ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ (Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang Pertama)

18 05 2009

Nama dan Nasab Beliau Radhiallahu ‘Anhu

Nama Abu Bakar ash-Shiddiq yang sesungguhnya adalah Abdullah bin Abu Quhafah – Usman – bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr al-Quraisy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai, kakek yang keenam.

Dan ibunya adalah Ummu al-Khair binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim. Ayahnya diberi kuniyah (sebutan panggilan) Abu Quhafah.

Dan pada masa jahiliyyah Abu Bakar ash-Shiddiq dijuluki Atiq, karena wajahnya yang cakep dan gagah (sebagaimana hal itu dikatakan oleh Ibnu Ma’in, al-Laits bin Sa’ad dan juga oleh putrinya Aisyah radhiallahu ‘anhum). Imam Thabari menyebutkan dari jalur Ibnu Luhai’ah bahwa anak-anak dari Abu Quhafah tiga orang, pertama Atiq (Abu Bakar), kedua Mu’taq dan ketiga Utaiq.

Mus’ab bin az-Zubair berkata, ‘Segenap ummah telah ijma’ tentang gelar yang diberikan kepada beliau radhiallahu ‘anhu dengan ‘Ash-Shiddiq’ adalah karena beliau selalu membenarkan apa yang diberitakan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam’.

Kelahiran dan Pertumbuhan Beliau

Beliau dilahirkan dua tahun beberapa bulan setelah lahirnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tumbuh di kota Makkah, dan beliau tidak meninggalkan kota tempat tinggalnya kecuali untuk tujuan berdagang. Beliau adalah penghulu suku Quraisy, dan ahlu syura diantara mereka pada zaman jahiliyah.

Dan beliau juga terkenal sebagai orang yang meninggalkan khomr pada masa jahiliyah, ketika beliau ditanya :’Apaka engkau pernah meminum khomr dimasa jahiliyah ? beliau menjawab : A’udzubillah (aku berlindung kepada Allah), kemudian beliau ditanya lagi, ‘Kenapa?’ , beliau menjawab : aku menjaga dan memelihara muru’ahku (kehormatanku), apabila aku minum khomr maka hal itu akan menghilangkan kehormatan dan muru’ahku. (lihat : Tarikh al-Khulafa’, hal: 32)

Karakter Fisik dan Akhlak Beliau

Abu Bakar adalah orang yang bertubuh kurus, berkulit putih. ‘Aisyah menerangkan karakter bapaknya, “Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggangnya (sehingga kainnya selalu turun dari pinggangnya), wajahnya selalu berkeringat, hitam warna matanya, berkening lebar, tidak bisa bersaja’ dan selalu mewarnai jenggotnya dengan innai maupun katam.”

Begitulah karakteristik fisik beliau. Adapun akhlaknya, beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, selalu memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar, memiliki azimah (keinginan keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakal kepada Allah dan yakin dengan segala janji-Nya, bersifat wara’ dan jauh dari segala syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi Allah, serta lembut dan ramah, semoga allah meridhainya. Akan diterangkan setelah ini hal-hal yang membuktikan sifat-sifat dan akhlaknya yang mulia ini.

Kisah Keislaman Beliau

Abu Bakar adalah lelaki yang pertama kali memeluk Islam, walaupun Khadijah lebih dahulu masuk Islam daripada beliau, adapun dari golongan anak-anak, Ali yang pertama kali masuk Islam, sementara Zaid bin Haritsah adalah yang pertama kali memeluk Islam dari golongan budak.

Ternyata keislaman Abu Bakar paling banyak membawa manfaat besar terhadap Islam dan kaum muslimin dibandingakn dengan keislaman selainnya, karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta kesungguhannya dalam berdakwah. Dengan keislamannya maka masuk mengikutinya tokoh-tokoh besar yang masyhur seperti Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhum.

Di awal keislamannya beliau menginfakkan di jalan Allah apa yang dimilikinya sebanyak 40.000 dirham, beliau banyak memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keislamannya di jalan Allah, seperti Bilal radhiyallahu anhu. Beliau selalu mengiringi Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam selama di Makkah, bahkan dia lah yang mengiringi beliau ketika bersembunyi di dalam gua dalam perjalanan hijrah hingga sampai ke kota Madinah. Di samping itu beliau juga mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rosulullahu shalallahu ‘alaihi wa sallam baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota Makkah, Hunain maupun peperangan di Tabuk.

Istri-Istri dan Anak-Anak Beliau

Abu Bakar pernah menikahi Qutailah binti Abd al-Uzza bin Abd bin As’ad pada masa jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma’.

Beliau juga menikah dengan Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin Dahman dari Kinanah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan ‘Aisyah.

Beliau juga menikah dengan Asma’ binti Umais bin ma’add bin Taim al-Khatts’amiyyah, dan sebelumnya Asma’ diperistri oleh Ja’far bin Abi Thalib. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah bin Abu Bakar, dan kelahiran tersebut terjadi pada waktu haji Wada’ di Dzul Hulaifah.

Beliau juga menikah dengan Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Zuhair dari Bani al-Haris bin al-Khazraj.

