiri ? suatu mushaf tdk mesti bersifat final mengingat turunnya ayat secara berangsur-angsur.

Ente baca lagi dech uraian ane di atas…

3. sangatlah berisiko ketika ayat2/surat2 Al-Quran yg masih berserakan di pelepah, dedaunan, kulit dll itu baru dihimpun menjadi suatu mushaf pada masa setelah Nabi-Nya wafat atau pada masa sahabat, khususnya pada zaman Usman. Artinya kalau menurut versi riwayat pertama dan kedua yg jg menjadi pendapat ente, maka Al-Quran baru terhimpun menjadi mushaf setelah kurang lebih (23th + masa khalifah) = 45 – 50 tahun !

Hey bung, ingat ya, sejak Nabi masih hidup, Al-Qur’an sudah dihapal oleh para sahabat (inilah yang diandalkan kaum muslimin pd waktu itu), dan sebagian sahabat mencatat Al-Qur’an sehingga masing2 mereka mempunyai catatan sendiri2, tetapi catatan2 mereka itu belum tertib dan masih berupa tulisan-tulisan di kulit binatang, tulang, pelepah korma, papan kayu dll.. makanya pada masa Abu Bakar mulai-lah usaha pengumpulannya menjadi satu mushaf.. jadi bukan berarti Al-Qur’an berantakan kyk gambaran ente.. jadi yang namanya mushaf pada masa Nabi adalah sebagai backup data aja bukan data primer, yang data primer adalah hapalan (al-Qur’an yang dikumpulkan di dada-dada mereka).. tetapi dg berjalannya waktu dan banyaknya orang2 arab & ajam masuk Islam, maka Al-Qur’an dlm bentuk mushaf standard dan mudah dibaca amat diperlukan keberadaannya..

Adanya ayat2 baru pada suatu Surah yg sudah dihimpun menurut ane engga menjadi masalah atau halangan shg menjadi alasan untuk menunda penghimpunan secara final. Katakan saja ayat terakhir dalam Surat Al-Maidah harus diletakkan pada ayat yg sudah lama turun sebelumnya. Apa kesulitannya secara teknis untuk melakukan “inserting” dalam ayat yg sudah ada ?

Hehehe.. menurut ente ya… ya udah sono bikin Al-Qur’an sndiri sono.. parah banget nich orang.. hehehe… maunya kok menurut ane.. hehehe..

Makanya mang hadis ini harus dikonfrontir dg hadis lebih sahih lagi, yaitu hadis Sahih Muslim yg berbunyi kira2:”Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalin) yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan Ithrah Ahlul Baitku”.
Bagaimana mungkin Nabi berwasiat berpegang teguh dg Al-Quran yg masih berserakan dan harus menunggu 40-50 tahun ? Mustahil Allah dan Rasul-Nya main2. Apalagi ada faktor tewasnya para sahabat yg menghafal Al-Quran dan kasus hilangnya ayat Surat Al-Ahzab dan yg terpenting faktor telah wafatnya Nabi-Nya yg punya otoritas mutlak penyusunan ayat2 Al-Quran ?

Liat lagi penjelasan ane di atas dech.. ayat Surat Al-Ahzab itu bukan hilang bro, hanya belum tersalin.. sedangkan masa itu para sahabat masih lebih mengandalkan hapalan daripada mushaf, buktinya terlihat Zaid bin Tsabit mengetahui ayat tsb belum disalin berdasarkan hapalan beliau.. sehingga Mushaf Utsmani inilah yang final.. dan sekali lagi ini menunjukkan penjagaan Allah thd Al-Qur’an melalui Sahabat sebelum Al-Qur’an dijadikan rujukan bagi kaum muslimin sampai detik ini.

Itu kan menurut pendapat yg tdk bisa dipertahankan lagi mas. Kan sdh dibilang apakah adanya ayat nasikh mansukh menjadi halangan yg sangat berarti bagi proses penghimpunan ?

Justru pendapat ente yg ga bisa dipertahankan.. dan pendapat Al-Khattabi lah yg lebih masuk akal..

Waduh kapan Allah kasih ilham/wangsit penulisan mushaf sama para sahabat ? Jangan ngarang2 ah !

Yang jelas ga perlu kasih tau ente lah.. kan ente blom lahir … hehehehehe…

Mang, ente bilang diatas ayat2 Quran mulai dikumpulkan pada masa Abu Bakar atas usulan Umar. Ane mau tanya gimana kalau Umar engga ngasih usul atau lupa ngusulin kpd Abu Bakar ? Apa Umar dapet ilham/wangsit juga dari Allah ? Gimana nasibnya Al-Quran ? Apa engga bertentangan dg QS Al-Qiyamah 17 ?

Justru itulah yang menunjukkan bahwa Allah telah memberi ilham kepada Umar ra agar Al-Qur’an ini terjaga.. Nabi saja pernah bersabda : “Seandainya ada Nabi lagi setelahku maka Umar-lah orang-nya”. tentang QS 75:17 kan dah dijelasin di atas hehehe..

Jadi konsekwensi pendapat yg mengacu pd riwayat 1 & 2 adalah menyamakan proses penghimpunan Al-Quran dg hadis yg baru dihimpun kira2 abad ke 2 H. Jangan karena ingin memuliakan para sahabat, Al-Quran secara tdk sadar didegradasikan ke level periwayatan hadis.

Ah itu kan hanya pendapat rafidhah, kaum orientalis dan liberalis ajah.. ga usah didengerin dech… huehehehe…

20 03 2009
falseto

@antiraf:
“Ah itu kan hanya pendapat rafidhah, kaum orientalis dan liberalis ajah.. ga usah didengerin dech… huehehehe…”

hadisnya jelas, kok ya pake nuduh orientalis segala. Justru pendapat ente ini yg jadi makanan empuk para orientalis !

masa pembukuan Al-Quran yg suci mau disamakan dg pembukuan hadis yg baru di tadwin pada abad 2 H.

21 03 2009
antirafidhah

hadisnya jelas, kok ya pake nuduh orientalis segala. Justru pendapat ente ini yg jadi makanan empuk para orientalis !

Ga kerasa ente? kalo gaya pemikiran rafidhah itu persis orientalis & liberalis? bukan nuduh lho, emang kenyataan.. kita ga mrasa tuch jd makanan empuk orientalis, justru mrk tuch yg jd sasaran empuk kita hehehe.. emang kerjaan mrk kan kyk gitu, mencari-cari kelemahan Islam.. kita-lah yg ngadepin.. anehnya si rafidhah yg ngaku Islam ngikuti gaya orientalis dlm nyerang Islam.. makanya tobatlah ente.. mumpung masih ada kesempatan..

masa pembukuan Al-Quran yg suci mau disamakan dg pembukuan hadis yg baru di tadwin pada abad 2 H.

Baca lagi dech di atas..

25 03 2009
antigegabah

@antirafhidah :
kita ga mrasa tuch jd makanan empuk orientalis, justru mrk tuch yg jd sasaran empuk kita hehehe..

waduh boleh juga nich, tapi bisa2 tambah runyam deh kalo ente yg ngadepin….
wong membedakan antara sahabat yg saleh dengan yg murtad aja kebingungan. Dalam beragama semangat saja tdk cukup apalagi ngandelin warisan agama dari ortu.

@antirafidhah:
anehnya si rafidhah yg ngaku Islam ngikuti gaya orientalis dlm nyerang Islam..

nah, bener kan cuma karena ngutip ayat dan hadis2 Bukhori & Muslim tentang para sahabat disebut nyerang Islam. Jadi Islam = sahabat murtad ? uh engga deh….

@antirafhidah:
makanya tobatlah ente.. mumpung masih ada kesempatan..

baiklah, mari kita sama2 tobat kpd Allah dan meninggalkan ajaran Muawiyah…

@antirafhidah:
Nabi saja pernah bersabda : “Seandainya ada Nabi lagi setelahku maka Umar-lah orang-nya”

he he he, mang sebelum dikutip itu hadis diteliti dulu dong ! bagaimana mungkin Nabi saw bersabda spt itu ? walaupun berbentuk pengandaian, tetap saja Nabi mustahil berkata segegabah itu.

Untuk diketahui saja bahwa salah satu syarat untuk menjadi Nabi adalah maksum total. Sedangkan Umar adalah mantan dzalim (penyembah berhala dll) dan baru masuk Islam ketika sudah tua atau setelah adik perempuannya. Waktunya lebih banyak dihabiskan di pasar, karena dia adalah pedagang. Bandingkan dg seorang Muhammad yg ketika sebelum menjadi Nabi mendapat gelar al-Amin dari penduduk Mekah dan tdk pernah menyembah berhala dan tdk berbuat maksiat lainnya. Menjelang kenabiannya sering berkhalwat di gua Hira.

Makanya beragama itu harus melalui pencarian. Kalo ketemu hadis teliti dulu, jangan main telan aja !

26 03 2009
Abu Ja'fariyan

Untuk Mengapresiasi hadis “Agama bagi orang berakal”, ini ada suatu cerita yang perlu
perenungan dengan Hati Jujur dan Terbuka