Abu Bakar pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau datang ke Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih terus berdiam dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh hingga Rasullullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah shalallahu ‘alihi wa sallam. Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Khultsum setelah wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Beberapa Keutamaan Beliau

Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu sangat banyak sekali dan telah dimuat dalam kitab-kitab sunnah, kitab tarajim (biografi para tokoh), maupun kitab-kitab tarikh, namun disni akan dinukilkan sebagian apa yang telah di ringkas oleh Doktor Muhammad as-Sayyid al-Wakil dalam kitabnya “Jaulah Tarikhiyah fi ‘asri al-khulafa’ ar-Rasyidin”, dan beberapa kitab lainnya, diantaranya adalah :

*Para Ulama Ahlus Sunnah telah ijma’ bahwa manusia termulia setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Khaththab, kemudian utsman bin Affan, kemudian ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian sepuluh orang sahabat yang di khabarkan masuk surga, kemudian seluruh sahabat yang mengikuti perang Badar (ahlu badar), kemudian para sahabat yang mengikuti perang Uhud, kemudian para sahabat yang mengikuti Ba’iat Ridwan (ahlu bai’at), kemudian sahabat-sahabat lainnya yang tidak termasuk sebelumnya.

* Imam al-Bukhari meriwayatka dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata, ‘Kami memilih orang-orang di masa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami memilih Abu Bakar kemudian Umar, kemudian Utsman’. Dan Imam Ath-Thabari menambahkan di kitabnya ‘Al-Kabir’ maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui hal itu dan berkata : “Tidaklah seorang nabi pun kecuali ia memiliki dua wazir (pendamping) dari penduduk langit dan dua wazir dari penduduk bumi, adapun pendampingku dari penduduk langit adalah malaikat Jibril dan Mika’il, sedangkan pendampingku dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan Umar”.

* Dan Abu Ya’la menluarkan dari ‘Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Jibril baru saja datang kepadaku, maka aku berkata : wahai Jibril khabarkan kepada saya tentang keutamaan Umar bin Khaththab, ia (Jibril) menjawab, ‘kalaulah aku berbicara tentang keutamaan Umar selama – lamanya Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya – niscaya aku belum selesai dari membicarakan keutamaan Umar, dan sesungguhnya keutamaan-keutamaan yang dimiliki Umar hanyalah satu hasanah (kebaikan) dari kebaikan-kebaikan yang dimiliki Abu Bakar”.

* Beliau Adalah Sahabat Yang Menemani Rasulullahu ‘alaihi wa sallam di Gua ketika Hijrah. Allah berfirman dalam surat at-Taubah ayat 40 yang artinya, “Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua , diwaktu dia berkata kepada temannya, janganlah berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.”(at-Taubah: 40). ‘Aisyah, Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan , “Abu Bakarlah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”

* Diriwayatkan dari al-Barra’ bin Azib, ia berkata, “Suatu ketika Abu Bakar pernah membeli seekor tunggangan dari Azib dengan harga 10 dirham, maka Abu Bakar berkata kepada ‘Azib, Suruhlah anakmu si Barra agar mangantarkan hewan tersebut.” Maka ‘Azib berkata, “Tidak, hingga engkau menceritakan perjalananmu bersama Rosulullah ketka keluar dari Makkah sementara orang-orang musyrikin sibuk mencari-cari kalian.”

* Abu Bakar berkata, “Kami berangkat dari Makkah, berjalan sepanjang siang dan malam hingga datang waktu dhuhur, maka aku mencari-cari tempat bernaung agar kami dapat istirahat di bawahnya, ternyata aku melihat ada batu besar, maka segera kudatangi dan terlihat di situ ada naungannya, maka kubentangkan tikar untuk Nabi shalallahu ‘alihi wa sallam, kemudian aku katakan kepadanya,”Istirahatlah wahai Nabi Allah.” Maka beliaupun beristirahat, sementara aku memantau daerah sekitarku, apakah ada orang-orang yang mencari kami datang mengintai. Tiba-tiba aku melihat ada seorang penggembala kambing sedang mengiring kambingnya kebawah teduhan di bawah batu tersebut ingin berteduh seperti kami, maka aku bertanya padanya, ”Siapa tuanmu wahai budak?” Dia menjawab, “Budak milik si Fulan, seseorang dari suku Quraisy.” Dia menyebut nama tuannya dan aku mengenalnya kemudian kutanyakan, “Apakah kambingmu memiliki susu?” Dia menjawab , “Ya” lantas kukatakan, “Maukah engkau memeras untuk kami?” Dia menjawab, “Ya” Maka dia mengambil salah satu dari kambing-kambing tersebut, setelah itu kuperintahkan dia agar membersihkan susu kambing tersebut terlebih dahulu dari kotoran dan debu, maka dia menepuk kedua telapak tangannya dan dia mulai memeras susu, sementara aku telah mempersiapkan wadah yang di mulutnya dibalut kain menampung susu tersebut, maka segera kutuangkan susu yang telah diperas itu ke tempat tersebut dan kutunggu hingga bawahnya dingin, lalu kubawakan kehadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan ternyata beliau sudah bangun, segera kukatakan padanya, “Minumlah wahai Rasulullah.” Maka beliau mulai minum hingga kulihat beliau telah kenyang, setelah itu kukatakan padanya, “Bukankah kita akan segera kembali ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya!” akhirnya kami melanjutkan perjalanan sementara orang-orang musyrik terus menerus mencari kami, tidak satupun yang dapat menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju’syam yang mengendarai kudanya, maka kukatakan pada Rasulullah, “Orang ini telah berhasil mengejar kita wahai Rasulullah,” namun beliau menjawab, “Jangan khawatir, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Diriwayatkan dari Anas dari Abu Bakar radhiyallahu anhu beliau berkata, “Kukatakan kepada nabi shalallahu ‘alihi wa sallam ketika kami berada dalam gua, ‘Andai saja mereka (orang-orang musyrikin) melihat ke bawah kaki mereka pastilah kita akan terlihat.’ Rasul menjawab, “Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia sementara Allah menjadi yang ketiga.”

Masa Kekhalifahan Beliau

Dalam riwayat al-Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu` anha, bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang berada di daerah Sunh. Beliau turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah Rasulullah yang ditutupi dengan kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata : “demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah meninggal.”Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang. Maka Abu Bakar berkata : “duduklah wahai Umar!” Namun Umar enggan untuk duduk. Maka orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata : “Amma bad`du, barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah telah berfirman :

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)

Ibnu Abbas radhiyallahu` anhuma berkata : “demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang menerima ayat Al-Qur`an itu, tak seorangpun diantara mereka yang mendengarnya melainkan melantunkannya.”

Sa`id bin Musayyab rahimahullah berkata : bahwa Umar ketika itu berkata : “Demi Allah, sepertinya aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku sudah tahu bahwa nabi memang sudah meninggal.”

Dalam riwayat al-Bukhari lainnya, Umar berkata : “maka orang-orang menabahkan hati mereka sambil tetap mengucurkan air mata. Lalu orang-orang Anshor berkumpul di sekitar Sa`ad bin Ubadah yang berada di Saqifah Bani Sa`idah” mereka berkata : “Dari kalangan kami (Anshor) ada pemimpin, demikian pula dari kalangan kalian!” maka Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarroh mendekati mereka. Umar mulai bicara, namun segera dihentikan Abu Bakar. Dalam hal ini Umar berkata : “Demi Allah, yang kuinginkan sebenarnya hanyalah mengungkapkan hal yang menurutku sangat bagus. Aku khawatir Abu Bakar tidak menyampaikannya” Kemudian Abu Bakar bicara, ternyata dia orang yang terfasih dalam ucapannya, beliau berkata : “Kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri.” Habbab bin al-Mundzir menanggapi : “Tidak, demi Allah kami tidak akan melakukannya, dari kami ada pemimpin dan dari kalian juga ada pemimpin.” Abu Bakar menjawab : “Tidak, kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri. Mereka (kaum Muhajirin) adalah suku Arab yang paling adil, yang paling mulia dan paling baik nasabnya. Maka baiatlah Umar atau Abu Ubaidah bin al-Jarroh.”Maka Umar menyela : “Bahkan kami akan membai`atmu. Engkau adalah sayyid kami, orang yang terbaik diantara kami dan paling dicintai Rasulullah.” Umar lalu memegang tangan Abu Bakar dan membai`atnya yang kemudian diikuti oleh orang banyak. Lalu ada seorang yang berkata : “kalian telah membunuh (hak khalifah) Sa`ad (bin Ubadah).” Maka Umar berkata : “Allah yang telah membunuhnya.” (Riwayat Bukhari)

Menurut `ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibai`at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata : “sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.” Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata : “tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam.” Terbukti, Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.

Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umroh, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. beliau memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Beliau ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah (Ayahnya Abu Bakar) : “ini putramu (telah datang)!”

Maka Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Beliau turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata : “wahai ayahku, janganlah anda berdiri!” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.

Setelah itu datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru, Ikrimah bin Abi Jahal, dan al-Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar : “Assalamu`alaika wahai khalifah Rasulullah!” mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata : “wahai Atiq (julukan Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!” Abu Bakar berkata : “Wahai ayahku, tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah.” Lalu Abu Bakar berkata : “Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan dzalim?” Ternyata tidak ada seorangpun yang datang kepada Abu Bakar untuk melapor sebuah kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.

Wafat Beliau

Menurut para `ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah) . Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Sumber :
Lihat : Tarikh al-Khulafa’, Jaulah Tarikhiyah fi ‘Asri al-Khulafa’ ar-Rasyidin karya DR. Muhammad as-Sayyid al-Wakil, Al-Bidayah wan Nihayah, Masa Khulafa’ur Rasyidin Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir. – Shifatush-Shofwah karya Ibnul Jauzi. Dan lainnya


Tindakan

Information

32 tanggapan

28 05 2009
falseto

@abuthalhah:
Para Ulama Ahlus Sunnah telah ijma’ bahwa manusia termulia setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Khaththab, kemudian utsman bin Affan, kemudian ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian sepuluh orang sahabat yang di khabarkan masuk surga, kemudian seluruh sahabat yang mengikuti perang Badar (ahlu badar), kemudian para sahabat yang mengikuti perang Uhud, kemudian para sahabat yang mengikuti Ba’iat Ridwan (ahlu bai’at), kemudian sahabat-sahabat lainnya yang tidak termasuk sebelumnya.

Hm…Ahlu Sunnah boleh2 saja menentukan siapa manusia yg paling utama/mendapat hidayah setelah Nabi saw. Tapi yg jelas hanya Allah saja yg paling mengetahui siapa yg paling utama/mendapat petunjuk di sisi-Nya (QS 16 : 125-128). Setelah Allah Swt, maka hanya Nabi saw saja yg lebih mengetahui siapa diantara para sahabat yg paling utama.

31 05 2009
ubaidullah

Iya Ahlussunnah tidak menetapkan fadhilah dan keutamaan siapapun (termasuk sahabat) kecuali berdasarkan informasi dari Allah dan RasulNya. Tidak seperti orang orng yang beragama syiah ,mereka meyakini Imam imam mereka lebih afdol dari para sahabat, maksum,mengetahui yang ghoib,

30 07 2009
silkur

Ck….ck….ck…. Hebat ya ulama ahlu sunnah dapat informasi langsung dari Allah dan rasulnya……
hebat….. Hebat……
Cuma sayangnya 1…… Otaknya gak di pakai untuk membedakan mana yang datang benar dari rasul, mana yg datang dari tukang tukang tipu yang ngakunya dari rasul.