Cerita ini terjadi pada beberapa abad yang lalu. Bermula dari pertemuan seorang ulama muslim dengan seorang kafir, yang kemudian berkelanjutan dengan dialog yang perlu kita renungkan. Sebagaimana yang kita ketahui dalam sejarah Islam, terdapat beberapa aliran pada waktu itu, dan bahkan sekarang. Salah satu dari perbedaan itu adalah bagaimana cara seorang muslim sejati menilai suatu “Kebaikan” dan “Keburukan”. Perbedaan itu sebenarnya menyangkut masalah fundamental keIslaman. Kubu Imam Ali as. dan Khawarij merupakan sumber utama perbedaan itu. Dan dari kedua kubu itulah kemudian menyusup masuk kedalam golongan-golongan lain, yang walaupun tidak memakai nama golongan keduanya. Pengikut Ahlulbait dan Khawarij
Sebagian kaum muslimin mengatakan bahwa “Kebaikan” dan “Keburukan” hanya dapat ditentukan oleh Sunnah. Yaitu sunnah Allah (Al-Qur’an) dan sunnah-Nabi (Hadits). Akal tidak mempunyai dan tidak boleh mempunyai saham dalam menentukan keduanya. Sebab, akal sangat terbatas kemampuannya. Maka dari itu barangsiapa menggunakan akalnya dalam agama, maka ia sesat dan berada diluar jalur Islam. Seperti orang-orang yang bertanya “Mengapa ayat itu atau hadits itu demikian”. Mereka mengatakan bahwa kita harus menerima dan tidak boleh menggugat apa-apa yang ada dalam ayat dan hadits.
Lain dengan apa yang diyakini oleh kelompok muslimin yang lain. Yang mana sangat mengkristal dalam golongan Pengikut Ahlulbait. Walaupun seabad setelah itu keyakinan tersebut mengkristal pula dalam diri golongan Mu’tazilah. Keyakinan itu adalah suatu keyakinan yang mengatakan bahwa akal manusia dapat mengetahui sebagian kebaikan dan keburukan walaupun tanpa melalui Syariat. Dan akal mempunyai saham untuk itu. Seperti dalam menentukan agama apakah yang paling baik. Hal ini akan kami jelaskan secara lebih rinci pada bab yang menyangkut “Posisi al-Qur’an Terhadap Keimanan”, Insya Allah. Mereka mengatakan bahwa akal boleh bertanya mengapa suatu ayat atau hadits sedemikian rupa.
Dalil dari golongan kedua ini akan kami rinci dalam bab tersendiri, Insya Allah. Namun harus diketahui sebagai inti dari keyakinan golongan ini bahwasanya pertanyaan akal terhadap syariat itu dilakukan demi mencapai syariat yang sebenarnya, bukan syariat yang semu atau diatasnamakan. Sebab, banyak sekali kaum yang sesat yang, sengaja atau tidak, telah bersembunyi di harakat-harakat atau lafat-lafat al-Qur’an dan hadits. Mereka menyeru dengan gigih supaya kaum muslimin kembali ke al-Qur’an dan hadits sebagaimana mereka. Sementara mereka meyakini bahwa tidak akan ada orang yang mampu memahami maksud sebenarnya dari al-Qur’an dan hadits. Lalu, kemanakah mereka menyeru? Ke al-Qur’ankah atau semi al-Qur’an? Ke makna dan maksudnya atau keharakat atau titik komanya?
Kembali ke al-Qur’an dan hadits bukan merupakan pekerjaan mudah yang bisa dicapai dengan hanya belajar agama dalam beberapa tahun. Lebih-lebih dengan hanya melihat dan membeli buku di trotoar jalan. Sebab, ternyata, sesama penganut al-Qur’an saling menyesatkan dan memasukkan kedalam dhalalah, dan yang paling ngeri ke neraka. Yang lebih aneh lagi, dalam pada itu, mereka mengatakan bahwa neraka dan surga adalah urusan Allah.
Memang aneh kalau kita lihat kehidupan orang-orang yang hanya berloncatan dari harakat ayat yang satu ke harakat ayat yang lainnya sambil mengikat erat akalnya. Biasanya tidak lebih, hanya sekedar Ba… Ba… Ba, Bi… Bi… Bi… dan Bu… Bu… Bu… Mereka tidak lagi menatap kedalam ayat-ayatnya dengan pancaran obor akalnya. Apalagi untuk menatap hadits-hadits, yang kata mereka keluar dari sekedar manusia seperti kita. Sungguh kultur Islam yang sebenarnya terporakporAndakan dengan itu semua. Bahkan mereka, dengan membawa kantongan harakat-harakat itu, dengan penuh semangat, siap berjuang sampai titik darah penghabisan. Dan memaksa golongan lain mengikuti mereka. Walaupun mereka tahu bahwa agama tidak dapat dipaksakan.
Tokoh ulama yang akan diceritakan dalam tulisan ini adalah yang mewakili golongan pertama. Yaitu yang mengharamkan menggunakan akal dalam agama. Tokoh ini mewajibkan dirinya untuk menyebarkan agama Islam di negerinya, Persia, setelah ia belajar Islam dinegeri arab. Sebab waktu itu, walaupun bangsa Persia sudah tergolong kaum muslimin, namun sementara itu ada di beberapa bagian lainnya, yang belum mendapatkan penjelasan agama Islam secara merata, dan masih dalam kekafiran. Salah satunya adalah sebuah kota yang sekarang bernama Hamadan. Dengan semangat jihad dan pengabdian, tokoh kita ini tidak surut karena rintangan. Ia mulai menginjakkan kakinya di kota Hamadan itu lalu mulai menyiarkan Islam.
Dengan kehadiran tokoh tersebut, yang penuh wibawa dan tanpa pamrih serta dengan bekal kitab yang diangkut dengan beberapa ekor unta, membuat suasana kota Hamadan sedikit berubah. Orang-orang yang memang sudah masuk Islam membicarakannya di masjid-masjid. Sementara yang lain, yang masih meragukan kebenaran Islam (kafir), membicarakannya di pasar-pasar. Walhasil situasi kota Hamadan hampir dipenuhi dengan pembicaraan mengenainya.
Pada suatu pagi, datanglah seorang yang nampak pAndai dirumah tokoh itu. Dan memang pada pagi itu pula datang beberapa orang lainnya. Sebab, sang tokoh itu setiap pagi sampai menjelang zhuhur selalu menerima tamu yang, khususnya ingin memperdalam Islam. Orang yang nampak pAndai itu memang salah seorang terpAndang dalam ilmu pengetahuan di kala dan di kota itu.
Seperti biasa, sang tokoh berpakaian rapi dan berwarna putih bersih dengan sorban melilit dikepala, selalu tersenyum ramah dalam menerima tamu-tamunya. Ruang tamunya yang sedikit luas terpenuhi dengan hamparan hambal. Para tamu segera mengambil posisi sendiri-sendiri ketika memasuki ruangan itu. Memang didepan pintu ada yang menjaga yang bertugas menerima tamu. Dia adalah salah satu murid terdekat sang tokoh. Mungkin memang karena namanya, orang yang nampak pAndai itu sedikit melebihi orang-orang pada umumya dalam pengetahuan dan mempunyai kelincahan lidah dalam pembicaraan. “Zaranggi”, adalah nama yang cukup lucu dalam bahasa Persia. “Zaranggi” artinya “cerdik”.
Pada pagi itu dengan penuh semangat Zaraggi duduk tepat dihadapan sang tokoh yang sembari menyiapkan beberapa bukunya melirik ke arahnya dan tersenyum. Dan, Zaranggi pun membalas senyuman sang tokoh.
Setelah ruangan hampir penuh, barulah majelis Tanya-jawab itu dibuka. Dengan penuh welas asih dan dengan ucapan basmalah serta beberapa kutipan ayat al-Qur’an sang tokoh membuka majelis. Kemudian ia berucap:
“Saudara-saudara sekalian, seperti biasa, mari kita bersihkan hati kita dari segala macam keburukan dan kedengkian serta kemalasan dalam mencari kebenaran. Semoga pada pagi yang cerah ini menjadi pertanda tercerahnya kebenaran agama suci Islam bagi hati kita sekalian. Dan saya harap Anda jangan sungkan-sungkan dalam bertanya. Silahkan!”
Sang tokoh memandangi satu persatu tamunya dengan penuh perhatian. Dan terakhir pandangannya tertumpu pada orang yang duduk didekatnya. Lalu dia bertanya dengan penuh persahabatan.
“Siapakah nama Tuan?”
Yang ditanya balas menjawab dengan ramah pula.
“Nama saya Zaranggi Tuan.”
“Terima kasih. Apakah Anda punya pertanyaan?” Tanya sang tokoh.
“Benar,” ia menjawab, “Apakah saya boleh bertanya apa saja mengenai agama Tuan?” lanjutnya.
“Ya, boleh saja dan saya senang sekali. Apakah pertanyaan Anda itu Tuan?” Tanya sang tokoh.
“Terimakasih. Pertanyaan saya yang pertama adalah apa nama agama Tuan, dan apa saja ajaran umumnya, serta apa dasar-dasarnya?” Tanya Zaranggi.
Dengan penuh hidmat dan hati-hati sang tokoh menjawab: “Agama kami adalah ‘Islam”. Ajaran umumnya adalah menganjurkan kebaikan dan melarang berbuat munkar (keburukan), sehingga dunia ini dipenuhi dengan rasa aman (salamah) dan tentram. Dasar-dasarnya ada dua macam. Yang pertama, yang bersangkutan dengan lahiriah manusia. Yaitu membaca syahadatain, shalat lima waktu dalam sehari, membayar zakat bagi yang mampu, puasa di bulan Ramadhan dan pergi haji bagi yang mampu. Yang ini disebut ‘rukun Islam’. Sedangkan yang kedua adalah yang menyangkut hati nurani manusia. Yaitu, Iman kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab Allah (Al-Qur’an), utusan-utusan Allah (Rasulullah), Hari Kebangkitan setelah kematian dan mengimani takdir Allah. Yang kedua ini disebut dengan ‘Rukun Iman’.”
“Bisakah Anda merinci dengan lebih jelas lagi tentang maksud masing-masing rukun Islam dan rukun Iman itu?” Zaranggi memohon.
“Oh tentu,” kata sang tokoh yang kemudian melanjutkan uraiannya terhadap satu persatu dari masing-masing rukun dari kedua rukun tersebut. Dan Zaranggi mendengarkannya secara seksama dan penuh rasa ingin tahu.
Setelah sang tokoh merinci poin-poin rukun Islam dan rukun Iman, Zaranggi bertanya.
“Sesuai dengan penjelasan Tuan, rasa-rasanya tersirat suatu pengertian bahwa yang masuk Islam atau mengamalkan rukun Islam belum tentu masuk Iman. Bukankah demikian?”
“Benar, memang demikian kenyataannya, dan mereka disebut munafik. Yaitu yang mengamalkan Islam tapi tidak mengimaninya dalam hati” jawab sang tokoh.
“Apa benar munafik itu ada Tuan? Sebab dengan demikian, mereka berlelah-lelah mengerjakan sesuatu yang tidak mereka yakini?” Tanya Zaranggi dengan sedikit keheranan.
“Menurut sejarah dan al-Qur’an (jawab sang tokoh), mereka itu benar-benar ada. Bahkan sejak zaman Nabi. Yang menunjukkan hal itu adalah adanya satu surat dalam al-Qur’an yang diberi nama ‘Surat Munafiqun’ yang artinya ‘orang-orang munafik’. Atau dalam ayat 101 surat al-Taubah. Di sini bahkan dikatakan bahwa Nabi tidak mengetahui keadaan mereka itu. Ayat yang dikasudkan tadi itu mempunyai inti demikian:
“Dan sebagian orang-orang desa yang ada di sekelilingmu adalah orang-orang munafik. Dan begitu pula sebagian orang-orang Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikan. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka. Sedang kami mengetahui mereka.” (Q.S. al-Taubah : 101)
“Lalu, untuk apa mereka melakukan itu Tuan?” tanya Zaranggi keheranan.
“Yah, kami tidak tahu Tuan. Mungkin saja mereka mempunyai maksud-maksud tersembunyi, misalnya untuk merusak Islam dari dalam atau untuk mendapatkan kepentingan duniawi lainnya” jawab sang tokoh.
“Apa betul mereka tidak ketahuan Tuan?” lagi-lagi Zaranggi bertanya penuh keheranan.
“Betul, yah… maklumlah namanya saja sudah munafik, lain dimulut lain pula dihati. Dalamnya laut dapat diterka tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Masalah hati hanya Allahlah yang tahu” sang tokoh menjawab sambil menghela nafas panjang.
“Siapa Allah yang dapat mengetahui isi hati itu Tuan?” tanya Zaranggi.
“Allah itu adalah Tuhan Pencipta kita dan alam semesta ini, Tuan Zaranggi” Jawabnya.
“Dari mana Anda tahu Tuan bahwa alam ini ada penciptanya dan Dia adalah Allah?” selidik Zaranggi.
“Dari al-Qur’an” jawab sang tokoh pendek.
“Apakah Ia satu-satunya Tuhan bagi sekalian alam ini Tuan? Sebab dalam agama kami ada tiga Tuhan” tanya Zaranggi.
“Benar Tuan Zaranggi. Dialah satu-satunya Tuhan bagi sekalian alam ini. Dan mustahil adanya dua Tuhan atau lebih” jawab sang tokoh dengan tegas.
“Dari mana Anda tahu itu Tuan?” tanya Zaranggi yang memang nampak ingin tahu argumen tokoh kita ini.
“Dari al-Qur’an dan al-Hadits” jawab tokoh kita dengan mantap.
“Apakah tidak ada pembuktian lain selain al-Qur’an dan al-Hadits Tuan? Sebagaimana filosof-filosof Yunani atau Parsi. Walaupun hasil pembuktian mereka memang ada yang berbeda” tanya Zaranggi yang memang banyak tahu tentang ilmu pengetahuan.
“Tidak ada Tuan. Para filosof berusaha mengenal-Nya dengan akal mereka. Sedangkan akal sangatlah terbatas kemampuannya. Oleh sebab itu dalam agama kami dilarang menggunakan akal dalam mengenali-Nya, dan juga dalam menentukan baik buruknya sesuatu kami harus kembali kepada apa yang dikatakan al-Qur’an dan al-Hadits saja” jawab sang tokoh memantapkan posisinya.
“Apakah agama Tuan mengunci mati akal?” tanya Zaranggi dengan sedikit keheranan. Sebab menurut orang-orang yang ia dengar, orang-orang muslim justru banyak yang pandai.
“Tidak” sergah sang tokoh. “Agama kami (lanjutnya) tidak mengunci mati akal. Akan tetapi yang menyangkut agama kami, mesti mengambil apa-apa yang ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits tanpa boleh bertanya kenapa demikian, misalnya. Sebab sudah kami katakan bahwa akal manusia terbatas. Artinya, tidak bisa menjangkau kebenaran hakiki (absolut). Berbeda dengan agama yang dapat menjangkaunya.”
“Baik” kata Zaranggi. “Lalu dengan apa Anda membenarkan agama Anda? Apakah dengan agama Anda pula? Dan tidak dengan akal?” Zaranggi mulai mendesak.
“Be… be… benar” jawab sang tokoh agak memaksa, karena tidak ada pilihan lain, dan sedikit tergagap. Sebab yang selama ini ia pelajari adalah dalam menentukan segala sesuatu harus dengan agama, tidak boleh dengan akal. Lha! Sekarang ditanya dengan apa mengatakan agama Islam benar? Susah menjawabnya.
“Tuan! Harap Anda ketahui, bahwa dalam agama kami dan agama-agama lain, masing-masing mengajarkan bahwa agama-agama itulah yang benar dan yang lainnya salah. Lalu mengapa Tuan tidak memilih agama kami saja dan meninggalkan Islam?” tanya Zaranggi sedikit memojokkan.
Muka tokoh kita mulai memerah. Lebih-lebih setelah beberapa tamu lainnya tertawa tertahan. Tapi apa boleh buat, memang dia sendirilah yang menyuruh orang-orang untuk bertanya apa saja.
“Tidak, tidak. Hal itu tidak mungkin kami lakukan” jawab sang tokoh sambil berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari berondongan pertanyaan Zaranggi yang nampak ceplas-ceplos itu.
“Kenapa Tuan?” tanya Zaranggi lagi.
“Karena hal itu merupakan dosa yang paling besar” jawab sang tokoh yang memang nampak merupakan jawaban asal comot saja.
“Kalau keluar dari agama Tuan Anda katakan dosa atau dapat murka Tuhan, apakah Anda tidak berfikir bahwa kalau kami keluar dari agama kami, kamipun akan mendapat murka dari Tuhan kami?” tanyanya lagi.
Dan tokoh kita tak bisa menjawab.
“Tapi baiklah, Anda tak perlu menjawabnya. Sekarang, bolehkah saya bertanya masalah lainnya?” Zaranggi mengalihkan pembicaraan karena dia melihat tokoh kita betul-betul kebingungan.
“Si… si… i… silahkan” sang tokoh memaksakan diri untuk mempersilahkan Zaranggi untuk bertanya. Walaupun sebenarnya ia sudah mulai kewalahan menghadapinya.
“Tadi Anda katakan bahwa agama adalah penentu segala-galanya, dan manusia tidak boleh mempersoalkannya. Apakah masuk akal atau tidak? Pertanyaan saya, kepada siapa, atau apa, Anda merujuk kebenaran agama (tolok ukur kebenaran agama)?” Zaranggi mulai membuka masalah baru.
“Kami merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadits” jawab sang tokoh sambil berusaha membaca pikiran Zaranggi.
“Oh… benar! saya lupa untuk menanyakannya. Apa al-Qur’an dan al-Hadits itu?” Zaranggi bertanya setelah ia merubah posisi duduknya.
Karena sang tokoh menyadari siapa orang yang lebih muda yang duduk didepannya ini, maka ia mulai berhati-hati dalam menjawab pertanyaannya.
“Al-Qur’an adalah berasal dari firman-firman Tuhan yang diwahyukan–dibisikkan–kepada Nabi Muhammad, yang kemudian didiktekan kepada para sahabatnya, yang menuliskannya ke tulang-tulang atau ke kulit-kulit kayu dan lain-lain. Dan setelah beliau wafat, firman-firman itu dikumpulkan dan disusun menjadi suatu kitab oleh atau atas ide sahabat besar beliau yang bernama Utsman ibn Affan. Sedangkan al-Hadits adalah kumpulan kata-kata Nabi atau perbuatannya” jawab sang tokoh.
“Aneh juga agama Tuan ini!” Zaranggi menyeletuk. Memang, dengan kecerdasannya, ia dapat merasakan keanehan itu sebelum sang tokoh menyadarinya.
“Apa… apa kata Tuan, aneh?” Sang Tokoh sedikit tersinggung dan juga bingung.
“Benar Tuan” Zaranggi terpaksa menjawab, walaupun ia tahu bahwa tokoh kita itu sudah mulai tersinggung. Sebab ia sudah terlanjur mengatakan kata-kata itu tadi.
“Kenapa begitu?” tanya sang tokoh ingin tahu.
“Begini Tuan. Anda tadi mengatakan, bahwa Anda mengetahui dari al-Qur’an bahwa alam ini ada penciptanya, dan penciptanya hanya satu. Sementara Anda mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kumpulan firman-firmanNya. Yah… bagi saya hal itu cukup aneh Tuan” Zaranggi menjelaskan.
= = = = =
Rupanya tokoh kita ini belum paham juga. Maka dari itu ia berkata:
“Kenapa aneh Tuan?”
“Dengan semua itu, yaitu al-Qur’an adalah ukuran segala-galanya, termasuk ada dan satunya Tuhan dan tidak bisa dengan jalan lain (jadi keberadaan dan ke-Esa-an Tuhan mau tidak mau harus dibuktikan dengan al-Qur’an), menandakan bahwa manusia harus beriman terlebih dahulu kepada al-Qur’an itu, sebelum mereka mengimani Tuhan itu sendiri. Bukankah hal itu cukup aneh Tuan?”
“Ee…e… maaf, Tuan Zaranggi, saya masih belum paham maksud Tuan” sang tokoh ingin penjelasan yang lebih rinci dari kata-kata Zaranggi itu.
“Tuan! Apakah tidak aneh kalau manusia disuruh mengimani kata-kata Tuhan sebelum mengimani adanya Tuhan itu sendiri? Atau mereka disuruh mengimani al-Qur’an terlebih dahulu sebelum mengimani adanya pengirim al-Qur’an?”
Tokoh kita tertegun sejenak, karena ia sudah paham maksud Zaranggi. Tapi ia masih punya jawaban untuk itu. Maka dari itu ia berkata:
“Katakanlah itu aneh akan tetapi yah… memang harus begitulah pada kenyataannya. Sebab, seperti yang saya katakan tadi bahwa akal kita terbatas. Yakni kita tidak akan dapat mengenalinya dengan akal. Maka dari itu kita harus kembali ke firman-firmannya.”
“Baik! (kata Zaranggi) berarti manusia disuruh percaya kepada al-Qur’an terlebih dahulu sebelum mempercayai Tuhan karena keterbatasan akal mereka. Sekarang saya mau bertanya kepada Anda, bagaimanakah caranya supaya manusia mempercayai al-Qur’an?”
“Yah… kita harus melihat bukti-buktinya” jawab sang tokoh.
“Kalau begitu kita harus membuktikan kebenaran ayat-ayatnya bukan?” Tanya Zaranggi.
“Benar” kata sang tokoh pendek.
“Wah… permasalahannya sekarang kok tambah rumit” Zaranggi mengeluh. Memang, dengan kecerdasannya ia dapat merasakan semua itu sebelum tokoh kita ini memahaminya. Oleh karena itu sang tokoh bertanya.
“Apanya yang rumit Tuan?”
“Tadi Anda mengatakan bahwa akal terbatas (kata Zaranggi) dan Anda mengatakan pula bahwa Tuhan ada dan Esa dari al-Qur’an, sementara sekarang Anda mengatakan bahwa kebenaran al-Qur’an harus dibuktikan sebelum kemudian mengimaninya. Lho… kalau akal terbatas maka bagaimana caranya membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Qur’an yang mengatakan bahwa ‘Tuhan itu ada’ atau ‘Tuhan itu Esa dan lain-lain’?”
Terperangah juga sang tokoh mendengar jawaban Zaranggi itu. Dia bingung harus berkata apa. Tapi Ia berusaha untuk menutupi kebingungannya itu, walaupun tidak begitu berhasil. Dia bingung karena permasalahannya kok begitu peliknya, padahal sebelumnya ia tak pernah mempermasalahkan semua itu. Dan satu-satunya yang menjadi alat pembuktian kebenaran al-Qur’an selama ini karena tidak adanya orang yang mampu membuat satu ayat pun seperti al-Qur’an. Ia tidak tahu mengapa dulu tidak mempermasalahkan al-Qur’an seperti Zaranggi. Tapi seandainya ia pernah kafir atau dilahirkan dari ibu seorang kafir, maka ia akan tahu bahwa pertanyaan Zaranggi itu mestilah wajar-wajar saja, dan mesti pula ada jawabannya. Tapi apa boleh buat dia telah terlanjur memasuki aliran “Anti Akal” dalam memahami agama. Maka, tinggal satu lagi jawaban yang ia harap mampu memberikan penjelasan mengenai kebenaran al-Qur’an kepada Zaranggi. Oleh karenanya ia segera berucap:
“Tuan Zaranggi! Dalam al-Qur’an Allah berfirman, bahwa kalau manusia manapun tidak pecaya dan ingin membuktikan kebenaran al-Qur’an maka hendaknya ia membuat satu ayat saja seperti ayat al-Qur’an. Tapi nyatanya sudah berabad-abad tidak seorangpun yang mampu melakukannya. Apalagi sampai satu surat, satu juz atau bahkan satu kitab. Dengan bukti ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa al-Qur’an memang datang dari-Nya.’’
“Baik! (kata Zaranggi), dalil Anda tadi hanya membuktikan bahwa al-Qur’an dari Tuhan bukan dari manusia. Tapi hal tersebut tidak dapat membuktikan bahwa Tuhan hanya satu. Sebab, seperti agama kami, Zoroaster, ada tiga Tuhan, yaitu Ahuramazda, Yozdan dan Ahriman. Nah, barangkali al-Qur’an itu datang dari salah satu dari mereka. Apa jawab Tuan tentang hal ini?”
“Ah… itu tidak mungkin Tuan!” sergah sang tokoh.
“Kenapa?” Zaranggi ingin tahu.
“Sebab di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa Tuhan hanyalah satu dan Dia adalah Allah, bukan Ahuramazda, Yozdan dan Ahriman” jawab tokoh kita sambil wajahnya berseri-seri karena ia merasa dapat mempertahankan kesucian al-Qur’an dengan ucapannya itu.
“Tuan! (Kata Zaranggi) Anda tidak dapat berdalil dengan ayat yang mengatakan bahwa Tuhan hanya satu itu, lalu Anda menutup kemungkinan bahwa Tuhan lebih dari satu.”
“Kenapa?” tanya sang tokoh sedikit heran.
“Sebab Anda sendiri tidak dapat membuktikan, kebenaran ayat itu Tuan, karena keterbatasan akal sebagaimana tadi Anda katakan. Dan mengenai al-Qur’an yang tidak bisa ditiru bukankah telah saya katakan bahwa hal itu hanya membuktikan bahwa al-Qur’an datang dari Tuhan. Karena ia mempunyai kekuatan yang tak bisa dijangkau manusia. Tapi tidak dapat dijadikan bukti akan adanya satu Tuhan.”
Pusing. Tokoh kita jadi pusing. ia tidak mengira sama sekali permasalahannya akan jadi sedemikian rumit. Bahkan belasan tahun ia belajar, tidak pernah menghadapi masalah seperti itu. Dan kitab yang dibawa oleh beberapa onta itu pun tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan Zaranggi ini. Yah maklumlah, tokoh kita ini selama belasan tahun hanya belajar di pusat ilmu pengetahuan dari kalangan yang mengharamkan akal dalam agama. Kasihan sekali. Akhirnya karena ia bingung, maka ia ganti bertanya.
“Apakah hal itu mungkin Tuan? Apakah mungkin salah satu di antara Tuhan Tuan menurunkan al-Qur’an dan ia merubah nama serta mengaku hanya sendirian?”
“Yah kalau hanya dari jawaban-jawaban Anda, hal itu mungkin saja Tuan. Apalagi Anda pernah suatu hari menjelaskan kepada kami bahwa seandainya ada dua Tuhan atau lebih, maka dunia ini akan hancur karena mereka akan bersaing. Yah…barangkali mereka bersaing khususnya yang satu ini, mungkin ia ingin mendapatkan pengaruh dari manusia, maka dari itu ia mengaku sendirian dan menurunkan al-Qur’an. Dan tiga Tuhan itu sebenarnya sekedar contoh, sesuai keyakinan kami. Akan tetapi barangkali sebenarnya Tuhan mungkin malah lebih dari itu.”
“Itu tidak mungkin Tuan” kata sang tokoh.
“Kenapa Tuan?” Zaranggi balik bertanya.
“Sebab kalau Tuhan yang satu itu bersaing dengan melakukan apa yang Anda katakan ini maka pastilah Tuhan yang lain tidak akan membiarkannya. Dan pasti akan timbul pertengkaran yang akan membawa kehancuran alam semesta ini Tuan.”
“Tuan! Bagi saya pertengkaran itu belum tentu membawa kehancuran. Sebab, Tuhan-Tuhan itu kan berkuasa untuk tidak membuat kehancuran. Lagi pula bisa saja Tuhan-Tuhan yang lain itu membiarkan tingkah Tuhan yang satu itu karena mereka tidak memerlukan pengaruh dari manusia, Tuan.”
“Ah… hal itu tidak mungkin Tuan (jawab tokoh kita), masa ada Tuhan begitu. Ada yang bikin masalah tapi ada pula yang mengalah.”
“Lho… kenapa tidak mungkin Tuan, apa alasannya?” Zaranggi berusaha mendesak.
“Sebab, Tuhan itu Maha Sempurna (kata sang tokoh), oleh karena itu tidak mungkin ada yang lebih bijak dari-Nya sehingga ada yang mengalah atas kelakuan-Nya; atau Tuhan itu Maha Suci, sehingga tak mungkin Tuhan itu akan saling berebut pengaruh; atau Tuhan itu Maha Berkuasa dan Kuat, sehingga tak mungkin ia membiarkan yang lain menganiayai-Nya.”
“Dari mana Anda tahu bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat semacam itu? Dan bukankah Anda sendiri yang mengatakan bahwa kalau ada lebih dari satu Tuhan akan timbul persaingan? Lagi pula kalau Anda boleh mengatakan bahwa Tuhan-Tuhan itu akan bersaing, mengapa saya tidak boleh mengatakan bahwa sebagian dari mereka ada yang mengalah? Bukankah yang saya katakan masih lebih baik dari apa yang Anda katakan, sebab masih ada sebagian yang lain yang masih mempunyai sifat kesempurnaan? Dan kalau saya salah dalam perkataan saya itu, apa yang Anda jadikan dalil untuk menyalahkan saya itu?” Zaranggi terus mendesak dan tokoh kita tak lagi mampu menjawab. Dia bahkan hanyut dalam lamunan.
Mentok! Tokoh kita semakin bingung. Kata-kata Zaranggi, sekilas, nampak lucu dan mengada-ada. Tapi… bagaimana menjawabnya (bisik sang tokoh dalam hati). Kalau dijawab bahwa dalilnya al-Qur’an, dalam hal ini al-Qur’an masih belum dapat dibuktikan kebenarannya. Dan justru sekarang ini dalam rangka membuktikan kebenaran al-Qur’an. Dan kalau dijawab semacam itu berarti untuk membuktikan kebenaran satu ayat perlu ditunjang dengan ayat yang lain yang masih akan dipertanyakan kebenarannya, dan akan begitu seterusnya sampai akhir ayat al-Qur’an. Memang… ia pernah mendengar golongan kaum muslimin yang membolehkan menggunakan akal dalam agama walaupun dalam batas-batas tertentu. Tapi dia tidak dapat memanfaatkan ilmu mereka, sebab ia tidak sealiran dan memang belum mempelajarinya. Walaupun ia telah berpuluh-puluh tahun belajar di pendidikan Islam.
Selagi sang tokoh melamun, Zaranggi nyeletuk lagi.
“Baiklah Tuan, katakanlah Tuhan Maha Sempurna, Suci dan Kuat sehingga tak ada yang lebih bijak atau lebih kuat. Tapi itu kan kalau dihubungkan dengan kita sebagai makhluk. Tapi kalau dihubungkan dengan sesama Tuhan bukankah hal itu mungkin-mungkin saja Tuan. Dan kalau tidak mungkin apa dalilnya? Atau bisa saja malah di antara sesama Tuhan tidak bertengkar. Bisa saja mereka bahkan hidup rukun dan bekerjasama dalam penciptaan. Sehingga dengan demikian tidak akan ada perselisihan seperti yang Anda katakan atau khawatirkan tadi. Sebab kalau kita saja suka kepada kerukunan apalagi Tuhan. Dan kalau Anda katakan ‘tidak mungkin’, karena Tuhan tidak boleh bekerjasama karena hal itu akan menunjukkan kekurangannya, apa dalilnya. Kita sesama makhluk bekerjasama, mengapa tidak mungkin sesama Tuhan bekerjasama? Bukankah hal itu tidak bisa dikatakan bahwa Tuhan bersifat seperti makhluk-Nya yang kekurangan? Sebab makhluk bekerjasama dengan makhluk dan minta tolong kepada Tuhan, tapi Tuhan bekerja sama dengan Tuhan dan mereka tidak perlu banTuan makhluk? Atau, katakanlah Tuhan mempunyai kesamaan sifat dengan makhluk, lalu kenapa? Misalnya Anda katakan bahwa Tuhan mempunyai sifat wujud, hidup. Bukankah kita juga hidup dan wujud?”
Waduh repot juga (pikir sang tokoh kita). Yang satu belum terjawab datang lagi berondongan pertanyaan yang tak kalah repotnya. Ingin ia mengusir Zaranggi atau meninggalkannya pergi atau bahkan mengajaknya berkelahi, tapi (ia pikir) apakah begitu seorang yang mengaku pembela Islam? Membela Islam dengan kekurangan dan kebodohannya? Ah… tidak… tidak… aku tidak boleh melakukannya.
Kini ia semakin sadar bahwa ilmunya tidak dapat dengan baik menolong orang lain yang ingin mengetahui Islam. Maka dari itu ia segera memutuskan untuk meminta maaf atas kekurangannya itu dengan ucapannya:
“Maaf Tuan Zaranggi, dalam hal ini saya tidak bisa menjawab.”
“Baiklah Tuan (kata Zaranggi) bolehkah saya menanyakan hal-hal yang lain? Dan saya minta maaf telah mendesak Anda. Tapi hal itu saya lakukan karena saya ingin mengetahui sejauh mana kebenaran Islam. Dan kalau memang terbukti benar tentu saja saya berniat memasukinya.”
“Yah… tidak apa-apa Tuan Zaranggi. Memang sudah semestinya Anda menanyakan sebelum Anda memasukinya. Saya kagum kepada ketelitian dan ketulusan Tuan. Bahkan sekali lagi saya minta maaf kepada Anda, karena saya tidak dapat banyak menolong Anda. Dan mengenai pertanyaan Anda, saya pikir silahkan saja, semoga saya dapat membantu Anda.”
“Terima kasih Tuan. Pertanyaan saya menyangkut dasar Islam yang lain. Yaitu hadits, sebagaimana Anda terangkan tadi” kata Zaranggi.
“Oh… silahkan saja!” sang tokoh mempersilahkan.
“Baik, terima kasih. Pertanyaan saya adalah siapa pengumpul kata-kata atau perbuatan Nabi itu Tuan? Apakah juga Utsman?”
“Oh! Tidak (jawab sang tokoh). Pengumpulnya banyak. Misalnya Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai dan lain-lain.”
“Apakah mereka itu juga sahabat-sahabat besar Nabi Tuan?” Zaranggi bertanya sambil penuh perhatian.
“Bukan! (jawab tokoh kita ini). Mereka adalah orang-orang besar yang rata-rata lahir sekitar akhir atau setelah abad kedua setelah wafatnya Nabi.”
Setelah tokoh kita menjawab, dalam hatinya ada rasa keheranan. Karena ia melihat Zaranggi yang duduk di depannya mengerutkan alisnya. Pertanda ada sesuatu yang ia pikirkan atau ada sesuatu yang ia anggap aneh lagi. Tapi apa ya? (pikirnya).
Setelah Zaranggi manggut-manggut sejenak, ia meneruskan pertanyaannya.
“Bagaimana caranya mereka menuliskan Tuan. Bukankah jarak mereka dengan Nabi Anda sangat jauh?”
Tokoh kita tersenyum, karena ia sudah memperkirakan pertanyaan Zaranggi itu dan ia sudah pula mempersiapkan jawabannya. Maka langsung saja ia menjawab tanpa ia sadari bahwa ia akan terjepit lagi.
“Mereka itu menulis dari orang-orang yang pernah mendengar suatu hadits melalui orang-orang lain, sampai kepada Nabi.” jawabnya.
“Sampai berapa orang kira-kira, sehingga menyambung kepada Nabi?” tanya Zaranggi.
“Yah… bisa lima atau lebih” jawab sang tokoh yang masih belum menyadari bahwa ia akan terjepit lagi.
“Apakah mereka dapat dipercaya Tuan?” Zaranggi mulai mempermasalahkan keabsahan salah satu dasar agama Islam.
“Oh… dapat, dapat. Mereka itu dapat dipercaya. Mereka diteliti melalui sejarah. Yah…yang memang terbukti tidak dapat dipercaya atau bukan orang-orang yang shaleh, haditsnya akan digugurkan” kata sang tokoh meyakinkan Zaranggi.
Tapi dasar Zaranggi orang kafir, maka ia tidak terikat dengan ini dan itu. Maka ia tanyakan apa saja yang ingin ia tanyakan. Dan sudah tentu dengan bahasa yang polos. Maka ia bertanya sambil mulai mendesak tokoh kita lagi.
“Tuan! (katanya) kalau demikian halnya maka agama Tuan yang Anda pahami dan bawa ini belum tentu benar (relatif).”
“Kenapa begitu?” Tokoh kita mulai penasaran.
“Hal itu ada beberapa alasan. Pertama, dalam mempercayai seseorang, setiap satu orang di antara kita akan timbul perbedaan (relatifitas). Bisa saja sekelompok orang percaya terhadap seseorang, tapi kelompok yang lain mendustakannya. Dan saya pikir hal itu wajar. Artinya, bukanlah suatu keanehan kalau dalam mempercayai seseorang ada perbedaan. Kedua, keshalehan seseorang, tidak dapat diketahui oleh orang lain. Karena, seperti yang Tuan jelaskan, masalah hati tidak dapat kita pantau. Jadi bisa saja seseorang dianggap shaleh bagi sebagian orang, dan tidak bagi sebagian yang lain. Yah… masih relatif juga. Ketiga, Anda mengatakan bahwa orang-orang munafik ada. Sebagian mereka memang diketahui sehingga bisa kita pantau melalui penulisan sejarah. Akan tetapi sesuai dengan yang Anda jelaskan kepada saya tadi, dalam al-Qur’an mengisyaratkan adanya orang-orang munafik yang mereka tinggal di desa-desa dan juga di kota serta di sekitar Nabi, yang tidak diketahui oleh Nabi sekalipun. Lalu bagaimana kalau hadits-hadits itu datang dari mereka?”
= = = =
Kasihan, tokoh kita ini mulai bingung lagi. Tapi karena ia yakin bahwa Islam harus dibela, maka ia berusaha menjawabnya, walaupun sebenarnya ia tidak sadar bahwa Islam tidak serakah terhadap pembelaan. ia hanya mau dibela dengan pembelaan yang Islamis pula. Tidak dengan pembelaan yang tidak Islamis.
“Yah… memang demikian” kata sang tokoh tidak dapat menolak kata-kata Zaranggi. Karena ia sadar perbedaan pendapat dalam banyak hal dalam Islam terjadi. Bahkan sampai kepada saling syirik-menyirikkan atau sesat-menyesatkan. “Akan tetapi (sambungnya) asal tidak bertentangan dengan Qur’an, kita dapat mengambilnya. Lagi pula walaupun penentu utama keshalehan adalah batin, akan tetapi hal itu dapat dipantau melalui amal-amal lahirnya. Dan amal-amal lahir itu ibarat sinar matahari. Artinya karena sinar matahari itu menunjukkan adanya matahari itu sendiri, maka amal-amal shaleh itu dapat menunjukkan keimanan seseorang.”
Kini Zaranggi betul-betul ingin membuktikan kebenaran Islam yang dibawa tokoh kita ini. Maka dari itu, ia terus mendesak tokoh kita. ia berkata:
“Apa yang Tuan sampaikan tidak dapat mengangkat kerelatifan dalam agama Islam yang dipahami oleh umatnya. Dan tidak menutup kemungkinan akan adanya penyelewengan-penyelewengan.”
“Kenapa begitu?” Sergah tokoh kita yang sudah mulai tidak sabaran ini. Dan segera ingin mengetahui alasan yang kelihatannya sengaja ditunda-tunda oleh Zaranggi.
“Sebab pertama (jawab Zaranggi) adalah, menurut saya dalam memahami kitab suci Tuan tidak berbeda seperti memahami buku-buku atau kitab-kitab suci agama lain. Yang saya maksudkan dalam artian kerelatifan dalam memahaminya. Jadi, bisa saja satu hadits bertentangan dengan al-Qur’an menurut sebagian orang dan tidak bertentangan menurut sebagian yang lain. Sebab kedua adalah pemantauan terhadap batin melalui amal lahir sangat tidak memadai. Sebab, tidak mungkin dalam pemantauan itu dapat dilakukan sepanjang hidup mereka dan dalam segala keadaan mereka sebelum kemudian hadits mereka dituliskan. Jadi, bisa saja mereka itu baik di pasar tapi tidak baik di rumah. Atau baik kemarin tapi besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya atau tahun sebelumnya, mungkin tergolong orang-orang yang tidak baik. Atau pemantau (penulis) hadits itu sendiri bagaimana? Apakah mereka baik, jujur, dalam pekerjaan mereka? Siapa yang menjamin mereka? Dan siapa yang menjamin orang yang menjamin mereka itu dan seterusnya? Sebab ketiga adalah, Anda mengatakan bahwa memantau batin melalui amal-amal lahir ibarat memantau matahari lewat sinarnya. Padahal Anda juga mengatakan bahwa munafik itu ada dan barangkali ia melakukan itu untuk merusak Islam dari dalam. Kalau begitu sudah tentu para munafik itu selalu beramal baik untuk menutupi niat buruknya. Sebab tak akan ada orang yang mengaku pencuri ketika ia ingin mencuri. Sebab keempat adalah, Anda tadi pernah menyebutkan istilah sahabat besar. Bagaimana kalau ada hadits yang menyebutkan bahwa sebagian sahabat-sahabat besar atau sekian ribu sahabat umpamanya, munafik? Apakah hadits itu dapat Anda katakan bertentangan dengan al-Qur’an? Sebab Anda katakan tadi bahwa sebagian orang-orang desa dan yang ada di sekeliling Nabi terdapat orang-orang munafik, yang tidak diketahui oleh Nabi sekalipun. Sebab kelima adalah, Anda mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tak baik atau shaleh, misalnya orang yang tidak shalat atau suka berdusta, tidak bakalan diterima. Nah, kalau demikian halnya maka Anda tidak akan menerima dari orang-orang yang suka membunuh bukan? Padahal Anda sendiri pernah mengatakan kepada kami pada suatu hari bahwa setelah Nabi wafat telah terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Yaitu adanya beberapa peperangan antara puluhan ribu sahabat dengan puluhan ribu yang lainnya. Sedang perawi utama sebuah hadits adalah mereka. Bagaimana Anda dapat mempertahankan konsep Anda?”
Tokoh kita sama sekali tidak mengira dengan apa yang akan diucapkan oleh orang yang bernama Zaranggi itu. ia salah tingkah, ia emosi dan tersinggung dengan ceplas-ceplosnya pertanyaan Zaranggi yang mempermasalahkan dasar-dasar nilai Islam yang tersebar. Dan yang lebih membuat tokoh kita itu seakan ingin menampar orang yang di depannya itu adalah ketidaksungkanan Zaranggi terhadap semua sahabat-sahabat Nabi yang diyakininya sebagai penolong-penolong Islam, mujahid dan mendapat keridhaan Allah. Tapi di lain pihak ia sadar bahwa ia tidak dapat melakukan apa-apa selain harus berkonsentrasi terhadap pertanyaan Zaranggi. Sebab selain ia akan malu sekali kalau mempertahankan Islam dengan otot dan paksaan juga dengan kebodohan. ia melihat kejujuran dalam diri Zaranggi yang menurutnya ia benar-benar ingin tahu agama Islam.
Tanpa ia sadari, ia yang dulunya yakin berjalan di atas al-Qur’an, sekarang merasa ragu. Pertanyaan Zaranggi itu benar-benar telah menyadarkannya bahwa siapa tahu, barangkali selama ini ia berjalan di atas al-Qur’an yang bukan al-Qur’an. Artinya, ia berjalan di atas al-Qur’an yang relatif, yaitu al-Qur’an yang ia dan madzhabnya atau golongannya pahami. Sebab, menurut kata hatinya, tidak mungkin al-Qur’an dengan al-Qur’an menyesatkan. Apalagi saling menyuruh pengikutnya untuk berbunuh-bunuhan. Padahal kenyataannya sesama kaum muslimin saling menyesatkan. Bahkan muslimin gelombang pertama, yaitu sahabat Nabi, saling bertumpah darah dalam beberapa peperangan sepeninggal Nabi.
Tak kalah terperanjatnya hati sang tokoh ketika Zaranggi mempermasalahkan keabsahan pemilihan keshalehan atau kejujuran dari seseorang yang menjadi perawi suatu hadits. Untung ia mempunyai banyak pengetahuan tentang hadits, sehingga ia dapat menerima yang dikatakannya itu. Sebab kalau tidak, barangkali ia akan mengusir Zaranggi dari rumahnya. Tapi karena ia tahu bahwa yang dikatakan Zaranggi itu memang masuk akal dan merupakan salah satu kelemahan ilmu hadits, maka ia tidak melakukan pekerjaan yang hina itu. Dan di samping itu, ia, sesuai dengan ilmunya yang cukup lumayan tentang hadits itu, memang mengetahui bahwa dalam menilai perawi hadits terdapat berpuluh-puluh perbedaan. Seorang penilai perawi hadits yang bermadzhab tertentu akan melemahkan seorang perawi hadits yang bermadzhab lain. Apalagi penilaian terhadap seorang perawi hadits tidak mungkin sempurna. Sebab, umur seorang penulis hadits atau umur penilai perawi hadits tidak akan cukup untuk digunakan meneliti seorang saja dari sekian perawi dari sebuah hadits. Apalagi untuk meneliti semua perawi hadits yang berjumlah ribuan atau bahkan puluhan ribu.
Sahabat. ia sadar. Sekali lagi ia sadar dan baru sadar. Selama ini, selama ia belajar hadits, selama ia meneliti dengan seksama perawi-perawi suatu hadits memang ia mengenal suatu kaum perawi yang kebal terhadap penelitian. Bahkan tidak boleh diteliti. Semua perawi hadits diteliti dengan seksama. Tapi kalau sudah sampai ke kaum itu, kaum yang menukil langsung dari Rasulullah, mikroskop yang digunakan para ahli peneliti perawi hadits menjadi pecah berantakan. Sebab, teropong itu tidak mampu meneropong kaum yang penuh fadhilah itu. Dan kini, ketika ia berhadapan dengan orang yang masih suci pikiran dari aliran-aliran Islam, karena ia memang masih kafir, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Namun ia agak berlega hati karena ia ingat suatu ayat dalam surat al-Taubah ayat 100. Oleh sebab itu, sembari menarik napas sedikit lega ia berharap akan mampu menyelamatkan salah satu khazanah Islam. Yaitu mengenai sahabat. Sebab, rasa-rasanya ia tidak mampu menjawab tuduhan Zaranggi yang merelatifkan Islam yang dipahami umat. Bukan Islam sebagaimana ia. Maka dengan lirih tapi dengan penuh rasa tanggung jawab ia berucap:
“Tuan Zaranggi! Saya merasa kagum terhadap pertanyaan-pertanyaan Tuan. Dan saya sadar akan keterbatasan atau, barangkali tepatnya, atas kesalahan saya dalam memilih alur pemikiran Islam dari alur-alur yang ada. Memang Nabi telah mengisyaratkan akan adanya jalur-jalur yang banyak, sedangkan yang benar hanya satu. Saya berjanji akan memperdalam lagi dan akan kembali ke sini untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan saya ini suatu hari, insya Allah. Dan untuk ini, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.”
Orang-orang terperangah. Orang yang selama ini mereka kenal sebagai orang yang cekatan dalam menjawab berbagai pertanyaan yang menyangkut Islam, kini tersimpuh lemah di hadapan Zaranggi. Zaranggi tak bisa dipersalahkan walaupun ia, yang berbekal sedikit filsafat itu, mempertanyakan hal-hal yang sangat mendasar dalam Islam. ia tidak bertanya apa dan bagaimana keadilan, sosial, kemanusiaan, peranan kaum pria dan wanita dalam masyarakat dan semacamnya menurut Islam. Bahkan dengan apa Islam memAndang semua itu yang biasanya bagi seorang Islam yang segolongan dengan tokoh kita ini, pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang tabu untuk mereka tanyakan.
“Namun (lanjut sang tokoh) mengenai sahabat Nabi yang mana mereka dalam kaitannya dengan hadits Islam merupakan mata rantai pertama dalam susunan perawi-perawi hadits, adalah merupakan suatu kaum yang telah mendapat keridhaan Allah. Hal mana terdapat dalam firman-Nya dalam surat al-Taubah ayat 100, yang artinya,
“Mereka para pendahulu dari kaum muhajirin dan anshar, dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya maka mereka diridhai Allah dan mereka juga ridha terhadap-Nya.” (Q.S. al-Taubah : 100)
Jadi, dengan ayat ini posisi mereka di dalam Islam adalah sangat terhormat. Dengan jasa mereka pulalah Islam sampai kepada kita, maka umat Islam harus berterima kasih terhadap mereka, bukan malah mempertanyakan keadaan mereka.”
Setelah selesai sang tokoh menyampaikan rasa penyesalan dan maafnya, hal mana sangat dikagumi oleh Zaranggi atas keterbukaan dan kejujurannya itu, walaupun di sisi lain Zaranggi belum puas karena ternyata yang selama ini ia ingin ketahui dari agama Islam, tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sebab Zaranggi sendiri mengira bahwa Islam sangat dapat diAndalkan. Hal itu ia ketahui karena beberapa filosof besar dari kalangan kaum muslimin. Tapi Zaranggi tidak menyadari bahwa tokoh kita ini adalah termasuk dari golongan orang-orang yang melarang menggunakan akal dalam agama. Alias suatu golongan yang kembali pada al-Qur’an dan al-Hadits secara leterlek. Artinya tidak membolehkan akal untuk menakwil suatu ayat atau hadits. Bahkan orang-orang yang suka menakwil dikatakan oleh mereka sebagai orang-orang yang sakit. Karena, katanya, mereka mengikuti yang mutasyabihat.
“Terima kasih atas janji dan kesediaan Tuan dalam menjanjikan jawaban untuk kami (kata Zaranggi). Sekali lagi terima kasih. Dan saya pribadi kagum terhadap kejujuran dan keterbukaan serta penghormatan Anda pada norma-norma ilmiah, dan tidak menjadi marah kepada saya sebagaimana pernah saya alami sebelumnya.”
Memang, karena pertanyaan Zaranggi yang kelihatannya kurang sopan terhadap Islam dan tokoh-tokoh Islam, walaupun sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu mengandung kejujuran seorang pencari kebenaran hakiki, pada suatu hari ia pernah dimarahi oleh seorang tokoh lain yang memang sudah mulai kepepet dengan pertanyaan-pertanyaan Zaranggi.
Dari gelagatnya, jawaban terakhir tokoh kita ini, bagi Zaranggi adalah merupakan jawaban yang asal comot saja, tanpa dipikir lebih jauh. ia dapat memperkirakan bahwa pertanyaannya yang berikut akan membuat tokoh kita ini tidak dapat menjawab lagi. “Namun (kata Zaranggi dalam hati) biar ia cari nanti jawabannya dan kemudian ia memberikan jawabannya kepada saya. Toh ia bersedia untuk itu. Dan saya akan mendapat kepuasan dalam menatap agama Islam.” Karena pikirannya itu, Zaranggi memohon supaya ia dapat menanyakan beberapa hal lagi. Maka dari itu ia melanjutkan perkataannya:
“Tuan! Bolehkan saya meneruskan pertanyaan saya dalam diskusi ini Tuan?”
“Yah… boleh saja Tuan Zaranggi. Apa itu?” kata sang tokoh.
“Begini Tuan (kata Zaranggi yang kemudian ia teruskan) Tuan tadi mengatakan bahwa sahabat-sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka itu telah mendapat ridha Tuhan sesuai dengan ayat yang Tuan bawakan tadi. Akan tetapi di sini ada keganjilannya Tuan.”
“Apa keganjilannya Tuan Zaranggi?” Sang tokoh mulai penasaran lagi. Sebab permasalahan itu adalah satu-satunya permasalahan yang ia yakini dapat mempertahankannya. Tapi ternyata, lagi-lagi masih saja dipertanyakan kebenarannya. Maka, ia benar-benar memperhatikan apa-apa yang dijadikan alasan Zaranggi ketika ia berucap:
“Eee… sebelum saya ajukan alasan-alasan, ada yang ingin saya sampaikan. Yaitu seandainya saya seorang muslim maka selayaknyalah saya berterima kasih kepada generasi Islam pertama. Yaitu yang dikatakan sahabat-sahabat Nabi itu. Tapi karena saya belum mengimani agama Islam saya berhak bertanya mengenai mutu mereka itu. Bahkan saya rasa, saya wajib mempertanyakannya. Sebab Islam yang ada ini tidak bisa tidak akan dicoraki oleh mutu mereka. Sebab dari merekalah generasi penerus memahami Islam. Maka dari itu kecerdasan, kejujuran dan lain-lainnya dari setiap individu mereka sangat menentukan kemurnian Islam di masa datang .setelah mereka. Barangkali hal mereka sudah berlalu, tapi justru karena keberlaluan mereka itulah mereka harus dinilai karena sebab-sebab tadi. Dan bagi saya amatlah janggal untuk menyamaratakan kedudukan mereka. Sebab selama ini belum ada suatu umat yang tidak ada pencurinya, orang-orang jahatnya atau orang-orang bodohnya sekalipun baik. Bahkan biasanya yang paling banyak adalah orang-orang yang bukan intelek. Dan justru dari Tuan dan kitab Tuan sendiri saya dapat mengatakan bahwa sahabat-sahabat Nabi Tuan tidak berbeda dengan umat-umat yang lain dari segi adanya orang-orang yang tidak baik dalam lingkungannya.”
“Apa yang Anda ketahui dari saya dan kitab saya?” Potong tokoh kita yang semakin tidak sabaran ini. Sambil mencari-cari gerangan apa yang telah dikatakannya, sebagaimana disinggung Zaranggi tadi.
“Alasan pertama (kata Zaranggi), Anda tadi menukil beberapa ayat yang intinya menyatakan dan memberitahukan kepada Nabi bahwa di sekeliling beliau ada orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang sama-sama melakukan apa yang mesti dilakukan oleh orang-orang muslim. Dan karena Nabi dalam ayat itu, tidak mengetahui siapa mereka, apalagi orang-orang muslim yang lain. Dan dari ayat itu juga bisa diambil pengertian bahwa orang-orang munafik itu begitu taat dan shalehnya sehingga Nabi sendiri tidak dapat membaca mereka. Barangkali karena kecanggihan mereka itulah ayat-ayat yang Anda nukil tadi mengatakan bahwa mereka sangat keterlaluan dalam kemunafikan mereka. Alasan kedua adalah, dalam kenyataan sejarah Islam yang menyedihkan, kata Anda, adalah adanya beberapa peperangan yang terjadi di kalangan sahabat-sahabat Nabi sepeninggal beliau. Dan sudah tentu ratusan atau ribuan korban telah jatuh dalam kejadian-kejadian itu. Menurut saya, mustahil golongan yang sama-sama benar, berperang. Dan kalau logika saya ini masuk, maka setiap dua golongan yang bertikai (bertentangan) mestilah yang satu dari mereka salah, atau semuanya salah. Sebab sesama golongan sesat bisa saja berperang. Dan peperangan itu, kata Anda, telah terjadi dalam beberapa kali. Kalau demikian halnya maka Islam ini telah ditransfer oleh orang-orang yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebab mereka bukan lagi pencuri, pembohong atau orang-orang yang makan berdiri dan semacamnya, sehingga hadits mereka adalah lemah atau tertolak. Akan tetapi mereka adalah pembunuh. Dan bahkan mereka adalah pembunuh yang membanggakan diri. Sebab dalam peperangan apapun, membunuh adalah salah satu kemenangan yang membanggakan. Kalau yang membawa Islam pertama kali sedemikian keadaannya maka seshaleh apapun perawi berikutnya masih sulit untuk diterima kebenarannya. Apalagi sudah saya katakan bahwa perawi-perawi berikutnya pun tidak dapat dikatakan shaleh dengan sebenar-benarnya–seratus persen–sebab sebagai-mana maklum, kata agama Anda, yang tahu masalah lahir dan batin adalah hanya Tuhan.
Dengan dua dalil ini saja, kalau agama Anda dan kitab Anda benar, maka barangkali ada suatu pemahaman lain tentang ayat yang Anda nukil tadi, yaitu yang mengatakan bahwa mereka atau para sahabat itu telah diridhai Tuhan.”
Kepepet! Wah tokoh kita kepepet lagi, dan tak bisa berkata apa-apa. Karena ia terdiam, maka Zaranggi meneruskan kata-katanya.
“Tuan! Ada satu lagi, tapi sebelum saya utarakan apakah Tuan tidak marah kalau saya, dari kata-kata Anda, mengajukan suatu keganjilan yang dilakukan sahabat besar seperti yang Anda ucapkan?” Sejenak Zaranggi berhenti dan ia menunggu jawaban sang tokoh yang walaupun agak terlambat, akhirnya ia mempersilahkan.
“Silahkan saja Tuan Zaranggi!” kata sang tokoh yang sedikit tersendat. Zaranggi tak perduli lagi, dia terus saja nyelonong dengan iskal-iskalnya (Pertanyaan-pertanyaan).
“Baik, terima kasih. Sebenarnya keganjilan itu ada di antara dua alternatif. Kesalahan Anda dalam memantau sejarah al-Qur’an, atau memang, seperti yang saya ucapkan, adalah suatu keganjilan yang dilakukan sahabat Nabi.”
“Eh… maaf (potong sang tokoh), coba Anda terangkan secara lebih jelas, apa maksud Anda sebenarnya.”
“Begini Tuan (jawab Zaranggi) Anda mengatakan bahwa Islam berdasarkan al-Qur’an dan hadits Nabi. Bukankah begitu?”
“Benar” jawab tokoh kita.
“Akan tetapi (lanjut Zaranggi), ketika saya tanyakan kepada Anda apa al-Qur’an itu, Anda mengatakan bahwa ia adalah kumpulan firman-firman Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi dan disusun oleh–atau disusun atas ide–Utsman bin Affan sebagai salah satu sahabat besar. Bukankah begitu?”
“Benar” kata sang tokoh membenarkan.
“Nah, sekarang saya mau bertanya. Apakah Nabi tidak menyusunnya?” tanya Zaranggi.
“Tidak” kata sang tokoh. Dan ia tak mungkin menjawab bahwa Nabi telah menyusunnya. Sebab, yang ia kenal al-Qur’an yang ada sekarang ini adalah mushhaf Utsmani bukan mushhaf Muhammadi.
“Nah kalau begitu, yakni kalau Nabi tidak mengumpulkan, berarti salah satu dasar dari agama Islam, yakni hadits, tidak menyuruh untuk menyusunnya. Lalu kenapa sahabat besar beliau menyusunnya? Bukankah hal itu bertentangan dengan sunnah sendiri? Dan juga bahkan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebab ketika Nabi tidak menyusunnya berarti tak ada perintah dari Tuhan, sebab Nabi adalah duta (wakil/utusan) Tuhan?”
“Oh… tidak, tidak, tidak Tuan Zaranggi, tidak demikian permasalahannya” sergah tokoh kita.
“Kenapa?” tanya Zaranggi.
“Sebab, hal itu baik dan tak ada larangannya” jawab sang tokoh pendek.
“Tapi kan tak ada dalil bolehnya Tuan?” Zaranggi mendesak terus.
“Walhasil baik dan tak ada larangannya” jawab sang tokoh. Memang tokoh kita ini akan menjawab ada. Sebab dia teringat sebuah hadits yang menyuruh kaum muslimin mengikuti sunnah Nabi dan para Khulafa’u al-Rasyidin. Akan tetapi terpikir olehnya sendiri bahwa hal itu tidak mungkin, sebab akan ada sesuatu selain al-Qur’an dan Hadits, sebagai dasar Islam. Yang tentu akan dijadikan masalah oleh Zaranggi, yaitu soal Khulafa’u al-Rasyidin itu. Lebih-lebih sekarang ia dipertemukan kepada dua perbuatan yang berbeda yang datang dari Nabi dan Khulafa’u al-Rasyidin.
“Bukan begitu Tuan (kata Zaranggi), di sini saya melihat suatu keanehan. Sebab bagi pengertian saya, yang namanya kitab suci, tidak mungkin tidak tersusun dan tetap berserakan di antara dedaunan, kulit-kulit kayu atau tulang.”
“Yah… barangkali Nabi belum sempat menyusunnya” sang tokoh beralasan dengan sedikit ragu terhadap jawabannya itu.
“Sebenarnya saya tidak berhak untuk mempermasalahkan agama Tuan. Mau benar atau tidak. Akan tetapi semua yang saya lakukan ini adalah semata-mata saya ingin tahu kebenaran agama Tuan. Jadi maaf, kalau dari pertanyaan saya ini terkesan kurang sopan terhadap agama Tuan.” Kembali Zaranggi menjelaskan maksud baiknya. Sebab, dia khawatir sang tokoh di depannya akan mulai tidak sabaran dan mengusirnya, seperti yang ia alami beberapa tahun yang lalu.
“Oh… tidak apa-apa, itu biasa dan orang yang ingin tahu Islam mestilah ia menanyakannya secara tuntas” kata sang tokoh membesarkan hati sambil memberikan gambaran bahwa Islam bukanlah agama yang asal paksa. ia adalah agama besar dan suci. Yah… tapi malang sang tokoh tak dapat membuktikan semua itu pada Zaranggi.
“Bolehkah saya lanjutkan pertanyaan saya sedikit lagi Tuan?” pinta Zaranggi.
“Ya, ya, silahkan” sang tokoh mempersilahkan.
“Begini Tuan (jelas Zaranggi), bagi pengertian saya, seorang Nabi pun tidak berhak untuk menyusun kitab suci semaunya sendiri. Kalau al-Qur’an itu memang benar dari Tuhan, maka siapa pun tidak boleh ikut campur dalam urusan itu. Lalu mengapa Anda katakan bahwa barangkali Nabi belum sempat?”
Terperanjat juga sang tokoh kita ini mendengar kata-kata Zaranggi. Tapi ia belum paham benar apa maksud Zaranggi. Maka, dengan sedikit heran, karena ia memang berusaha menutupinya, ia bertanya:
“Kenapa Nabi tidak boleh menyusunnya?”
“Lho… Anda tadi, di waktu menjelaskan rukun Islam dan rukun Iman, mengatakan bahwa Nabi itu adalah wakil Tuhan, bukankah begitu?”
“Benar” jawab sang tokoh pendek.
“Nah… kalau begitu, karena ia wakil Tuhan, maka bolehkah ia mengatur dan menyusun sendiri firman-firman Tuhan itu Tuan? Bolehkah wakil Tuhan mengatur dan menyusun firman Tuhan?” Zaranggi terus mendesak.
“Katakanlah tidak boleh, tapi dalam penyusunan itu tak akan mempengaruhi isinya dan tujuan diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, Tuan” sang tokoh berusaha menjelaskan posisi al-Qur’an.
“Aneh… aneh juga agama Tuan ini (desah Zaranggi). Kenapa Tuhan Anda tidak melakukan penyusunan itu dan mengesahkannya pada manusia.”
“Yah… katakanlah itu sebagai tugas manusia,” sang tokoh ingin lebih meyakinkan Zaranggi.
“Tuan! Dari mana Anda tahu bahwa itu adalah tugas manusia. Sebab, jangankan perintah untuk itu, dalil pembolehannya saja, dari agama, Anda tadi tidak dapat menunjukkan kepada saya. Lalu dari mana Anda dapat memahami itu?” Zaranggi terus mendesak tokoh kita. Dan tokoh kita tidak memberikan jawaban. Akhirnya Zaranggi meneruskan pertanyaannya.
“Atau begini Tuan! (Zaranggi berusaha memberikan argumen lagi). Menyusun kitab tentu tidak mudah, sebab mana yang harus diletakkan di depan, di tengah dan di belakang. Dan dalam hal ini tidak ada petunjuk dari Tuhan Tuan. Sekarang saya mau bertanya, bagaimana kalau surat-surat itu tersusun tidak sesuai dengan apa yang Tuhan Anda kehendaki. Dan saya yakin susunan manusia itu tidak akan sama dengan yang ia kehendaki. Sebab, sebagaimana Anda katakan tadi, dalam hal tersebut tidak ada petunjuk dari-Nya.”
“Sudah saya katakan tadi (sang tokoh mengingatkan Zaranggi) bahwa tidak adanya petunjuk itu berarti penyusunannya itu terserah kepada kita. Dan hal itu berarti tidak merubah essensi al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”
“Baiklah! (kata Zaranggi). Sekarang, saya mau bertanya apakah boleh seorang menulis al-Qur’an dalam bentuk lain dari al-Qur’an yang ada ini, Tuan. Artinya surat-surat yang di depan ditukar tempatnya dengan surat-surat yang ada di tengah atau di belakang?”
“Ah… itu tidak boleh dilakukan Tuan!” kata sang tokoh dengan sedikit gusar.
“Kenapa?” tanya Zaranggi.
“Karena akan menimbulkan ketidakseragaman di antara kaum muslimin,” jelas sang tokoh.
“Apakah ketidakseragaman itu tidak baik Tuan?” Zaranggi terus bertanya.
“Yah… kurang baik atau bahkan tidak baik sama sekali,” jawab sang tokoh.
“Lho… (Zaranggi terkejut), apakah Tuhan Tuan tidak menyadari tentang hal ini Tuan, sehingga tidak menyusunnya, sehingga orang-orang akan memahami, seperti yang Anda katakan, bahwa tidak samanya susunan manusia dengan Tuhan tidak merubah essensi al-Qur’an? Atau berangkat dari namanya saja, yaitu kitab suci, yang menAndakan suci dari segala-galanya, akan menjadi tidak suci lagi kalau ada campur tangan manusia.”
“Kenapa begitu?” tanya tokoh kita yang semakin kebingungan ini.
“Sebab bagi saya kitab suci termasuk berarti suci dari campur tangan manusia yang hina ini. Kitab suci haruslah hanya disusun oleh Tuhan sendiri. Dan al-Qur’an sulit untuk dipercaya oleh kami sebagai firman-Nya yang murni, seAndainya Ia lalai mewahyukan kepada Nabi-Nya untuk menyusun kitab-Nya itu. Lebih-lebih firman-Nya atau sunnah Nabi-Nya tidak ada yang menyuruh untuk itu, sesuai dengan apa yang tadi Anda katakan. Bagi saya kalau memang agama Islam ini benar, tidak adanya perintah dalam firman-Nya dan sunnah digabung dengan mustahilnya Tuhan membiarkan firman-Nya berserakan di daun-daun, kulit-kulit kayu, tulang-tulang dan lain-lain, menunjukkan bahwa ia telah menyusun semua firman-Nya itu dengan membimbing Nabi-Nya. Tapi yah… sekarang belum bisa kami yakini kebenaran Islam ini sebelum janji untuk menyelesaikan diskusi ini dapat Anda penuhi nantinya.”
= = = =
Dengan perasaan malu tapi ia berusaha untuk tetap tenang tokoh kita ini terpaksa berjanji untuk kesekian kalinya pada Zaranggi. Ia berkata:
“Apa yang Anda katakan, semuanya tadi ada rada benarnya.
Saya kagum kepada kecemerlangan Tuan. Semoga saya dapat segera membantu Tuan dalam hal ini setelah saya memperdalam lagi. Dan sekali lagi maafkanlah kami dalam keterbatasan kami ini. Dan karena sekarang sudah tengah hari saya pikir untuk hari ini kita cukupkan sekian dulu. Untuk besok dan seterusnya, sementara, tidak ada pertemuan, sampai saya kembali nanti. Dan sekali lagi saya ucapkan maaf untuk ini serta terima kasih saya ucapkan untuk kedatangan dan perhatiannya selama ini,” kata tokoh kita ini.
Setelah bersalam-salaman dengan penuh akrab, pertemuan pada hari itu, yang mana sebagai hari terakhir, telah berakhir. Dan tinggallah sang tokoh dengan beberapa muridnya untuk melakukan shalat zhuhur berjamaah. Setelah shalat sang tokoh sejenak melamun dan memikirkan kejadian besar yang baru pertamakali ia alami selama ia menyebarkan agama Islam. ia sedih dan menyesal serta memohon beribu-ribu ampunan dari Tuhan, ia minta petunjuk kepada Allah agar ia membimbingnya ke jalan yang benar (Shirath al-mustaqim).
Setelah itu ia menghadap murid-muridnya yang nampak semakin tegang melihat gurunya tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan Zaranggi tadi. Dengan suara lirih dan penuh kasih sayang tokoh kita ini mengatakan:
“Murid-muridku! Gurumu ini adalah ibarat setetes dari lautan luas pengetahuan Islam. Yakinkanlah bahwa kelemahan itu ada pada gurumu ini. Bukan pada Islam. Memang sekarang aku baru sadar bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian muslimin, yaitu memperdalam logika dan filsafat, yang kami di pesantren dulu menganggap hal itu telah mengotori agama karena telah memasukkan unsur akal ke dalamnya, ternyata sangat bermanfaat untuk mempertahankan Islam. Bahkan tanpa akal, seperti yang terjadi tadi, kita tidak dapat mempertahankan kesuciannya. Terus terang, kami dulu waktu belajar di pesantren, kami merasa bahagia (bangga) dan sangat bersyukur kepada Allah karena ia telah membimbing kami kepada Islam murni. Artinya, karena kami hanya berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Kami tidak menerima segala macam takwilan yang bersifat akli terhadap keduanya. Kami mengira hanya dengan kembali kepada keduanya kita akan selamat dan tidak akan terpecah seperti yang diisyaratkan dalam hadits (yaitu yang menjadi 73 bagian).”
“Ee… maaf guru,” celetuk salah seorang murid.
“Ah… tak apa, ada apa?” kata sang guru.
“Bolehkah saya menanyakan satu hal?” jawab sang murid.
“Boleh saja. Tanyakanlah!” si guru mempersilahkan.
“Guru! Apakah dalam al-Qur’an atau hadits tidak ada yang menganjurkan menggunakan akal dan mencerdaskannya dalam agama atau dalam mencari Tuhan?” ia menanyakan hal itu karena dalam dialog tadi, ketika ditanya mengenai apakah Tuhan ada dan Esa, ia perhatikan, gurunya hanya berdalil dengan al-Qur’an. Maka dari itu ketika dikejar, al-Qur’an pun, akhirnya, tak dapat dipertahankan sebagaimana Anda ketahui tadi.
“Ada, bahkan banyak (jawab gurunya). Misalnya ada yang mengatakan bahwa sebenarnya kalau engkau menggunakan akal maka akan mengerti kebenaran ada-Nya; Allah akan tunjukkan bukti kebenaran-Nya pada kita melalui alam ciptaan-Nya dan dari diri kita sendiri; Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi dan seisinya adalah bukti-bukti bagi orang yang berilmu. Bahkan dikatakan dalam suatu ayat yang mengecam orang-orang bodoh, seperti, “Sesungguhnya kebanyakan mereka tidak menggunakan akalnya (bodoh)”.
“Guru! (tanya sang murid lagi). Lalu mengapa guru katakan bahwa dalam Islam tidak boleh menggunakan akal dalam agama, khususnya dalam mengenal-Nya?”
“Itulah yang sedang kupikirkan. Dulu guruku dalam hal-hal tertentu menggunakan akal dan mencemooh orang yang tidak menggunakannya. Akan tetapi dalam bab-bab lain, misalnya ke-Esaan-Nya, al-Qur’an makhluk apa bukan, perjumpaan kita dengan-Nya di surga, rukun Iman ke-6, mukjizat merusak tatanan sunnah Allah apa tidak, orang shaleh bisa saja dimasukkan Allah ke neraka kalau ia berkehendak, dan lain-lain, guruku tidak mau menerima uraian golongan lain yang menggunakan akal di samping al-Qur’an. Guruku mengatakan bahwa agama tidak bisa di akal-akali. Berapa banyak perbedaan di antara kaum muslimin. Barangkali inilah yang dimaksud Nabi dengan perpecahan 73 golongan itu. Yah… (desah sang guru sambil menatap kejauhan yang seakan tak berbatas) yang mana yang benar, susah sekali mencarinya.”
“Guru! (kata sang murid lagi), masihkah ada perbedaan seAndainya kita kembali ke al-Qur’an dan hadits, sebagaimana yang diamalkan di pesantren guru?”
“Oh… ada, masih ada,” jawab sang guru dengan serta merta.
“Barangkali hanya furu’ guru?” sang murid melanjutkan pertanyaannya.
“Ah… tidak. Tidak muridku (jawab sang guru). Bahkan sampai ke’ syirik-mensyirikkan. Hal mana syirik adalah dosa yang paling besar dan menyangkut masalah keimanan. Dan walaupun sebagiannya adalah masalah furu’, akan tetapi kalau sudah sampai bid’ah-membid’ahkan, ini adalah masalah besar. Sebab setiap bid’ah adalah dhalalah, dan setiap dhalalah tempatnya di neraka. Jadi, shalat orang yang ada bid’ahnya, menurut yang membid’ahkan, bukan hanya shalatnya tidak diterima, akan tetapi bahkan menyebabkan mereka masuk neraka.”
“Guru! (lanjut sang murid), dulu guru pernah berkata bahwa di pesantren guru adalah termasuk golongan yang. kembali ke al-Qur’an dan hadits secara murni. Masihkah di sana ada perbedaan pendapat dalam agama, guru?”
“Wah… banyak, banyak sekali (jawab sang guru), kami hanya bersepakat dalam masalah bid’ah, khurafat, tahyul dan masalah-masalah kesyirikan. Akan tetapi dalam masalah ekonomi, sosial, politik dan lain-lain kami mempunyai setumpuk perbedaan.”
“Tapi itu kan tidak termasuk haram-mengharamkan guru,” kata sang murid.
“Wah… siapa bilang (sergah si guru). Misalnya masalah bunga. Kita berbeda pendapat mengenainya. Ada yang tetap mengharamkan walaupun bunganya untuk kepentingan umum dan ada yang tidak. Atau katakanlah pada sebagian yang lain tidak dengan kata haram-mengharamkan. Akan tetapi seringkali kita dengar, misalnya, kurang Islami, dalam keadaan begini, Islam tidak boleh begini atau begitu, yang itu salah yang ini benar dan lain-lain, yang kata-kata itu acapkali saling kita lemparkan di antara sesama kita.”
“Kok bisa begitu guru?” kata salah seorang murid yang sejak tadi bengong saja. “Bukankah mereka sudah kembali ke al-Qur’an dan hadits?” lanjutnya.
“Yah… sekarang aku baru sadar (kata sang guru), sejak perdebatanku dengan Zaranggi tadi, aku mulai mengerti bahwa al-Qur’an dan hadits yang dipakai adalah al-Qur’an dan al-Hadits yang kita pahami. Bukankah jelas sekali bahwa al-Qur’an dan hadits yang kita pahami belum tentu benar? Seandainya kita kembali ke al-Qur’an atau hadits, tapi yang benar-benar sesuai dengan keduanya, maka dapat dipastikan bahwa kita tidak akan bercerai-berai seperti sekarang ini. Karena di dalam al-Qur’an tidak terdapat kontradiksi sehingga bisa menimbulkan perpecahan ini.”
“Guru! (salah seorang dari mereka menyambung), apakah mungkin al-Qur’an dapat dipahami sebenar-benarnya, sehingga kalau kita kembali kepadanya pasti tidak akan bercerai-berai?”
“Itulah salah satu yang akan saya cari jawabannya. Sebab, saya sekarang memahami, dari kejadian tadi, bahwa karena mengingat agama Islam ini adalah agama akhir zaman, dan ia diturunkan untuk dijadikan pedoman, maka sesungguhnya mestilah al-Qur’an ini dapat dipahami sebenar-benar pemahaman.”
“Guru! (kata salah seorang muridnya yang lain), dulu guru pernah mengatakan bahwa Qur’an itu mengandung ayat-ayat yang jelas dan mutasyabihat. Sedang yang mutasyabihat (samar) tidak diketahui takwilnya kecuali Allah?” (Q.S. Ali Imran: 7).
“Yah… dulu memang demikian (jawab sang guru). Tapi sekarang tidak lagi. Sebab, kalau al-Qur’an, walau sebagiannya, tidak dipahami kecuali Allah, maka buat apa al-Qur’an diturunkan untuk manusia? Bukankah al-Qur’an ini diturunkan supaya manusia mengambil petunjuk daripadanya? Nah, kalau sebagian ayatnya yang mutasyabihat tadi tidak dapat dipahami, lalu buat apa ayat itu diturunkan?”
“Maaf guru! (lanjut sang murid tadi), bukankah dengan mengatakan demikian berarti guru telah keluar dari makna ayat tadi, karena di ayat itu, untuk ayat-ayat yang mutasyabihat dikatakan bahwa, ‘…tidak ada yang tahu takwilnya kecuali Allah’?”
“Muridku (jawab sang guru dengan bijaksana) al-Qur’an itu ada titik komanya. Kaum muslimin berbeda pendapat dalam meletakkan koma pada ayat itu. Dan dulu aku meletakkan seperti yang engkau katakan itu. Akan tetapi, sekarang, setelah dialog tadi, dan karena alasan-alasan tadi, yaitu al-Qur’an diturunkan untuk diikuti yang mana sudah tentu harus dipahami terlebih dahulu, maka saya yakin bahwa koma pada ayat itu tidak terletak setelah Allah. Dan makna ayat itu sedikit berubah. Coba perhatikan! (katanya). Kalau komanya setelah Allah,