Sayang atuh…..punya akal, pergunakan dong!!!

28 05 2009
falseto

@Abuthalhah:
“Dalam riwayat al-Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu` anha, bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang berada di daerah Sunh.”

Riwayat Bukhori diatas lebih menguatkan pendapat bahwa Nabi tidak pernah memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam salat pada saat Nabi sakit berat, karena pada saat yg sama Abu Bakar berada di rumahnya di Sunh.

Abu Bakar dikatakan sbg Khalifah Rasulullah artinya “Pengganti Rasulullah”. Konsekwensinya figur pengganti harus yg setara dg Rasulullah. Minimal dalam hal kemaksumam. Kalau tdk, maka namanya bukan pengganti/khalifah rasulullah, tapi cukup khalifah saja, karena Khalifah Rasulullah harus memenuhi syarat yg ditetapkan dalam QS Al-Baqarah 124 dimana Allah menetapkan bahwa Imamah tdk mencakup org2 zalim (termasuk mantan penyembah berhala).

31 05 2009
ubaidullah

semoga Allah melaknat dan menghinakan orang yang melaknat sahabat dan kekasih Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.

17 07 2009
emhafi

Kok jadi main laknat begini, pdhal tadinya aq kira ini majelis ilmiah. ato mungkin krn kebiasaan kali ya melaknat orang yang tdak sepaham dengan pendapat antum. mestinya hal itu disikapi dengan ilmiah juga.

Kalo saya perhatikan, ada perbedaan yg sangat mencolok ketika orang2 dr mazhab syi’ah (bukan agama sbgmana klaim antum) menuliskan tentang tokoh2 mereka. Mereka selalu melengkapi dengan tanggal dan hari kelahiran para pemimpin mereka. Mungkin karena sejarah dan keutamaan tokoh2 mereka benar2 ter-record di masa lalu oleh para sejarawan, meskipun sejarawan2 itu kebanyakan dari kalangan sunni, dan kalaupun situasi mereka hidup dalam ketertindasan dan pengejaran tokoh2 yg dikagumi kaum sunni.

Lain halnya kalo orang sunni menulis sesuatu (misalnya keutamaan) tentang tokoh2 mereka, semisal Abu Bakar, kayaknya tidak pernah menuliskan kapan Abu Bakar lahir. paling2 ditulisnya sekian bulan dari kelahiran Nabi dsb. Apa memang tidak tahu tanggal lahirnya? ato apa karena memang para sejarawan tidak mencatatnya? (aneh! kalo benar mereka tokoh istimewa, mestinya tercatat dong!)… Ato karena mungkin sangat terpengaruh sama wahabisme yg anti ziarah shg tdk peduli dg peringatan (dzikrayat) tokoh2 mereka? ato memang dianggap tidak penting memperingati hari lahir mereka.

Belum lagi Umar b Khottob, Usman, dll (Kalo Ali b Abi Thalib sangat tercatat dalam sejarah, bisa ribuan kitab yg memuat tanggal kelahirannya, karena memang istimewa, satu2nya makhluk Allah yg lahir di dalam Ka’bah)…

Masa orang2 sunni tdak ada yg tahu kapan hari/tanggal kelahiran tokoh2 mereka? kalo ada yg tahu tolong kirimin saya tanggal lahir mereka.he..he.. (dijamin GAK BAKALAN TAHU)

30 07 2009
silkur

Jangan lebih ah…. Rasul gak pernah bilang kekasihnya adalah abubakar. Yg bilang gitu abu hurairah kali??

28 05 2009
imem

Riwayat Bukhori diatas lebih menguatkan pendapat bahwa Nabi tidak pernah memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam salat pada saat Nabi sakit berat, karena pada saat yg sama Abu Bakar berada di rumahnya di Sunh.

Kayaknya sudah saya tanggapin komen ente yg kyk gini di topik sebelah.. lihat di situ dijelaskan ketika Nabi wafat, Abu Bakar datang dari rumah salah satu istrinya (Habibah binti Kharizah) dan menengok kebunnya di Sunh, jelas menunjukkan bahwa Abu Bakar tidak berhari-hari berada di sunh apalagi saat Rasulullah sakit, tetapi hanya mengunjungi kebun dan rumah istrinya.. emang rumah Abu Bakar hanya ada satu? emang istri Abu Bakar hanya ada satu? Rumah istri Abu Bakar yang lain yaitu Ummu Ruman (Ibu dari Aisyah) tinggal di sebuah rumah di Madinah yang rumah tsb sangat berdekatan dengan Rumah Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam..

Sunh itu terletak di pinggiran kota Madinah, lihat beliau menunggang kuda, bukan naik onta, sehingga cukup membutuhkan waktu sebentar saja untuk menempuhnya.. maka asumsi ente itu telah terbantahkan!

Abu Bakar dikatakan sbg Khalifah Rasulullah artinya “Pengganti Rasulullah”. Konsekwensinya figur pengganti harus yg setara dg Rasulullah. Minimal dalam hal kemaksumam. Kalau tdk, maka namanya bukan pengganti/khalifah rasulullah, tapi cukup khalifah saja, karena Khalifah Rasulullah harus memenuhi syarat yg ditetapkan dalam QS Al-Baqarah 124 dimana Allah menetapkan bahwa Imamah tdk mencakup org2 zalim (termasuk mantan penyembah berhala).

hehehe.. iri, dengki, hasad sudah melekat kuat di hati rofidhoh thd para sahabat Nabi.. ya maklum aja mereka tetep ngeyel dan tidak mau melihat kenyataan yang ada.. Sebelum datangnya Islam, beliau adalah sahabat Rasulullah yang memiliki karakter yang mirip dengan Rasulullah. Belum pernah ada orang yang menyaksikan Abu Bakar minum arak atau pun menyembah berhala. Dia tidak pernah berdusta. Begitu banyak kemiripan antara beliau dengan Rasulullah sehingga tak heran kemudian beliau menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menonjol di tengah tengah orang lain. Abu Bakar bersyair saja dia tidak pernah kok di masa jahiliyah apalagi menyembah berhala. Dengan masuknya mereka ke dalam Islam maka terhapuslah kesalahan-kesalahan yg pernah mereka perbuat pada masa sebelum Islam. Dengan melihat pujian2 Rasulullah kepada beliau, cukuplah dikatakan bahwa Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah yang pantas menjadi khalifah Rasulullah dan beliau bukan orang yg dzalim.