26 03 2009
antirafidhah

@falseto/antigegabah

waduh boleh juga nich, tapi bisa2 tambah runyam deh kalo ente yg ngadepin….
wong membedakan antara sahabat yg saleh dengan yg murtad aja kebingungan. Dalam beragama semangat saja tdk cukup apalagi ngandelin warisan agama dari ortu.

hehehe… kalo ngadepin orientalis rafidhah macam ente sih.. dah biasa.. hehehe… yang bingung ente kali kagak bisa mbedain mana sahabat, mana murtadin & mana munafik… soalnya dah terinfeksi virus rafidhah seh… hehehe…

nah, bener kan cuma karena ngutip ayat dan hadis2 Bukhori & Muslim tentang para sahabat disebut nyerang Islam. Jadi Islam = sahabat murtad ? uh engga deh….

emangnya orientalis nyerang Islam pake apa? Al-Qur’an & Hadits bung, and dimauin menurut kemauan mereka hehehe…

baiklah, mari kita sama2 tobat kpd Allah dan meninggalkan ajaran Muawiyah…

Yang bener, mari hindari virus rafidhah, kalo dah terinveksi, berusahalah untuk bertobat huehehe…

he he he, mang sebelum dikutip itu hadis diteliti dulu dong ! bagaimana mungkin Nabi saw bersabda spt itu ? walaupun berbentuk pengandaian, tetap saja Nabi mustahil berkata segegabah itu.

Ups! Nabi ente bilang gegabah? istighfar! tobat! sebelum terlambat… wah virus rafidhah emang perlu dibasmi nich!

Untuk diketahui saja bahwa salah satu syarat untuk menjadi Nabi adalah maksum total. Sedangkan Umar adalah mantan dzalim (penyembah berhala dll) dan baru masuk Islam ketika sudah tua atau setelah adik perempuannya. Waktunya lebih banyak dihabiskan di pasar, karena dia adalah pedagang. Bandingkan dg seorang Muhammad yg ketika sebelum menjadi Nabi mendapat gelar al-Amin dari penduduk Mekah dan tdk pernah menyembah berhala dan tdk berbuat maksiat lainnya. Menjelang kenabiannya sering berkhalwat di gua Hira.

Hehehe.. lagian siapa yang bilang kalau Umar adalah Nabi? jelas kedudukan beliau di bawah Nabi, pengandaian dari Nabi tersebut hanya untuk menunjukkan keutamaan Umar, bahwa Umar adalah termasuk salah satu Muhadatsun (pembaharu/reformis/orang yang diberi ilham)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Pada umat-umat terdahulu ada beberapa orang muhadatsun. Kalau muhadatsun itu ada didalam umatku, maka Umar adalah orangnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3689) dan Muslim(Fadha’ilish-Shahabah/23) pada bab ”min fadha’ili Umar radhiyallahu ‘anhu (keutamaan Umar radhiyallahu ‘anhu”. Diriwayatkan juga oleh Tirmidzi (9369.3) dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash)

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyampaikan hadits dengan bersabda sebagai berikut, ”Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi diberi segelas air. Lalu aku memimumnya sehingga sekujur tubuhku menjadi lega. Kemudian aku memberikan sisa air minum itu kepada Umar’. Para Sahabat bertanya, ‘Bagaimana Anda menakwilkan mimpi itu, wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘(Takwilan untuk air yang aku berikan kepada Umar) adalah ilmu pengetahuan’.” (Hadits ini disepakati shahih)Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (7006) dan Muslim (Fadha’ilish-Shahabah/16) pada bab ”min fadha’ili Umar radhiyallahu ‘anhu”.

Makanya beragama itu harus melalui pencarian. Kalo ketemu hadis teliti dulu, jangan main telan aja !

o off course!, tetapi saya lebih memilih menelan hadits itu daripada menelan kata-kata dari orang yg terkena virus rafidhah semacam ente!.. huehehehehehe…

30 03 2009
antigegabah

@antirafhidah:
hehehe… kalo ngadepin orientalis rafidhah macam ente sih.. dah biasa.. hehehe… yang bingung ente kali kagak bisa mbedain mana sahabat, mana murtadin & mana munafik… soalnya dah terinfeksi virus rafidhah seh… hehehe…

weleh..weleh..udah dikasih ayat2nya masih belum jelas juga. Udah rabun ? masa buat sahabat munafik dipasang ayat yg cerita sahabat yg soleh ? ya engga cocok mang…jd ente hrs belajar ilmu cocok mencocok dulu gitu..

Engga usahlah bawa2 rafhidah dulu lah yg istilahnya aja ente blm begitu faham. Kita bahas dulu aja issue2 yg ada di dlm lingkungan Ahlu Sunnah dg dalil dari ahlu sunnah sendiri. Referensinya engga usah jauh2, yaitu kitab2 para ulama ahlu sunnah sendiri.

Terinfeksi virus rafidhah ? Yg jelas ane pernah kena virus Muawiyah yg sangat ganas dan mematikan (mata hati). skrg alhamdulillah virusnya ud qoit

@antirafhidah:
Ups! Nabi ente bilang gegabah? istighfar! tobat! sebelum terlambat… wah virus rafidhah emang perlu dibasmi nich!

he he he dasar lagi mabok bir merk muawy wine euy ! ente bisa baca engga sich ? coba baca dan fahami sekali lagi kalimat ane carefully :”he he he, mang sebelum dikutip itu hadis diteliti dulu dong ! bagaimana mungkin Nabi saw bersabda spt itu ? walaupun berbentuk pengandaian, tetap saja Nabi mustahil berkata segegabah itu.”

ente faham kalimat spt itu ? kala engga, wah engga tau deh ente ini faham bhs Indonesia atau cuma faham bhs isyarat ? he he he

ente mau basmi virus rafhidah ? silakan, tapi belajar dulu bhs Indonesia yg baik dan benar ya ?

@antirafhidah:
Hehehe.. lagian siapa yang bilang kalau Umar adalah Nabi? jelas kedudukan beliau di bawah Nabi, pengandaian dari Nabi tersebut hanya untuk menunjukkan keutamaan Umar, bahwa Umar adalah termasuk salah satu Muhadatsun (pembaharu/reformis/orang yang diberi ilham)

Hi hi hi…lagi2 ente kurang faham bhs indonesia shg tdk faham maksud ane. Memang ente engga ngomong begitu, tapi sekali lagi ente tdk hati2 dlm menggunakan suatu hadis. Walaupun kita bukan ahli hadis tapi paling tdk kita cari dulu referensi para ahli hadis perihal derajat dan akhirnya matan hadis tsb apakah bertentangan dg hadis yg lebih sahih dan apakah masuk akal. Sekalipun hanya bersifat pengandaian, tetapi mustahil Nabi saw bersabda yg melebihi realitasnya, padahal masih banyak para sahabat lain yg lebih utama dari Umar spt Ali, Abu Dzar, Ibn Mas’ud, Ubay bin Ka’b, Ibnu Abbas, Muadz bin Jabbal, Abdullah bin Zubair dll.

Engga usah jauh2 melihat bukti2 yg paling gampang. Kita buat pertanyaan2 :
1. Apakah Umar hafal ayat2 Al-Quran 30 Juz ?
2. Apakah Umar termasuk dalam tim pembukuan Al-Quran baik di zaman Abu Bakar maupun Usman ?
3. Apakah fatwa2 Umar ketika menjadi khalifah sesuai Al-Quran dan Sunnah ?

Jawaban :
1. Sejarah membuktikan bahwa Umar tdk hafal Al-Quran padahal salah satu syarat dasar bagi seorang mujtahid atau mujadid atau seorang hakim agama dan apalagi seorang khalifatun Nabi adalah wajib hafal Al-Quran

2. Sejarah Al-Quran membuktikan bahwa Umar tdk termasuk Tim Kompilasi Al-Quran baik pada zaman Abu Bakar maupun Usman. Yg tercatat dlm sejarah hanya Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair dan Sa’id ibn al-‘Ash dan Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam. Hal ini menunjukkan Umar bukanlah orang yg menguasai Al-Quran.

3. Para ulama Ahlu Sunnah mencatat fatwa2 Umar yg menyalahi nash spt contoh dbwh ini :

a). Khalifah Umar mengatakan tidak wajib salat bagi orang yang berjunub ketika tidak ada air.[Ibn Majah, al-Sunan,I,hlm. 200; al-Nasai, al-Sunan,I,hlm. 59]
Oleh karena itu ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Maidah (5):6….”maka hendaklah kamu bertayammum dengan tanah….”

b). Khalifah Umar memberi fatwa bahwa talak tiga jatuh sekaligus. Sedangkan talak pada masa Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar ialah tiga kali sebagaimana terdapat di dalam al-Qur’an.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 314; Muslim, Sahih,I,hlm. 574] Ijtihadnya itu bertentangan dengan Sunnah Nabi SAWA dan firman Allah di dalam Surah al-Baqarah (2):
229:”Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh dirujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik.”

c. Khalifah Umar adalah orang yang pertama memindahkan maqam Ibrahim dari tempat yang diletakkan oleh Nabi SAWA iaitu dekat dengan Ka’bah, ke tempat yang ada sekarang iaitu tempat di masa jahiliyyah.[al-Suyuti, Tarikh, al-Khulafa,hlm. 137]

d. Khalifah Umar mengatakan Rasulullah SAWA “sedang meracau.” Oleh karena itu permintaan beliau supaya dibawa pensil dan kertas supaya beliau menulis perkara-perkara yang tidak akan menyesatkan ummatnya selama-lamanya tidak perlu ditanggapi lagi.[Muslim, Sahih, III, hlm. 69; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36]
Ijtihadnya adalah bertentangan dengan firmanNya di dalam Surah al-Najm (53):3-4:”Dan tiadalah yang diucapkannya (Nabi saw) itu menurut kemahuan hawa nafsunya.”

e. Khalifah Umar adalah orang yang pertama menambahkan hukum cambuk bagi peminum arak dari 40 cambukan kepada 80 kali cambukan.[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137]

f. Khalifah Umar telah melakukan kesalahan dalam masalah pusaka “datuk” dengan “saudara lelaki.” Umar telah bertanya kpd Rasulullah SAWA mengenai hal itu, maka Rasulullah SAWA menjawab:”Aku pikir sampai matipun anda tidak akan
memahaminya.” Ubaidah al-Salmani berkata:”Aku telah menghafal untuk Umar mengenai “datuk” lebih dari 100 masalah.”[al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI, hlm. 15]

g. Khalifah Umar juga tidak mampu menyelesaikan masalah al-Kalalah yang diakuinya sendiri, dia berkata:”Jika aku mengetahui al-Kalalah, adalah lebih baik bagiku dari istana-istana di Syam.”[al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm.
20]

h. Khalifah Umar melarang masyarakat dari meriwayatkan dan menulis Sunnah Rasulullah SAWA, dia berkata:”Hasbuna Kitabullah (Kitab Allah adalah cukup bagi kita).”[Al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36] Ijtihadnya adalah bertentangan dengan hadith yang dipopulerkan oleh Ahlul Sunnah:”Aku tinggalkan pada kalian dua
perkara selama kalian berpegang kepada kedua-duanya Kitab Allah dan Sunnahku.”
Ibn Sa’d dalam Tabaqatnya, V hlm. 140 meriwayatkan bahawa apabila hadith atau Sunnah Rasulullah SAWA banyak diriwayatkan dan dituliskan pada masa Umar bin al-Khattab, maka dia menyeru masyarakat supaya membawa kepadanya semua hadith-hadith yang ditulis, kemudian dia memerintahkan supaya dibakar.
Oleh itu tidaklah heran jika khalifah Umar menahan tiga orang sahabat di Madinah sehingga mati, kerana meriwayatkan banyak hadith Rasulullah SAWA.
Mereka ialah Ibn Mas’ud, Abu Darda’ dan Abu Mas’ud al-Ansari.[al-Dhahabi,Tadhkirah al-Huffaz, I,hlm. 8; al-Haithami, Majma al-Zawaid,I,hlm. 149; al-Hakim,al-Mustadrak,I,hlm. 110] Khalifah Umar berkata kepada Abu Darda:”Apa hadith daripada Rasulullah?”Abu Salmah bertanya kepada Abu Hurairah:”Adakah anda
meriwayatkan hadith semacam ini pada masa Umar?”Abu Hurairah
menjawab:”Sekiranya aku meriwayatkan hadith (semacam ini) pada masa Umar niscaya dia memukulku dengan cemetinya>”[al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm. 7]

Nah, itu dia sebagian kecil fakta yg diriwayatkan para ulama hadis dari Ahlu Sunnah sendiri yg menunjukkan siapa Umar. Apakah dia pantas disebut seorang reformis/mujadid ? Kita dudukan dulu pengertian reformasi/tajdid dlm bidang agama. Seorang mujadid bukanlah seorang yg mengubah atau membentuk hukum2 baru atas nas2 yg qath’i, tetapi seorang yg mengembalikan hukum2 yg telah dihilangkan atau diubah.

Seorang reformis/mujadid pasti seorang yg berada pada level mujtahid atau fuqaha. Jelas mereka harus hafal dan menguasai ayat2 Al-Quran dan Sunnah Rasul.

Silahkan ente menilai sendiri dimana posisi Umar.

@antirafhidah:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Pada umat-umat terdahulu ada beberapa orang muhadatsun. Kalau muhadatsun itu ada didalam umatku, maka Umar adalah orangnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3689) dan Muslim(Fadha’ilish-Shahabah/23) pada bab ”min fadha’ili Umar radhiyallahu ‘anhu (keutamaan Umar radhiyallahu ‘anhu”. Diriwayatkan juga oleh Tirmidzi (9369.3) dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash)

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyampaikan hadits dengan bersabda sebagai berikut, ”Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi diberi segelas air. Lalu aku memimumnya sehingga sekujur tubuhku menjadi lega. Kemudian aku memberikan sisa air minum itu kepada Umar’. Para Sahabat bertanya, ‘Bagaimana Anda menakwilkan mimpi itu, wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘(Takwilan untuk air yang aku berikan kepada Umar) adalah ilmu pengetahuan’.” (Hadits ini disepakati shahih)Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (7006) dan Muslim (Fadha’ilish-Shahabah/16) pada bab ”min fadha’ili Umar radhiyallahu ‘anhu”.

Boleh-boleh aja ada hadis2 spt itu. Tapi sekali lagi coba bandingkan dg hadis2 yg lebih sahih spt contoh yg ane kemukakan diatas. Apa pantas Umar disebut seorang reformis dlm arti membersihkan / mengembalikan hukum kpd posisinya semula ?
Tapi kalau diartikan reformis itu mengubah-ubah hukum atau membuat hukum yg baru diatas hukum yg sudah qath’i, maka Umar pantas disebut reformis.
Lagi pula apa yg harus di-direform/diperbaharui oleh Umar padahal baru saja Nabi saw wafat dg meninggalkan agama Islam yg sudah sempurna ?

@antirafhidah:
off course!, tetapi saya lebih memilih menelan hadits itu daripada menelan kata-kata dari orang yg terkena virus rafidhah semacam ente!.. huehehehehehe…

yah pantaslah kalo virus Muawiyah sdh menjalar ke sekujur tubuh sangat sulit untk disembuhkan.

Itulah ente biasa menelan saja omongan guru2/ulama2 ente tanpa menelaah dan membanding, padahal kata Al-Quran mengingatkan bahwa pendengaran, penglihatan dan hati akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Benar ! Kenapa ente musti menelan kata2 ane ? Ane kan cuma mengutip ayat2 atau hadis spt ente atau ustadz2 ente juga kan ?

Jadi baik ayat2 maupun hadis2 itu harus dipikirkan dulu. Apalagi hadis dg segala macam derajatnya (mutawatir, ahad, masyhur, sahih, hasan, dhaif, gharieb, mardud dsb) itu perlu diteliti dan dibandingkan dulu dg hadis yg lebih sahih dan akhirnya dg Al-Quran.

Sekali lagi jangan main telan ya ? Kunyah dulu nanti nyangkut di tenggorokan he..he…he

30 03 2009
antirafidhah

weleh..weleh..udah dikasih ayat2nya masih belum jelas juga. Udah rabun ? masa buat sahabat munafik dipasang ayat yg cerita sahabat yg soleh ? ya engga cocok mang…jd ente hrs belajar ilmu cocok mencocok dulu gitu..

Engga usahlah bawa2 rafhidah dulu lah yg istilahnya aja ente blm begitu faham. Kita bahas dulu aja issue2 yg ada di dlm lingkungan Ahlu Sunnah dg dalil dari ahlu sunnah sendiri. Referensinya engga usah jauh2, yaitu kitab2 para ulama ahlu sunnah sendiri.

hehehe… ente itu yg ga mudeng dijelasin bbrp kali juga.. krn dah terinfeksi virus rafidhah.. hehehe justru mari kita bahas isyu2 di kalangan rafidhah contoh :

Rafidhah = Yahudi

karena ajarannya adopsi dari Si Ibnu Saba Al-Yahudi, berlebihan terhadap para Imam, kemunafikan adalah landasan utama ajarannya… dan pusat rafidhah saat ini adalah bakal tempat munculnya Dajjal… dan Al-Mahdi yang ditungguin kaum rafidhah adalah Dajjal itu sendiri.. ngeri dech pokoknya… makanya kita mesti ati2 tuch ama rafidhah.. musuh dalam selimut… menggunting dalam lipatan…

Sekalipun hanya bersifat pengandaian, tetapi mustahil Nabi saw bersabda yg melebihi realitasnya, padahal masih banyak para sahabat lain yg lebih utama dari Umar spt Ali, Abu Dzar, Ibn Mas’ud, Ubay bin Ka’b, Ibnu Abbas, Muadz bin Jabbal, Abdullah bin Zubair dll

Wah sorry ya.. kami bukan Rafidhah, dan hadits tsb bukan mustahil kok, jika ente ga percaya sama hadits dari sunni jangan pernah sekali-kali ente nyinggung2 hadits sunni lg ok! apalg menerima yg satu nolak yg lain seenaknya sendiri…so urusin sendiri tuch ajaran rafidhah ente itu… bagi kami (sunni) manusia terbaik setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan baru yang lainnya… dan dasar kami cukup kuat dalam hal ini… ente mau ngeyel terserah! It’s not of your bussines ok.. jangan sok tau lah… urusin sndri tuch yg ente punya…

Hi hi hi…lagi2 ente kurang faham bhs indonesia shg tdk faham maksud ane. Memang ente engga ngomong begitu, tapi sekali lagi ente tdk hati2 dlm menggunakan suatu hadis. Walaupun kita bukan ahli hadis tapi paling tdk kita cari dulu referensi para ahli hadis perihal derajat dan akhirnya matan hadis tsb apakah bertentangan dg hadis yg lebih sahih dan apakah masuk akal. Sekalipun hanya bersifat pengandaian, tetapi mustahil Nabi saw bersabda yg melebihi realitasnya, padahal masih banyak para sahabat lain yg lebih utama dari Umar spt Ali, Abu Dzar, Ibn Mas’ud, Ubay bin Ka’b, Ibnu Abbas, Muadz bin Jabbal, Abdullah bin Zubair dll.

Derajatnya jelas shahih kok, diriwayatkan dari Bukhari, Muslim dan Tirmidzi… kalo ente bilang ga shahih coba tunjukkan ketidakshahihannya di mana? pengen tau ane… ga masuk akal ente krn ente dah terjangkit virus rafidhah hehehe… jelas sekali itu sebabnya kok ga sadar2 ya…

1. Sejarah membuktikan bahwa Umar tdk hafal Al-Quran padahal salah satu syarat dasar bagi seorang mujtahid atau mujadid atau seorang hakim agama dan apalagi seorang khalifatun Nabi adalah wajib hafal Al-Quran

siapa yang bilang bung?

2. Sejarah Al-Quran membuktikan bahwa Umar tdk termasuk Tim Kompilasi Al-Quran baik pada zaman Abu Bakar maupun Usman. Yg tercatat dlm sejarah hanya Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair dan Sa’id ibn al-‘Ash dan Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam. Hal ini menunjukkan Umar bukanlah orang yg menguasai Al-Quran.

justru beliau lah yang orang yang pertama yang mengusulkan kepada Abu Bakar untuk dikumpulkannya Al-Qur’an… maka pahala orang yang membaca Al-Qur’an di seluruh dunia ini ikut mengalir kepada Umar ra InsyaAllah… bro.. satu pertanyaan saja buat ente, apakah Ali ra tidak masuk dalam panitia kompilasi Al-Qur’an tersebut berarti Ali adalah ga berhak untuk menjadi mujtahid atau khalifah?

3. Para ulama Ahlu Sunnah mencatat fatwa2 Umar yg menyalahi nash spt contoh dbwh ini :

Tidak ada yang menyalahi,hal-hal tsb adalah dalam perkara fiqih saja… di masa Umar, semakin banyak persoalan yg dihadapi.. dan beliau pun adalah seorang yang dikatakan Muhadattsun oleh Nabi dan pantas untuk berijtihad.. perbedaan dalam pemahaman adalah hal yg sudah biasa dalam perkara2 yang furu’..

Nah, itu dia sebagian kecil fakta yg diriwayatkan para ulama hadis dari Ahlu Sunnah sendiri yg menunjukkan siapa Umar. Apakah dia pantas disebut seorang reformis/mujadid ? Kita dudukan dulu pengertian reformasi/tajdid dlm bidang agama. Seorang mujadid bukanlah seorang yg mengubah atau membentuk hukum2 baru atas nas2 yg qath’i, tetapi seorang yg mengembalikan hukum2 yg telah dihilangkan atau diubah.

Dia sangat pantas sekali menjadi seorang muhadattsun… Rasulullah sendiri yang menjadi saksinya dalam hadits-hadits yang shahih… tidak ada kesaksian manusia yang lebih kuat daripada kesaksian sang Nabi.. kholas..

Boleh-boleh aja ada hadis2 spt itu. Tapi sekali lagi coba bandingkan dg hadis2 yg lebih sahih spt contoh yg ane kemukakan diatas. Apa pantas Umar disebut seorang reformis dlm arti membersihkan / mengembalikan hukum kpd posisinya semula ?
Tapi kalau diartikan reformis itu mengubah-ubah hukum atau membuat hukum yg baru diatas hukum yg sudah qath’i, maka Umar pantas disebut reformis.
Lagi pula apa yg harus di-direform/diperbaharui oleh Umar padahal baru saja Nabi saw wafat dg meninggalkan agama Islam yg sudah sempurna ?

Hadits2 tersebut adalah shahih… bahkan contoh2 yang anda gunakan sebagian besar derajatnya di bawah hadits2 tentang Umar tsb… Sekali lagi yang menjadi saksi adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.. so perkataan/keraguan ente adalah NOTHING! alias tidak ada apa2nya… contoh yang paling nyata adalah ide pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf..

Itulah ente biasa menelan saja omongan guru2/ulama2 ente tanpa menelaah dan membanding, padahal kata Al-Quran mengingatkan bahwa pendengaran, penglihatan dan hati akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat kelak

Jelas sekali itu dan ayat tsb juga buat ente.. jgn taashub pada ajaran rafidhah, jangan ghuluw thd para imam… mereka itu manusia biasa… bukan nabi, malaikat maupun Tuhan..

Jadi baik ayat2 maupun hadis2 itu harus dipikirkan dulu. Apalagi hadis dg segala macam derajatnya (mutawatir, ahad, masyhur, sahih, hasan, dhaif, gharieb, mardud dsb) itu perlu diteliti dan dibandingkan dulu dg hadis yg lebih sahih dan akhirnya dg Al-Quran.

jelas itu.. kami tidak seperti rafidhah yang menelan mentah2 apa yang dikatakan ulama2 mereka… menelan mentah2 ajaran Ibnu Saba Al-Yahudi…

1 04 2009
falseto

@antirafhidah:
hehehe… ente itu yg ga mudeng dijelasin bbrp kali juga.. krn dah terinfeksi virus rafidhah.. hehehe

he he he mendingan kena virus rafidhah deh daripada kena virus muawiyah he he he….

@antirafidah:
justru mari kita bahas isyu2 di kalangan rafidhah

ok bozz…..siap !

@antirafidah:
Rafidhah = Yahudi
karena ajarannya adopsi dari Si Ibnu Saba Al-Yahudi,

he he he ane tuh slalu geli denger cerita si Ibnu Saba yg engga pernah wujud dan dicocok-cocokin sama rafidah. Emang ente udah tau ajarannya Yahudi ? Sdh baca kitab Taurat ? Kalo belum baca aja Perjanjian Lama. Itu kalo kita bicara ajaran Yahudi. Kalo Zionisme lain lagi. Kalo udah baca tolong buat intisari dari ajaran Yahudi dan Zionisme itu. Abis itu apa pula ajaran pokok si Ibnu Saba ? Daripada ngedongeng melulu dan berkaok-kaok Rafidah=Yahudi, mendingen ente jelaskan itu ajaran si Ibnu Saba dan Rafidah shg ane atau org2 bisa membandingkan antara ajaran Yahudi, Zionisme , Ibnu Saba dan Rafidah.
Nah abis itu tengoklah ke kawasan Timur Tengah dan perhatikan sikap negara2 Arab yg mengaku Islam itu pada waktu perang antara Hizbullah vs Israel dan serangan Israel ke Gaza. Bayangkan ada ulamanya yg mengharamkan bantuan untuk Hizbullah dan dan mengharamkan demo anti Israel. Bahkan ada yang negaranya dijadikan pangkalan militer Amerika dan para pemimpin negaranya bermesra-mesraan dg G. Bush yg antek Yahudi itu (baca Saudi). Ada juga Negara (baca Mesir) yg tdk mau membuka jalur Gaza yg merupakan jalur ekonominya warga Gaza. Ada yg cuma nonton aja. Apa ini Islam ?

Menurut ente Islam atau Yahudi suatu negara yang :
- ulamanya melarang demo dan jihad melawan Yahudi untuk membela ummat Islam di Palestina, Iraq, Lebanon dan Afghanistan.
- melarang boikot produk AS dan Yahudi.
- mengundang tentara kafir datang ke tanah Arab/Tanah Haram
- ulamanya memecah belah ummat Islam (sektarian)
- ulamanya membiarkan negaranya dijadikan budak Amerika
- berdiam diri ketika saudaranya dibantai
- mengharamkan bantuan kpd saudaranya yg berperang dg Israel

Engga usahlah terlalu ngawang2. Buktikan aja di lapangan.

Kalo masih penasaran ttg dongeng si Ibnu Saba ini coba jawab kenapa dongeng Ibnu Saba itu munculnya hanya pada saat pecahnya pemberontakan thdp Khalifah Usman, tapi setelah Usman terbunuh dan Imam Ali menjadi khalifah dongeng itu hilang bak lenyap ditelan bumi ? Dan kenapa ketika Muawiyah berkuasa juga engga ada kelanjutan ceritanya ? Dari bani apa dia berasal ? Ya dasar memang dongeng…..

@antirafidah:
berlebihan terhadap para Imam, kemunafikan adalah landasan utama ajarannya… dan pusat rafidhah saat ini adalah bakal tempat munculnya Dajjal… dan Al-Mahdi yang ditungguin kaum rafidhah adalah Dajjal itu sendiri.. ngeri dech pokoknya… makanya kita mesti ati2 tuch ama rafidhah.. musuh dalam selimut… menggunting dalam lipatan…

- berlebihan terhadap para Imam ?, he he he apanya yg berlebihan ? Kalo ngomong yg jelas ah….Biasanya kelompok ente suka nuduh org rafidah menuhankan Ali dan keturunannya. He he he ini mah udah basi mang. Memang dulu pernah ada kelompok spt itu. Tapi itukan kerjaannya org2 ghuluw yg saat ini sdh punah. Atau masalah kemaksumam para Imam ? Kalo blm jelas coba aja liat QS 33 : 33 dan hadis Ashabul Kisa. Ini mah bukan berlebih-lebihan mang tp memang kewajiban syar’i.

- kemunafikan adalah landasan utama ajarannya ? he he he kayak udah baca aja akidah rafidah. Udah baca rukun Iman rafidah ? ada di situ “rukun munafik” ? Makanya ente langsung aja baca itu buku2 ajaran rafidah. Engga usah melalui “calo” spt Ihsan Ilahi Zohir atau Hartono Ahmad Jaiz. Mau tau org yg paling munafik di dunia ? Coba perhatikan QS Taubah 97 dan 101. Jelas kan bahwa orang Arab, baik Arab Badui maupun Arab yg ada di Madinah, itu secara antropologis adalah se-munafik2-nya manusia. (asyhadu kufron wa nifaqo), kecuali yg mendapat hidayah Allah SWT.

- dan pusat rafidhah saat ini adalah bakal tempat munculnya Dajjal ? he he he…opo ora kebalik mas ? engga usah jauh-jauh tengok saja negara2 Arab yg berbatasan dg Palestina yg cuma jadi penonton ketika drama pembantaian warga Palestina di jalur Gaza terjadi ! Coba cari tau siapa yg membantu mereka dan dari mana senjatanya didapat, apa dari negara2 arab atau di luar arab ?

Hiiii menyebalkan deh liat negara2 arab yg cuma nonton aja melihat saudara2nya dibantai… tega…tega… dasar musuh dlm selimut, mengaku Islam tp kelakuan kaya Yahudi ! Dasar Munafik ! Mestinya kalo memang sama2 Arab dan muslim, negara2 Arab itulah yg seharusnya membantu ekonomi Palestina dan mempersenjatai militernya dg senjata yg seimbang dg Israel. Tapi kenyataannya ?

@antirafidah:
Wah sorry ya.. kami bukan Rafidhah, dan hadits tsb bukan mustahil kok, jika ente ga percaya sama hadits dari sunni jangan pernah sekali-kali ente nyinggung2 hadits sunni lg ok! apalg menerima yg satu nolak yg lain seenaknya sendiri…so urusin sendiri tuch ajaran rafidhah ente itu…

He he he…dasar tukang ngebebek. Untuk apa ada ilmu Rijal Hadis/Mustolah Hadis kalo setiap hadis sama saja derajatnya. Masa semua hadis mau dibilang sahih ? Ada tolok ukurnya dari segi sanad, makna dan puncaknya Al-Quran.

@antirafidah:
… bagi kami (sunni) manusia terbaik setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan baru yang lainnya… dan dasar kami cukup kuat dalam hal ini… ente mau ngeyel terserah! It’s not of your bussines ok.. jangan sok tau lah… urusin sndri tuch yg ente punya…

He he he …kalo memang urutannya spt itu, kenapa dalam hadis itu bukan Abu Bakar yg diumpamakan jadi nabi ? He he he yg bikin urutan sama yg bikin hadis engga koordinasi kalee..

@antirafidah :
Derajatnya jelas shahih kok, diriwayatkan dari Bukhari, Muslim dan Tirmidzi… kalo ente bilang ga shahih coba tunjukkan ketidakshahihannya di mana? pengen tau ane… ga masuk akal ente krn ente dah terjangkit virus rafidhah hehehe… jelas sekali itu sebabnya kok ga sadar2 ya…

Makanya banyak baca mang. Kitab hadis Bukhori dan Muslim memang dikasih lebel SAHIH. Tapi bukan berarti mutlak sahih. Yg mutlak sahih hanya Al-Quran. Yg disebut sahih itu kalau dari segi sanad dan maknanya tdk bertentangan dg hadis yg lebih sahih dan Al-Quran. Satu contoh ada beberapa riwayat yg menceritakan bahwa Nabi lupa rakaat salat, kena sihir, salat subuh lupa mandi junub dsb. Bagaimana mungkin seorang Insan Kamil dg maqom ruhani yg sangat tinggi bisa spt itu ? Padahal dalam riwayat lain atau ayat Al-Quran Nabi digambarkan sbg pribadi yg sempurna ?

@antirafidah :
justru beliau lah yang orang yang pertama yang mengusulkan kepada Abu Bakar untuk dikumpulkannya Al-Qur’an… maka pahala orang yang membaca Al-Qur’an di seluruh dunia ini ikut mengalir kepada Umar ra InsyaAllah… bro.. satu pertanyaan saja buat ente, apakah Ali ra tidak masuk dalam panitia kompilasi Al-Qur’an tersebut berarti Ali adalah ga berhak untuk menjadi mujtahid atau khalifah?

Emang Umar yg ngusulin kpd Abu Bakar. Tp bukan berarti dia hafidz Quran. Mana mungkin Ali masuk dlm Tim Kompilasi Al-Quran wong mushafnya saja engga dihargai dan ente harus ngerti dong Ali dan Abu Bakar cs itu memang ada dalam kubu yg bertentangan, yaitu Ali ada dlm kubu Ahlul Bait Rasulullah dan Abu Bakar ada dlm kubu Quraisy yg tdk setuju Ali menjadi khalifah setelah Nabi saw wafat.

@antirafidah:
Tidak ada yang menyalahi,hal-hal tsb adalah dalam perkara fiqih saja… di masa Umar, semakin banyak persoalan yg dihadapi.. dan beliau pun adalah seorang yang dikatakan Muhadattsun oleh Nabi dan pantas untuk berijtihad.. perbedaan dalam pemahaman adalah hal yg sudah biasa dalam perkara2 yang furu’..