28 05 2009
yusuf

“Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menonjol di tengah tengah orang lain.”???

Ketika Rasul SAWW masih hidup Abu Bakar pernah menjabat apa?
Atau diserahi tugas penting apa?
Dan bagaimana hasilnya kalau ada?

terimaksih

31 05 2009
al faqiyru Ilallah

Tidak adanya jabatan Abu Bakar semasa hidup Rasulullah tidak dapat dijadikan alasan untuk meragukan fadhilah dan kredibilitas dari manusia yang dicintai oleh Rasulullah ini . Yaaaa Allah berikanlah petunjukMu kepada hambaMu yang melecehkan wali waliMu, Ingatlah wahai orang orng yang tartutupi matahatinya ,kita sibuk mencaricari celah dan kekurangan orng yang sudah pasti masuk sorga , sementara kita tidak dapatmenjamin apakah sudah ada satu kebaukkan yang telah diterima oleh Allah? kita tidak tau apakah kesalahan kesalahn kita sudah diampuni oleh Allah?jangan sampai kebaikkan kita yang sedikit diberikan kepada mereka karena kita telah menghadiahkan pahala kebaikkan kita kepada mereka, maka bangrutlah kita wallaahulmusta’aan.

30 05 2009
imem

@ Yusuf

cukuplah hadits2 berikut ini menjelaskan posisi Abu Bakar di sisi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam :

“Andaikata aku akan mengangkat seorang khalil (kekasih) dari umatku niscaya aku angkat Abu Bakr, tetapi cukuplah sebagai saudara dan sahabatku. Sungguh Alloh telah mengangkat sahabat kalian ini (maksudnya diri beliau sendiri) menjadi khalil-Nya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

“Seorang manusia datang menemui Rasululloh. Kemudian Rasululloh menyuruhnya agar datang di lain hari. Wanita itu bertanya: ‘Bagaimana jika nantinya aku tidak menemuimu lagi?’ Maksudnya bagaimana bila beliau telah wafat? Rasululloh menjawab: ‘Jika engkau tidak menemuiku maka temuilah Abu Bakr.’” (HR. Bukhori dan Muslim)

“Sesungguhnya yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakr.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasululloh telah mendoakan ampunan untuk Abu Bakr, beliau berdoa: “Semoga Alloh mengampunimu wahai Abu Bakr!” beliau megucapakan tiga kali. Lalu beliau bersabda “Sesungguhnya Alloh telah mengutusku kepada kalian namun kala itu kalian katakan ‘Engkau berdusta!’ Sedang Abu Bakr berkata ‘Engkau benar!’ Ia mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk membelaku. Lalu apakah kalian hendak meninggalkan sahabatku itu?” beliau mengucapakan ucapan itu dua kali. Maka tidak ada yang berani mengganggu Abu Bakr setelah itu. (HR. Bukhori)

Anas meriwayatkan dari Abu Bakr bahwa ia berkata: “Saya pernah berkata kepada Rasululloh ketika kami berdua berada dalam gua: ‘Sekiranya salah seorang melihat ke arah telapak kakinya pasti dapat melihat kita!’ beliau bersabda: ‘Bagaimana perkiraanmu wahai Abu Bakr jika ada dua orang sedang Alloh yang ketiganya.’” (HR. Bukhori dan Muslim)

Imam al-Bukhari meriwayatka dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata, ‘Kami memilih orang-orang di masa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami memilih Abu Bakar kemudian Umar, kemudian Utsman’. Dan Imam Ath-Thabari menambahkan di kitabnya ‘Al-Kabir’ maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui hal itu dan berkata : “Tidaklah seorang nabi pun kecuali ia memiliki dua wazir (pendamping) dari penduduk langit dan dua wazir dari penduduk bumi, adapun pendampingku dari penduduk langit adalah malaikat Jibril dan Mika’il, sedangkan pendampingku dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan Umar”.

Abu Bakar selalu terlibat dalam semua peristiwa yang dialami Rasulullah Saw. Dia tidak lari dan tetap bertahan ketika banyak pasukan melarikan diri pada saat Perang Hunain. Abu Bakar dikenal sebagai salah seorang pemberani yang selalu gagah di semua medan perang. Dia tidak akan bergeser dari sisi Rasulullah dan selalu membela dan membentenginya. Abubakar dikenal sebagai sosok yang dermawan dan menginfakkan sebahagian besar hartanya di jalan Allaah.
Pada Perang Tabuk Abu Bakar menyedekahkan semua hartanya untuk bekal pasukan Islam. Sedangkan panji islam dalam perang ini berada di tangannya. Banyak sahabat yang masuk Islam melaluinya. Diantaranya adalah Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam dan Abdur Rahman bin Auf.

Tatkala Rasulullah ditimpa sakit menjelang wafatnya, beliau bersabda : “ Suruhlah Abu Bakar untuk menjadi imam shalat.”

Silahkan disimpulkan sendiri posisi Abu Bakar di sisi Rasulullah, Sbg sahabat terdekat, wazir, tangan kanan, wakil, ajudan, komandan, imam sholat pengganti Rasulullah dan lain-lain…

30 07 2009
silkur

bawa hadist yang mendingan deh….jangan hadist karya tukang tipu.

Hadist ke1. Rasul saw waktu mempersaudarakan muhajirin dan anshar, beliau tidak mempersaudarakan diri beliau dengan abubakar tuh…. Dia memilih Ali a.s. Jadi hadistnya tipu….

Hadist ke 2. Soal perempuan hadist tipu juga. Nabi saw bilang; saya Kota ilmu, ali pintunya. Gak mungkin nabi suruh ke abubakar.

Hadist 3. Ini rada bener….. Memang abubakar menggunakan Harta nya buat dakwa nabi.

Hadist 4. Biasa ajah…. Rasul Allah juga minta ampunan buat umatnya. So… Hadist yg di bawa gak ada urusan dgn keutamaan abubakar

Hadist 5. Lebih asal asal an lagi… Cerita gak jelas.

Cerita soal perangnya abubakar, Tipu juga….. Abubakar tidak pernah keren dalam peperangan. Biasa ajah…. Tidak ada 1 Nash pun dari rasul saw mengenai kehebatan abubakar dalam hal perang.

Hadist 6. Abdullah bin umar bilang, KAMI memilih dari kalangan sahabat……..ngerti bahasanya khan ??? “KAMI” berarti abdullah bin umar cs yang milih…..bukan nabi saw.
Hadist ini juga dijadikan dalil asal asalan.

Hadist 7.tipu juga…… Mana pernah Ada nabi punya 2 washi ?? Semua nabi 1 wasih. Bahkan Quran menjelaskan setiap seorang pembawa peringatan (nabi) selalu diikuti seorang pemberi petunjuk (washi). Jadi kalau dibilang 2…….itu boing

31 07 2009
imem

Ente itu ngemeng epe tho? kalo mo mbantah itu mbok ya ilmiah napa… Ente itu yang sebenarnya telah tertipu oleh rofidhoh tapi ga ngrasa… kasian dech… tuch makan kitab2 rofidhoh ente yang kata ulama ente sendiri (al-Majlisi) sebagian besar adalah dhaif dan palsu… mbok nyadar.. jgn gampang terdoktrin oleh rofidhoh al-Yahudi al-Majusi gitu tho… wuakakakak…

19 06 2009
Dudung

Lagi lagi tipuan kaum nashibi pendengki keluarga nabi dengan cerita cerita bohongnya dan penjelasan yang menyesatkan. Perlu diketahui, keutamaan keutamaan yang dinisbatkan ke Abubakar datangnya Dari kalangan orang orang pendengki keluarga nabi. Bukan dari nabi sendiri. Adapun beberapa hadis yang ngaku nya Dari nabi setelah diteliti ternyata hanyalah omongan orang orang pendusta dan tukang tukang tipu yang sudah menukar iman dengan dinar dan Dirham terutama di zaman bani umayah.

Abubakar Ada jasanya, tapi tdk sehebat yang disebutkan diatas. Kalau yang dikatakan penulis diatas sich 1000 persen tipu alias boong!!!!!

19 06 2009
sulaiman

menurut kesimpulan ana, ente salah satu dari sekian banyak orang bloon yang sok tau.
kalo abubakar paling keren dalam semua hal. pasti diambil mantu sama nabi buat anak kesayangan beliau saw. buktinya enggak tuh….. ngelamar, gak di kasih tuh …..

dengan segala bukti dan logika yang ada…….hadist hadist buat keutamaan sahabat nabi kebanyakan palsu….. atau diangkat sama orang orang yang ngaku ulama.

seperti dikatakan diatas dari abdullah bin zubair, kami memilih abubakar, umar, utsman………. disitu jelas yang milih bukan allah atau nabi. tp abd bin zubair dan teman temannya. apakah ini terus diaku aku dari nabi?

nabi ente muhammad ibn abdillah saw apa abdullah bin zubair apa muhammad bin abdul wahab???
hayo….ngaku??? ente nashibi ya ?? wahabi ya ???

13 07 2009
deddy

he he imem kena damprat…

13 07 2009
rizal

@sulaiman:

Benar Rasulullah tdk pernah melantik Abu Bakar sbg Khalifah Rasulullah. Para sahabatlah yg melantiknya. Abu Bakar lebih pantas disebut Khalifah kaum muslimin ketimbang Khalifah Rasulullah. Sebutan Khalifah Rasulullah lebih pantas disandang oleh pribadi yg mendekati kualitas Rasulullah. Salah satunya adalah tidak pernah zalim selama hidupnya spt tdk pernah menyembah berhala, maksiat dll.

13 07 2009
imem

@sulaiman

yach cuma itu aja argumentasi ente? dah pulang sono dech.. ga mutu.. wuakakakak…

14 07 2009
rizal

@imem:

Hadis2 yg anda kutip itu boleh jadi sahih dari sisi sanad, tetapi dari sisi makna dan kalau dibandingkan dg hadis yg lebih kuat atau hadis yg dari sisi makna bertentangan, belum tentu dapat diterima.

Hadis2 yg anda kutip diatas itu bertentangan dg hadis2 yg menggambarkan Abu Bakar spt ini :

1. Abu Bakar telah lari dari medan peperangan Uhud dan Hunain. Tindakannya ini bertentangan dg ayat2 jihad dlm Al-Quran dan Sunnah Nabi saw (Al-Hakim, Al-Mustadrak, III, hal 37; Al-Mutataqi Al-Hindi, Kanz Al-Ummal, VI, hal. 394; Al-Dhahabi, Al-Talkhis, III, hal 37).