He he he kata siapa tidak menyalahi ? Ente engga bisa membedakan perbedaan dlm penerapan dan menyalahi aturan. Ketika Umar mengatakan tidak wajib salat bagi org yg junub ketika tdk menemukan air, inikan menyalahi aturan yg sdh ditetapkan Nabi saw. Kalo ente junub trus engga ketemu air gimana, apa engga salat ? Kalo salat berarti bukan pengikut setia Umar, he he he……

@antirafidah:
Dia sangat pantas sekali menjadi seorang muhadattsun… Rasulullah sendiri yang menjadi saksinya dalam hadits-hadits yang shahih… tidak ada kesaksian manusia yang lebih kuat daripada kesaksian sang Nabi.. kholas..

He he he mana mungkin Nabi jadi saksi. Pada waktu nabi masih hidup hanya nabi saja yg berhak membuat hukum dan beliau SANGAT LEBIH TAHU KETIMBANG PARA SAHABAT ! Masa Nabinya masih hidup sudah ada istilah muhadatsun ? Apa yang diperbaharui ? Itu namanya ngelunjak dan sok tau. Apa ente secara tdk langsung mau mengatakan Umar lebih tau dari Nabi ? Astaghfirullah !

@antirafidah:
Hadits2 tersebut adalah shahih… bahkan contoh2 yang anda gunakan sebagian besar derajatnya di bawah hadits2 tentang Umar tsb… Sekali lagi yang menjadi saksi adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.. so perkataan/keraguan ente adalah NOTHING! alias tidak ada apa2nya… contoh yang paling nyata adalah ide pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf..

He he he…. mas hadis itu kan yg kompilasi dan yg meneliti ya manusia biasa yg tdk terlepas dari keyakinan mazhabnya. So jangan pernah memutlakan suatu riwayat. Bandingkan dulu dg riwayat lainnya dan sbg hakim plg tinggi adalah Al-Quran.

@antirafidah:
Jelas sekali itu dan ayat tsb juga buat ente.. jgn taashub pada ajaran rafidhah, jangan ghuluw thd para imam… mereka itu manusia biasa… bukan nabi, malaikat maupun Tuhan..

He he he…. Ane tuh ngaji ke mana saja engga mesti Sunni atau Syiah, Wahabi atau Aswaja, yg jelas anti Ahlul Bid’ah Wal Gagabah. Jadi kenapa musti taashub sama satu mazhab ?

Yang ghuluw itu ane apa ente ? Buktinya ente ngotot banget sih mengkultuskan Umar bahkan mau mendudukan Umar sederajat dg nabi ? Ihh.. amit amit…

Benar, para imam itu manusia biasa, tapi Allah dlm Surat Al-Ahzab 33 akan senantiasa menyucikan mereka. Mereka maksum dlm wilayah atau tataran syariat. Tapi ketika berhadapan dg Khaliknya mereka adalah manusia biasa. Tdk lebih dari itu. Sedangkan Umar atau para sahabat engga ada jaminan tuh.

@antirafidah:
jelas itu.. kami tidak seperti rafidhah yang menelan mentah2 apa yang dikatakan ulama2 mereka… menelan mentah2 ajaran Ibnu Saba Al-Yahudi…

He he he lagi2 si Ibnu Saba…Kalo emang ente engga menelan mentah2, kok semua hadis tanpa kecuali ente anggap sahih ?

1 04 2009
falseto

@antirafidah, apa komentar ente tentang tulisan dari Abu Ja’fariyan ?

1 04 2009
antirafidhah

Jika bicara syi’ah rafidhah jadi ingat hadits berikut ini :

Diriwayatkan dari Abubakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami.

“Artinya : Dajjal akan keluar dari bumi ini di bagian timur yang bernama Khurasan. ” [Jami' Tirmidzi dengan Syarahnya Tuhfatul Ahwadzi, Bab Maa Saa-a min Aina Yakhruju Ad-Dajjal 6: 495.

Dari Anas Radhiyalahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Dajjal akan keluar dari kampung Yahudiyyah kota Ashbahan bersama tujuh puluh ribu orang Ashbahan. " [Al-Fathur Rabbani Tartib Musnad Ahmad 24: 73. Ibnu Hajar berkata, "Shahih. " Periksa: Fathul-Bari 13: 328). Ibnu Hajar berkata, "Adapun mengenai tempat dari mana ia keluar? Maka secara pasti ia akan keluar dari kawasan timur. " (Fathul-Bari 13: 91)]

Ibnu Katsir berkata, “Maka Dajjal akan mulai muncul dari Ashbahan, dari suatu kampung yang bernama Al- Yahudiyyah. ” [An-Nihayah fil Fitan wal Ma-lahim 1: 128 dengan tahqiq DR. Thaha Zaini]

hehehe kita tahu kan letak keluarnya Dajjal berdasarkan hadits tsb.. yg sekarang ini adalah pusatnya kaum rafidhah…

di akhir jaman, Yahudi menganggap Dajjal adalah Nabi yg ditunggu2, Nashrani menganggap bahwa dia adalah Al-Masih dan rafidhah menganggap dia adalah Imam Mahdi (Al-Qaim) yang ditunggu2 keluarnya..

yang menyamakan dari ketiganya adalah bahwa yang ditegakkan oleh Dajjal adalah hukum Daud (Yahudi) dan mengenai ini terdapat di dalam kitab2 syi’ah yg mu’tabar.. ini bukan hal yg kebetulan.. bener2 klop bung! maka saat itu terjadi, rafidhah akan bersatu dg yahudi (emang rafidhah ini awalnya dari yahudi kan ) trs apa yg mrk lakukan membantai kaum muslimin (sunni, krn kaum muslimin mayoritas adl sunni) merobohkan mesjid2, tetapi dia tidak bisa masuk 2 kota suci krn dijaga Malaikat.. dan dia akan diperangi oleh Imam Mahdi yg sebenarnya yg sebelumnya akan dibai’at oleh orang2 keturunan Bani Tamim dan kabilah inilah yg menurut Rasulullah yg paling hebat perlawanannya terhadap Dajjal (anda tahukan di mana mayoritas Bani Tamim berada?). dan akhirnya Nabi Isa Alaihissalam turun dan membunuh Dajjal.

imam Mahdi syi’ah akan menegakkan hukum keluarga Daud (yahudi) sesuai dg apa yg dikabarkan oleh kitab syi’ah sendiri dlm Ushul al-Kaafi (jilid I, hal 398)

باب في الائمة عليهم السلام انهم إذا ظهر أمرهم حكموا بحكم داود وآل داود و…
لا يسألون البينة، [عليهم السلام والرحمة والرضوان]

1 – علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن منصور، عن فضل الاعور، عن أبي عبيدة الحذاء قال: كنا زمان أبي جعفر عليه السلام حين قبض نتردد كالغنم لا راعي لها، فلقينا سالم بن أبي حفصة، فقال لي: يا أبا عبيدة من إمامك؟ فقلت أئمتي آل محمد فقال: هلكت وأهلكت أما سمعت أنا وأنت أبا جعفر عليه السلام يقول: من مات وليس عليه إمام مات ميتة جاهلية؟ فقلت: بلى لعمري، ولقد كان قبل ذلك بثلاث أو نحوها دخلت على أبي عبدالله عليه السلام فرزق الله المعرفة، فقلت لابي عبدالله عليه السلام: إن سالما قال لي كذا وكذا، قال: فقال: يا أبا عبيدة إنه لا يموت منا ميت حتى يخلف من بعده من يعمل بمثل عمله ويسير بسيرته ويدعو إلى ما دعا إليه، يا ابا عبيدة إنه لم يمنع ما اعطي داود أن اعطي سليمان، ثم قال: يا أبا عبيدة إذا قام قائم آل محمد عليه السلام حكم بحكم داود وسليمان لا يسأل بينة.
2 – محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد، عن محمد بن سنان، عن أبان قال سمعت
[398]
أبا عبدالله عليه السلام يقول: لا تذهب الدنيا حتى يخرج رجل مني يحكم بحكومة آل داود ولا يسأل بينة، يعطي كل نفس حقها.
3 – محمد، عن أحمد بن محمد، عن ابن محبوب، عن هشام بن سالم، عن عمار الساباطي قال: قلت لابي عبدالله عليه السلام: بما تحكمون إذا حكمتم؟ قال: بحكم الله وحكم داود فإذا ورد علينا الشئ الذي ليس عندنا، تلقانا به روح القدس.
4 – محمد بن أحمد(1)، عن محمد بن خالد، عن النضر بن سويد، عن يحيى الحلبي، عن عمران بن أعين، عن جعيد الهمداني، عن علي بن الحسين عليهما السلام، قال: سألته بأي حكم تحكمون؟ قال: حكم آل داود، فإن أعيانا شئ تلقانا به روح القدس.
5 – أحمد بن مهران رحمه الله، عن محمد بن علي، عن ابن محبوب، عن هشام بن سالم، عن عمار الساباطي قال: قلت لابي عبدالله عليه السلام: ما منزلة الائمة؟ قال: كمنزلة ذي القرنين وكمنزلة يوشع وكمنزلة آصف صاحب سليمان، قال: فبما تحكمون؟ قال: بحكم الله وحكم آل داود وحكم محمد صلى الله عليه وآله ويتلقانا به روح القدس.
_____________________________
(1) في بعض النسخ [محمد، عن احمد]

Saya akan tunjukkan beberapa fakta yg ada berkaitan dg hal ini :

Ternyata komunitas terbesar yahudi di timur tengah ada di Iran! Simak di bawah ini :

Yahudi-Iran: Berita Imigrasi ke Israel itu Dusta

Pada 25 Desember 2007, kantor berita Reuters, yang mengutip seorang pejabat imigrasi Israel dan seorang pengurus Jewish Agency yang keduanya anonim, melaporkan 40 orang Yahudi-Iran secara rahasia berimigrasi ke Israel. Sebuah jumlah imigran Yahudi asal Iran yang dipandang terbesar pada tahun-tahun belakangan.

Demi alasan keamanan, tidak ada penjelasan lebih detail mengenai bagaimana mereka meninggalkan Iran dan di mana melakukan transit.

Setiap imigran dilaporkan mendapatkan donasi sebesar 10 ribu dolar AS, yang dikumpulkan oleh sebuah asosiasi Kristen Evangelis dan Yahudi, yang memang kerap mendukung imigrasi banyak Yahudi ke Israel.

Namun, pada 26 Desember 2007, berita tersebut segera dibantah wakil-wakil komunitas Yahudi di Iran. Mereka menyatakan bahwa Yahudi-Iran tidak pernah memutuskan untuk beremigrasi, karena standar hidup layak yang mereka nikmati sebagai kaum minoritas di Iran dan akar-akar budaya mereka sebagai orang Iran.

Dalam sebuah komunike yang dibacakan oleh para pemimpin Yahudi di Iran, Maurice Mo’atamad dan Ciamak Morsathegh, mereka menyatakan bahwa berita mengenai kedatangan sejumlah Yahudi-Iran ke Israel sebagai sebuah dusta belaka.

Sementara itu, Presiden Tehran’s Jewish Community, Mareh-Sadegh, mengatakan, “Propaganda masif yang dilancarkan oleh musuh-musuh bangsa Iran tidak akan pernah memengaruhi Yahudi-Iran karena akar sejarah, budaya, dan kebangsaan kami adalah Iran.”
“Seperti yang pernah kami nyatakan sebelumnya, upaya-upaya kekanak-kanakan untuk membujuk kami dan penyebaran dusta oleh elemen-elemen Zionis-Imperialis anti-Iran tidak akan pernah mengubah hubungan yang kuat antara Yahudi-Iran dengan bangsa Iran dan pemerintahan Republik Islam,” tambahnya.

Seraya menekankan loyalitas mereka kepada Republik Islam, para pemimpin Yahudi tersebut, dalam komunike mereka, menulis, “Kami adalah Yahudi-Iran, yang selalu menjadi orang Iran, dan akan selalu menjadi orang Iran. Kami siap mengorbankan apa pun demi tanah air kami. Terlepas dari propaganda pihak asing, kami akan tetap hidup di tanah kelahiran kami.”

Sejak Revolusi Iran 1979, Yahudi-Iran tetap mempertahankan kesetiaan mereka kepada pemerintahan Islam dan mendukung kebijakan-kebijakan anti-Zionisnya. Komunitas Yahudi di Iran kini mencapai jumlah 30 ribu jiwa, suatu komunitas Yahudi terbesar di Timur Tengah. Mereka terkonsentrasi di kota-kota besar, seperti Tehran, Isfahan, dan Shiraz.

Pemerintah Republik Islam Iran sejak awal menegaskan kepada dunia internasional bahwa kebijakan anti-Zionisnya harus dibedakan dengan perlakuan terhadap komunitas Yahudi di Iran. Kaum minoritas di Iran, seperti Yahudi dan Kristen, menikmati toleransi dan kebebasan beragama di Iran. Bahkan, mereka mempunyai perwakilan khusus di parlemen Iran.[irm/reuters, ynet]

1 04 2009
antirafidhah

Dajjal akan diikuti oleh 70,000 daripada penduduk Yahudi kota Isfahan, mereka memakai al-tayalisah ((jubah) al-Tayalisah (Persian shawls – jubah orang-orang Parsi (Syiah hari ini) yang tidak berjahit)..(Hadis Riwayat Imam Ahmad dan Muslim dari Anas )

Lihatlah pakaian imam Syi’ah mirip dengan pakaian Pimpinan Imam Yahudi, cek di sini :

http://www.wangcyber.com/forum/sembang-umum/11457-dajjal-akan-muncul-dari-kalangan-syiah-di-iran.html

Tanpa kita sadari kota Isfahan yang merupakan kota Yahudi di Iran ini merupakan pusat aktivitas nuclear bagi negara Iran hari ini dan juga merupakan pusat penyelidikan senjata berbahaya Iran itu yang menurut keyakinan Israel sendiri, Iran bakal berjaya menyiapkannya aktivitas nuklirnya tanpa masalah yang besar. Ini membuktikan tentara Dajjal sedang dipersiapkan oleh orang-orang Persia yang merupakan bakal pengikut Dajjal bagi menyambut kemunculan Dajjal nanti.

Apakah komunitas di atas adalah cikal bakal para pengikut Dajjal? Kita tunggu saja.. saya hanya menghimbau kepada kaum muslimin untuk waspada thd Syi’ah Rafidhah ini.

Wallahu A’lam

2 04 2009
falseto

@antirafidah:
Jika bicara syi’ah rafidhah jadi ingat hadits berikut ini :

Diriwayatkan dari Abubakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami.

“Artinya : Dajjal akan keluar dari bumi ini di bagian timur yang bernama Khurasan. ” [Jami' Tirmidzi dengan Syarahnya Tuhfatul Ahwadzi, Bab Maa Saa-a min Aina Yakhruju Ad-Dajjal 6: 495.

hehehe kita tahu kan letak keluarnya Dajjal berdasarkan hadits tsb.. yg sekarang ini adalah pusatnya kaum rafidhah…

He he he...boleh2 aja ente ngutip dan berkutat dg hadis spt
itu sampe tua. Tapi jg lupa ada riwayat lain yg mengatakan bahwa pengikut Dajjal adalah para pengikutnya Usman bin Affan. Usman berasal dari Bani Umayyah, juga Muawiyah dan Yazid. Sementara Bani Umayyah paling dengki dan tdk suka Ali bin Abi Talib menjadi pengganti nabi saw. Ya pantaslah kalau Abu Bakar yg tdk sejalan dg Ali meriwayatkan spt itu.

Tapi sekali lagi ente harus melihat kenyataan bahwa ternyata yg menjadi sekutu Zionis di Timur Tengah itu bukan Iran yg Persia, tetapi Saudi, Qatar, Jordania dan Mesir yg Arab. Bahkan sebagian dari mereka menginginkan agar Hamas dilenyapkan. Nih beritanya :
"Simon Peres, salah seorang pemimpin rezim Zionis mengungkapkan, sebagian pemimpin Arab meminta kepada Israel untuk menyerang Ghaza dan melenyapkan gerakan resitensi Hamas. Menurut Ashr-e Iran, Simon Peres dalam wawancaranya dengan salah satu harian Spanyol mengungkapkan bahwa sebagian pemimpin Arab dalam beberapa pertemuan khusus meminta kami untuk melenyapkan Hamas dan menghentikan aktifitas mereka. Peres tidak menyebutkan nama-nama pemimpin Arab tersebut, namun Husni Mubarak, Presiden Mesir, Abdullah bin Abdulaziz, Raja Arab, dan Abdullah, Raja Jordan, beberapa minggu sebelumnya melakukan pertemuan-pertemuan terbuka dan eksklusif dengan Peres dan Menteri Luar Negeri Israel, Livni pada Konferensi Agama-agama di New York. Peres menyebutkan adanya kemungkinan dialog dengan Hamas apabila gerakan resistensi ini mengakui keberadaan Israel secara resmi. Ia menambahkan, hal ini merupakan apa yang telah dilakukan dengan kelompok Fatah di bawah pimpinan Yasser Arafat."

Gila engga. Sesama sunni arab aja Hamas mau dilenyapkan kalo engga ngakuin Israel. Tapi memang engga aneh karena yang satu sekutu Zionis yg satunya lagi Islam beneran.

@antirafidah:
di akhir jaman, Yahudi menganggap Dajjal adalah Nabi yg ditunggu2, Nashrani menganggap bahwa dia adalah Al-Masih dan rafidhah menganggap dia adalah Imam Mahdi (Al-Qaim) yang ditunggu2 keluarnya..

he he he...ente kayak Tuhan aja. Memang ente udah tau siapa manusianya Dajjal yg akan keluar pada akhir zaman itu ? Untuk ente ketahui keyakinan akan munculnya Imam Mahdi itu bukan hanya ada di Syi'ah, tetapi juga ada di Sunni. Tapi ada bedanya. Di Syi'ah Imam Mahdinya sdh muncul/diketahui yaitu Muhammad bin Hasan al-Askari. Di Sunni Imam Mahdinya belum muncul. Yg sudah muncul di Indonesia baru imam mahdi2 palsu. Ente bisa engga menentukan mana yg asli dan mana yg palsu ?

@antirafidah:
yang menyamakan dari ketiganya adalah bahwa yang ditegakkan oleh Dajjal adalah hukum Daud (Yahudi) dan mengenai ini terdapat di dalam kitab2 syi’ah yg mu’tabar.. ini bukan hal yg kebetulan.. bener2 klop bung!

He he he....mas kayak engga tau kebiasaan sumber berita ente aja (biasanya Wahabi). Pemutar-balikan, mengutip secara tdk utuh, mengada-ada itu udh engga aneh lagi.
Mas, hukum Daud yg asli itu ada dlm Al-Quran termasuk hukum Musa dan Isa as krn dlm Al-Quran ada pokok2 ajaran seluruh Nabiyullah. Hukum Daud atau Musa dan Isa yg palsu ada dlm Old & New Testament. Yang dipegang dan dipraktekkan oleh Israel sekarang ini adalah hukum Talmud yg sangat bertentangan dg Taurat dan Zabur ataupun New Testament. Pencaplokan wilayah dan pembantaian (genocida) rakyat Palestina atau non Yahudi adalah salah satu realisasi dari ajaran Talmud. Jadi hukum yg mana yg ente maksud ? Trus ngapain pula Yahudi menegakkan hukum Daud atau Taurat yg saat ini sudah dibuang dan dicampakkan ? Heuheuy.. itu mah bukan Dajjal beneran ngkali…

@antirafidah:
maka saat itu terjadi, rafidhah akan bersatu dg yahudi (emang rafidhah ini awalnya dari yahudi kan )

He he he... bagaimana mungkin Yahudi bisa bersatu dg Rafidah (non Yahudi) padahal salah satu doktrin utama Talmud adalah menganggap manusia di luar ras Yahudi adalah binatang yg boleh dibunuh ? Ini namanya Yahudi murtad ! he he he... makanya jangan maen telan aje mang...

@antirafidah :
trs apa yg mrk lakukan membantai kaum muslimin (sunni, krn kaum muslimin mayoritas adl sunni) merobohkan mesjid2, tetapi dia tidak bisa masuk 2 kota suci krn dijaga Malaikat.. dan dia akan diperangi oleh Imam Mahdi yg sebenarnya yg sebelumnya akan dibai’at oleh orang2 keturunan Bani Tamim dan kabilah inilah yg menurut Rasulullah yg paling hebat perlawanannya terhadap Dajjal (anda tahukan di mana mayoritas Bani Tamim berada?). dan akhirnya Nabi Isa Alaihissalam turun dan membunuh Dajjal.
He he he ….kenapa musti Bani Tamim ? Apa di-cocok2an dg hadis Abu Bakar yg memang berasal dari Bani Tamim ? He he he silakan aja kalo mau direkayasa spt itu. Tapi yg jelas Nabi Muhammad saw bukan berasal dari Bani Tamim tp dari Bani Hasyim. Allah SWT lebih mengetahui kenapa Rasul-Nya dipilih dari bani Hasyim. Jadi mana mungkin Bani Tamim yg mendukung Imam Mahdi yg berasal dari keturunan Nabi saw yg nota bene dari Bani Hasyim. He he he sudahlah engga usah mengkhayal……

@antirafidah:
imam Mahdi syi’ah akan menegakkan hukum keluarga Daud (yahudi) sesuai dg apa yg dikabarkan oleh kitab syi’ah sendiri dlm Ushul al-Kaafi (jilid I, hal 398)

He he he… boleh2 aja ente pasang hadis spt itu. Tp ane yakin ente bukan ngutip dari kitab aslinya. Temen ane yg punya Kitab Al-Kaafi engga nemuin hadis yg spt itu. Lagian ngapain sih cape2 org2 Syiah menegakkan hukum Daud pada akhir zaman segala ? Mereka sekarang menguasai Negara Iran setelah menumbangkan Syah Iran yg sekutu Amerika. Mereka bisa menegakkan “hukum Daud” saat ini juga. Tapi kalo ente sempat jalan2 ke Iran bukan hukum Daud yg ditegakkan., tapi hukum Islam seutuhnya. Buktinya Negara yg ditakuti dan dianggap musuh adalah Iran dan bukan Negara Islam Arab.
Coba kalo ente baca Majalah Foreign Affairs musim panas 1993 menerbitkan artikel yang kontroversial. Artikel yang ditulis oleh Samuel P. Huntington berjudul The Clash of Civilization , mengajukan tesis bahwa Islam akan menjadi seteru Barat di masa depan, pasca runtuhnya polarisasi ideologi dunia ke dalam komunisme dan kapitalisme, dengan hancurnya negara Uni Soviet. Siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan Islam oleh guru besar ilmu politik dari Universitas Harvard itu? Silakan aja pilih antara Iran atau negara2 arab yg jd sekutu Zionis itu.

Kalo masih penasaran bisa juga dirumuskan begini : Kalau Syah Iran = antek Amerika = antek Yahudi berarti ada peluang untuk menegakkan hukum Daud/Yahudi. Logikanya kenapa para ulama Syiah yg ente tuduh Yahudi itu cape2 menumbangkan Syah Iran yg antek Yahudi itu ? Kan udah ada “modal” untuk tegaknya hukum Yahudi/Daud ? Ngapain juga Iran yg katanya Yahudi diembargo total oleh Yahudi Zionis ? Jawabannya selalu : itu kan politik… he he he… terserah aje deh.

@antirafidah:
Saya akan tunjukkan beberapa fakta yg ada berkaitan dg hal ini :
Ternyata komunitas terbesar yahudi di timur tengah ada di Iran! Simak di bawah ini :
Yahudi-Iran: Berita Imigrasi ke Israel itu Dusta
Pada 25 Desember 2007, kantor berita Reuters, yang mengutip seorang pejabat imigrasi Israel dan seorang pengurus Jewish Agency yang keduanya anonim, melaporkan 40 orang Yahudi-Iran secara rahasia berimigrasi ke Israel. Sebuah jumlah imigran Yahudi asal Iran yang dipandang terbesar pada tahun-tahun belakangan.
Namun, pada 26 Desember 2007, berita tersebut segera dibantah wakil-wakil komunitas Yahudi di Iran. Mereka menyatakan bahwa Yahudi-Iran tidak pernah memutuskan untuk beremigrasi, karena standar hidup layak yang mereka nikmati sebagai kaum minoritas di Iran dan akar-akar budaya mereka sebagai orang Iran.
Dalam sebuah komunike yang dibacakan oleh para pemimpin Yahudi di Iran, Maurice Mo’atamad dan Ciamak Morsathegh, mereka menyatakan bahwa berita mengenai kedatangan sejumlah Yahudi-Iran ke Israel sebagai sebuah dusta belaka.
Sementara itu, Presiden Tehran’s Jewish Community, Mareh-Sadegh, mengatakan, “Propaganda masif yang dilancarkan oleh musuh-musuh bangsa Iran tidak akan pernah memengaruhi Yahudi-Iran karena akar sejarah, budaya, dan kebangsaan kami adalah Iran.”
“Seperti yang pernah kami nyatakan sebelumnya, upaya-upaya kekanak-kanakan untuk membujuk kami dan penyebaran dusta oleh elemen-elemen Zionis-Imperialis anti-Iran tidak akan pernah mengubah hubungan yang kuat antara Yahudi-Iran dengan bangsa Iran dan pemerintahan Republik Islam,” tambahnya.
Seraya menekankan loyalitas mereka kepada Republik Islam, para pemimpin Yahudi tersebut, dalam komunike mereka, menulis, “Kami adalah Yahudi-Iran, yang selalu menjadi orang Iran, dan akan selalu menjadi orang Iran. Kami siap mengorbankan apa pun demi tanah air kami. Terlepas dari propaganda pihak asing, kami akan tetap hidup di tanah kelahiran kami.”
Sejak Revolusi Iran 1979, Yahudi-Iran tetap mempertahankan kesetiaan mereka kepada pemerintahan Islam dan mendukung kebijakan-kebijakan anti-Zionisnya. Komunitas Yahudi di Iran kini mencapai jumlah 30 ribu jiwa, suatu komunitas Yahudi terbesar di Timur Tengah. Mereka terkonsentrasi di kota-kota besar, seperti Tehran, Isfahan, dan Shiraz.
Pemerintah Republik Islam Iran sejak awal menegaskan kepada dunia internasional bahwa kebijakan anti-Zionisnya harus dibedakan dengan perlakuan terhadap komunitas Yahudi di Iran. Kaum minoritas di Iran, seperti Yahudi dan Kristen, menikmati toleransi dan kebebasan beragama di Iran. Bahkan, mereka mempunyai perwakilan khusus di parlemen Iran.[irm/reuters, ynet]

He he he…… apa sih yg aneh dlm berita tsb ? Ente musti tau dong bahwa org Yahudi itu tidak hanya ada di Israel. Mereka tersebar di seluruh dunia termasuk di negara2 kawasan Timur Tengah spt Iran, Irak, Mesir, Ethiopia, Syria, Libanon dll. Tapi tolong ente bedakan antara org Yahudi dg org yg mendukung Zionisme. Tidak semua bangsa Yahudi mendukung gerakan Zionisme. Apa kalo yg salah itu Zionis, maka semua org Yahudi hrs dibunuh ? Engga begitu dong. Selama org Yahudi yg ada di Iran itu bukan Zionis dan mentaati hukum Negara Iran, maka tdk ada alasan untuk pemerintah Iran untuk mengusir atau mengeksekusi mereka. Gitu aja kok repot.

@antirafidah:
Dajjal akan diikuti oleh 70,000 daripada penduduk Yahudi kota Isfahan, mereka memakai al-tayalisah ((jubah) al-Tayalisah (Persian shawls – jubah orang-orang Parsi (Syiah hari ini) yang tidak berjahit)..(Hadis Riwayat Imam Ahmad dan Muslim dari Anas ) Lihatlah pakaian imam Syi’ah mirip dengan pakaian Pimpinan Imam Yahudi

He he he…..yg ente maksud imam2 spt Khomeini atau Ali Khamenei ? Itu mah bukan Imam yg dimaksud dalam hadis imam 12 yg maksum. Memang ente pernah ketemu dg Imam Ali ? Yg ente lihat di media2 itu adalah Rahbar setingkat mujtahid/fuqoha. Mereka tdk maksum mang.
Mang, di kita ada topi untk salat yg mirip topi yg dipake Paus Paulus. Apa kita disebut Kristen ? He he he… dasar udah pusing.

@antirafidah:
Tanpa kita sadari kota Isfahan yang merupakan kota Yahudi di Iran ini merupakan pusat aktivitas nuclear bagi negara Iran hari ini dan juga merupakan pusat penyelidikan senjata berbahaya Iran itu yang menurut keyakinan Israel sendiri, Iran bakal berjaya menyiapkannya aktivitas nuklirnya tanpa masalah yang besar. Ini membuktikan tentara Dajjal sedang dipersiapkan oleh orang-orang Persia yang merupakan bakal pengikut Dajjal bagi menyambut kemunculan Dajjal nanti.
Apakah komunitas di atas adalah cikal bakal para pengikut Dajjal? Kita tunggu saja.. saya hanya menghimbau kepada kaum muslimin untuk waspada thd Syi’ah Rafidhah ini.

He he he…..ente ini lucu lucu. Engga usah nunggu Dajjal mang. Kalo terjadi serangan Israel ke Iran maka Iran sdh siap dg nuklirnya yg bisa menjangkau Tel Aviv.

Mas, engga nyadar2 ya ttg kenyataan dimana diseluruh Negara muslim hanya Iran yg punya nuklir dan satu2nya Negara di luar Negara adidaya yg setiap hari dipermasalahkan oleh AS dan Israel beserta sekutu2nya, karena merupakan ancaman bagi mereka ! Kalo Dajjal = Yahudi=Israel bersekutu dg Iran siapa yg jadi musuhnya ? Saudi, Qatar, Mesir., Jordania ? He he he… kan mereka udah jadi sekutu saat ini juga ! Ha ha ha …Aya aya wae….

Waspadalah…..! waspadalah….! (jadi inget buser di RCTI)

2 04 2009
antirafidhah

ingin tahu tentang syi’ah rafidhah, siapakah sebenarnya mereka? kenapa kita harus waspada thd mereka?

saksikan video2 ini, bagaimana kaum rafidhah di Iraq & Iran membantai kaum sunni di sana :

Dato’ Harun Taib Membongkar Hakikat Syiah (1)

http://www.youtube.com/watch?v=Z5EI GpWwtSU&feature=related

Dato’ Harun Taib Membongkar Hakikat Syiah (2)

http://www.youtube.com/watch?v=ru95 ejdhYos&feature=related

Dato’ Harun Taib Membongkar Hakikat Syiah (3)

http://www.youtube.com/watch?v=zjRs nYAflM8

WASPADALAH! WASPADALAH!

2 04 2009
antirafidhah

ingin tahu tentang syi’ah rafidhah, siapakah sebenarnya mereka? kenapa kita harus waspada thd mereka?

saksikan video2 ini, bagaimana kebiadaban kaum rafidhah di Iraq & Iran membantai kaum sunni dan merobohkan masjid2 sunni di sana :

Dato’ Harun Taib Membongkar Hakikat Syiah (1)

http://www.youtube.com/watch?v=Z5EIGpWwtSU&feature=related

Dato’ Harun Taib Membongkar Hakikat Syiah (2)

http://www.youtube.com/watch?v=ru95ejdhYos&feature=related

Dato’ Harun Taib Membongkar Hakikat Syiah (3)

http://www.youtube.com/watch?v=zjRsnYAflM8

WASPADALAH! WASPADALAH!

2 04 2009
antirafidhah

ingin tahu tentang syi’ah rafidhah, siapakah sebenarnya mereka? kenapa kita harus waspada thd mereka?

saksikan video2 ini, bagaimana kebiadaban kaum rafidhah di Iraq & Iran membantai kaum sunni dan merobohkan masjid2 sunni di sana :

Dato’ Harun Taib Membongkar Hakikat Syiah (1)

2 04 2009
antirafidhah

Dato’ Harun Taib Membongkar Hakikat Syiah (2)

2 04 2009
antirafidhah

Dato’ Harun Taib Membongkar Hakikat Syiah (3)

http://www.youtube.com/watch?v=zjRsnYAflM8

WASPADALAH! WASPADALAH!

5 04 2009
Abu Ja'fariyan

Kalau kalian sama-sama mengaku muslim. coba berdialog dengan santun, objektif, dan beradab!

6 04 2009
falseto

@antirafidah:
Mas, video itu bisa benar dan bisa juga salah. Semua itu bisa saja direkayasa. Orang Syi’ah pun berbuat spt itu dan menyebarkan informasi ke seluruh dunia. Artinya informasi spt itu tdk bisa dijadikan pegangan atau patokan untuk memvonis suatu aliran atau mazhab. Ane sdh tau apa yg ente informasikan itu, a.l. dri blog Haulasyiah.

Kalau pengalaman ane lain lagi. Justru ane pernah lihat video yg sebaliknya, yaitu dibantainya org2 Syi’ah oleh org2 Sunni di Afghanistan.

Mengenai kehidupan org2 Sunni di Irak ane lebih percaya berita dari koran2 umum. Ternyata sebelum Amerika masuk ke Irak, kaum Sunni dan Syi’ah bisa hidup berdampingan secara damai. Begitu juga di Iran ane lebih mempercayai data2 dalam buku yg ditulis oleh seorang wartawati Sunni Indonesia (Dina Sulaiman) yg belajar dan tinggal di Iran selama 5 tahun. Di sana dia mendapati kenyataan bahwa kaum Sunni yg minoritas bisa hidup secara damai dg kaum Syi’ah, bahkan banyak terjadi perkawinan antar mazhab (lihat buku “Pelangi di Persia”). Perbedaan mazhab terbukti tdk menjadi persoalan pembauran antara Sunni dan Syi’ah di Iran.

Kalau bicara pembantaian justru ane mendapati fakta bahwa selama perjalanan sejarah Islam, dari sejak zaman Dinasti Umayah ditegakkan oleh Muawiyah, para pengikut Ali (Ahlul Bait) dikejar-kejar, disiksa, dibunuh bahkan setiap bayi yg bernama Ali dibunuh pada waktu Muawiyah berkuasa, sampai muncul Dinasti Abbasyiyah, penganiayaan dan pembantaian tidak berkurang. Ente ingat sepak terjang seorang jendral yg bernama Hajajj bin Yusuf pada zaman Al-Makmun ? Dialah algojo yg sadis yg banyak membantai para pengikut Ahlul Bait. Bahkan ada cerita kalau Hajajj bin Yusuf ini ingin nafsu makannya bertambah, maka dia minta anak buahnya untuk membawa tawanan dari pengikut Ali untuk digorok di depan dia. Dan jangan lupa 11 dari 12 Imam Ahlul Bait wafat akibat dibunuh oleh para penguasa pada zamannya (Dinasti Umayah dan Dinasti Abasiyah).

Jadi sekali lagi kalau hal2 spt itu ngotot mau dijadikan patokan atau tolok ukur benar salahnya suatu mazhab/ajaran dan anda hanya mengakses informasi dari satu sumber tertentu dan tdk mengkonfirmasikan dg sumber yg lain, maka pasti yg didapat adalah selalu gambaran yg salah dan kalau terus2an begini maka diskusi ini tdk ada gunanya diteruskan.

7 04 2009
antirafidhah

SISI PALING RAHASIA PENGGEMPURAN LEBANON
Menyingkap Konspirasi Besar Zionis-Salibis dan Neo Syiah-Shafawis terhadap Ahlussunnah di Semenanjung Arabia

Editor dan Penerjemah: Muhammad Ihsan Zainuddin[1]
“Dari semua yang terungkap dan terbaca,
ada banyak rahasia yang tak terketahui.
Karena itu, jangan pernah tertipu
mendengar lolongan serigala,
Menyaksikan musang kenakan sorban,
sebab mereka-lah penipu tercerdik dalam sejarah.”
(Suara hati sendiri)
———————————————————-
[1] Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia Jakarta Angkatan IX 2005/2006.

Catatan Editor:
Dalam hitungan hari saja, dunia terperangah. Dan seolah tak pernah jemu, seluruh wajah dunia kembali berpaling ke wilayah paling panas di seantero jagat: Palestina dan Lebanon. Ada puluhan rudal mungkin yang ditumpahkan ke kepingan wilayah itu, dan kemudian ada puluhan –bahkan mungkin ratusan- nyawa tak berdosa yang melayang, ratusan rumah tempat bernaung nyaris rata dengan tanah, dan gelombang pengungsian lalu menjadi fenomena yang tak terbendungkan.

Hampir bisa dipastikan, bahwa mayoritas –jika tidak semua- korban kekejian itu –baik yang meninggal maupun yang harus berlari dengan wajah ketakutan meninggalkan negrinya- adalah sekumpulan manusia yang tidak tahu menahu mengapa orang-orang tercinta mereka harus menjadi korban… mengapa tempat bernaung yang selama ini mereka bangun bata demi bata harus diremukkan begitu saja…Yah, mereka tidak pernah tahu, setidaknya hingga kini.

Mereka tidak tahu… dan kita, kaum muslimin di Indonesia pun mungkin tak tahu mengapa Hizbullah Lebanon menculik 2 tentara Israel. Tapi ketika Presiden Iran, Ahmadi Nejad datang ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, kita dihinggapi sebuah euphoria yang gempita. Sebagian kita bahkan seperti menyambut seorang pahlawan agung. Kita kagum hanya karena kesederhanaannya… (Memang susah kita ini, karena jarang menemukan pemimpin yang sederhana, maka musang yang berlagak sederhana pun dengan mudah kita percayai…) Apakah kita kagum akan keberanian Iran –yang merupakan representasi kekuatan Syiah abad ini- ‘melawan’ Amerika dalam hal nuklir? Apakah sebagai umat yang selama ini roda peradabannya sedang berada di bawah, kita menganggap ‘keberanian’ Iran itu sebagai awal kemenangan Islam? Bila jawabannya adalah ‘iya’, maka ketahuilah ada banyak hal yang tidak kita ketahui dari semua peristiwa itu…

Dalam terminology Sunnah, kita saat ini sedang berhadapan dengan sebuah fitnah. Fitnah itu adalah saat berbagai peristiwa berkalut-kelindan satu sama lain, hingga kita terjebak dalam situasi dimana kita kehilangan nalar sehat untuk memilah mana hal dan pernyataan yang harus diapresiasi secara positif dan tidak. Atau dalam bahasa yang lebih tegas: nalar syar’i kita menjadi tumpul dalam menentukan yang haq dan yang batil. Akibatnya, karena kita merasa sebagai umat yang kalah, segala bentuk perlawanan yang memakai label keummatan kita dengan segera kita anggap sebagai pahlawan Islam. Meski sesungguhnya ia tak lebih dari musang berbulu domba!

‘Tulisan’ ini sebenarnya adalah pengantar saja terhadap sebuah tulisan yang ditulis untuk menyikapi berbagai ‘kekacaubalauan’ yang hingga kini terus terjadi di Semenanjung Arabia; secara spesifik di Irak, dan Palestina serta Lebanon belakangan ini. Tulisan ini sengaja saya terjemahkan dengan harapan agar kita semua dapat melihat krisis Timur-Tengah itu dengan pandangan yang jernih. Agar simpati yang terkirim tak menjelma menjadi simpati yang sia-sia karena salah alamat (Hmm, bukankah salah alamat jika Anda bersimpati pada musang dan serigala??). Tulisan yang saya maksud adalah: Mengapa Hizbullah Menyulik 2 Tentara Israel?; Membaca Tujuan Hakiki di Balik Itu. Ditulis oleh DR. Muhammad Bassam, anggota Dewan Pendiri Rabithah Udaba’ al-Syam (Ikatan Sastrawan Syam). Artikel ini dimuat dalam situs http://www.almoslim.net, edisi 21/6/1427.
Semoga bermanfaat!

7 04 2009
antirafidhah

MENGAPA HIZBULLAH MENYULIK 2 TENTARA ISRAEL?
Membaca Tujuan Hakiki di Balik Itu
DR. Muhammad Bassam

Pada awal tulisan ini, menjadi penting untuk dijelaskan bahwa Israel tidak lebih dari sebuah lembaga zionis yang ‘disisipkan’ dalam tubuh wilayah Arab-Islam kita. Dan sang penyusup ini harus dilawan dengan segala cara yang memungkinkan, hingga Palestina dapat dibebaskan. Seluruh Palestina…dari ujung laut hingga sungainya. Lembaga zionis ini tidak lebih dari sebuah kangker yang ditanamkan Barat di pusat kawasan Islam demi melanggengkan tujuannya: memecah belah dan menghalangi terwujudnya sebuah kekuatan negara berperadaban yang menjadi Islam sebagai referensi tertingginya. Meskipun kita sangat yakin, bahwa ‘proyek’ zionis itu akan berjalan menuju kepunahannya sebagai sebuah akibat yang pasti dari Sunnatullah di muka bumi ini.

Musibah apapun yang menimpa lembaga zionis itu, dan apapun yang menimpa tentara-tentara negara pencuri itu; semuanya akan membuat kita gembira, ridha dan semakin yakin bahwa lembaga itu hanyalah sekumpulan omong kosong yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu dengan label Islam, dan merasa cukup dengan gembar-gembor untuk membebaskan dataran tinggi Golan dan Palestina…Isu Palestina menjadi isu dagangan pokok kelompok-kelompok yang dimotori oleh mereka yang membangun ‘Proyek Shafawisasi’ atau ‘Persianisasi’ di semenanjung Arabia; sebuah proyek yang mengalami kemajuan cukup pesat sejak dimulainya penjajahan terhadap Irak secara Amerikanis-Shafawis-Zionistik, setidaknya sejak 3 tahun belakangan ini…

Di Damaskus, tiga bulan yang lalu, telah diumumkan terbentuknya sebuah aliansi strategis Iran-Suriah yang didalamnya turut pula bergabung kelompok Hizbullah dan beberapa kelompok Palestina, setelah sebelumnya kaum Shafawis Iran telah terlibat dalam suatu ‘permainan’ dengan Pemerintah Suriah…’Permainan’ itu terutama sangat jelas aromanya di bumi Irak yang terjajah, tentu dengan irama yang sejalan dengan sang penjajah Amerika. Meskipun masing-masing pihak tetap menjaga ‘mimpi-mimpi’ mereka untuk menanamkan pengaruhnya di kawasan Arab dan Islam.
Di sini, mungkin menjadi sangat penting bagi kami untuk menunjukkan bahaya ‘mimpi-mimpi’ kaum Persianis-Shafawis, yang didukung penuh oleh Pemerintah Suriah, Hizbullah dan kelompok-kelompok Syiah di Irak. Persekutuan gelap ini telah berubah menjadi gejala ‘kangker’ yang sangat parah (dan keji!), yang bahayanya bagi umat Islam (terutama di kawasan Arab) melebihi bahaya lembaga zionis bernama Israel itu sendiri!

Berikut adalah beberapa fenomena ‘Proyek’ Rasialis Shafawistik ini:

1. Adanya gerakan dan upaya pembersihan etnis dan madzhab terhadap Ahlussunnah Arab di Irak, yang gejalanya semakin meningkat beberapa bulan belakangan ini, seiring dengan upaya pengisoliran terhadap mereka di wilayah selatan Irak. Ditambah lagi dengan seruan untuk membagi kawasan Irak berdasarkan kelompok aliran, serta mendorong pasukan penjajah Amerika untuk terus melakukan penangkapan, penawanan, pembunuhan, penghancuran dan pembersihan terhadap kaum Ahlussunnah di Irak, terhadap mesjid-mesjid, lembaga-lembaga, dan juga gerakan-gerakan mereka!

2. Keterlibatan kaum Persia Shafawis di Irak dengan kerjasama yang sangat sempurna dengan Pimpinan tertinggi kaum Syiah di Irak, khususnya yang memiliki ras Persia. Dan itu diwujudkan dalam bentuk kerjasama intelejen, militer, ekonomi, politik dan agama, dengan dukungan penuh dari Amerika baik secara militer dan logistik, hingga Irak menjelma menjadi negara yang tunduk di bawah penjajahan kaum Persia Shafawis dengan menggunakan tank-tank Amerika!

3. Keterlibatan kaum Persia Shafawis di Suriah untuk mengerahkan gerakan Syiahisasi di tengah rakyat Suriah yang muslim sunni, dan pemberian kewarganegaraan Suriah kepada para keturunan Persia dan warga Syiah Irak, dari pihak pemerintahan Hafzih al-Asad. Dan jumlah mereka hingga saat ini telah melebihi 1.000.000 jiwa. Mayoritasnya bermukim di Propinsi al-Sayyidah Zainab dan sekitarnya di Damaskus.

4. Menonjolnya upaya-upaya pemalsuan yang sangat vulgar dalam perhitungan demografis terhadap rakyat Suriah. Dan mungkin bukti yang paling jelas atas itu adalah studi-studi fiktif yang dipulikasikan oleh Intelejen Suriah bahwa masyarakat Suriah adalah masyarakat minoritas, dan prosentase Ahlussunnah dari keseluruhan jumlah masyarakat Suriah itu hanya 48%. Dan jumlah itupun mengalami perpecahan di dalam tubuhnya sendiri! Padahal, rakyat Suriah secara mayoritas mutlak terdiri dari Ahlussunnah, dan ini adalah sebuah fakta yang terlalu jelas di Suriah. Tetapi para pelaksana proyek Persianis-Shafawis ini mengira bahwa dengan melakukan pemalsuan terhadap angka-angka demografis di Irak –tentu saja dengan mengorbankan Ahlussunnah yang mayoritas-, mereka juga dapat melakukan hal yang sama di Suriah!!

5. Kesepakatan dan konspirasi bersama dengan kekuatan Amerika Sang Penjajah. Dan mungkin bukti paling jelas atas itu adalah apa yang dipublikasikan oleh pimpinan spiritual tertinggi Syiah di Irak, berupa fatwa-fatwa yang mengharamkan perlawanan terhadap ‘Sang Penjajah’ dan membukakan pintu seluas-luasnya terhadap ‘proyek’ penyembelihan kaum Ahlussunnah di Irak, bahkan melabeli mereka dengan label teroris. Dan semua itu dilakukan seiring dengan upaya-upaya dusta mereka yang seolah mendorong perlawanan terhadap Amerika hingga negara itu merdeka! Sejarah memang selalu berulang. Peran-peran yang mereka lakukan hari ini sesungguhnya diilhami oleh peran-peran keji nenek-moyang mereka: al-Thusy dan Ibn al-Alqamy, bersama tentara Mongolia dan Tartar untuk menjatuhkan umat Islam di akhir masa kekhilafahan Abbasiyah!!

6. Semakin meningkatnya upaya-upaya penangkapan yang dilakukan oleh Pemerintah Hafizh al-Asad terhadap warga Arab Iran (al-Ahwaz) yang mencari perlindungan ke Suriah sejak puluhan tahun yang lalu. Tidak hanya itu, sebagian tokoh perlawanan al-Ahwaz itu (seperti Khalil ibn ‘Abd al-Rahman al-Tamimy dan Sa’id ‘Audah al-Saky) kemudian diserahkan kepada pihak Intelejen Iran!
* * *
Sudah tentu proyek Shafawistik ini memerlukan ’sampul’ dan ‘bingkai’ yang bisa diterima oleh seluruh bangsa Muslim. Harus ada upaya percepatan yang memungkinkan para pelaku proyek ini ‘mempermainkan’ keterlibatan emosional seluruh bangsa Muslim di dunia. Dan untuk saat ini, tidak ada cara yang terbaik kecuali mengangkat masalah Palestina, lalu kemudian ‘memainkannya’ dengan cantik…Dari balik ’sampul’ itulah tersembunyi niat-niat keji para pelaku proyek busuk ini. Banyak yang tertipu. Sebagian gerakan Islam bahkan terbuai dalam permainan yang mereka mainkan… Semboyan-semboyan kosong yang memancing emosi dan solidaritas benar-benar menyilaukan mereka yang selalu menyederhanakan bahaya kaum Syiah Shafawis ini…

Untuk upaya mempermainkan ‘kisah pilu’ Palestina ini maka dilakukanlah langkah-langkah berikut:
1. Lebih dari sekali, Presiden Iran meneriakkan slogan-slogan kosongnya untuk seruan menghapuskan Israel (dari peta dunia)!

2. Mengumumkan aliansi Iran-Suriah dengan beberapa organisasi Palestina yang memiliki citra yang baik di mata dunia Arab dan Islam. Mereka juga berlagak akan memberikan bantuan finansial kepada pemerintahan HAMAS…tapi seperti biasa bantuan itu tak pernah ada! Bantuan-bantuan itu tak pernah sampai ke tangan yang berhak hingga sekarang. Dan yakinlah, bantuan itu tak akan pernah sampai hingga kapanpun…Menteri Luar Negri Iran pada tanggal 10 Juli 2006 menegaskan dalam sebuah jumpa pers bahwa proses pemberian bantuan 50 juta dolar itu masih dalam taraf pengambilan keputusan (4 bulan setelah janji itu disampaikan), dan hingga sekarang jumlah itu belum pernah dibayarkan. Maka bantuan Iran itu tidak lebih dari sekedar gembar-gembor dan janji kosong, sebab kaum Shafawis-Persianis itu tak akan dapat digerakkan kecuali dengan motif ras dan kelompok, yang salah satu konsekwensinya adalah tidak memberikan bantuan apapun terhadap gerakan Palestina manapun yang Ahlussunnah, bagaimanapun kondisinya!!

3. Penyelenggaraan berbagai pertemuan mencurigakan antara pemerintah Suriah dengan pemerintah Zionis, yang diawali dengan jabatan tangan antara Presiden Suriah, Basyar al-Asad dan Moshe Katzav, Presiden Israel, saat mengunjungi jenazah Paulus di Vatikan. Hal itu kemudian diikuti dengan pernyataan-pernyataan pihak Zionis bahwa pemerintah Suriah adalah pilihan mereka yang harus didukung. Sementara pihak Suriah juga menyatakan keinginannya untuk berdialog dengan kaum Zionis, meski di saat yang sama, pihak Suriah gencar melakukan pembersihan etnis terbesar dalam sejarahnya terhadap warga negaranya, melakukan konspirasi terhadap upaya pengajaran Islam Ahlussunnah, sembari memberikan dorongan bahkan bantuan moral dan materil terhadap pengajaran Syiah-Shafawis. Peristiwa paling mutakhir yang membuktikan hal ini adalah pertemuan dubes Suriah dengan pimpinan persatuan Zionis di London (Surat kabar al-Syarq al-Ausath, 12/7/2006) dan penyambutan terhadap pemuka Zionis Amerika untuk menyampaikan ceramah di salah satu mesjid jami’ terbesar di Halab (Surat kabar al-Khalij, 11/7/2006).

4. Keterlibatan Mossad yang cukup dalam di Irak dengan dukungan pemerintah Irak buatan Amerika, dengan koordinasi yang kuat dengan apa yang disebut al-Haras al-Tsaury al-Irany (Pengawal Revolusi Iran) dan berbagai milisi Syiah Shafawiyah di Irak; untuk menangkap dan membunuh para ulama dan tokoh Ahlussunnah yang berpengaruh di Irak. Mereka bahkan melakukan berbagai tindakan terror terhadap Ahlussunnah di Irak berupa penculikan, penyiksaan hingga pembunuhan. Dan aliansi strategis ini bahkan telah siap melakukan langkah yang sama di tiga wilayah: Irak, Suriah dan Lebanon. Karena itu, tindakan apapun yang dilakukan oleh salah satu dari aliansi ini, sesungguhnya merupakan bagian dari global proyek Shafawis ini di sepanjang kawasan yang memanjang dari Iran hingga Lebanon, termasuk didalamnya Irak dan Suriah! Karena itu, dan berdasarkan kesatuan strategi dan tujuan, serta komperhensifitas peran antara pemerintahan Persianis Iran, pemerintahan al-Asad di Suriah dan gerakan-gerakan Syiah di Lebanon… berdasarkan itu saja, kita dapat menyimpulkan berbagai upaya dan tindakan yang selama ini dilakukan, serta menentukan arahnya: apakah ia sepenuhnya untuk kemashlahatan bangsa Arab dan kaum muslimin…atau untuk kepentingan pelaksanaan rencana kaum Shafawis Persianis untuk menguasai wilayah dan kekayaan kita, untuk kemudian melakukan gerakan pembersihan etnis dan aliran terhadap Ahlussunnah di wilayah ini, untuk selanjutnya memperluas aksinya ke semanjung Arabia hingga Afrika Selatan…demi mengembalikan kejayaan Dinasti Shafawiyah dan Fathimiyah, dengan menguasai wilayah Arab dan kaum muslimin!!

Coba Anda renungkan:
Apa arti dari peristiwa kemarahan Basyar al-Asad di Damaskus terhadap Pemerintah Lebanon, yang lalu diikuti dengan mundurnya 5 menteri Syiah dari Hizbullah dan Gerakan Amal …mereka mengundurkan diri lalu membekukan kegiatan mereka di sana??!
Apa arti dari apa yang dilakukan oleh sebagian peserta Konferensi Advokat Arab -yang diselenggarakan di Damaskus beberapa bulan yang lalu-, yang mengangkat bendera Hizbullah di konferensi itu…padahal tidak ada satupun tanda atau symbol Lebanon sebagai negara yang diangkat di sana, bahkan untuk bendera kebangsaannya sekalipun??!

Mengapa Hasan Nashrullah meletakkan foto si orang Persia bernama “Imam” Khomeni itu di atas kepalanya dalam ruang kerjanya di Lebanon??

Dan sebelum itu, apa makna dari jawaban salah seorang pemimpin Hizbullah atas pertanyaan wartawan di tahun 1987 “Apakah kalian merupakan bagian dari Iran?” (yang kemudian menjawab): “Bahkan kami adalah Iran di Lebanon dan Lebanon di Iran”??
Nah, atas dasar fakta-fakta inilah seharusnya kita menghukumi berbagai hal dan kejadian yang belakangan ini terjadi, yang notabene diprovokasi dan diledakkan oleh Hizbullah dari balik aliansi Shafawis strategisnya –yang katanya- melawan keberadaan Zionisme!!
* * *

7 04 2009
antirafidhah

Sesungguhnya tujuan utama dari proyek Kaum Shafawi Persia ini adalah menguasai dunia Arab dan Islam, yang dimulai dengan menundukkan wilayah bulan sabit (Negri-negri Syam dan Irak). Proyek ini setidaknya dibangun di atas 5 pijakan:

1. Bekerja sama dengan kekuatan Barat di bawah komando Amerika semaksimal mungkin untuk menguasai negri-negri kaum muslimin, serta melakukan peran-peran keji yang tidak kalah kejinya dengan apa yang dilakukan oleh Ibn al-Alqamy saat bekerja sama dengan Holako Khan untuk menjatuhkan Khilafah Islamiyah. Dan seluruh dunia mengetahui dengan baik, bahwa Iran memiliki peran yang sangat besar dalam bekerja sama bersama Amerika untuk menjatuhkan Afghanistan… kemudian Irak. Para petinggi Iran sendiri mengakui hal itu. Bahkan mereka bangga akan itu. Muhammad Ali Abthahi, wakil presiden Iran yang lalu mengatakan: “Seandainya bukan karena Iran, Amerika tidak mungkin mampu menguasai Irak…Seandainya bukan karena Iran, Amerika tidak mungkin mampu menundukkan Afghanistan.” Tentu ini semua demi untuk melemahkan Ahlussunnah, lalu kemudian menghancurkan mereka di bawah payang pendudukan Amerika!!

2. Menyalakan api peperangan antar kelompok, melakukan upaya pembersihan etnis dan kelompok, bekerja keras untuk membagi-bagi wilayah kita kaum muslimin, mengusir warga Irak yang Ahlussunnah dari propinsi-propinsi dimana mereka hidup bersama dengan kaum Syiah, ditambah dengan peran-peran merusak para pemimpin spriritual Syiah di Irak untuk menghancurkan Ahlussunnah dan semua lembaga yang mereka miliki. Ingat! Al-Syirazy menyerukan dalam khutbahnya untuk menghancurkan mesjid-mesjid Ahlussunnah di Irak. Dan mereka benar-benar menghancurkan ratusan mesjid Ahlussunnah, atau mengubahnya menjadi Husainiyat dan pusat-pusat Syiah Shafawis.

3. Membunuh tokoh-tokoh potensial Ahlussunnah –baik dari kalangan ilmuwan, militer dan agama-, dan melakukan semua upaya keji untuk meneror, mengusir atau membalas dendam pada mereka!

4. Melakukan kamuflase demografis sebagaimana yang terjadi di Suriah secara khusus. Dan juga seperti yang terjadi di Lebanon dan Yordania, apalagi di irak. Ditambah lagi bertebarannya para missionaris Syiah di tengah shaf Ahlussunnah.

5. Menciptakan benturan-benturan fiktif dengan kaum Zionis Israel. Padahal itu hanyalah sebuah pancingan agar Israel mengamuk lalu menghancurkan negri-negri kita kaum muslimin. Dan bila kekacauan itu terjadi, mereka dengan mudah memainkan strategi Shafawistik mereka demi mewujudkan tujuan-tujuan kejinya, persis seperti kondisi yang mereka ciptakan sebelumnya di Afghanistan dan Irak!!

Sesungguhnya proyek Shafawis Syiah itu menyerupai proyek Zionis dalam berbagai sisinya. Namun sebenarnya lebih berbahaya dari proyek Zionis…Para pendukung proyek ini tidak akan berhenti hingga berhasil melenyapkan seluruh Ahlussunnah. Sebuah proyek yang mengemban kedengkian sejarah yang membuncah, yang dibangun di atas sampah-sampah agama mereka, seperti: Mushaf Fathimah, nikah mut’ah, menuhankan para imam, menghina para sahabat, menyimpangkan al-Qur’an dan Sunnah, dan mengafirkan Ahlussunnah… Karena itu, proyek ini jauh lebih berbahaya dari proyek Zionis dan Westernisasi Kolonialis Barat-Amerika…meskipun kaum muslimin tetap berkewajiban untuk melakukan perlawanan terhadap kedua proyek tersebut, namun tetap saja perlawanan terhadap proyek Shafawis Persia itu harus lebih kuat dan keras!!

Sesungguhnya 4 wilayah yang dipilih oleh kaum Syiah Shafawi sebagai jejak awal merealisasikan tujuan dan rencana mereka adalah sebagai berikut:

1. Wilayah Iran: di kawasan ini operasi pembersihan terhadap Ahlussunnah sangat luas terjadi. Ini diikuti dengan penghalalan harta, kehormatan dan bahkan mesjid-mesjid mereka (perlu diingat, bahwa di seluruh Taheran tidak ada satupun mesjid Ahlussunnah!)

2. Wilayah Irak: di kawasan ini, mereka bekerja sama dengan penjajah Amerika untuk melakukan upaya-upaya seperti: penghancuran dan membagi-bagi wilayah Irak, mempersenjatai milisi-milisi Syiah untuk menyerang Ahlussunnah, pembersihan dan pengusiran Ahlussunnah, dan memalsukan prosentase jumlah penduduk Irak dengan menyebarkan studi-studi palsu yang menyatakan kemayoritasan Syiah, padahal sebelumnya Ahlussunnah menempati posisi 52% penduduk Irak!! Di sini harus pula disebutkan adanya misi-misi bersenjata yang ditujukan pada saudara-saudara kita dari Palestina yang hidup di Irak; berupa tekanan, pembunuhan, penangkapan, pelecehan kehormatan, dan penghancuran tempat tinggal…dan fakta menunjukkan bahwa teror-teror itu jauh lebih berat daripada teror yang selama ini mereka terima dari bangsa Zionis. Mereka bahkan berharap dapat kembali ke bumi Palestina dan berada di bawah kaki penjajah Zionis, daripada harus merasakan teror kaum Syiah!!

3. Di wilayah Suriah: pemerintah Suriah –yang merupakan sekutu strategis Iran- telah melakukan berbagai upaya penangkapan dan pembersihan yang sangat luas terhadap rakyat Suriah sendiri. Mereka melakukan pembatasan terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam, dan memberikan keleluasaan bagi lembaga-lembaga Syiah…padahal Syiah di Suriah sama sekali tidak mempunyai wujud riil. Pemerintah Suriah juga melindungi upaya misionarisme Syiah di tengah kaum muslimin Suriah, memberikan kewarganegaraan pada kaum Syiah yang datang dari Iran dan Irak, serta mempersempit ruang gerak orang-orang al-Ahwaz yang mengungsi ke Damaskus…Suriah juga menyiapkan dirinya sebagai pangkalan penggempuran terhadap Lebanon dan Yordania, tentu dengan menggunakan masalah Palestina sebagai ’senjata’ untuk kepentingan aliansi keji ini!!

4. Di wilayah Lebanon: Hizbullah dan Gerakan Amal –keduanya jelas gerakan Syiah- memainkan peranan sebagai gerakan perlawanan palsu. Mereka berlagak melakukan perlawanan terhadap Israel demi menjaga senjata tetap di tangan mereka, dan untuk memainkan lobi politik mereka di Lebanon demi kepentingan aliansi Shafawis-Persianis. Kedua gerakan ini jelas-jelas melancarkan misionarisme Syiah dan –yang tak kalah penting- sengaja memancing Israel untuk menghantam Lebanon kapan saja aliansi Shafawistik itu membutuhkannya, tentu disertai dengan upaya yang terus-menerus menghancurkan keutuhan Lebanon, dan membentuk sebuah negara Syiah dalam Negara Lebanon!!

Maka menjadi sangat penting -saat kita melihat kawasan yang terbentang dari Iran hingga Lebanon dan Palestina- untuk memahami utuh apa yang telah kita gambarkan sebelumnya. Ini untuk menggambarkan secara utuh dan jelas apa yang sebenarnya menjadi tujuan dari setiap tindakan para pendukung Proyek Shafawis di kawasan manapun. Dasar inilah yang harus jadi pijakan kita dalam melihat tindakan militer yang dilakukan oleh Hizbullah belakangan ini; penyulikan 2 tentara Israel dan pembunuhan terhadap 7 orang dari mereka…

Gambaran keadaan sebelum terjadinya tindakan militer ini dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Terjadinya peningkatan usaha pembersihan etnis dan aliran yang dilakukan oleh milisi Shafawi-Syiah di Irak, yang juga diikuti dengan pemusnahan yang keji terhadap penduduk yang berasal dari Palestina, dan pengusiran Ahlussunnah dari wilayah selatan Irak (saat ini di Bashrah hanya tersisi 7% Ahlussunnah, padahal sebelumnya selama puluhan tahun mereka mayoritas di sana, dan menjelang pendudukan Amerika jumlah mereka adalah 40%)!! Peristiwa ini diselingi juga dengan pernyataan Presiden Iran untuk melenyapkan Israel!!

2. Gerakan perlawanan Palestina –yang tentunya memiliki latar belakang Ahlussunnah- menyita perhatian publik bahwa dialah satu-satunya yang terlibat dalam perlawanan terhadap Israel, dimana Israel telah sampai pada jalan buntu untuk mewujudkan tujuannya melawan rakyat Palestina dan gerakan-gerakan perlawanannya.

3. Tersingkapnya keterlibatan Hizbullah dalam kesepakatan sekutunya, Iran, yang bersama dengan penjajah Amerika bersepakat untuk menghancurkan gerakan perlawanan Irak. Hizbullah juga terlibat dalam pelatihan milisi Syiah Shafawiyah di Irak, dan milisi yang sama-lah yang melakukan pemusnahan terhadap warga Palestian dan Ahlussunnah di Irak!

4. Mulainya kejatuhan misi-misi Syiah di Suriah dan Lebanon sebagai sebuah dampak terbalik dari tersingkapnya sikap-sikap politik para ‘peserta’ aliansi Shafawis yang ternyata mendukung Zionis dan pendudukan Amerika di Irak –yang notabena telah mendapatkan penolakan luar biasa dari rakyat Irak-…lalu disusul oleh munculnya bibit-bibit perbenturan dalam pelaksanaan kedua proyek besar Irak: proyek Amerika dan proyek Persia-Shafawis!!

5. Semakin kuatnya tekanan nasional pihak Lebanon, yang merupakan reaksi negatif atas pemerintah Suriah setelah pengusirannya dari Lebanon…dan juga semakin rapuhnya posisinya pemerintah Suriah akibat semakin dekatnya tudingan dunia internasional atas pembunuhan Presiden Rafiq al-Hariri beberapa waktu lalu.

7 04 2009
antirafidhah

Karena semua faktor itu, maka:

Harus ada upaya memalingkan pandangan mata dunia dari apa yang terjadi di Irak, baik yang dialami oleh Ahlussunnah maupun warga Palestina berupa tekanan kaum Syiah Shafawis…

Harus ada upaya untuk ‘mencuri’ pandangan dunia dari gerakan perlawanan Ahlusunnah Palestina yang berhasil membuktikan kelemahan Israel…

Harus ada upaya untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap upaya-upaya ‘zending’ Syiah di kawasan itu…

Harus ada usaha untuk mengembalikan ‘kebenaran’ sesumbar dusta Ahmadi Nejad untuk melenyapkan Israel dan melawan negara Zionis itu…

Harus ada upaya untuk menutupi kesepakatan Hizbullah yang ingin melawan gerakan-gerakan perlawanan Irak…

Harus ada upaya untuk mengacaukan politik di Lebanon demi menciptakan kekacauan yang telah diancamkan oleh Presiden Suriah, Basyar al-Asad…

Semua itu harus dilakukan, meski harus mengorbankan Lebanon…seluruh Lebanon bahkan…Yah, meskipun itu harus menyebabkan kehancuran negri bernama Lebanon!!

Untuk itu semualah, Hizbullah –sebagai salah satu pendukung proyek Shafawi-Persianis- menjalankan usaha atau petualangannya belakangan ini ‘melawan’ Sang Zionis!!

Apakah kita kontra terhadap sebuah gerakan yang melawan Zionis?? Tentu saja tidak! Kita mendukung setiap gerakan yang dapat melemahkan dan menjatuhkan negara pencuri Zionis itu! Tapi kita tidak bisa menerima jika gerakan itu menjadikan upaya perlawanannya sebagai bagian dari sebuah pewujudan tujuan yang jauh lebih berbahaya dari proyek Zionisme di negri-negri kita. Kita tidak setuju jika para pelaksana proyek itu menjadikan masalah Palestina sebagai barang dagangan mereka, sementara di saat yang sama, di Baghdad, mereka menyembelih orang-orang Palestina, merampas harta dan kehormatan mereka.

Kita tidak pernah bisa menerima jika kaum Shafawi-Syiah itu ingin mengacaukan keamanan Suriah dan Lebanon demi mewujudkan tujuan-tujuan agama mereka…
Selamanya, kita tidak akan menerima jika Lebanon dihancurkan dan rakyatnya dibunuh hanya karena ulah provokatif yang dilakukan oleh pendukung proyek Shafawis-Persianis, yang eksekusinya dijalankan oleh kaum Zionis!!
Kita tidak bisa menerima jika kaum Neo-Shafawis itu berlagak ingin mengorbankan diri mereka, bahwa merekalah gerakan perlawanan itu…sementara dengan sangat jelas mereka juga melirik dan mendukung proyek Amerika dan Zionis…

Kita tidak bisa menerima jika dunia memalingkan pandangannya dari segala kekejian dan kejahatan kaum Syiah-Shafawis terhadap saudara-saudara, keluarga dan rakyat muslim kita di Irak…

Kita tidak bisa menerima jika operasi-operasi militer gelap itu dijadikan sebagai ajang penguluran waktu untuk membangun proyek Senjata Nuklir Iran-Shafawis, yang kelak akan digunakan untuk menghancurkan bangsa Arab dan kaum muslimin…untuk merampas negri, kekayaan dan juga harga diri mereka!!

Periksalah semua lembaran sejarah, Anda tidak akan pernah menemukan bahwa Iran pernah terlibat dalam peperangan melawan kaum Zionis sekalipun…atau bahkan melawan ‘Si Setan Besar’ Amerika!! Anda tidak akan pernah menemukan satu huruf pun di dalam sejarah yang menunjukkan itu. Bahkan Iran justru pernah mempermalukan dirinya dengan mengimpor senjata dari Israel dan Amerika saat berperang melawan Irak (ingat kasus Iran-gate!)…

Iran sendiri-lah yang membujuk dan mendukung keberlangsungan pendudukan Amerika di Irak…Iran sendiri-lah yang ikut campur dan memudahkan pemerintah Suriah untuk melenyapkan putra-putra terbaiknya…Iran sendiri-lah yang menggunakan Hizbullah untuk memancing tindakan penghancuran Lebanon oleh Israel…Iran sendiri-lah yang merebut tiga pulau milik Emirat Arab…dan Iran-lah yang berusaha mengubah gerakan perlawanan Palestina menjadi selembar kertas yang kelak dengan mudah ia mainkan, meski harus mengorbankan stabilitas keamanan seluruh kawasan Arab dan Islam!!

Bila aliansi Neo Syiah-Shafawi itu sungguh-sungguh melakukan perlawanan terhadap pendudukan Israel, mengapa dataran tinggi Golan masih tenang-tenang saja hingga kini??!

Bila Hasan Nasrullah dan Hizbullah-nya memang ingin membebaskan tawanan-tawanan Lebanon, mengapa ia tidak menuntut sekutunya, Suriah, untuk melepaskan ratusan orang-orang Lebanon di penjara Suriah??!

Bila aliansi Neo Syiah-Shafawi ini jujur dengan semua gembar-gembornya, lalu siapakah yang menyambut pasukan Zionis dengan karangan bunga ketika mereka berhasil menguasai wilayah Lebanon Selatan bulan Juni 1982??!

Lalu siapa yang mengundang pasukan Amerika ke Irak, dan hingga kini saat kalimat-kalimat ini dituliskan, aliansi itu masih terus berlanjut??!

Jika Hizbullah memang ingin melindungi Lebanon dan rakyatnya, mengapa mereka melakukan upaya provokatif baru-baru ini tanpa sepengetahuan pemerintah Lebanon yang pada Rabu sore, 12-7-2006 mengeluarkan pernyataan: “Pemerintah Lebanon sama sekali tidak mengetahui operasi yang dilakukan oleh Kelompok Hizbullah ini” ??!

Jika mereka –kaum Neo Syiah-Shafawis- itu memang ingin meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina yang terus terancam oleh tekanan Zionis, lalu mengapa mereka menghabisi mereka di Baghdad dengan cara yang jauh lebih keji dan kejam??!

Maka setelah semua ini, menjadi kewajiban kita semua –bangsa Arab dan seluruh kaum muslimin- untuk memahami sebaik-baiknya kenyataan politik, keamanan dan pandangan keagamaan kaum Neo Syiah-Shafawis yang ada saat ini…

Mereka harus menyadari kedahsyatan bahaya mereka terhadap –tidak saja bangsa Arab-, namun juga kaum muslimin…

Lalu kemudian merumuskan langkah yang tepat untuk melawan kedua proyek keji ini: proyek Zionis-Salibis dan proyek Neo Syiah-Shafawis-Persianik –dimana yang terakhir disebutkan jauh lebih keji dan berbahaya dari yang sebelumnya-. Selamatkan agama, peradaban, masa depan negri dan generasi kita dari mereka!!

DR. Muhammad Bassam Yusuf

Pembaca yang budiman…
Ketika saya menerjemahkan tulisan ini, bayangan-bayangan kengerian sungguh berkelebat dalam benak saya.

Mengapa? Karena saya tahu betul –dan mungkin Anda juga demikian- betapa gerakan Neo-Syiah ini secara perlahan tapi pasti mulai menjelma menjadi gerakan yang akrab, bahkan diminati oleh sebagian penduduk negri ini. Wajah gerakan ini tampil begitu manis dan lembut di mata banyak orang. Tapi kita tidak pernah tahu, –atau sebagian cendekiawan bahkan selalu berapologi tentang kebaikan mereka- seberapa dalam kelicikan yang terhunjam dalam wajah manis itu.

Terakhir, saya hanya menitipkan harapan sederhana agar kita selalu mewaspadai bahaya Neo-Syiah ini. Jangan terpesona hanya karena wajah yang manis dan tutur kata yang penuh rayu, sebab berislam yang benar tidak pernah didasarkan pada kehalusan tutur dan perilaku semata, tapi pada kekuatan hujjah yang berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah yang shahihah. Mudah-mudah Anda dapat memahami itu. Wallahu a’lam.

Cipinang Muara, 20 Juli 2006

masihkah kita menganggap Syi’ah Rafidhah adalah bagian kaum muslimin sementara mereka menghancurkan umat muslim? silahkan dipikir sendiri…

8 04 2009
falseto

He he he….terserah ente mau bilang apa kek…kalau perlu sampe mulut berbusa.. wong sumber2 berita tsb ane udah tau..pasti dari siapa lagi kalau bukan dari kelompok yg sangat membenci Ahlul Bait alias wahabi salafi.

Ente bilang Iran pernah impor senjata buatan Amerika dari Israel/Amerika ketika perang Iran vs Irak. He he he…ini mau dijadikan bukti Iran = Yahudi ? He he he..ini mah analisanya gampang sekali.

Ente tau Iran ketika masih dikuasai oleh Syah Iran adalah sekutu dekat Amerika di kawasan Timur Tengah. Seluruh persenjataannya berasal dari Amerika. Nah, ketika Iran di-embargo secara total termasuk persenjataannya dan apalagi ada negara (Irak) menyerang wilayahnya dan terjadi peperangan jangka panjang, apa yg harus dilakukan ? Diam saja atau berusaha mencari sumber2 yg bisa memasok persenjataan termasuk suku cadangnya ? Karena Iran engga mau mati konyol ditangan Saddam Husein yg haus kekuasaan dan Iran butuh senjata untuk melawan invasi Saddam Husein itu, maka Iran hrs berusaha mencari persenjataan/suku cadang yg berasal dari negara yg match dg yg ada di di negaranya sebelumnya dan karena tdk mungkin membeli secara resmi dari negara pembuatnya (sedang diembargo Amerika), maka Iran harus membeli dari pasar gelap (black market), siapapun penjual/pemasoknya : mau Yahudi kek atau nasrani kek atau muslim. Yg penting bisa beli senjata. Kalau tdk, apa Irak bisa dilawan dg ketapel ? he he he…..

Kalau pake rumus ente bahwa Iran=Yahudi, mestinya dalam perang Irak vs Iran, Amerika ada di belakang Iran. Eh kok ternyata Amerika dan negara2 arab teluk yg Sunni ada di belakang Irak. He he he lucu ya, katanya Iran itu Yahudi, kok Amerika malah mendukung Irak ? Dan ternyata sampe saat ini (30 thn) Amerika dan sekutunya masih mengembargo Iran. Apa mereka sekarang ini pura2 musuhan dan Amerika malu2 untuk berterus terang bahwa dia sekutu Iran ? He he he sekali lagi lucu ya. Dan kalau pake rumus ente itu, ngapain pula Ayatullah Khomeini beserta para ulama Syi’ah cape2 menggulingkan Syah Iran pada th 1979 padahal sama2 Yahudi ? He he he lagi2 mereka pura2 musuhan ya ?

Adanya berita tentang permusuhan Iran vs Israel/Amerika dlm koran2 umum spt Kompas dll (sejak 1979)apa cuma kepura2-an saja ? He he he pura2nya lama sekalee…

Ente bilang juga Iran engga pernah perang melawan Israel atau Amerika. He he he ini mah omongan anak kecil. Iran itu jelas bukan Irak yg dipimpin Saddam Husein dan bukan pula Israel yg haus kekuasaan dan suka mencaplok wilayah Negara lain. Ente bisa melihat itu watak kolonialis Irak yg mencoba menginvasi Kuwait dan menyerang Iran. Sedangkan Iran jelas tdk pernah mau menyerang suatu negara kalau dia tdk diserang lebih dulu. Jadi buat apa Iran menyerang Israel kalau Israel sendiri tdk menyerang Iran ? Tapi sekalipun demikian Iran tdk berdiam diri ketika saudara2nya yg berada di Lebanon dan Palestina diserang oleh pasukan Israel. Coba aja ente tanya warga Lebanon dan Hamas apa peran Iran dlm perang melawan Israel. Jangan tanya org2 wahabi salafi.

Engga usah repot2 membuat scenario sendiri yg engga jelas, di depan mata ente ada suatu fakta yg tdk bisa dipungkiri yaitu adanya pangkalan militer asing di Saudi. Adanya pangkalan militer Amerika di wilayah ini tdk aneh, karena merupakan refleksi dari doktrin pertahanannya. Dlm hubungan ini ente bisa baca tulisan Budi Prasetyo dibawah ini buat perbandingan :

DOMINI CANNES ZIONIS AMERIKA ADALAH MANHAJ SALAFI WAHABI
[Disadur dari tulisan Ar Budi Prasetyo]

Setiap negara di dunia ini, untuk mempertahankan wilayahnya telah menyusun doktrin strategi pertahanan yang dituangkan dalam REGIONAL SECURITY ARRANGEMENT. Jika selama ini wahabi mengklaim dirinya sebagai PEMBELA SUNNAH ASLI DAN KEMURNIAN ISLAM, kita akan menguji sejauh mana implementasinya dalam dunia nyata (baca amalnya). Benarkah mereka telah konsisten dengan ajaran Islam yang menitik-beratkan pada TAWAKAL ILALLAH? Sebagai pembandingnya akan kita komparasikan dengan rival beratnya – dari mahzab Syi’ah – Republik Islam Iran.
DOKTRIN TAWAKAL ILALLAH-NYA IRAN.

Saat Ahamadinejad berkunjung ke Indonesia dan mampir ke UI dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mendapatkan pertanyaan yang mirip di kedua tempat itu dari mahasiswa. “Kekuatan apa yang Iran miliki sehingga mempunyai keberanian terhadap negara adidaya semacam Amerika dan sekutunya?, Ahmadinjad menjawab singkat: ”KITA UMAT ISLAM MEMILIKI ALLAH, DAN KITA BERTAWAKAL KEPADA-NYA”. Apa yang dikemukakan Presiden Iran tersebut sebagai implementasi doktrin pertahanan militernya sebagaimana diungkapkan Imam Khomaini kepada tentaranya: ”REPUBLIK ISLAM IRAN INI AKAN HANCUR JIKA KALIAN MENINGGALKAN ALLAH DAN AJARAN RASULULLAH DAN AHLUL BA’ITNYA “. Majalah militer baik dalam dan luar negeri banyak melaporkan, kegagalan misi operasi negara adidaya ini untuk menghancurkan Republik Islam Iran ini, berikut rangkuman dari berbagai laporan media dalam dan luar negeri:

OPERATION EAGLE CLAW.
Mungkin anda belum mendengar ”OPERATION EAGLE CLAW“, sekedar informasi, operasi ini bersifat terbatas dan taktis, yakni menerjunkan pasukan khusus berkualifikasi komando ke Iran untuk menguasai kedutaan Besar AS di Iran dan memiliki tujuan politis bahwa PENGAWAL REVOLUSI ISLAM keropos, dan memompa semangat pasukan antirevolusi Islam untuk menghancurkan Republik Islam tersebut. Namun berkat pertolongan ALLAH dan upaya keras Tentara Islam Iran, operasi ini gagal, peralatan tempur canggih dan satuan elite terbaik di dunia seperti D’Boys Delta Force dan beberapa gelintir Navy Seals ternyata tidak mampu menyelesaikan tugasnya. Mereka dibuat kalangkabut bahkan jatuh korban besar dipihak AS. Pentagon sampai hari ini masih membahas kegagalan tersebut dengan membentuk biro khusus.