2. Abu Bakar tdk mengenakan hokum had terhadap Khalid bin al-Walid yg telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya padahal Umar dan Ali mengingatkan Abu Bakar agar Khalid dihukum rajam. (Ibnu hajar, Al-Ishobah, III, hal. 336).

Umar berkata kpd Khalid :” Anda telah membunuh seorang muslim kemudian anda bersetubuh dg isterinya. Demi Allah aku akan merajam anda dg batu.” (Al-Thabari, Tarikh , IV, hal 1928). Kata2 Umar cukup membuktikan bahwa Malik bin Nuwairah adalah seorang muslim dan Khalid telah berzina dg isteri Malik tdk lama setelah membunuh Malik. Jika tidak kenapa Umar berkata :”Demi Allah aku akan merajam anda dg batu !”

3. Abu Bakar telah melantik Umar menjadi khalifah setelahnya secara wasiat, padahal dia sendiri menolak wasiat Nabi saw. Penyerahan jabatan khalifah kpd Umar menyalahi prinsip syura yg diagung-agungkan oleh Ahlu Sunnah. Justru Abu Bakar org pertama yg menghancurkan prinsip syura dan memansukhkannya.

4. Abu Bakar meragukan jabatan khalifahnya. Dia berkata :”Sepatutnya aku bertanya kpd Rasulullah saw, adakah org2 Anshar mempunyai hak yg sama dalam jabatan khalifah ?” Ini karena dia pernah menentang org2 Anshar menjadi khalifah, karena menurutnya kekhalifahan adalah hak kaum Quraisy. Jika memang benar, maka dia menentang org2 Anshar dg hujjah palsu. (Al-Yaqubi, Tarikh Al-Yaqubi, II, hal 127 ; Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa Al-Siyasah, I, hal 18 ; Al-Mas’udi, Muruj Al-Dhahab, II, hal 302). Aneh juga seorang pejabat meragukan jabatannya.

5. Abu Bakar berkata :”Pecatlah aku karena aku bukanlah org yg terbaik di kalangan kalian.” (Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa Al-Siyasah, I, hal 14 ; Muttaqi Al-Hindi, Kanz al-Ummal, III, hal 132. Jika benar, maka dia tdk layak untuk menjadi khalifah Rasulullah saw berdasarkan pengakuannya sendiri.

6. Abu Bakar menamakan dirinya “Khalifah Rasulullah”, padahal Rasulullah saw tdk pernah melantiknya. (Ibn Qutaibah, Al-Imamah wa Siyasah, I, hal 13; Al-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa hal 78).

7. Nabi Muhammad saw tdk pernah melantik Abu Bakar untuk menjalankan sesuatu pekerjaan apa saja, malah beliau melantik org lain. Hanya satu saat beliau melantiknya untuk membawa Surah Al-Bara’ah, tetapi beliau mengambilnya kembali tugas itu dan kemudian meminta Ali untuk melaksanakannya, alias Abu Bakar tdk pernah mendapat penugasan. (Al-Thabari, Dhakha’ir al-Uqba hal 61 ; Al-Turmudzi, Sahih, II, hal. 461; IBnu Hajar, al-Isabah,II,hal 509).

8. Abu Bakar tdk mengetahui pengertian al-Abb dalam Surah Abbasa (80):31 :”Dan buah2-an (fakihatun) serta rumput2-an (abban). Dia berkata :”Langit mana aku akan junjung dan bumi mana aku akan pijak, jika aku berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yg aku tdk mengetahui ?” (Muttaqi Al-Hindi, Kanz Al-Ummal,I, hal 274).

9. Abu Bakar rupanya sdh mengetahui bahwa dia akan melakukan bid’ah2 setelah wafatnya Nabi saw. Anas bin Malik di dalam al-Muwatta Bab “Jihad Syuhada’ fi Sabilillah” telah meriwayatkan dari hamba Umar bin Ubaidilah bahwa dia menyampaikan kpdnya bahwa Rasulullah saw bersabda kpd para syahid di Uhud :”Aku menjadi saksi kpd mereka semua.” Abu Bakar berkata :”Tidakkah kami wahai Rasulullah saw saudara2 mereka ? Kami telah masuk Islam sebagaimana mereka masuk Islam dan kami telah berjihad di jalan Allah sebagaimana mereka berjihad ?” Rasulullah saw menjawab :”Ya ! Tetapi aku tdk mengetahui bid’ah mana yg kalian akan lakukan setelahku.” Abu Bakar pun menangis dan dia terus menangis. Bid’ah2 yg dilakukan para sahabat memang telah diakui oleh mereka sendiri, diantaranya oleh Al-Bara’ bin Azib. (Buhkori, Sahih, III, hal 32).

10. Khalifah Abu Bakar telah menjatuhkan air muka Rasulullah SAWA di hadapan musyrikin yang datang berjumpa dengan Rasulullah SAWA supaya mengembalikan hamba-hamba mereka yang lari dari mereka. Musyrikun berkata:”Hamba-hamba kami telah datang kepada anda bukanlah karena mereka cinta kepada agama tetapi mereka lari dari milik kami dan harta kami. Lebih-lebih lagi kami adalah tetangga anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda.” Tetapi Rasulullah tidak mau menyerahkan kepada mereka hamba-hamba tersebut kerana kuatir mereka akan menyiksa hamba-hamba tersebut dan beliau tidak mau juga menjelaskan hakikat ini kepada mereka.
Rasulullah SAWA bertanya kepada Abu Bakar dengan harapan dia menolak permintaan mereka. Sebaliknya Abu Bakar berkata:”Benar kata-kata mereka itu. Lantas berubah muka Rasulullah SAWA kerana jawabannya menyalahi apa yang dikehendaki Allah dan RasulNya.[al-Nasa'i, al-Khasa'is,hlm. 11; Ahmad bin
Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 155].