OCTOBER SURPRISE
Kejutan bulan Oktober ini dinamakan oleh Senat AS atas keberhasilan Iran menggulung agen CIA-AS, KGB- Soviet; Mozzad-Israel beserta informannya, bukan hanya berhasil menangkap mereka. Iran bahkan berhasil mempecundangi AS dengan keberhasilannya memperoleh ratusan TOW dan Stinger dan menyita milyaran dolar dana dari infiltran yang disusupkan ke Iran tersebut. Imam Khomaini mengatakan keberhasilan ini adalah berkat pertolongan Allah Yang Maha Perkasa, dan ikhtiar intelejen Iran yang tak kenal lelah.

OPERASI MENGHAMBIL HIKMAH YANG DICURI UMAT LAIN
Saat Republik Islam Iran berdiri, baik Soviet dan AS beserta sekutunya langsung mengembargo Iran, bahkan dalam konflik Irak – Iran, Irak mendapatkan sokongan dari dua kekuatan besar dunia tersebut. Ulama Ahlul Ba’it sudah menyadari hal tersebut sejak sebelum revolusi, melalui komisi Tingkat Pengembangan Akselerasi Teknologi dikirimkanlah Pemuda-Pemuda Ahlul Ba’it Iran keseluruh dunia untuk mengambil hikmah yang dicuri orang lain. Seperti diberitakan oleh para Pengamat Militer diberbagai media, serbuan Israel ke Lebanon Selatan (Hizbullah) sebagai prototipe serbuan AS dan sekutunya ke Iran, sekaligus menjajal teknologi militer Iran. Israel dan sekutunya dibuat terkejut, senjata yang dipakai Hizbullah hasil sokongan Iran memiliki teknologi yang sudah baik. Early Warning Radar Israel gagal berfungsi memberi peringatan akibatnya Israel dihujani roket. Sebetulnya Israel memiliki radar yang mampu menetapkan trajectory dari roket yang dilepas Hizbullah, bahkan Israel memiliki rudal penangkis yang akan bekerja di tiga titik pertemuan – initial phase, calibration phase dan mid corse phase – sebelum roket Hizbullah mencapai terminal phase dan meledak. Namun lagi-lagi semuanya dibuat mandul. Mengapa bisa begitu, karena Umat Islam Iran menyadari untuk komitmen memegang perintah Rasululah Saw dan Ahlul Ba’itnya serta ikhtiar mengambil hikmah yang dicuri kaum kufar. Ahmadinejad saat kunjungan ke Indonesia dan bertemu Presiden dan Menteri Teknologi, menyampaikan amanat Rahbar Sayyid Ali Khamene’i untuk mengundang Pemuda Indonesia mempelajari Teknologi yang sebagian kecil bisa diambil.

DOKTRIN ILLA AMERIKA – ISRAELINYA WAHABI SALAFI
Pernahkan anda membaca PERJANJIAN PERTAHANAN AS seperti: North Atlantic Treaty, Anzus Treaty, pada perjanjian tersebut dituliskan bahwa AS BERKEWAJIBAN MEMPERTAHANKAN DAN MELINDUNGI ARAB SAUDI DARI SETIAP ANCAMAN BAIK YANG DATANG DARI DALAM DAN LUAR NEGARA ARAB SAUDI (dalam perjanjian tersebut juga disebut kewajIban yang sama untuk negara ditimur tengah). Implementasi dari kesepakatan untuk melindungi ARAB SAUDI tersebut adalah AMERIKA MENGIRIMKAN 439 PENASEHAT MILITER, DITAMBAH 10.369 AL DAN MARINIR DARI ARMADANYA KE ARAB SAUDI. MASIH DIRASA BANYAKNYA ANCAMAN, ARAB SAUDI PERLU MEMOHON PERTOLONGAN LAGI KEPADA ORANG-ORANG KAFIR TERSEBUT, LALU DITANDATANGANILAH KONTRAK PERTAHANAN DALAM KONTRAK AL YAMANAH – 1 DAN KONTRAK AL YAMANAH – 2. Implementasi atas kerjasama tersebut mengalirlah peralatan tempur ke Negara Wahabi tersebut, diantaranya:

1. AMERIKA SERIKAT mengirimkan: 5 unit Pesawat Peringatan Dini jenis E-3A AWACS, 6 Unit Pesawat Tanker Tempur jenis Boeing, yang akan mendukung F-15 Eagle yang sudah dikirim AS sebelumnya.

2. PERANCIS, INGGRIS DAN JERMAN mengirimkan: 4 unit kapal Freegat kelas 2000 ton dilengkapi rudal Excocet dan Crotal, 2 unit Kapal Tanker tempur Kelas Boraida Bobot 4000 ton, dan 24 unit Helikopter dilengkapi Rudal AS-15TT.

3. PERANCIS menambah arsenal untuk melindungi negara wahabi salafi tersebut dengan mengirim: Ratusan Kendaraan Lapis Baja jenis AMX – 10P, VCC-1 yang dilengkapi TOW sebanyak 2500 unit, 12 Heli AS 322 Super Puma yang dilengkapi Excocet dan Pesawat Tempur Mirage 2000 dan Mirage 4000.

4. INGGRIS tak kalah dalam memberi perlindungan bagi Negara yang sudah dibebaskan dari bid’ah dan khurofat oleh Abdul Wahab ini: 48 unit TORNADO versi IDS (Penyusup dan Penggempur) 60 Hawk 200 berkursi satu dan versi militer pesawat penumpang jenis BAe 146 dan Jet VIP 125 yang akan digunakan untuk menyelamatkan ulama-ulama Salafi dan Petinggi kerajaan jika Saudi terjadi pergolakan.

Mey Kartyono seorang wartawan militer mengatakan bahwa Arab Saudi (Pusat dan Pelindung ajaran Wahabi) SELAIN MENGANDALKAN ARSENAL DAN KEKUATAN MILITER, SAUDI JUGA SANGAT MENGGANTUNGKAN PEMBINAAN HANKAMNYA PADA AMERIKA. BAHKAN SAUDI MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PENUH DALAM MENYUSUN SISTEM PERTAHANAN ELEKTRONIK SEPANJANG 1126,3 KM KEPADA AS.

Tidak tahukah ULAMA-ULAMA SALAFI-WAHABI dalam masalah pertahanan negerinya? Tentu sangat tahu, tapi mengapa diam saja? Tidakkah para pejabat militer Arab Saudi mengetahui design adequacy terhadap sistem pertahanannya yang bila macam-macam kepada si perancangnya justru senjata dan sistem perang itu akan menjadi senjata makan tuan? Tentu Tahu, Apakah ulama yang diagung-agungkan pengikut salafi wahabi itu tahu persoalan tersebut? Bisa tahu bisa tidak. Tapi jika tahu kenapa justru membiarkan saja dan tidak mengeluarkan fatwa apapun, bahkan membiarkan saja perjanjian persaudaraan dengan negara kafir itu diimplementasikan? Mengapa ULAMA-ULAMA SALAFI DISAUDI JUGA TIDAK MEMERINTAHKAN MEMODIFIKASI DESIGN ADEQUACY SISTEM PERTAHANAN NEGARANYA, dengan cara MEMERINTAHKAN PENGIKUT SALAFI MEMPELAJARI HIKMAH TEKNOLOGI? TAHUKAH ULAMA SALAFI HUKUMNYA JIKA MENYANDARKAN PERTOLONGANNYA PADA KAUM KUFFAR? TAHUKAH KECAMAN AL-QUR’AN JIKA MEREKA MENYANDARKAN PERTOLONGANNYA SELAIN PADA ALLAH? TENTU TAHU, TAHUKAH BAHWA BIAYA YANG DIGUNAKAN UNTUK MENJAMIN KEHIDUPAN ATASE DAN PENASEHAT MILITER SAUDI ITU MENGALIR KE AMERIKA DAN MASUK KE KANTONG YAHUDI ? OO…SANGAT TAHU!!! TAPI MENGAPA BERBUAT BEGITU??!!

Beberapa Majalah militer menyebut bahwa kekuatan Saudi dengan persenjataan tersebut, menempatkanya sebagai negara yang kuat di Timur Tengah. TAPI MENGAPA TIDAK MENGGUNAKAN KEKUATANNYA UNTUK MEMBEBASKAN PALESTINA? ATAU MEMBANTU LEBANON? BAHKAN MENYEBUT HIZBULLAH PARTAI SETAN? YA KITA HARUS MAKLUM BAHWA ULAMA DAN NEGARA SALAFI/WAHABI ADALAH DOMINI CANNES (ANJING PENJAGA) BAGI KEPENTINGAN ISRAEL DAN AS DITIMUR TENGAH. MANA MUNGKIN BERANI MENYALAK PADA TUANNYA, MAKA WAJAR JIKA SALAFI MENGGONGGONG DENGAN FATWA HARAM MENDUKUNG HIZBULLOH, KARENA SESUNGGUHNYA AQIDAH SALAFI DIBANGUN ATAS DASAR TAWAKAL ILA AMERIKI, INGGRISI, PRANCISI, JERMANI DAN YANG LAINNYA…

JADI SIAPA SEBENARNYA YANG PENGIKUT ABDULAH BIN SABA’ ITU SALAFI ATAU SYI’AH ?

Kmdn ada juga temen yg menamakan dirinya Anti-Sempalan-Wahaby-Salafy, yg punya pendapat mengenai wahabi salafi spt ini :

Kembali kepada manhaj salafy=kembali kepada manhaj ketidakadilan.

Itulah mengapa wahaby-salafy sangat berbahaya. Kel sempalan ini semakin berkembang, bisa2 AS dan Israel semakin kuat dan berkuasa.

Sejatinya Islam adalah agama yg melawan ketidakadilan. Untuk menumbangkan kerajaan Turki Ottoman, Inggris “membeli” suku badui dari keluarga Saud, yg akhirnya menduduki Hijaz yg kini menjadi Arab Saudi.

Wahaby-Salafy kemudian diambil oleh Inggris untuk dikembangkan di Arab. Kenapa sempalan ini diambil? Ya karena sempalan ini hanya mementingkan ritual tok, tidak keadilan. Ketidakadilan kerajaan Saud dan AS beserta sekutunya tidak bisa dikritisi. Pun pada akhirnya gerakan perlawanan thd ketidakadilan akan mati.

Setelah cengkeraman Inggris digantikan oleh AS, dominasi AS di Arab Saudi semakin kelihatan. AS juga melebarkan pengaruhnya ke Jazirah Arab. AS leluasa menempatkan beberapa pangkaan militernya di beberpa negara Arab, termasuk Arab Saudi. Dan ulama2 Wabay-Salafy hanya diem aja. Apa sumbangsih mereka terhadap Palestina? Nol. Hanya Iran -yg bermazhab syiah- berani menuliskan di konstitusinya bahwa tujuan didirikannya Negara Iran adalah membebaskan Palestina dari belenggu Israel.
Lucu ya Syiah dibilang bikinan Abdullah bin Saba seorang Yahudi, padahal justu sekarang syiahdi Iran yang gencar memerangi Zionisme Israel. Lagipula beberapa sejarawan Sunni juga mengatakan Abdullah Saba adalah tokoh fiktif. Pun dari sisi etnografi Arab, keberadaan Abdullah bin Saba sangat tidak masuk akal.

He he he silakan ente renungkan….yg jelas kalau kita kembali ke zaman khalifah Usman dan membaca sejarahnya yg obyektif, maka terbukti bahwa Usman dibunuh oleh para sahabat. Untuk mengetahui sahabat yg mana saja yg membunuh Usman ente kan udah tau dari tulisan di blog secondprince. Nah, untuk menutupi kesalahan para sahabat itu dan sekaligus untuk menghantam Ali, maka dibuatlah dongeng Abdullah ibnu Saba…bla…bla…bla…dan sampe saat ini ente belum menjawab permintaan ane untuk menjelaskan apa itu ajaran Ibnu Saba itu shg disamakan dg ajaran Yahudi.

8 04 2009
antirafidhah

Saya sadur dari artikel saudara Tonggos di blog sebelah :

1. Al-Nubakhti berkata,

“as-Sabaiyah menyatakan tentang keimaman Ali, dan bahwa hal itu adalah kewajiban dari Alloh Azza Wa Jalla. Mereka adalah pengikut Abdullah bin Saba’. Mereka terang-terangan mencaci Abu Bakar, Umar, Utsman serta sahabat-sahabat yang lain serta berlepas diri dari mereka. Dia berkata bahwa Ali memerintahkan hal itu. Maka Ali menangkapnya dan menanyakan tentang ucapannya itu, maka dia mengakuinya. Lalu Ali membunuhnya, maka manusia berteriak kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin apakah engkau membunuh seorang laki-laki yang mengaku sebagai pecinta Ahlul Ba’it, mengakuimu sebagai pemimpin dan berlepas diri dari musuh-musuhmu?’ Maka Ali mengusirnya ke Madain.”

Diriwayatkan dari segolongan ahli ilmu, bahwa Abdullah bin saba’ adalah seorang Yahudi yang masuk Islam lalu dia menjadi pendukung Ali. Dia mengatakan ketika masih berada dalam keyahudiannya tentang Yusa’ bin Nuri setelah Musa Alaihis Salam perkataan seperti ini. Lalu ketika dia masuk Islam dia mengatakan hal itu kepada Ali dan terang-terangan berlepas diri dari musuh-musuhnya (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan semua sahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam). Maka atas dasar inilah orang-orang luar Syi’ah mengatakan bahwa ajaran Rafidhah adalah dari paham Yahudi.

(Firaqu Asy-Syi’ah/Aliran-aliran dalam Syi’ah, halaman 32-44).

“as-Sabaiyah menyatakan tentang keimaman Ali, dan bahwa hal itu adalah kewajiban dari Alloh Azza Wa Jalla (An-Naubakhti) – persis seperti ajaran syi’ah sekarang

maka manusia berteriak kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin apakah engkau membunuh seorang laki-laki yang mengaku sebagai pecinta Ahlul Ba’it, mengakuimu sebagai pemimpin dan berlepas diri dari musuh-musuhmu?’ (An-Naubakhti) – mirip sekali, syi’ah saat ini juga mengaku-aku sebagai pencinta ahlul bait.

2. Sa’ad bin Abdullah Al-Asy’ari Al Qumi dalam uraiannya mengatakan tentang As-Sabaiyah,

“As-Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba’, yaitu Abdullah bin Wahab ar-Rasibi Al-Hamadani. Para pembantunya adalah Abdullah bin Khursi, Ibnu Aswad, mereka berdua adalah pendukung utamanya. Dia adalah orang yang pertama kali secara terang-terangan mencaci maki Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat serta berlepas diri dari mereka.”

(Al-Maqalat wa al-Firaq, halaman 20).

Mereka adalah pengikut Abdullah bin Saba’. Mereka terang-terangan mencaci Abu Bakar, Umar, Utsman serta sahabat-sahabat yang lain serta berlepas diri dari mereka. (An-Naubakhti & Al-Qumi) – Cocok seperti ajaran syi’ah saat ini

3. Al-Majlisi, Biharul Anwar Jilid 25 Hal 287 :

-بحار الانوار جلد: 25 من صفحه 287
مقالهم أن اليهود على الحق ولسنا منهم ، وأن النصارى على الحق ولسنا منهم .( 1 )
39 – كش : محمد بن قولويه عن سعد عن محمد بن عثمان عن يونس عن عبدالله بن
سنان عن أبيه عن أبي جعفر عليه السلام ان عبدالله بن سبا كان يدعي النبوة ويزعم أن
أمير المؤمنين عليه السلام هو الله ، تعالى عن ذلك ، فبلغ ذلك أمير المؤمنين عليه السلام فدعاه وسأله
فأقر بذلك وقال : نعم أنت هو ، وقد كان القي في روعي أنك أنت الله وأني بني .
فقال له أمير المؤمنين عليه السلام : ويلك قد سخر منك الشيطان فارجع عن هذا ثكلتك
امك وتب ، فأبى فحبسه واستتابه ثلاثة أيام فلم يتب فأحرقة بالنار ، وقال : إن الشيطان
استهواه فكان يأتيه ويلقي في روعه ذلك . ( 2 )
قب : عن ابن سنان مثله . ( 3 )
40 – كش : محمد بن قولويه عن سعد عن ابن يزيد ومحمد بن عيسى عن علي بن
مهزيار عن فضالة بن أيوب الازدي عن أبان بن عثمان قال : سمعت أبا عبدالله عليه السلام
يقول : لعن الله عبدالله بن سبا إنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين ، وكان والله أمير
المؤمنين عليه السلام عبدا لله طائعا ، الويل لمن كذب علينا ، وإن قوما يقولون فينا مالا
نقوله في أنفسنا ، نبرأ إلى الله منهم ، نبرأ إلى الله منهم ( 4 ) .
41 – كش : بهذا الاسناد عن ابن يز يد عن ابن أبي عمير وابن عيسى عن أبيه
والحسين بن سعيد عن ابن أبي عمير عن هشام بن سالم عن الثمالي قال : قال علي
بن الحسين عليه السلام : لعن الله من كذب علينا ، إني ذكرت عبدالله بن سبا فقامت كل
شعرة في جسدي لقد ادعى أمرا عظيما ، ماله لعنه الله .
كان علي عليه السلام والله عبدا لله صالحا أخو ( 5 ) رسول الله صلى الله عليه وآله ما نال الكرامة من
* ( هامش ) * ( 1 ) مناقب آل ابى طالب 1 : 227 و 228 .
( 2 ) رجال الكشى : 70 .
( 3 ) مناقب آل ابيطالب 1 : 227 وفيه اختصار راجعه .
( 4 ) رجال الكشى : 70 و 71 .
( 5 ) خبر مبتدا محذوف اى هو عليه السلام . [ * ]
[287]

Dulu Ibnu Saba menuhankan Ali dg cara terang-terangan, dan pada riwayat no 40 di atas, Ibnu Saba mendakwakan sifat rububiyah kepada Ali :

لعن الله عبدالله بن سبا إنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين (Al-Majlisi)

hal ini mirip dengan apa yang diyakini syi’ah saat ini bahwa para Imam Syi’ah (termasuk Ali tentunya sbg Imam pertama syi’ah) memiliki sifat2 rububiyah sebagaimana yang dimiliki Allah, mari kita buka contohnya :

Al-Kafi jilid I, hal 261, Kulainy berkata, “Bab bahwasanya para imam mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan datang, serta bahwasanya tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi dari pengetahuan mereka.” Dia juga telah meriwayatkan dalam halaman yang sama dari sebagian sahabat-sahabatnya bahwa mereka mendengar Abu Abdillah ‘alaihis salam (yang dia maksud adalah Ja’far ash-Shadiq) berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui apa-apa yang ada di langit dan di bumi, aku mengetahui apa-apa yang ada di dalam surya dan aku mengetahui apa yang telah lalu serta yang akan datang.”

Dia juga berkata dalam jilid I, hal 258, “Bab bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka akan mati dan mereka tidak akan mati kecuali dengan kemauan mereka sendiri.”

Husain bin Abdul Wahab dalam kitabnya ‘Uyun al-Mu’jizat hal 28 bercerita bahwasanya, Ali pernah berkata kepada sesosok mayat yang tidak diketahui pembunuhnya, “Berdirilah -dengan izin Allah- wahai Mudrik bin Handzalah bin Ghassan bin Buhairah bin ‘Amr bin al-Fadhl bin Hubab! Sesungguhnya Allah dengan izin-Nya telah menghidupkanmu dengan kedua tanganku!” Maka berkatalah Abu Ja’far Maytsam, Sesosok tubuh itu bangkit dalam keadaan memiliki sifat-sifat yang lebih sempurna dari matahari dan bulan, sembari berkata, “Aku dengar panggilanmu wahai yang menghidupkan tulang, wahai hujjah Allah di kalangan umat manusia, wahai satu-satunya yang memberikan kebaikan dan kenikmatan. Aku dengar panggilanmu wahai Ali, wahai Yang Maha Mengetahui.” Maka berkatalah amirul-mu’minin, “Siapakah yang telah membunuhmu?” Lantas orang tersebut memberitahukan pembunuhnya.

Sulaim bin Qois dalam kitabnya hal 245 , Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali, “Wahai Ali, sesungguhnya engkau adalah ilmu pengetahuan Allah yang paling agung sesudahku, engkau adalah tempat bersandar yang paling besar di hari kiamat. Barang siapa bernaung di bawah bayanganmu niscaya akan meraih kemenangan. Karena hisab (penghitungan amal) para makhluk berada di tanganmu, tempat kembali mereka adalah kepadamu. Mizan (timbangan amalan), shirath (jalan yang mengantarkan para hamba ke surga), dan al-mauqif (tempat berkumpulnya semua makhluk di hari akhir) semua itu adalah milikmu. Maka barang siapa yang bersandar kepadamu, niscaya akan selamat dan barang siapa yang menyelisihimu niscaya akan celaka dan binasa! Ya Allah, saksikanlah 3x!”

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I, hal 30), Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku bersama Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api dan akulah yang menjadikan api itu dingin serta menyelamatkan. Aku juga bersama Nuh di kapalnya lantas akulah yang menyelamatkan dia dari ketenggelaman. Aku juga bersama Musa, lantas aku ajarkan Taurat kepadanya. Aku jugalah yang menjadikan Isa berbicara saat dia masih dalam buaian, kemudian kuajarkan Injil padanya. Akulah yang bersama Yusuf di dalam sumur, lantas kuselamatkan dia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani, kemudian aku hembuskan angin baginya.”

Berkata Imam mereka Ayatullah al-Khomeini di dalam kitabnya Al-Hukumah al- Islamiyah hal 52, “Sesungguhnya para Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi dan kekuasaan terhadap alam semesta, di mana seluruh bagian alam ini tunduk terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.”

Lihatlah.. penuhanan yg dilakukan oleh Syi’ah thd Imam Ali dan imam lainnya.. jika anda berpikir dg hati nurani yg bersih dan tidak sedang taashub buta thd ajaran syi’ah, anda akan melihat kemiripan ajaran syi’ah sekarang dg yg diajarkan the founding father-nya yaitu si Ibnu Saba… sebenarnya msh bnyk lg.. tapi saya kira di atas sdh cukup utk membuktikan bahwa ajaran Syi’ah saat ini adalah turunan ajaran Ibnu Saba…

8 04 2009
falseto

@antirafidah:
masihkah kita menganggap Syi’ah Rafidhah adalah bagian kaum muslimin sementara mereka menghancurkan umat muslim? silahkan dipikir sendiri…

He he he…..coba aja kirim surat peringatan kpd pemerintah Saudi spy tdk lagi mengijinkan org2 Syi’ah masuk ke Mekkah dan Madinah untuk beribadah haji.

Syi’ah rafidhah menghancurkan umat muslim ? He he he yg ane tau dari catatan sejarah adalah beberapa kejadian dari seluruh rentetan kejadian dimana tentara Yazid setelah pembantaian Imam Husein di Karbala, mereka menyerbu kota Madinah dg membebaskan tentaranya untuk berbuat apa saja spt membunuh org tua, wanita dan anak2 dan memperkosa wanita muslim madinah. Persis spt tentara Romawi. Begitu juga apa yg dilakukan oleh kaum Wahabi ketika berhasil menegakkan kerajaan Saudi yg wahabi, pada th 1216 H dg kekuatan 20.000 prajurit mereka pun menyerbu kota Karbala dan secara brutal melakukan penyembelihan terhdp kurang lebih 5000 org para pembela dan penduduk Karbala serta menghancurkan bangunan2 sejarah dan merampok isinya.

Jangan lupa Kesultanan Ottoman Turki, suatu pemerintahan Islam yg masih bertahan dlm sejarah, akhirnya ditumbangkan oleh konspirasi Inggris dan Saudi, dimana Saudi ditegakkan atas dasar ajaran Ibnu Taimiyah yg sangat pro Muawiyah/Bani Umayyah.

8 04 2009
Nomad

Assalamu’alaikum.
Ane mau memperjelas fakta 2x yg disampaikan oleh Falseto. Data 2x ini saya ambil dari sudut pandang media militer. So itu media netral dan independent.

Berikut ini petikan dari Majalah Angkasa No 6 Maret thn 2005, hal 16 :
“Keberhasilan revolusi Islam tak hanya membuat Amerika tersingkir dari Iran. Sejumlah warga AS yg disandera pada 1980 gagal dibebaskan pasukan elit AS, Delta Force, gara – gara pesawat dan helikopter yg ditumpangi jatuh diperjalanan (OPERTION EAGLE CLAW-penulis).Tak hanya itu. Washinton bahkan sempat kembali dipermalukan gara – gara skandal penjualan 107 ton misil anti pesawat dan misil antitank ke negri ini tercium publik. Persenjataan ini ternyata dijual ke Iran demi membebaskan warga AS yg disandera di Libanon. Akan tetapi, pengaruh AS sebenarnya masih melekat. Bahkan satu hari setelah Reza Pahlevi terguling. AS yg hengkang dari Iran saat itu ternyata meninngalkan 79 pesawat tempur F14 Tomcat yg dibeli dari Shah Iran. Tehran yg menyadari bahwa pesawat 2x tempur canggih itu penting bagi pertahanan, rupanya tak gelap mata dan menghancurkan apa saja yg berbau AS. F 14 yg kemudian terbukti banyak membantu Revolusi Islam Iran itu justru dirawat secara baik. Pilot – pilot Iran yg menerbangkan Tomcat dari sisi kemampuan memang unggul. Karena mereka sdh dididik di Miramar Naval Base, California AS pd 1974. Semua pilot yg sdh jago dalam olah pertempuran udara dan digembleng semasa rezim Shah Iran ternyata tdk dikucilkan selama oleh pemerintah Revolusi Islam. Mereka tetap mempertahanknnya dan manfaatnya amat terasa ketika Iran berperang melawan Irak pada 1980. Meskipun saat itu AS sdh menerapkan embargo suku cadang, khususnya utk pesawat F 14 pesawat ini tetap mengudara. Puluhan pesawat tempur Iraq seperti bla – bla berhasil ditembak jatuh. Padahal dalam perang 8 thn itu, armada F14 mengadalkan penggantian suku cadang secara kanibal. Perangkat F-14 yg sudah grounded tp berkualitas bagus dipasang pada pesawat yg masih layak terbang. Saat usai perang Irak – Iran, armada Tomcat rupanya msh menjadi kebanggaan Republik Islam Iran. Pada 1995, di atas Tehran, sebanyak 25 F14 melakukan terbang massal. Dalam perkembangan terkini, disinyalir F14 yg berada di Iran msh berjumlah 60 unit. Kondisi pesawat tempur msh bagus. Mesinnya berhasil diperbaharui berkat bantuan teknisi Rusia. Suku cadang yg dibeli lewat pasar gelap konon berasal dari Israel. Rupanya, ketika Iran “ikut membantu” pembebasan sandera AS dari Libanon, selain misil anti pesawat dan misil antitank, mereka jg mendapatkan imbalan suku cadang F14.”

K’lo kita bandingkan dengan para mujahidin taliban dan al-qaeda, mereka jg pasti membeli persenjataan dari pasar gelap, mungkin pasar gelap dari rusia atw negara pecahan soviet. Makanya mereka setia menggunakan senjata Kalashnikov dan RPG yg buatan rusia.

Mengenai Hizbullah, sdh banyak cerita dari organisasi ini yg diceritakan oleh media nasional dan internasional. Secara media nasional / internasional kan independen. Tp saya tertarik menjawab pertanyaan antirafidah : ” Mengapa Hizbullah menculik 2 tentara Israel ?” Saya mengutip cerita dari Edisi Koleksi Angkasa PERANG HIZBULLAH ISRAEL, hal 14-16 sbg jawaban:
“Konflik ini berawal ketika Hizbullah menyerang pasukan Israel yg menyusup ke daerah sekitar yg menyusup ke daerah sekitar Aitar – Al Chaab, libanon selatan pada tgl 12 juli 06. Dalam aksinya pejuang Hizbullah berhasil menawan 2 tentara Israel. Tindakan penangkapan ini sejalan dengan rencana Hizbullah yg disebut sbg operasi Truthful Promise. Operasi ini bertujuan utk membebaskan warga lebanon yg ditawan Israel dgn melakukan pertukaran tawanan. Peristiwa ini kemudian berlanjut dgn serangan Hizbullah ke wilayah Israel yg menghasilkan 8 tentara tewas dan 20 lebih terluka. Krn aksi militer hizbullah terus berlanjut, akhirnya Israel memberi perlawanan dgn menggelar operasi Just Reward lalu namanya berubah menjadi Change of Direction. Bagi Hizbullah penawanan ini sebenarnya sebagai ALAT DIPLOMASI UTK MELAKUKAN PERTUKARAN TAWANAN GUNA MEMBEBASKAN WARGA LIBANON DAN PALESTINA YG DITAHAN ISRAEL. Namun yg selanjutnya terjadi benar – benar di luar dugaan Hizbullah. Israel ternyata membalasnya dgn mengerahkan kekuatan militer menyerang libanaon secara bertubi tubi. Menurut wartawan pemenang pulitzer, Seymour Hersh, ISRAEL TELAH LAMA MEMPERSIAPKAN SERANGAN INI ATAS RESTU AS, SBG PENJAJAKAN ATAS SERANGAN BERIKUTNYA KE IRAN.Nah penangkapan 2 tentara israel ini akhirnya dijadikan pemebenaran utk menggelar aksi militer. Sebelum penangkapan 2 tentara Israel yg dianggap hanya pencetus perang ini sebenarnya telah terjadi insiden pendahuluan pada 28 juni 2006. Dalam insiden itu 3 kelompok milisi mengklaim telah menculik kopral Gilad Shalit (19) utk mendesak Israel melepas 1000 tahanan. Ketiga kelompok perlawanan itu meminta Israel segera menghentikan agresi militernya di wilayah Palestin. Dalam serangannya, pejuang yg disebut dari Hamas ini menyusup melalui terowongan yg mereka gali 2 bln sebelumnya di Kerem Shalom.”

Jadi sebenarya nih, cara Hizbullah dan Hamas berjuang itu mirip. Anda (Antirafidah) tau ga penyebab Israel melancarkan operasi Cast Lead awal thn 2009 itu? salah satu Penyebabnya ya krn Israel diprovokasi oleh Hamas yg meluncurkan roket Qassamnya ke Israel. Padahal Roket Qassam ituh tdk mematikan cuy, lebih mirip maenan alias jangwe, ia hanya membuat takut saja. Tp itu dijadikan pembenaran oleh Israel utk menyerang Hamas.
Mengenai pernyataan anda (antirafidah) bhw pembebasan palestin dan dataran tinggi Golan adalah gembar gembor belaka, maka saya ksh tau : Bahwa Suriah dan bangsa arab tdk akan pernah menang lawan Israel dgn perang konvensional! K’lo blm jelas silakan banyak pelajari sejarah perang Yom KIppur (1973), perang 6 hari dan perang di Lembah Bekka-Libanon (1982). Dari perang – perang tsb Suriah dan bangsa arab lainnya selalu kalah secara militer. Oki cara yg paling efisien dan efektif adalah menyokong Hamas dan Hizbullah utk menghancurkan Israel secara perlahan 2x.

Kata siapa Iran tdk membantu HaMAS ? Siakan cari dan baca beritanya di Cyber Sabilli ttg “Serangan Udara Israel thd konvoy truk di Sudan.” lalu apakah anda pernah mengenal Unit 1800 Hizbullah ? saya akan menceritakan ini di lain waktu insa allah.

Saya juga mneyoroti fenomena pembersihan etnis sunni di Iraq oleh milisi Syi’ah. Fenomena ini lucu sbb, milisi Syi’ah di Iraq yg digambarkan oleh media sunni apalagi sunni yg fanatik kerjaannya adalah membunuh dan berperang dengan org 2x /milisi sunni di Iraq. Tp k’lo menurut mayoritas media non muslim justru milisi ini berperang dgn AS dan Inggris. Perlu diketahui jg bahwa yg jd korban kekerasan di Iraq bukan hanya masyarakat Sunni, tp jg masyarakat Sy’ah. Kalian msh ingat kan ttg pemboman peziarah Asyura yg banyak menewaskan peziarah Syi’ah pada Maret 2004 ?, Teror yang sama juga terjadi pada Januari 2006 yang menelan korban tidak kurang dari 350 orang kaum Syi’ah. Juga teror yang merenggut hampir 1000 peziarah Syi’ah di Kazhimain belum lagi peristiwa pemboman yang meluluh-lantakkan masjid kubah emas tempat dari 2 imam suci Syi’ah dimakamkan, dll.
Ada Sebuah tulisan yang beredar di internet menyebutkan adanya sebuah buku yang berjudul A Plan to Divide and Destroy the Theology yang terbit di AS. Buku ini berisi wawancara Dr. Michael Brant, mantan anggota penting CIA yang membidangi masalah Syi’ah dan telah lama bertugas di bagian ini tetapi kemudian dipecat karena korupsi dan penyelewengan jabatan. Dr. Brant –tampaknya dalam rangka balas dendam atas pemecatan dirinya- telah mengungkapkan hal-hal yang sangat mengejutkan. Dia mengatakan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dolar untuk melancarkan berbagai aktifitas anti Syiah. Dari sekian banyak program CIA yang diungkapkannya, salah-satu diantaranya adalah membenturkan Syi’ah dengan Sunni sehingga terjadi permusuhan satu sama lain tidak hanya di kalangan awamnya tetapi juga di kalangan ulamanya.

Jadi saya sependapat dgn Falseto, “lucu ya Syiah dibilang bikinan Abdullah bin Saba seorang Yahudi” padahal CIA sendiri merancang makar utk melemahkan Syi’ah, yg secara tdk langsung juga akan melemahkan Iran. Sesaat setelah revolusi islam iran berkobar, AS juga menakut nakuti negara – negara arab bhw Iran sewaktu – waktu akan mengekspor revolusinya ke negara arab. KOntan saja negara arab takut, sbb pemimpinnya sdh terjangkit virus Mu’awiyah.

Wassalamu’alaikum.

11 04 2009
antirafidhah

Skandal Iran Contra
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Skandal Iran-Contra adalah skandal Amerika Serikat di dunia intenasional yang cukup besar dan melibatkan orang-orang penting di dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS) pada saat itu. Selain wilayah yang terlibat, juga membentuk poros kekacauan tersendiri yakni meliputi Nikaragua (Contra)-Iran-Panama-Amerika Serikat-Israel dan negara negara sekutu AS yang lain. ketika kasusnya sampai ke Publik lewat sebutan populer The October Surprise (kejutan Oktober) karena bagian utama skandal ini terjadi pada bulan Oktober 1980.

Daftar isi [sembunyikan]
1 Pemilihan Presiden AS
2 Pendekatan dengan Iran
3 Menghapus Jejak
4 Perkembangan Kasus
5 Pengampunan

Pemilihan Presiden AS
Awalnya, kasus ini dimulai dengan adanya pemilihan presiden AS yang diikuti dua kandidat saat itu yakni Jimmy Carter dan Ronald Reagan, dua kandidat yang sama sama ingin menjadi American number One itu bersaing sangat ketat. Mengingat posisi dan kepopuleran Jimmy Carter lebih unggul, tim sukses Ronald Reagan yang saat itu dipimpin oleh George H.W. Bush perlu berusaha mencari celah.

Dan celah tersebut justru terbuka di Iran. Tatkala mereka sibuk untuk mempersiapkan kampanye, tersiar berita bahwa sejumlah warga AS disandera di Teheran. Tim sukses Reagan cukup tanggap dan diam diam membentuk konspirasi untuk sebisa mungkin membebaskan sandera sekaligus mengangkat pamor Ronald Reagan untuk memenangkan pemilu.

Pendekatan dengan Iran
Langkah pertama yang dilakukan George H.W. Bush (direktur CIA saat itu) adalah berusaha mengadakan negosiasi dengan pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Khomeini. Rencana awal berjalan lancar karena Khomeini bersikap kooperatif. Ia mengirim langsung perdana menteri Bani Sadr ke Paris Perancis, tempat pertemuan rahasia yang disepakati kedua pihak. Selain Bush, ikut pula manajer kampanye Reagan lainnya, William Casey.

Dalam pembicaraan yang berlangsung di sebuah hotel, ternyata Iran bersedia membebaskan 52 sandera AS dengan syarat cukup mudah, yakni AS cukup mengirimkan senjata antitank ke Iran guna menghadapi Irak dalam perang Iran Irak. Tim Bush langsung setuju bahkan memberikan tambahan bonus sebesar 40 juta dolar AS. tetapi pinta mereka, para sandera dibebaskan menjelang usai pemilihan presiden. Kedua pihak setuju dan pamor Reagan melesat.

Pada Januari 1981, aktor Hollywood itu dilantik sebagai presiden AS. Pelantikan ini memukau rakyat Amerika Serikat karena pada hari yang sama ke-52 sandera tiba kembali di AS. Sebagai hadiah, Bush diangkat sebagai wakil presiden sementara Casey menjadi Direktur CIA.

Menghapus Jejak
Mengingat apa yang dilakukan tim sukses Reagan di Paris merupakan misi rahasia dan melibatkan CIA, mereka berusaha semaksimal mungkin agar konspirasi itu tidak terbongkar.

Salah satu cara yang dilakukan adalah memberikan kesan bahwa George H. Bush tidak pernah berada di Paris, yakni usai pertemuan, Bush segera diterbangkan dengan pesawat supersonik SR-71 Blackbird dengan kecepatan Mach 3 (sebagai perbandingan Concorde hanya berkecepatan maksumum mach 2.4) yang dipiloti Gunther Russbahcer dan mampu mencapai daratan AS dalam waktu kurang dari dua jam. Setiba di AS, Bush langsung menuju Hotel Hilton dan memberikan pidato kampanyenya untuk memberi kesan selama ini baik baik saja di rumah.

Akan tetapi pertemuan di Paris segera tercium publik melalui pers AS yang terkenal liberalnya itu. CIA segera bertindak dan seperti biasa melancarkan praktek tipu daya. Agen kepercayaan Bush di CIA, Frank Snepp, melakukan counter news dengan menulis artikel di surat kabar lokal Village Voice tentang perihal pilot SR-71. Dimana pada harian itu, Gunter Russbacher dikatakan tidak mampu menerbangkan pesawat itu karena tidak pernah mendapatkan latihan . Tetapi pers dan penyidik legal yang melakukan investigasi mendapatkan fakta bahwa Gunther pernah dilatih dan mampu menerbagkan pesawat tersebut.

Keadaan mulai runyam ketika para saksi yang meliha Bush di Paris buka suara. Diantaranya agen Mossad Israel yang terlibat penyaluran senjata AS ke Iran, Ari Ben Menashea yang tanpa diduga memberikan kesaksian, juga dokumen PM Iran, Bani Sadr yang mengindikasikan tentang kehadiran Bush. Memang ada satu agen CIA yang berusaha melakukan penyangkalan saat diperiksa tim penyidik, namun gagal dan tidak mampu membuktikan kebenaran alibinya pada saat test kebohongan (lie detector).

Kendati bukti dan fakta jelas-jelas menunjukkan keberadaan Bush di Paris, agen rahasia CIA berusaha keras melindungi Bush, bahkan dua agen rahasia memberikan keterangan bahwa mereka sedang mengawal Bush berlibur akhir pekan di Pennsylvania. Penyangkalan yang juga dilakukan para Secret Service ternyata cukup ampuh dan penyidikan terhadap Bush seolah menemui jalan buntu.

Kebuntuan semakin menjadi ketika Partai Republik (partainya Bush), Gedung Putih dan Senat AS menekan pihak penyidik untuk menutup investigasi kasus October Surprise. Apalagi sejumlah saksi kunci, pilot Russbacher memilih diam dan menyangkal segala tuduhan.

Memasuki tahun 1991 atau 10 tahun setelah peristiwa itu , tekad penyidik seolah habis dan kasus pun ditutup. Namun dua tahun kemudian kasus ini dibuka oleh Komite Penyelidik yang dipimpin oleh Lee Hamilton.

Perkembangan Kasus
Lewat investigasi yang ditempuh cukup keras, Komite penyelidik berhasil mengunkap satu persatu kasu ini. bahkan diambil kesimpulan bahwa perbuatan bush dan Reagan dianggap menjurus pada tindakan kriminal, terlebih telah melibatkan CIA dan Partai Republik dengan seluruh kegiatan yang dinyatakan ilegal. Bahkan dengan konsekwensi sanksi berupa impeachment kepada presiden. Untuk menanggapi hal tersebut, Reagan membuat pernyataan resmi kepresidenan tentang hubungan AS-Iran. Dikatakan tidak ada masalah apa pun dalam hubungan kedua negara. Negeri ini juga tidak lagi memberi indikasi teror yang mengancam AS.

Namun fakta lain menunjukkan bahwa skandal ini tidak hanya sekali terjadi. pada tahun 1984 ketika agen CIA yang menjadi kontak Iran di Timur Tengah, William Buckley diculik gerilyawan Hezbollah di Libanon, Reagan segera meminta National Security Council (NSC) untuk membeaskannya. Saat itu penculik tidak hanya menyandera William Buckly namun juga sejumlah warga Inggris dan Amerika yang bekerja sebagai peneliti dan pekerja sosial. Belakangan Buckley tewas ditembak, namun tim NSC berusaha mebebaskan sisanya. Tim NSC sendiri terdiri dari pejabat penting seperti wakil presiden (saat itu) George H. Bush, Menteri sekertaris Negara George Shultz, Menteri pertahanan Caspar Weinberger,Direktur CIA William Casey, Penasehat Keamanan Nasional Robert Mc Farlane dan Letnan Kolonel Oliver North yang bertugas di lapangan.

Mereka kembali melakukan negosiasi dengan pemerintah Iran guna membujuk Hezbollah untuk membebaskan sandera. Iran setuju dan meminta imbalan penjualan senjata AS dalam jumlah besar diantaranya ribuan rudal anti pesawat Hawk, rudal antitank dan suku cadang pesawat terbang (sejak Revolusi Iran, AS mengembargo persenjataan Iran yang umumnya buatan AS warisan Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi). Sebagian diantaranya diselundupkan lewat Israel dan hampir semua transaksi penjualan dilakukna oleh Letkol Oliver North.

Dari sinilah kasus ini mencuat dengan sebutan Iran-Contra. Rupanya, sebagian keuntungan penjualan senjata itu dikirim ke Nikaragua untuk membiayai operasi gerilyawan Contra melawan pemerintahan komunis Sandinista, Daniel Ortega. Sebagian untuk membayar broker senjata diantaranya pengusaha Arab Saudi, Adnan Kashoggi dan penyandera. Dan sisanya dimasukkan kedalam rekening perusahaan fiktif milik CIA melalui tangan Oliver North.

Namun untuk kasus yang kemudian dikenal sebagai Iranian Gate itu Reagan punya alasan tersendiri. Misi NSC dilakukan untuk membebaskan sandera bukan semata-mata menemui Ayatollah Khomeini yang dianggap musuh, melainkan juga menemui para kalangan moderat Iran yang memiliki pandangan positif terhadap AS. Dilain pihak, bantuan kucuran dana hasil penjualan senjata ke gerilyawan Contra Nikaragua disebutnya untuk misi sosial kemanusiaan bagi rakyat Nikaragua.

Penyelidikan yang dilakukan cukup lama terhadap Letkol Oliver North tidak sampai membuat jatuhnya pemerintahan Reagan. Namun kekebalan politik yang diberikan kepada North tidak mampu menyelamatkan dirinya. Ia akhirnya dinyatakan bersalah dan dipenjara. Banyak pihak mengatakan North dikorbankan untuk menyelamatkan Reagan dan pelaku lainnya dalam skandal itu. Baru ketika George H. Bush menjadi presiden (1988-1992) penyidikan itu berhenti. Perang Teluk I juga menggiring rakyat AS untuk melupakannya.

Pengampunan
Memasuki tahun 1992 atau sebulan sebelum masa kepresidenan berakhir, Bush yang akan mencalonkan diri lagi ternyata berhasil diganjal rivalnya Bill Clinton. bush tidak berkutik ketika Bill Clinton sengaja memojokkan dirinya dengan mengungkit kembali kasus Iran-Contra. merasa tida dapat menyaingi kembali Clinton, Bush memanfaatkan masa akhir jabatannya dengan mengampuni aktor Skandal tersebut. Pengampunan yang dilakukan bulan Desember 1991 itu diamini Kongres AS dan bersihlah nama Caspar Weinberger dan rekannya yang terlibat.

Di lain pihak untuk membuktikan bahwa Bush bersih dan tidak melakukn pelanggaran prosedur dalam kasus itu, Bush menantang lembaga hukum Griffin Bell’s dan King & Spaulding untuk kembali melakukan penyelidikan. Hasilnya Bush memang bersih dan bisa melepas kursi kepresidenan tanpa pamor buruk, namun gagal menjadi presiden untuk kedia kali.

Semasa pemerintahan Bill Clinton, pengampunan terhadap pelaku skandal Iran-Contra sempat dilakukan secara massal seluruhnya mencapai 176 orang. Dengan demikian ketika George W. Bush menjabat presiden, dia tidak lagi dipusingkan dengan kasus ayahnya, bahkan mampu menduduki jabatan presiden AS kedua kalinya.

Tuch kan katanya saling musuhan? kok dibelakang layar saling contact??? melibatkan tokoh-tokoh penting lagi! dan ini bukan black market lho.. maklum taqiyah/kemunafikan agamamya.. hehehe.. kalo ga taqiyah ga sreg gitu.. hehehe..

11 04 2009
antirafidhah

Apa yg kelihatan dipermukaan bhw Iran anti Amerika adalah sandiwara belaka, buktinya setelah revolusi ternyata Khomeini masih memakai badan intelejen bikinan CIA semasa Shah Iran, walaupun diganti namanya dari SAVAK mjd SAVAMAK tetapi ternyata yg ada didalamnya adalah orang-orang lama yg msh aktif link dg Amerika??. (by Fransisco Gil-White – Historical & Investigated Research).

Menurut pengakuan mantan Dubes Amerika di Iraq : Iran menolong Amerika dalam Invasi terhadap Afghanistan dan Iraq?? Ada teks perjanjian diantara mereka dlm bahasa Arab!

http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=61100

Menurut The Independent, ada dialog rahasia antara Iran dan AS. Padahal secara kasat mata kedua negara sangat saling bertolak belakang, terutama dalam masalah proyek nuklir yang dikembangkan Iran. Dijelaskan oleh The Independent, bahwa salah satu peserta dalam dialog informal itu adalah seorang mantan diplomat AS bernama Thomas Pickering. Dialah yang mengatakan bahwa ada satu delegasi mantan diplomat dan sejumlah pakar yang bertemu dengan para akademisi Iran, termasuk para konsultan politik di Iran, di sejumlah tempat, di luar Iran dan AS.Uniknya, pertemuan seperti itu ternyata bukan baru satu kali dua kali, tetapi sudah sering terjadi dalam lima tahun terakhir. (www.eramuslim.com)

Jaaadiii.. jangan percaya begitu aja ya.. ama yang namanya syi’ah rafidhah! banyak nipunya daripada benernya! bener2 musuh dalam selimut.. menggunting dalam lipatan! sejarah telah mencatat track record mereka dalam hal konspirasi menghancurkan umat Islam sejak jaman baheula! Waspadalah! Waspadalah!

12 04 2009
antirafidhah

Nomad wrote:

Bagi Hizbullah penawanan ini sebenarnya sebagai ALAT DIPLOMASI UTK MELAKUKAN PERTUKARAN TAWANAN GUNA MEMBEBASKAN WARGA LIBANON DAN PALESTINA YG DITAHAN ISRAEL. Namun yg selanjutnya terjadi benar – benar di luar dugaan Hizbullah. Israel ternyata membalasnya dgn mengerahkan kekuatan militer menyerang libanaon secara bertubi tubi.

Nah ini dia, apapun alasannya, Hizbullah telah memancing israel menyerang Lebanon dan mengorbankan begitu banyak rakyat tak berdosa.. dan anehnya lg hizbullah melontarkan roket2-nya dari pemukiman penduduk Lebanon selatan..

Kepada kaum Sunni mohon diperhatikan..

Surat Terbuka Kaum Sunni LEBANON SELATAN Untuk Umat Islam, AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH!!
Rabu, 16 Agustus 06

Di tengah dikuasainya bagian selatan Lebanon oleh kaum Syi’ah dan kesibukan seluruh dunia dengan perang di Lebanon, umat Islam seakan lupa dengan saudara-saudara mereka dari kaum Sunni di Lebanon Selatan yang terus menghadapi bombardir pasukan Zionis terhadap mayoritas kawasan mereka. Lebih ironi lagi, kawasan mereka itu telah dijadikan tempat berlindung kaum Syi’ah dan memuntahkan rudal-rudal dari tempat-tempat tinggal mereka. Tidak hanya sebatas itu, ketika bantuan kemanusiaan dari negara-negara Arab tiba, tidak sedikit pun dari bantuan itu yang sampai ke tengan mereka sebab Lebanon Selatan dikuasai milisi Syi’ah. Hezbollah, sayap miliiter Syi’ah berupaya memperkaya diri sendiri di kawasan itu dan hanya membagi-bagikan bantuan-bantuan kemanusiaan tersebut kepada sesama aliran mereka saja sedangkan aliran selain mereka tidak diperkenankan.!? Hal inilah yang mendorong para pemimpin dan ulama kaum Sunni di Lebanon Selatan untuk berteriak minta tolong kepada Dunia Islam dengan melihat penderitaan yang terus mereka alami baik sebelum serangan Zionis mau pun setelahnya.!!

Berikut cuplikan teks pesan mereka yang dititipkan kepada salah satu situs Islam terkenal di TIMTENG, ‘Mufakkira el-Islam’ yang menukilnya secara lengkap dengan harapan umat Islam dapat mengetahui hakikat kondisi saudara-saudara mereka sesama Ahlussunnah Wal Jama’ah di Lebanon Selatan:

“Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada penghulu para makhluk, Muhammad SAW, keluarga besar dan para seluruh para shahabatnya. Amma ba’du:

Lembaran-lembaran kecil ini kami tuliskan kepada mereka-mereka yang suka berbuat kebajikan dan kebaikan yang bilamana kami meminta disiramkan kedermawanan dan pemberian dalam kondisi yang sangat sulit ini, pasti mereka akan menyiramkannya kepada kami.
Hari ini, apa kiranya yang dapat diungkap pena untuk menggambarkan penderitaan dan musibah sehari-hari yang kami alami. Sesungguhnya baik bahasa, kata atau pun huruf, kami kira tidak akan mampu untuk menggambarkan tindak kriminal, pelanggaran, kezhaliman dan kekejian sehari-hari yang dialami keluarga kami. Wahai saudara-saudaraku! Kaum Sunni di Lebanon Selatan masih terus dalam kondisi terburuk setelah musuh memporak-porandakan mereka, para Thaghut memencarkan mereka dan para Bughat mengusir mereka. Tiada lagi kini burung pembawa mimpi indah kembali ke sarangnya, tiada lagi atap rumah yang masih tegak, tiada lagi kepala keluarga yang masih hidup dan tiada lagi sepenggal roti terpenuhi.

Sungguh, ini adalah peradaban milenium ke-3 yang menguasai Islam dan para penganutnya serta orang-orang tak berdosa lagi kelaparan yang diungsikan di malam yang gelap gulita, meninggalkan semua yang mereka miliki demi menyelamatkan nyawa mereka. Mereka terpencar-pencar di berbagai perkampungan Lebanon di antara sekolah-sekolah, masjid-masjid, kebun-kebun, tempat-tempat tidur, kaum kerabat dan teman.

Bagaimana perasaanmu wahai saudaraku, andai engkau melihat mereka dan mendengar betapa hajat, permintaan dan keluhan mereka hanya kepada Allah, sebab dalam satu kamar terpaksa tidur lebih dari 20 orang pengungsi, kebanyakan mereka adalah anak-anak dan kaum wanita. Mereka berhamparkan bumi dan berselimutkan langit.

Rintihan-rintihan para bayi yang kelaparan meneriakkan tangisan di waktu malam, di dada tiada makanan yang dapat disuapi dan di rumah tiada sesuatu yang mencukupi. Orang-orang sakit yang berada di tengah mereka menyentakkan hati dan membuat mata menangis. Mereka mati seribu kali sebelum seteguk obat sampai kepada mereka.!!

Belum lagi, di sana sudah menyebar penyakit menular yang menyerang mereka. Tidak ada makanan yang dapat menyumbat mulut dan meluruskan tulang rusuk. Apalagi pakaian, air, sabun dan kebutuhan primer lainnya.!?

Bantuan materil dan medis yang masuk ke Lebanon, alhamdulillah, banyak dan banyak sekali, terutama dari kerajaan Arab Saudi. Akan tetapi, sayang dan menyedihkan sekali, ia hanya seperti orang yang meniup abu atau berteriak di lembah nun jauh di sana.! Semua itu telah menutupi kebutuhan orang-orang yang bukan pemiliknya, dibagi-bagikan kepada orang-orang yang tidak berhak. Ia melewati tempat tinggal kaum Sunni lalu tercium baunya namun mereka tidak dapat menikmati rasanya.!!??

Kenapa? Karena ia sampai dan dibagi-bagikan kepada gerakan Amal, Hezbolah, partai modernis-sosialis, kelompok independen dan selain mereka. Mereka itu semua lah yang memanfa’atkannya untuk kepentingan pribadi dan jabatan politis mereka seakan kami berada di hari-hari kampanye pemilihan umum.

Sebab kami melihat sampul (kop) lembaga yang membantu itu dicopot dan ditempel dengan nama pasangan kampanye, partai, gerakan atau semisalnya. Ia tidak diberikan kecuali kepada mereka yang bertepuk tangan untuk mereka dan para kadernya. Di antara mereka ada yang menjualnya, ada yang menyimpannya dan ada pula yang mengkalkulasinya untuk jatah keluarganya.!? Sedangkan lembaga kami yang bergerak di bidang kegiatan amal dan bekerja dengan modal sukarela tidak pernah mengenal bantuan itu selain sekedar nama atau jatah saja.!?

Perkampungan kami di Lebanon Selatan-lah yang dibombardir dan dihancurkan sebagian besarnya. Kini perkampungan itu telah ambruk setelah ditinggalkan penduduknya dengan sengaja seperti kampung Etrun, Urqub, Syab’a, Duhairajat, Kufr Syuba, Mirwahin, Kufr Hammam, sebagian Marji’iyun dan lainnya. Semuanya telah menjadi pangkalan rudal-rudal Hezbollah yang dimuntahkan dari atap rumah-rumah dan di antara perkampungan-perkampungan Sunni. Karena itu, pesawat-pesawat tempur musuh, Zionis sengaja menjadikannya sebagai sasaran.! Belum lagi upaya menakut-nakuti penduduknya oleh Hezbollah dengan menipu mereka melalui gergaji dan bom-bom suara serta larangan kepada media massa untuk masuk dan mengambil gambar.!?

Suara-suara pun terdengar lantang dari rumah yang telah dicuri dan dirampas harta bendanya. Belum lagi, tindakan semena-mena, penghancuran dan pelecehan terhadap masjid-masjid sebagian shahabat dan orang-orang shalih.!!

Dulu, ketika para pengungsi dari kalangan Syi’ah dilindungi kaum Sunni di perkampungan-perkampungan itu, mereka menolak masuk ke sekolah atau masjid yang menggunakan nama shahabat yang agung atau salah satu dari para isteri Nabi SAW. Mereka juga menolak menerima bantuan yang memakai nama dan simbol Ahlussunnah.!!??
Kalau pun di antara mereka terpaksa menerima bantuan itu, simbol atau nama yang tertulis di bantuan itu dirobek terlebih dahulu. Mereka menuduh bahwa itu adalah harta yang buruk. Sebagaimana mereka itu adalah orang-orang yang terdidik dan terpelajar, kini kami melihat mereka juga tinggal di kamar-kamar mewah, makan menu yang paling nikmat serta mendapatkan seluruh fasilitas istirahat dan bersenang-senang yang menenteramkan hati mereka sebab suplai dari Iran selalu datang untuk mereka. Sementara penduduk kami, kalangan Sunni menderita kelaparan, kehausan dan terlarang mendapatkan apa-apa.

Sebenarnya, kaum Sunni tidak hanya terdesak di selatan saja, tetapi di seluruh Lebanon, khususnya setelah kaum Syi’ah Rafidhah mulai melakukan ekspansi pada dekade-dekade terakhir. Mereka telah membeli tanah-tanah milik kaum Sunni, mulai dari el-Jieh, lalu Shaida hingga Shur dan setelah Shur.

Demikian juga halnya di Beirut di kawasan el-Awza’i dan daerah pinggirannya hingga ke perbukitan el-Khiyath. Juga di al-Biqa’, sejak mulai dari Syatura hingga perbatasan Suriah. Belum lagi, masjid-masjid yang ‘dicaplok’ oleh mereka dengan ancaman dan ultimatum serta bahasa kekerasan seperti masjid Nabi Yunus di el-Jieh, masjid el-Wirdania di bukit Lebanon, masjid Bybras di el-Biqa’ dan masjid Umawi al-Kabir di Ba’labak.

Beberapa waktu lalu mereka telah menutup masjid-masjid tersebut padahal sejarah masjid-masjid itu yang demikian harum jelas-jelas mengindikasikan bahwa ia milik Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Mereka juga melakukan ‘serangan dakwah’ melalui keculasan dan kebohongan mereka. Yaitu dengan cara merayu banyak pemuda Sunni agar masuk ke barisan mereka seraya berupaya meyakinkan mereka melalui buku-buku, kaset-kaset dan kejadian-kejadian dusta dan palsu berkenaan dengan para shahabat terkemuka seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Juga dengan menuduh Umahatul Mukminin seperti Aisyah dan Khadijah dengan mencaci mereka secara terang-terangan. Terkadang merayu para pemuda Sunni tersebut dengan iming-iming materi atau jabatan di pemerintahan mengingat mereka memang memiliki koneksi yang kuat dalam hal ini.

Dendam dan kebencian mereka terhadap Ahlussunnah Wal Jama’ah hampir tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hal itu terasa sangat kentara sekali saat momen perayaan hari ‘Asyura’ dan masa-masa kritis seperti sekarang ini di mana mereka selalu melaknati musuh nomor dua mereka; Umar, Abu Bakar, Utsman, Aisyah dan Khadijah setelah mereka berhasil lolos dari musuh pertama mereka, Israel.!!??

Mereka selalu membawa motto ‘Siapa yang tidak bersama kami maka ia lawan kami’ ‘Kami adalah umat Islam Lebanon, bukan yang lainnya’ ‘Kami pengikut dan cucu Ali, Fathimah, al-Hasan dan al-Husain. Cucu mana saja yang bernisbat kepada selain mereka maka diragukan darah, keturunan dan nasabnya. Harta apa saja yang sampai ke tangan kami bukan dari Iran, maka ia juga harta yang disangsikan.’

Iran merupakan penopang utama kaum Syi’ah di Lebanon. Ekspansi mereka didukung oleh kekuatan materil, militer dan maknawi. Karena itu, mereka jauh lebih kuat dari kami sebab mereka tidak berbicara kecuali dengan bahasa kekerasan, harta, senjata, bekal dan amunisi.

Sedangkan kami, kaum Sunni, amunisi kami sedikit, harta dan dukungan kecil dan kami hampir tidak melihat ada bantuan selain belas kasihan Allah saja. Kebanyakan bantuan ini jatuh ke tangan mereka yang tidak berhak seperti yang kami sebutkan di atas. Bantuan ini ibarat tembakan kosong dan hampa yang hanya mengeluarkan bunyi namun tidak pernah mengenai sasaran.!!
Wahai saudara kami di kerajaan Arab Saudi dan saudara-saudara kami (di mana pun mereka berada-red), kami telah terdidik di Lebanon di atas prinsip loyalitas kepada Allah dan setia kepada kalian. Kami semua berharap banyak pada kalian sekali pun upaya untuk itu hampir terputus. Kami yakin kepada Rabb yang mendatangkan sebab dan musabab. Kalian adalah sebab kepercayaan, kemuliaan dan kejayaan kami. Kemarin, sejarah menuliskan sekian banyak lembaran sikap-sikap kalian yang demikian baik dan bersinar. Kami sangat menghargai jerih payah, antusias dan pengorbanan kalian terhadap saudara-saudara kalian di Lebanon yang tidak berkurang sedikit pun. Semoga Allah membalas kalian dengan sebaik-baik balasan.

Sekarang, kami kembali berteriak memanggil kalian sebab bahaya telah mengancam kami, kami sudah pada tingkatan paling kritis dan sangat memerlukan bantuan kalian. Karena setiap hari kami disakiti dengan penyiksaan dan pemusnahan yang bersifat teror dari musuh kami, Israel terkutuk. !!

Bangsa kami yang tegar dan gagah perkasa, baik kaum laki-laki, wanita, anak-anak, bayi-bayi yang menyusui mau pun kaum berisia lanjut bahkan janin yang ada di alam rahim berteriak untuk mendapatkan pemberian, kedermawanan dan bantuan kalian, dengan terus mendampingi kami, senasib dan sepenanggungan. ‘Dan Allah senantiasa akan menolong seorang hamba selama sang hamba menolong saudaranya.’ (hadits shahih-red)

Semoga Allah selalu menganugerahkan karunia-Nya kepada kalian, menjadikan Islam sebagai simpanan dan saudara-saudara kalian di Lebanon sebagai penopang dan tulang punggung. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarokaatuh”

Pesan ini telah didiskusikan dan berpindah dari satu group ke group lainnya di internet yang menukilnya dari situs ‘el-mufakkira.’ Sebelumnya, situs ini mempublikasiknnya dalam bentuk dokumen reportase mengenai kaum Syi’ah. Namun karena sangat diperlukan dan demikian penting, maka dimuat secara terpisah.

alsofwah.or.id

13 04 2009
dNoxs

Ternyata sumber ilmu disini tempatnya

Syukron.. :D

14 04 2009
falseto

@antirafidah:
“as-Sabaiyah menyatakan tentang keimaman Ali, dan bahwa hal itu adalah kewajiban(ketetapan) dari Alloh Azza Wa Jalla

Benar sekali bahwa Ali adalah Imam kaum muslimin setelah wafatnya Nabi saw, tapi itu bukan pernyataan “Sabaiyah”, tapi pernyataan Rasul saw sendiri. Dalilnya sangat buanyyak baik dari pihak Sunni maupun Syi’ah.. Entepun rasanya sudah tau banyak mengenai dalil2 ini. Hanya saja ente pake tafsir wahabi jadi engga nyambung. Salah satu ayat Al-Quran yg menyatakan ke-imamahan Ali adalah Surat Al-Maidah 55 dimana Nabi saw telah menjelaskan siapa figure penggantinya dlm hadis Ghadir Khum. Sekaligus ayat ini menegaskan kesinambungan kepemimpinan ilahiah sampai Hari Kiamat kelak. Artinya setiap masa selalu ada orang suci pilihan Allah yg merupakan hujjah-Nya atas makhluk, spy manusia tdk lagi mengajukan hujjah dan alasan terhadap Allah setelah diutusnya para Rasul (QS An-Nisa 165). Sementara ente dan ulama ente berpendapat bahwa kepemimpinan ilahiyah tdk ada lagi setelah Nabi saw wafat. Dg kata lain pengganti Nabi engga perlu maksum dan ditunjuk oleh Allah, tapi cukup dipilih/ditunjuk oleh umat sendiri. Syariat Islam yg ditinggalkan Nabi saw engga perlu dijaga dan dilaksanakan oleh org2 maksum. Siapa saja boleh jadi khalifah asal di dukung oleh mayoritas umat (persis spt pemilu). Akibatnya terbukti dlm sejarah Islam banyaknya para tiran/thogut menjadi penguasa umat Islam sejak dinasti Umayah s/d Abbasiyah.

Secara logika mustahil dong Allah SWT tdk memunculkan org2 suci pilihan-Nya yg sekaligus merupakan hujjah-Nya pada setiap masa smp Hari Kiamat. Padahal Allah menyatakan bahwa Dia menciptakan Alam Semesta ini bukan untuk main2, melainkan dg kebenaran.

@antirafidah:
Mereka terang-terangan mencaci Abu Bakar, Umar, Utsman serta sahabat-sahabat yang lain serta berlepas diri dari mereka. Dia berkata bahwa Ali memerintahkan hal itu. Maka Ali menangkapnya dan menanyakan tentang ucapannya itu, maka dia mengakuinya. Lalu Ali membunuhnya, maka manusia berteriak kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin apakah engkau membunuh seorang laki-laki yang mengaku sebagai pecinta Ahlul Ba’it, mengakuimu sebagai pemimpin dan berlepas diri dari musuh-musuhmu?’ Maka Ali mengusirnya ke Madain.”

Org2 mencaci Abu Bakar, Umar dan Usman pasti ada alasannya dan ada faktanya. Abu Bakar merampas kekhalifahan Ali dan menyakiti Fatimah dlm kasus tanah fadak. Umar terkenal sering menyakiti Nabi spt dlm kasus Perjanjian Hudaibiyah dan peristiwa hari Kamis. Sementara Usman sangat nepotism. Selain itu ketiga khalifah tsb banyak membuat hukum baru yg bertentangan dg Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya (baca: bid’ah). Dg fakta2 ini apa org tdk boleh mengecam 3 org itu ? Apa dalilnya ? Apa ada hadis yg menyatakan bahwa org tdk boleh menyakiti Umar shg apabila Umar disakiti maka sama dg menyakiti Nabi dan menyakiti Nabi sama dg menyakiti Allah ? Yg ane tau adalah bahwa apabila org menyakiti keluarga Nabi maka sama dg menyakiti Nabi dan menyakiti Nabi sama dg menyakiti Allah. Murkanya Fatimah sama dg murkanya Nabi dan murkanya Nabi sama dg murkanya Allah. Dg kata lain adanya kewajiban bagi umat islam untuk mencintai keluarga Rasul. Makanya Allah SWT mewajibkan umat untuk mencintai keluarga Nabi saw (lihat QS As-Syura 23). Kecintaan kpd keluarga Nabi merupakan dasar untuk mengikuti kepemimpinannya. Ente sendiri cinta keluarga Nabi saw atau sahabat ? Kalau membenci keluarga nabi itu namanya Nawashib. Kalau menolak kepemimpinan Abu Bakar, Umar dan Usman disebut Rafidah.

Nah, sangat jelas konsekuensi membenci sahabat karena perbuatan2 mereka dg membenci/menyakiti keluarga Nabi saw.

Jadi mana mungkin Ali membunuh org yg mencaci tanpa sebab.

@antirafidah:
Diriwayatkan dari segolongan ahli ilmu, bahwa Abdullah bin saba’ adalah seorang Yahudi yang masuk Islam lalu dia menjadi pendukung Ali. Dia mengatakan ketika masih berada dalam keyahudiannya tentang Yusa’ bin Nuri setelah Musa Alaihis Salam perkataan seperti ini. Lalu ketika dia masuk Islam dia mengatakan hal itu kepada Ali dan terang-terangan berlepas diri dari musuh-musuhnya (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan semua sahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam). Maka atas dasar inilah orang-orang luar Syi’ah mengatakan bahwa ajaran Rafidhah adalah dari paham Yahudi

He he he lagi2 dongeng IBnu Saba….
Benar sekali bahwa Yusa’ bin Nun adalah washinya Nabi Musa as. Kok mentang2 umat Nabi Musa as itu Bani Israil ente selalu menyamakan ajaran Nabi Musa as = Yahudi ? He he he….kok ente engga bisa sih membedakan ajaran para nabi umat bani israil yg pokok2nya sama dg ajaran Al-Quran dg ajaran yahudi yg telah menjadi Talmud/zionisme yg merupakan penyelewengan dari kitab2 sucinya yg asli ? Ente juga selalu menyamakan ajaran Daud as dg ajaran Yahudi. Jangan2 ente menuduh Nabi Musa dan Nabi Daud sbg Yahudi ?

Kembali ke masalah washi.
Mas, kalau ente menjadi bos di suatu perusahaan/organisasi suatu hari pergi ke luar kota, apa pergi begitu saja atau menunjuk salah satu stafnya untuk menjadi semacam pejabat harian smp anda kembali ? Jelas anda menunjuk salah satu wakil ente. Apalagi dg masalah umat yg lingkupnya lebih luas dari org perusahaan. Secara implicit Allah swt dan Nabi-Nya mengisyaratkan adanya seorang washi bagi setiap nabi. Seorang nabi akan menunjuk washi sbg penggantinya apabila hendak meninggalkan umatnya, agar umatnya tidak tercerai-berai sampai Allah SWT mengutus seorang Nabi lagi menggantikan posisinya.
Al-Mas’udi dlm kitabnya “Itsbat al-Washiyyah” V:70 memerinci washi2 nabi terdahulu :

1. Nabi Adam as mewasiatkan kpd Syiist (hibatullah)
2. Nabi Ibrahim as mewasiatkan pada Ismail as
3. Nabi Y’qub as mewasiatkan kpd Yusuf as.
4. Nabi Musa as mewasiatkan kpd Yusha bin Nun as
5. Nabi ‘Isa as mewasiatkan kpd Syam’un

Begitu pula Nabi Muhammad saw mewasiatkan kpd Ali bin Abi Talib.

@antirafidah:
syi’ah saat ini juga mengaku-aku sebagai pencinta ahlul bait.

He he he kalo Syi’ah dianggap ngaku2 pencinta Ahlul Bait, kenapa ente cinta mati benget sih sama para sahabat ? Kok yg ente pegang bukan wasiat Nabi saw dlm hadis Tsaqolain (Kitabullah dan Ithrah Ahlul Bait), tapi para sahabat ? He he he ngaku mencintai Imam Ali tapi selama 80 tahun melaknatnya. Ngaku mencintai Ahlul Bait tapi ketika Hasan diracun dan Husein dibantai, Sunni lebih membela Muawiyah dan Yazid yg dikatakan “berijtihad”? Kemana para sahabat ketika Bani Hasyim termasuk Nabi dan keluarganya diembargo total di Si’ib Abu Talib selama 3 bulan oleh kafir Quraisy ?
Ente mau pake hadis ini ? : “(Ikutilah) sunnahku dan sunnah khulafaur rosyidin yang di beri petunjuk sesudahku. Peganglah (kuat-kuat) dengannya, gigitlah sunnahnya itu dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang di adakan-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. (HR. Tirmidzi dan dia berkata : Hadits ini hasan shohih).

He he… bolehlah diadu dg tkt kesahihan hadis Tsaqolain yg smp ke tkgt mutawatir. Boleh aja Tirmidzi bilang hasan sahih. Tapi hadis hasan biasanya berasal dari hadis ahad. Kalau dilihat dari lafadznya jelas bertentangan dg hadis yg lebih sahih hadis Tsaqolain). Engga mungkin Nabi bersabda mencla mencle. Kemarin bersabda ikutilah “Kitabullah dan Ithrah Ahlul bait” besoknya “Ikutilah sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin”. Kecuali khulafaur rasyidin ini diartikan Ahlul bait.

@antirafidah:
Mereka adalah pengikut Abdullah bin Saba’. Mereka terang-terangan mencaci Abu Bakar, Umar, Utsman serta sahabat-sahabat yang lain serta berlepas diri dari mereka. (An-Naubakhti & Al-Qumi) – Cocok seperti ajaran syi’ah saat ini

He he he memang benar, wong mereka banyak membuat hukum2 yg bertentangan dg hukum2 yg ditetapkan Allah & Rasul-Nya. Tapi lebih tepatnya bukan mencaci tapi mengecam. Ini ada bedanya. Mencaci biasanya tanpa dasar. Tapi kalo mengecam biasanya ada dasarnya.

@antirafidah:
Dulu Ibnu Saba menuhankan Ali dg cara terang-terangan, dan pada riwayat no 40 di atas, Ibnu Saba mendakwakan sifat rububiyah kepada Ali :
لعن الله عبدالله بن سبا إنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين (Al-Majlisi)
hal ini mirip dengan apa yang diyakini syi’ah saat ini bahwa para Imam Syi’ah (termasuk Ali tentunya sbg Imam pertama syi’ah) memiliki sifat2 rububiyah sebagaimana yang dimiliki Allah, mari kita buka contohnya :
Al-Kafi jilid I, hal 261, Kulainy berkata, “Bab bahwasanya para imam mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan datang, serta bahwasanya tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi dari pengetahuan mereka.” Dia juga telah meriwayatkan dalam halaman yang sama dari sebagian sahabat-sahabatnya bahwa mereka mendengar Abu Abdillah ‘alaihis salam (yang dia maksud adalah Ja’far ash-Shadiq) berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui apa-apa yang ada di langit dan di bumi, aku mengetahui apa-apa yang ada di dalam surya dan aku mengetahui apa yang telah lalu serta yang akan datang.”

He he he…memang kalo yg menafsirkan kata2 tsb ulama Wahabi salafi, ya memang engga nyambung. Jangankan dg Syi’ah, dg Aswaja saja engga nyambung. Misalnya masalah ziarah kubur, karomah wali, tabaruk, tawassul, yasinan, tahlilan, apalagi tasauf dsb. Posisi ente dimana ? Wahabi atau Aswaja atau Wahabi yg ngaku Aswaja ?

Karena ente nyebut2 “Rubuyiah” diatas, maka ane sebelumnya mau ngasih tau dulu kekeliruan Wahabi dalam memahami “Tauhid Uluhiyah” dan “Tauhid Rububiyah”. Mereka menamakan “Tauhid Zat Allah” dg “Tauhid Rububiyah”. Sementara “Tauhid dalam Ibadah” mereka namakan “Tauhid Uluhiyah”. Arti “Uluhiyah” (Ketuhanan) tdklah identik dg “ma’budiyah. Adapun “Rububiyah” berarti sifat pentadbiran dan penguasaan terhadap alam raya. Ini tdk sama dg “khaliqiyah” (sifat penciptaan). Jadi yg menjadi perselisihan Nabi Muhammad saw dg kaum musyrikin bukanlah sekitar persoalan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta (Tauhid Khaliqiyah), wong iblis aja mengakui adanya Sang Pencipta, tetapi mengenai “pentadbiran”nya, seluruhnya atau sebagiannya.

Coba lihat QS 40:28 yg berbunyi :”Apakah kamu akan membunuh seorang laki2 karena dia mengatakan:”Rabbku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dg membawa keterangan2 dari Rabb kalian.”

Dalam kasus tsb jelas terlihat bahwa dakwah nabi Musa spt yg disampaikannya melalui ucapan:”Rabb-ku ialah Allah”, ialah MEMBATASI PERSOALAN PENTADBIRAN PADA ALLAH SWT SAJA, BUKAN YG BERKAITAN DG PERSOALAN PENCIPTAAN, karena kalau persoalannya dlm masalah penciptaan, maka nisacaya tdk ada perselisihan antara dia dan Fir’aun, sebab Fir’aun mengakui bahwa Allah adalah Sang Pencipta. Dari sini jelas lah maksud ucapan Fir’aun, “Aku adalah Rabb (pentadbir) kalian yng paling tinggi” (QS 79:24).

Jadi apa yg disebut syirik itu adalah kepercayaan akan adanya pentadbir/pengelola lain selain Allah SWT dan “Rububiyah” dlm “Tasyri’” (penetapan dlm hukum dan perundang-undangan) tdk sama dg “Rububiyah” dlm hal “Takwin” (penciptaan yg berhubungan dg alam semesta).

Sekarang persoalannya apakah keyakinan adanya kekuatan ghaib yg dimiliki seseorang di luar lingkup hukum2 alam harus dikaitkan dg keyakinan tentang adanya SIFAT KETUHANAN pada diri org tsb.? Al-Quran menegaskan bahwa kekuatan atau kekuasaan seseorang atas alam semesta ini, seluruhnya apalagi sebagiannya, sama sekali tidak ada kaitannya dg adanya SIFAT KETUHANAN dlm diri org tsb SELAMA HAL TSB BERLANGSUNG ATAS KEHENDAK DAN IJIN-NYA.

Contoh2 Al-Quran:
1. Nabi Yusuf as dan Kekuatan Gaib (QS 12 : 93)
2. Nabi Musa as dan Kekuasaan atas Alam (QS 2 : 60 dan QS 26:63)
3. Orang2 sekitar nabi Sulaiman as dan Kekuatan Gaib dan kekuasaan atas Alam (QS 27:39 – 40 )
4. Nabi Isa as dan Kekuatan Gaib (QS 3 : 49 & QS 5 : 110)

Seandainya iktikad adanya kekuasaan gaib pada diri seseorang harus disamakan dg iktikad adanya sifat ketuhanan padanya, niscaya semua makhluk malaikat itu adalah “tuhan”2 ditinjau dari sudut Al-Quran. Engga bisa kan ?

Oleh karena itu adanya perbuatan gaib spt itu sangat mungkin timbul dari pribadi2 bukan saja para Nabi tapi juga pribadi2 selain Nabi sbg hasil dari ketekunan ibdahnya yg sangat intens.

Mencegah dari perbuatan2 haram bahkan yg makruh disamping terus-menerus mengerjakan yg wajib bahkan yg sunnah, dg segala ketulusan dan keikhlasan, pasti memberi pengaruh amat besar dalam memperkukuh jiwa dan menyiapkannya utnuk memperoleh karunia dari Allah berupa kekuatan2 ruhaniah yg salah satunya mampu melampaui hukum2 alam.

Tapi ane maklum saja kalau ente menuduh Syi’ah menuhankan Ali atas dasar hadis tsb karena memang ente engga percaya bahwa ada org2 maksum setelah Nabi Muhammad saw. smp Hari Kiamat dan kebetulan ente merasa aneh dg karomah2 yg ada pada para Imam suci Ahlul Bait. Padahal di kalangan Aswaja ada juga pandangan yg menganggap Syekh Abdul Qodir Jailani mempunyai kemampuan spt itu yaitu dalam waktu yg sama bisa berada pada tempat yg berbeda.

@antirafidah:
Dia juga berkata dalam jilid I, hal 258, “Bab bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka akan mati dan mereka tidak akan mati kecuali dengan kemauan mereka sendiri.”

He he he….kalau ada org tau kapan dicabut nyawanya sering kejadian dan pada umumnya org tsb org yg taat kpd Allah dan tdk mesti seorang wali. Kalau ada org mati dg kemauannya sendiri ? Dalam konteks seorang Nabi dan wali atau bahkan org2 saleh mungkin saja. Artinya pernyataan ini bukan pada ajal yg ditentukan Allah itu sendiri, tetapi lebih pada ketinggian maqam jiwa mereka dan misi yg mereka emban dari Allah. Para anbiya dan auliya tdk diwafatkan kecuali mereka sdh menyelesaikan misi atau tugasnya. Perkataan “dengan kemauan mereka sendiri” jangan diartikan mereka spt Tuhan, tetapi dlm arti mereka setiap saat sangat siap untuk dijemput malaikat maut apalagi setelah tugas selesai. Beda dg kita yg harus “dipaksa”, karena maksiat melulu shg engga siap2.

@antirafidah:
Husain bin Abdul Wahab dalam kitabnya ‘Uyun al-Mu’jizat hal 28 bercerita bahwasanya, Ali pernah berkata kepada sesosok mayat yang tidak diketahui pembunuhnya, “Berdirilah -dengan izin Allah- wahai Mudrik bin Handzalah bin Ghassan bin Buhairah bin ‘Amr bin al-Fadhl bin Hubab! Sesungguhnya Allah dengan izin-Nya telah menghidupkanmu dengan kedua tanganku!” Maka berkatalah Abu Ja’far Maytsam, Sesosok tubuh itu bangkit dalam keadaan memiliki sifat-sifat yang lebih sempurna dari matahari dan bulan, sembari berkata, “Aku dengar panggilanmu wahai yang menghidupkan tulang, wahai hujjah Allah di kalangan umat manusia, wahai satu-satunya yang memberikan kebaikan dan kenikmatan. Aku dengar panggilanmu wahai Ali, wahai Yang Maha Mengetahui.” Maka berkatalah amirul-mu’minin, “Siapakah yang telah membunuhmu?” Lantas orang tersebut memberitahukan pembunuhnya.

He he he…jelas kan terbaca kalimat :”dengan izin Allah”. Jadi apa masalahnya ?

@antirafidah:
Sulaim bin Qois dalam kitabnya hal 245 , Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali, “Wahai Ali, sesungguhnya engkau adalah ilmu pengetahuan Allah yang paling agung sesudahku, engkau adalah tempat bersandar yang paling besar di hari kiamat. Barang siapa bernaung di bawah bayanganmu niscaya akan meraih kemenangan. Karena hisab (penghitungan amal) para makhluk berada di tanganmu, tempat kembali mereka adalah kepadamu. Mizan (timbangan amalan), shirath (jalan yang mengantarkan para hamba ke surga), dan al-mauqif (tempat berkumpulnya semua makhluk di hari akhir) semua itu adalah milikmu. Maka barang siapa yang bersandar kepadamu, niscaya akan selamat dan barang siapa yang menyelisihimu niscaya akan celaka dan binasa! Ya Allah, saksikanlah 3x!”
Karena Ali adalah washi dan Imam setelah nabi saw, maka kalau Nabi saw menyatakan spt itu memang benar sekali.

@antirafidah:
Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I, hal 30), Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku bersama Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api dan akulah yang menjadikan api itu dingin serta menyelamatkan. Aku juga bersama Nuh di kapalnya lantas akulah yang menyelamatkan dia dari ketenggelaman. Aku juga bersama Musa, lantas aku ajarkan Taurat kepadanya. Aku jugalah yang menjadikan Isa berbicara saat dia masih dalam buaian, kemudian kuajarkan Injil padanya. Akulah yang bersama Yusuf di dalam sumur, lantas kuselamatkan dia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani, kemudian aku hembuskan angin baginya.”

He he he pernyataan Ali diatas jelas sangat sulit dimengerti oleh org spt ente yg melihatnya dari kaca mata salafi wahabi yg cuma sebelah (kacamata bajak laut). Ali di situ bukan dalam pengertian Ali sbg makhluk biologis, tetapi Ali di situ sbg hakekat yg sama dg hakekat Nabi Muhammad saw.

@antirafidah:
Berkata Imam mereka Ayatullah al-Khomeini di dalam kitabnya Al-Hukumah al- Islamiyah hal 52, “Sesungguhnya para Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi dan kekuasaan terhadap alam semesta, di mana seluruh bagian alam ini tunduk terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.”

Perkataan Khomeini ini berkaitan dg karunia Allah yg diberikan kpd para2 hamba-Nya yg saleh daan terpilih shg Allah memberikan izin-Nya untuk memiliki kekuasaan /kekuatan spt yg sdh ane jelaskan diatas.

@antirafidah:
Lihatlah.. penuhanan yg dilakukan oleh Syi’ah thd Imam Ali dan imam lainnya.. jika anda berpikir dg hati nurani yg bersih dan tidak sedang taashub buta thd ajaran syi’ah, anda akan melihat kemiripan ajaran syi’ah sekarang dg yg diajarkan the founding father-nya yaitu si Ibnu Saba… sebenarnya msh bnyk lg.. tapi saya kira di atas sdh cukup utk membuktikan bahwa ajaran Syi’ah saat ini adalah turunan ajaran Ibnu Saba…

He he he….ente aja yg mau dibodohin sama salafi wahabi yg menganggap manusia hanya dari jasadnya saja, shg memandang ajaran Islam yg tinggi ini cuma sekedar kumpulan syariat yg mengatur lahiriah manusia saja. Mengartikan ayat2 atau hadis sebatas huruf2nya saja dan tdk menerima adanya kekuatan/kekuasaan gaib dg izin Allah pada makhluk-Nya yg terpilih spt para nabi dan wali. Salafi wahabi juga engga mampu memahami perbedaan antara Fir’aun yg mendakwakan dirinya sbg Rabb (Pentadbir) rakyatnya dg makhluk-Nya yg memiliki sifat rububiyah (Pentadbiran) sebagian atau seluruhnya karena atas kehendak dan izin Allah.

Benar pernyataan org bahwa kaum salafi wahabi memahami ayat2 cuma smp tenggorokan saja…..

Untuk Nomad terima kasih atas informasinya.

14 04 2009
falseto

@antirafidah:
imam Mahdi syi’ah akan menegakkan hukum keluarga Daud (yahudi) sesuai dg apa yg dikabarkan oleh kitab syi’ah sendiri dlm Ushul al-Kaafi (jilid I, hal 398)

He he he ternyata terjemahan di buku yg ane baca yg berjudul “Sejarah Amirul Mukminin dan Para Imam Ahlul Bait nabi” karangan Syaikh Al-Mufid, engga begitu. Di situ memang ada nama Nab Daud as tapi kalimat selengkapnya berbunyi :”Ketika al-Qaim dari keluarga Muhammad saw datang, dia akan menghakimi manusia dg kearifan Daud as.”

Atau riwayat lainnya dg redaksi yg lain:”Dia akan menghakimi manusia dengan pertimbangan/kearifan Daud as dan syariat Muhammad saw.”

He he he dasar salafi wahabi yg tukang pelintir….

He he he kalau ente pake rumus Nabi Musa+Nabi Daud = Yahudi=Ibnu Saba = Syi’ah, maka Nabi Musa + nabi Daud = Ibnu Saba ? Wah gawattt….!

14 04 2009
falseto

@antirafidah,

Ngapain repot2 amat sih mengutip sana mengutip sini untuk menilai apakah ajaran Syiah sama dg ajaran Yahudi. Buat aja perbandingan dari segi akidahnya/ajaran pokoknya dan kenyataan di lapangan. Cocok engga. Baru setelah itu memvonis.

Gitu aja kok repot……

14 04 2009
imem

wuakakakakakak… kirain jawaban si Falseto thd postingan antirafidhah akan ilmiah.. begitu panjang & lebar… eh ternyata… hoalahh… no comment dech… wuakakakakak…

14 04 2009
imem

Bukti-bukti yang diungkapkan antirafidhah sebenarnya sudah begitu jelas. orang yg sudah buta mata atinya aja yang mengingkarinya.. & hujjah mereka itu lemah bagaikan sarang laba-laba!

tetep semangat antirafidhah! basmi virus rofidhoh dari muka bumi! sebelum semuanya terlambat! Allahu Akbar!

14 04 2009
Gafar Suny

Aku ingin menjadi pengamal sunnah sejati. Aku berusaha belajar agama dengan serius dan terbuka. Aku ingin tetap jadi ahli sunnah. Tapi aku heran mengapa mazhab sunni tidak punya Imam sepanjang lebih kurang 14 abad sejak masa khalifah yang empat hingga sekarang. Masa iya ajaran Islam tidak dapat menghasilkan pemimpin selama ratusan tahun. Sunni…oh sunni mana bukti bahwa kalian punya konsep imamah yang benar terbukti dalam sejarah. Jangan cuma omdo dan kondo (konsep doang).

16 04 2009
Nomad

Nih, gw kasih jurus pamungkas bwt penggemar dongeng Abdullah bin Saba’! Gw kutip dari artikelnya Jenggot Naga di http://jakfari.wordpress.com/about/

Jenggot Naga, di/pada Desember 20th, 2008 pada 12:17 pm Dikatakan:
TO AHMAD DAUD YANG “pinter”. Jangan menggonggong terus, tapi baca yah !!

Allamah Murtadha Askari telah membuktikan bahwa cerita Abdullah ibn Saba’ yang terdapat dalam beberapa kitab Ahlusunah bersumber dari Al-Tabari (w.310H/922M), Ibn Asakir (w571H/1175M), Ibn Abi Bakr (w741H/1340M) dan al-Dhahabi (w747H/1346M). Mereka semua itu sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ dari satu sumber yaitu; Sayf ibn Umar at-Tamimi dalam bukunya “al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali”. [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba' wa digar afsanehaye tarikhi, Tehran, 1360 H].

Sayf adalah seorang penulis yang TIDAK DIPERCAYA oleh kebanyakan penulis-penulis kitab rijal seperti Yahya ibn Mu’in (w233/847H), Abu Dawud (w275H/888M), al-Nasai (w303H/915M), Ibn Abi Hatim (w327H/938M), Ibn al-Sukn (w353H/964M), Ibn Hibban (w354H/965M), al-Daraqutni (w385H/995M), al-Hakim (w405H/1014M), al-Firuzabadi (w817H/1414M), Ibn Hajar (w852H/1448M), al-Suyuti (w911H/1505M, dan al-Safi al-Din (w923H/1517M).

Abdullah ibn Saba’, kononnya seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Uthman, dikatakan seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke satu tempat lain untuk menghasut orang banyak supaya bangun dan memberontak menentang khalifah Uthman bin Affan. Sayf menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah sebagai pengasas ajaran Sabaiyyah dan pengasas madzhab ghuluww (sesat). Menurut Allamah Askari, pribadi Abdullah ibn Saba’ ini adalah hasil rekaan Sayf yang juga telah berhasil mencipta beberapa pribadi, tempat, dan kota lain hasil khayalannya. Dari cerita Sayf inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ tersebut. Beberapa orang yang terpengaruh dengan kisah bohong Sayf seperti: Said ibn Abdullah ibn Abi Khalaf al-Ashari al-Qummi (w301H/913M) dalam bukunya al-Maqalat al-Firaq, al-Hasan ibn Musa al-Nawbakhti (w310H/922M) dalam bukunya Firaq al-Shiah, dan Ali ibn Ismail al-As’ari (w324H/935M) dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin.

Jenggot Naga, di/pada Desember 20th, 2008 pada 12:52 pm Dikatakan:
TAMBAHAN UNTUK SI-TUKANG GONGGONG.

Kisah Abdullah Bin Saba’, tidak akan pernah kita jumpai dalam kitab-kitab Mu’tabar, karya tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibn al-Khayyat, al-Yakubi, al-Tabari, al-Masudi, Ibn Al-Athir, ibn Kathir atau Ibn Khaldun. Peranan yang dimainkan oleh Abdullah ibn Saba’ sebelum peristiwa pembunuhan Uthman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali AS tidak pernah disebut oleh para penulis yang terdahulu seperti Ibn Sa’d (w230H/844M0, al-Baladhuri (w279H/892M) atau al-Yaqubi. Hanya al-Baladhuri yang hanya sekali saja menyebut namanya dalam buku Ansab al-Ashraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali AS. Al-Baladuri berkata: ” Hujr ibn Adi al-Kindi, Amr ibn al-Hamiq al-Khuzai, Hibah ibn Juwayn al-Bajli al-Arani, dan Abdullah ibn Wahab al-Hamdani – ibn Saba’ datang kepada Imam Ali AS dan bertanya kepada Ali AS tentang Abu Bakar dan Umar…”. Ibn Qutaybah (w276H/889M) dalam bukunya al-Imamah wal-Siyasah dan al-Thaqafi (w284H/897M) dalam al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut. Ibn Qutaybah memberikan identitas orang ini sebagai Abdullah ibn Saba’. Sa’d ibn Abdullah al-Ashari dalam bukunya al-Maqalat wal-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah ibn Saba’ pengasas ajaran Saba’iyyah – sebagai Abdullah ibn Wahb al-Rasibi. Ibn Malukah (w474H/1082M) dalam bukunya Al-Ikmal dan al-Dhahabi (w748H/1347M) dalam bukunya al-Mushtabah ketika menerangkan perkataan ‘Sabaiyyah ‘, menyebut Abdullah ibn Wahb al-Saba’i, sebagai pemimpin Khawarij. Ibn Hajar (w852H/1448M) dalam Tansir al-Mutanabbih menerangkan bahawa Saba’iyyah sebagai ‘ satu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah ibn Wahb al-Saba’i’. Al-Maqrizi (w848H/1444M) dalam bukunya al-Khitat menamakan tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’ ini sebagai ‘Abdullah ibn Wahb ibn Saba’, juga dikenali sebagai Ibn al-Sawda’ al-Saba’i.’

Allamah Askari mengemukakan rasa keheranannya disaat tidak seorang pun dari para penulis tokoh Abdullah ibn Saba’ ini menyertakan nasabnya, satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peranan yang penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam. Tetapi dalam kisah Abdullah ibn Saba’, yang dikatakan berasal dari San’a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya. Allamah Askari yakin bahawa Ibn Saba’ dan golongan Sabai’yyah adalah satu cerita khayalan dari Sayf ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimanapun, nama Abdullah ibn Wahb ibn Rasib ibn Malik ibn Midan ibn Malik ibn Nasr al-Azd ibn Ghawth ibn Nubatah in Malik ibn Zayd ibn Kahlan ibn Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam Peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali AS.

Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu (Sayf bin Umar at-Tamimi) untuk melukiskan pribadi khayalan yang menjadi orang pertama menyebarkan Imamah Ali AS. Nama pribadi ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Uthman, menjadi dalang mencetuskan Perang Jamal, menyebarkan kesucian Ali AS, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali AS atau dihalau oleh Ali AS dan tinggal dalam buangan, selepas wafat Imam Ali AS. Abdullah bin Saba’ dinyatakan sebagai penyebar ajaran kesucian Ali AS, dan Ali tidak mati melainkan akan hidup kembali. Ia digambarkan sebagai pribadi yang paling vokal dan lantang di hadapan musuh-musuh Ali AS.

Menurut Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah adalah berasal-usul sebagai satu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab iaitu Bani Qahtan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak daripada pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Talib AS berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik al-Ashtar, Kumayl ibn Ziyad, Hujr ibn Adi, Adi ibn Hatim, Qays ibn Sa’d ibn Ubadah, Khuzaymah ibn Thabit, Sahl ibn Hunayf, Uthman ibn Hunayf, Amr ibn Hamiq, Sulayman ibn Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali AS ini. Justru Ziyad ibn Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai ‘Saba’iyyah.’ Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang juga terdiri dari kelompok-kelompok yang berasal dari Yaman. Selepas runtuhnya Bani Umayyah, istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu al-Abbas Al-Saffah, khalifah pertama Bani Abbasiyyah, ditujukan kepada golongan Syi’ah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah.

Walau bagaimanapun Ziyad maupun Al-Saffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai golongan yang sesat. Malahan Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Sayf ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang kononnya diasaskan oleh tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’.

Muhammad Bin Abdul Wahab Si-Buta dari Najd, dan Kerbaunya Si-Bin Baz beserta para budak sekte nan PRIMITIF ini. Telah menggunakan cerita khayalan ini, untuk mengkafirkan Syiah. Mereka (Wahabi) lebih tepat jika kita sebut “SI-PRIMITIF PENGGEMAR KHAYALAN” kikikikikikik

16 04 2009
falseto

@Nomad

Kelihatannya para penulis kisah dongeng Abdullah bin Saba ini punya 2 target :

Pertama, sang pendongeng ingin membangun opini bahwa Usman terbunuh karena hasutan kaum Saba’iyah, bukan karena perbuatan Usman yg menimbulkan kemurkaan para sahabat dan kaum Muslimin yg akhirnya memberontak dan membunuhnya.

Kedua, sang pendongeng ingin mengatakan bahwa akidah kaum Syi’ah tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam, ia adalah hembusan nafas jahat Abdullah bin Saba’ si yahudi jenius itu.

Salah satu ajaran yg berasal dari si Yahudi ini katanya konsep Washi’. Heh he he…rupanya antirafidah dan kelompoknya sangat asing dg konsep Washi ini. Padahal dalam Al-Quran banyak sekali ayat2 yg berkenaan dg wasiat spt Al-Baqarah 180; As-Syura 13; Al-An’am 144; 151-153; An-Nisa 131; Al-Ankabut 8; Lukman 14 dll. Pada prinsipnya ada 2 hal yg wajib diwasiatkan : 1. Harta dan 2. Non Fisik/Din. Termasuk dalam butir 2 ini adalah Kepemimpinan.

Pada umumnya org kalau mendengar kata wasiat hanya terpaku pada masalah harta. Tdk terpikir kalau dalam masalah imamahpun harus ada wasiat. Mereka lupa bahwa Abu Bakar pun menunjuk Umar sbg penggantinya secara wasiat, juga Muawiyah menunjuk anaknya Yazid secara wasiat. Makanya lucu masalah Washi’ dikaitkan dg ajaran Yahudi.

Masalah yg menjadi perselisihan antara Sunni dan Syi’ah bisa dirumuskan dlm pertanyaan2 sbb :

1. Siapakah yg berhak memimpin umat manusia setelah Rasul saw wafat ?
2. Siapakah yg mengangkat khalifah/pemimpin ?
3. Apakah – sbgmana Allah Swt mengangkat Rasul saw untuk menduduki jabatan kepemimpinan umat – Dia juga yg mengangkat dan menentukan para pengganti Rasul-Nya ?
4. Apakah ketentuan Ilahi dlm masalah ini hanya berlaku dg Nabi saja, sementara setelah beliau wafat masalah pengangkatan seorang khalifah nabi sepenuhnya diserahkan kpd pilihan masyarakat ?
5. Apakah masyarakat itu benar2 memiliki hak dalam masalah pemilihan pengganti Nabi ini atau tidak ?

Syi’ah meyakini bahwa persoalan imamah/khilafah ini merupakan urusan Allah. Hanya Dialah yg berhak memilih dan mengangkat hamba2Nya yg saleh untuk menduduki jabatan itu. Sementara Ahlu Sunnah meyakini bahwa perkara imamah ini setelah Rasul wafat sepenuhnya diserahkan kpd masyarakat Islam dan umat manusia. Bahkan sebagian tokoh mazhab ini menyatakan secara tegas bahwa apabila ada seorang merebut kedudukan imamah dg kekuatan pedang sekalipun, maka wajib atas umat Islam untuk tunduk, mengakui dan menaatinya.

Jelas pandangan ini akan membuka peluang bagi para thagut dan para penguasa rakus untuk mencapai ambisi kotornya itu dg cara menduduki kursi kepemimpinan umat dan meletakkan dasar2 untuk sekularisme (pemisahan antara agama dan dunia). Dan sejarah telah membuktikan hal itu mulai dari Dinasti Umayah s/d Dinasti Abbasiyah, bahkan sampai sekarang ini. Apakah sekarang ini ada suatu negara yg memberlakukan syariat Islam dimana para ulamanya memegang kekuasaan tertinggi ? Hanya di Iranlah saya lihat ulama memegang otoritas tertinggi dlm pemerintahan negara.

Sekali lagi lucu juga kalau washi’ dijadikan senjata untuk memukul atau menyamakan Syi’ah dg Yahudi. Apa kalau dlm syariat Yahudi ada khitan, berarti Islam=Yahudi ?

16 04 2009
antirafidhah

hehehe.. sorry ye.. ane ga mo nglayani komentar ente Falseto.. ga ilmiyah babar blas.. pdhal ane berharap aa komentar yg ilmiyah.. eh trnyata cuman gitu doank…

hehehe… tertawa dulu buat Nomad, dia bilang artikel yg dia kasih jurus pamungkas?? huaahahahahha…

Emang kisah Abdullah bin Saba’ cuma dari jalur Saif?? jgn seneng dulu bro.. banyak dari jalur lainnya nich ane nukilkan dari blog Abul-Jauzaa :

Adapun riwayat tentang ‘Abdullah bin Saba’, maka janganlah Anda mengesankan bahwa riwayat ‘Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh Raafidlah generasi awal hanya dibawakan oleh Saif saja. Tapi dibawakan oleh banyak perawi dengan sanad shahih menurut kritiria muhadditsiin. Oleh sebab itu, riwayat Saaif – yang ia dinyatakan oleh para imam sebagai pakar sejarah – tentang ‘Abdullah bin Saba’ diterima karena adanya dukungan dari riwayat lain yang menegaskan ketidakfiktifannya. Tentu saja hal ini berbeda dengan riwayat Saaif tentang tawassulnya Bilaal bin Al-Haarits – yang ini mengandung hukum syari’at – . Saya berikan beberapa contoh :

Ibnu ‘Asaakir meriwayatkan dari jalan Ibnu Abi Khaitsamah, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ’Abbad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari ’Ammar Ad-Duhni, ia mengatakan : Aku mendengar Abu Ath-Thufail berkata :

رأيت المسيب بن نجبة أتى به دخل على المنبر فقال ما شأنه فقال يكذب على الله وعلى رسوله

Aku melihat Al-Musayyib bin Najbah datang menyeretnya (yaitu Ibnu Saba’), sementara ’Ali sedang berada di atas mimbar. Lantas beliau (’Ali) berkata,”Ada apa dengannya ?”. Al-Musayyib berkata,”Dia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya” [HR. Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taarikh 29/7 dengan sanad hasan].

Ibnu ‘Asakir membawakan riwayat : Telah menceritakan kepada kami ’Umar bin Marzuq, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, dia berkata : ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ta’ala ’anhu berkata,

ما لي ولهذا الخبيث الأسود يعني عبد الله بن سبأ كان يقع في أبي بكر وعمر رضى الله تعالى عنهما

”Apa urusanku dengan al-hamil[6] yang hitam ini – yaitu ’Abdullah bin Saba’ – ?. Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar radliyalaahu ta’ala ’anhuma” [HR. Ibnu ‘Asakir dalam Taarikh Ad-Dimasyqi 29/7 dengan sanad shahih].

Dari jalan Muhammad bin ’Utsman bin Abi Syaibah, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-’Alla’ dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyas, dari Mujahid, dari Asy-Sya’bi, dia berkata : ”Orang pertama yang berbuat kedustaan adalah ’Abdullah bin Saba’”. Abu Ya’la Al-Mushili berkata dalam Musnad-nya : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Asadi, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Harun bin Shaalih, dari Al-Haarits bin ’Abdirrahman, dari Abul-Jalas, ia berkata : Aku mendengar ’Ali berkata kepada ’Abdullah bin Saba’ :

والله ما أفضى إلي بشيء كتمه أحدا من الناس ولقد سمعت يقول إن بين يدي الساعة ثلاثين كذابا وإنك لأحدهم

”Demi Allah, beliau tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatupun yang beliau sembunyikan dari manusia. Benar-benar aku mendengar beliau bersabda,’Sesungguhnya sebelum terjadinya kiamat ada tiga puluh pendusta’; dan engkau adalah salah satu dari mereka” [Atsar ini tsabit (kokoh), diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 1325, Abu Ya’la dalam Musnad-nya (449), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (982). Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz-Zawaaid (7/333) : “Para perawinya tsiqah (terpercaya)”].

Abu Ishaq Al-Fazari berkata : Dari Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za’ra’, dari Zaid bin Wahb : Bahwasannya Suwaid bin Ghafalah masuk menemui ’Ali radliyallaahu ’anhu di masa kepemimpinannya. Lantas dia berkata,”Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakar dan ’Umar (dengan kejelekan). Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua. Diantara mereka adalah ’Abdullah bin Saba’ dan dialah orang pertama yang menampakkan hal itu”. Lantas ’Ali berkata,”Aku berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan”. Kemudian beliau mengirim utusan kepada ’Abdullah bin Saba’ dan mengusirnya ke Al-Madaain. Beliau juga berkata,”Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku selamanya”. Kemudian beliau bangkit menuju mimbar sehingga manusia berkumpul. Lantas beliau menyebutkan kisah secara panjang lebar yang padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua (Abu Bakar dan ’Umar), dan akhirnya berliau berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta” [Atsar ini tsabit].

Telah memberikan hadits kepada kami Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari ’Ikrimah bahwasannya ia berkata :

أتى علي رضى الله تعالى عنه بزنادقة فأحرقهم فبلغ ذلك بن عباس فقال لو كنت أنا لم أحرقهم لنهي رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تعذبوا بعذاب الله ولقتلتهم لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم من بدل دينه فاقتلوه

”Didatangkan kepada ’Ali radliyallaahu ’anhu sekelompok orang zindiq, lantas beliau membakarnya. Kemudian berita itu sampai kepada Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma, maka beliau berkata : ”Seandainya aku yang menghukumnya, maka aku tidak akan membakarnya, sebab ada larangan dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ’Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah (yaitu api)’, akan tetapi aku akan membunuhnya karena sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ’Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ia”.

Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits ini berkata :

”Abul-Mudhaffar Al-Isfirayini mengatakan dalam Al-Milal wan-Nihal bahwa yang dibakar oleh ’Ali itu adalah orang-orang Rafidlah yangmengklaim sifat ketuhanan pada diri ’Ali. Dan mereka itu adalah Saba’iyyah. Pemimpin mereka adalah ’Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan keislaman. Dia membuat bid’ah berupa ucapan seperti ini. Dan sangatlah mungkin asal hadits ini adalah apa yang kami riwayatkan dalam juz 3 dari hadits Abu Thahir Al-Mukhlish dari jalan ’Abdullah bin Syuraik Al-’Amiriy, dari ayahnya ia berkata : Dikatakan kepada ’Ali : ’Disana ada sekelompok orang di depan pintu masjid yang mengklaim bahwa engkau adalah Rabb mereka’. Lantas beliau memanggil mereka dan berkata kepada mereka : ’Celaka kalian, apa yang kalian katakan ?’. Mereka menjawab : ’Engkau adalah Rabb kami, pencipta kami, dan pemberi rizki kami’. ’Ali berkata : ’Celaka kalian, aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah, maka Allah akan memberiku pahala jika Dia berkehendak. Dan jika aku bermaksiat, maka aku khawatir Dia akan mengadzabku. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan kemballah’. Tetapi mereka tetap enggan.

Ketika datang hari berikutnya, mereka datang lagi kepada ’Ali, kemudian datanglah Qanbar dan berkata,’Demi Allah, mereka kembali mengatakan perkataan seperti itu’. ’Ali pun berkata,’Masukkan mereka kemari’. Tetapi mereka masih mengatakan seperti itu juga. Ketiga hari ketiga, beliau berkata,’Jika kalian masih mengatakannya, aku benar-benar akan membunuh kalian dengan cara yang paling buruk’. Tetapi mereka masih berkeras masih menjalaninya. Maka ’Ali berkata,’Wahai Qanbar, datangkanlah kepadaku para pekerja yang membawa alat-alat galian dan alat-alat kerja lainnya. Lantas, buatkanlah untuk mereka parit-parit yang luasnya antara pintu masjid dengan istana’. Beliau juga berkata,’Galilah dan dalamkanlah galiannya’.

Kemudian beliau memerintahkan mendatangkan kayu bakar lantas menyalakan api di parit-parit tersebut. Beliaupun berkata,’Sungguh aku akan lempar kalian ke dalamnya atau kalian kembali (pada agama Allah)’. Maka ’Ali melempar mereka ke dalamnya, sampai ketika mereka telah terbakar, beliau pun berkata :

اني إذا رأيت أمرا منكرا – أوقدت ناري ودعوت قنبرا

Ketika aku melihat perkara yang munkar

Aku sulut apiku dan aku panggil Qanbar

Ini adalah sanad yang hasan.

[selesai perkataan Ibnu Hajar dalam Fathul-Baari].

Jadi, akui sajalah kalo syi’ah rafidhah itu founding fathernya adalah Ibnu Saba’.. mau mungkir gimana lagi tetep ga bisa… bnyk riwayat dari Sunni maupun Syi’ah yg merekam si do’i ini… akui sajalah… gitu aja kok repot…

17 04 2009
falseto

@antirafidah:
hehehe.. sorry ye.. ane ga mo nglayani komentar ente Falseto.. ga ilmiyah babar blas.. pdhal ane berharap aa komentar yg ilmiyah.. eh trnyata cuman gitu doank…

he he he….tau engga ente apa itu ilmiah ? he he tulisan ente spt itu masa musti dijawab secara ilmiah ?

Ane juga sebenernya sih menunggu tanggapan atas dalil2 yg ane paparkan diatas dlm konteks tuduhan adanya sifat2 rububiyah pada para imam Syi’ah. Ane ingin tau pendapat ente mengenai Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah. Persoalan inilah yg disalah tafsirkan oleh wahabi salafy. Tapi eh ternyata cuma dikasih riwayat2 Abdullah bin Saba lagi. He he he ente jangan menghindar dong.

@antirafidah:
Emang kisah Abdullah bin Saba’ cuma dari jalur Saif?? jgn seneng dulu bro.. banyak dari jalur lainnya nich ane nukilkan dari blog Abul-Jauzaa…

Hi hi hi… nyodorin hadis seribu jalur pun akan sia-sia untuk membuktikan bahwa si Ibnu Saba itu ada karena engga ada pembuktiannya yg benar2 obyektif. Coba buktikan dong bahwa ajaran si Saba ini murni berasal ajaran Yahudi. Yang disebut ajaran Yahudi apa ? Old Testament atau Talmud/Zionisme ? Tolong ajaran masing2 dijabarkan shg jelas gitu lho…! jangan cuma mereka-reka dan nyodorin hadis2nya melulu.

Kalau ente menyamakan hukum Nabi Daud dg hukum Yahudi ya keliru besar ! Hukum Yahudi adalah hukum Zabur atau Taurat yg telah bercampur aduk dg ide2 manusia (para pendeta Yahudi yg menyeleweng). Sementara hukum (pokok2 ajaran)Daud as dan Musa as yg masih asli ada atau tercakup dalam Al-Quran.

Yg lebih praktis dan tidak muter2 engga karuan silakan ente perbandingkan Rukun Iman ajaran Yahudi, Ibnu Saba, Syi’ah dan Sunni. Kan setiap isme/agama mesti ada ajaran pokoknya (akidah).

Nah kalau sudah terlihat perbandingannya, nanti kita cross check dg kenyataan kehidupan sehari-hari kaum Syi’ah. Cocok engga.

17 04 2009
wong cilik

luar biasa tangapan edy hendri, ilmiah banget.
tp udah ya si’i N suni jangan brantem (kan sama2 muslim).

28 07 2009
van rooklen

masalahnya….yang ini bukan sunni….ngakunya doang sunnah wal jamaah……mereka golengan WAHABI!!!!

nah…wahabi sampai kiamat gak akan berhenti bikin fitnah buat syiah.

jangan terkecoh…ini bukan antara syiah dan sunni. ini antara syiah dan wahabi pura pura sunni!!!

17 04 2009
wong cilik

wah2 kanak2kan N sngat tidak intelek, mending Mas amatullah irus kerjaannya aja ya, klo nga intelek ngak usah ganngu orang deh ya??
ntar murtad loh. kan merusak citra islam tuh

18 04 2009
braveheart

bedanya suni ama syiah jelas :

Syiah mencintai Rasulullah dan ahlul bayt-nya serta sahabat pilihan

Sunni mencintai Rasulullah, sahabatnya tanpa pandang bulu, musuh ahlul bayt Rasullullah, pembunuh cucu Rasulullah dan ulama wahabi, kok bisa ya? jawabannya, sunni emang fanatik buta dalam mencintai sahabat dan musuh Rasulullah&ahlul bayt-nya,

Ya Allah kasihanillah saudara-saudara kami yang Sunni, karena mereka tak menggunakan akal pikirannya dalam memahami sejarah…ammiiiin…

23 05 2009
abu muhammad

bismillah ,alhamdulillah wash sholaatu wassalaamu ‘ala rasuulillah wa ba ‘d, iya Ahlussunnah mencintai dan mamulikan para sahabat Rasulullah karena para sahabat Rasulullah adalah orang ornag yang yang telah menddapatkan ta’diyl dan pujian dari ALLah, tapi mereka tetapmanusia biasa yang tidak maksum dari kesalahan. Berbeda dengan orng ornag syiah rafidhah yang mencaci dan melechkan para sahabat tapi mengnggap para Imam mereka sebagai orang orng yang maksum,megetahui yang goib,imamah lebih mulia dari Nubuwwah , Agama macam apa ini yaa Hadaakallah ???? allaahummahdiniy waliBRAVEHEART .

19 04 2009
MaJad AMan

Artikel ini gak objektif…..

Gak layak untuk diposting…

Terlalu dini untuk mengeneralisasikan suatu masalah….

20 04 2009
Jhon.tj

Commentnya ga Objective, isinya cuma hasad dan dengki.

ga mau menerima kebenaran, yang ada cuma pemaksaan pembenaran.

22 04 2009
seno

Alhamdulillah, postingan saudara antirafidhah cukup argumentatif, nambah wawasan, tepat sasaran & membuat rofidhoh klepek-klepek :)

syukron katsiro

22 04 2009
Muhammad Faisal

Panjang kali..g sempat baca semua bro..

Aku g tau banyak tentang literatur, tapi aku ngeliat org2 anti-syiah ne jahat kali..
Mereka lebih mengagungkan sahabat daripada ke MahaSucian Allah, keterjagaan Al-Quran, dan kema’shuman Nabi SAAW.
Padahal dah jelas2 pd kejadian perjanjian Hudaybiyah..Nabi SAAW sampai marah besar karena banyak sahabat yang meragukan keputusan beliau SAAW..Sampai-sampai Allah menurunkan ayat khusus untuk itu (dalam Surat Al-Fath).

Klo menganggap semua sahabat ‘adl, sama aja merendahkan perjuangan Nabi SAAW..macam gampang kali jadi Nabi..semua perintah beliau pasti dilaksanakan oleh sahabat2 beliau SAAW. Pantas banyak umat Islam yang kurang menghargai perjuangan beliau SAAW..
Beratnya perjuangan beliau dan yang membuat beliau SAAW susah bukan orang-orang kafir yang jelas2 menentang beliau – ribuan musuh pun beliau SAAW ga gentar – tapi “melawan” musuh dalam selimut, semasa hidup atau sepeninggal beliau..

Lagi..Dalam peristiwa Uhud. Kebayang ga sih gmn bejat2nya segelintir sahabat. Ga mikir keselamatan pemimpinnya cuma karena gila harta rampasan perang.. Masih mau nyamaratakan sahabat?

Yang logis aja Mas2 yg anti-syiah. Ini bukan dongeng, yang bim salabim, bisa happy ending. Masyarakat yang jahil bisa tercerahkan semuanya begitu beliau SAAW wafat. Yang ada tinggal org yg benar2 kafir dan muslim..hitam putih. Pdhl, klo di antara org kafir jelas..mereka ingkar terhadap Nabi SAAW dan ajaran beliau. Ngapain juga ada yg pura-pura kafir di antara mereka. Nah di antara yang muslim, yang masuk kategori sahabat, pasti level imannya beda2 lah.

Lagi..penganiayaan thd Fathimah Az-Zahra oleh Umar b Khattab masalah baiat thd Ab Bakar, yang sudah disepakati semua ahli sejarah kejadiannya. Pilihannya: menyalahkan Umar ato merendahkan (menyalahkan) putri Nabi SAAW? Klo masih bela Umar sama saja merendahkan (menyalahkan) Fatimah Az-Zahra. Na’udzubillah. Jadi yang mejelek2kan sahabat sebenarnya siapa? Wajar kan klo akal kita menjelekkan yang emang jelas2 jelek.

Macam mana supaya org2 ni mau ngerti ya.. G usah banyak ngutip2 pendapat pun, yang masih bisa diperdebatkan dan TIDAK WAJIB kita percayai (cuma Al-Quran dan Al-Ithrah yg WAJIB diikuti) – dari kejadian-kejadian yang terjadi semasa hidup Nabi SAAW dan tidak lama sepeninggal beliau – yang disepakati SEMUA MUSLIM, cukup dengan make akal aja, kita bisa ngambil kesimpulan: tidak semua sahabat ‘adl..

Syiah menjelekkan yang jelek..dan memuliakan yang baik. Sangat objektif.

25 04 2009
Nomad

Nomad is back….

K’lo saya runut kebelakang, ketika dekade 90-an, saya sekolah di sekolah sd dan smp islam sunni-Muhammadiyah. Di sekolah tsb tdk pernah tuh terlontar kata 2x Ahlul Bait dari guru saya, apalagi keutamaannya. Demikian jg penceramah di mesjid2x sunni, pesantren2x kilat pengajian dll yg saya ikuti jarang disebut kata Ahlul Bait apalagi keutamaannya. Baru setelah perang Irak 2003 yg dilanjutkan dgn isu sektarian di sana, saya menemukan buku (ditulis sunni tp anti syi’ah) yg berjudul Hasan dan Husein Penghlu Pemuda Surga. Baru kali ini gw denger org sunni menceritakan sejarah Hasan dan Husein dari lahir sampai syahid dan ngaku cinta Ahlul Bait pula (tumben),tp tentu saja diisi dgn pandangan yg anti si’ah. Setelah itu saya mendengar beberapa perdebatan sunni vs si’ah sampe skrg, ulama 2 sunni dan media sunni yg anti si’ah juga ikut ngaku2x cinta Ahlul Bait. Hehehe koq baru skrg yah ngakunya dari dulu kemana ajah,sdg Taqiyyah?

Trus masalah Abdullah bin Saba’, sampe skrg ini data yg gw dpt itu lemah. Abdullah bin Saba’ ga pernah dijelaskan NASABNYA. Mestinya (k’lo si do’i ini ada) pasti ada keterangan siapa ibunya, kakeknya, anaknya, istrinya, lahir dimana, meninggal di mana, ada ga kuburannya dll. Tp OKELAH gw sbg Si’ah terima Abdullah bin Saba’ adl NYATA (mengalah mode: on). Tp apakah kami berPEGANG TEGUH kpd dia ? Apakah SEKILAS serupa tp tak sama ? Lantas yg Sunni/Wahabi/Salafi, apakah kalian tahu siapa yg mendirikan mazhab kalian? Ajaran kalian itu ada kemiripan dgn ajaran Mu’awiyah (si anak Hindun), yaitu menyembunyikan keutamaan Ahlul Bait. K’lo mendengar kata Ahlul Bait apalagi keutamannya dadanya kalian terasa sesak dan berusaha menyamarkan atw merubah definisi apalagi keutamaaannya. Buktinya ya pengalaman gw td. K’lo Sunni/Wahabi/Salafi menuduh Syi’ah adl pengikut Abdullah bin Saba/Yahudi, apakah itu lebih jelek dibandingkan dgn menjadi pengikut Hindun si Kanibal ?
Ngaca dong !!!

25 04 2009
sandi

Kalo saya mah sunni tetep is the best, ga mencela sahabat maupun ahlul bait, sunni-lah yang paling baik akhlaknya terhadap orang-orang yang dekat dengan Nabi Shalallahu Alaihi Wassallam..

mereka (sahabat & ahlul bait) adalah orang2 yang dipilih oleh Allah untuk menemani Rasul-Nya dalam berjuang menegakkan risalah-Nya dengan mengorbankan jiwa, raga, harta-benda dan keluarga mereka demi menegakkan ka