Sepatutnya Abu Bakar dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAWA tetapi dia tidak dapat memahaminya, malah dia memihak kepada kaum musyrikun berdasarkan ijtihadnya.

Dan masih banyak hadis2 lainnya yg bertentangan dg hadis2 yg anda kemukakan diatas, tetapi cukuplah untuk membuktikan ketidak-layakan Abu Bakar menjadi khalifah Rasulullah saw dan sekaligus menunjukkan kemustahilan Rasulullah saw yg pernah mengatakan sesuatu yg mengindikasikan penunjukan Abu Bakar sbg khalifah Rasulullah saw.

14 07 2009
Pecinta Sunnah

@Risal. Jangan menafsirkan hadits dengan nafsu. Ingat yang anda hina itu manusia terbaik setelah para Nabi dan Rasul. Apakah tidak cukup jamainan bagi Abu Bakar Radiyallahu Anhu masuk surga dari Rasulullah menunjukkan kemuliaan beliau(Rasulullah menetapkan sahabat masuk surga pasti wahyu dari Allah). Nah Apakah anda sudah mendapat jaminan masuk surga dari Rasulullah? Abu Bakar dengan anda sangat tdk pantas dibandingkan. Bagaikan Langit dan bumi. hati-hati dengan lisan anda. karena lisanlah diantara hal yang paling banyak memasukkan manusia kedalam neraka.

Kitab pegangan anda apa????

30 07 2009
silkur

bukan 10 sahabat yang di jamin nabi…..

Tp…

10 sahabat yang dijamin sama mauwiyah dan abu hurairah…
hehehe…

Pencinta sunnah, imem, abuthalha, bisa juga kok masuk kedalam jaminan muawiyah…..
Setuju gak???? And doain deh ente pade insya allah dibangkitkan dibawah bendera golongan muawiyah bin abu sofyan.

31 07 2009
imem

masih mending drpada dibangkitkan bersama golongan ente, syi’ah rofidhoh al-yahudi al-majusi.. wuakakakak..

17 07 2009
imem

@rizal/falseto

Dari dulu itu2 aja yg ente posting ga bosen apa? wuakakakak…

Sebagian riwayat2 yg anda cantumkan perlu di cek keotentikannya, dan banyak sekali kekeliruannya, sedangkan yang anda kutip dr riwayat yg shahih semacam Shahih Bukhori, ente terlalu berlebihan dan bukan spt itu adanya dalam memahaminya, seingat saya, sebagian saya sdh jawab ketika ente menjadi falseto saat itu .. wuakakakak..

Jadi riwayat2 ente kagak bisa mengalahkan isyarat2 Rasulullah mengenai keutamaan dan kekhalifahan Abu Bakar, kalopun seandainya Abu Bakar mempunyai kekeliruan, ya wajar dia adalah manusia biasa yang tidak maksum seperti juga ahlul bait, tetapi kami tidak pernah ingin mengungkap kekeliruan2 yg dilakukan ahlul bait, karena itu bukan adab/akhlak yang baik, kami beda dengan syi’ah rofidhoh yg mengaku mencintai ahlul bait dengan cara merendahkan sahabat2 Nabi. kami mencintai mereka semuanya dan berdo’a untuk mereka.

Maka Abu Bakar tetap Sbg: kekasih, sahabat terdekat, wazir, tangan kanan, wakil, ajudan, komandan, imam sholat pengganti Rasulullah dan lain-lain… Allah dan Rasul-Nya lah sebagai saksinya…

20 07 2009
yusuf

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” QS. 9 At-Taubah 40.

Ini adalah kisah Rasul saww dan Abu Bakar, menurut banyak riwayat. Apa yang dapat diambil pengertian dari ayat tersebut.

1. Abu bakar telah dtegur Rasul saww karena kesedihannya.
2. Kesedihan Abu bakar adalah sesuatu yang mungkar.

Saya mendapati bahwa Abu Bakar pengecut…
Soal hadits-hadits keutamaannya harus dipertimbangkan pula dengan banyaknya hadits yang menunjukkan celanya. Dan Quran di atas segalanya…

Abu bakar tidak menghadiri pemakaman Rasul dan tidak shalat jenazah untuk Rasul, begitu pula terhadap puterinya Fatimah as.

Apa yang telah terjadi???…

20 07 2009
Abu Thalhah

@Yusuf, nama anda tidak sebagus dengan sikap anda, anda sudah berani menafsirkan ayat secara serampangan. Bertobatlah, anda begitu berani menghina Abu Bakar, sahabt Rasulullah yang mulia, mertua Rasulullah. Abu Bakar itu sudah dapat jaminan masuk surga, apa itu blum cukup?? Anda sendiri blum tentu nasibnya.

Salah satu jasa Abu Bakar yg mungkin anda lupakan adalah menyatukan Al Quran. Pada saat kepemimpinanyalah Al Qur’an disatukan dal mushaf. Ato memang anda sudah ndak punya Al Qur’an??? Apaka hal ini masih anda ingkari???

20 07 2009
Abu Thalhah

@Yusuf dan semua pembinci Abu Bakar, kenapa anda begitu benci dengan Sahabat yang mulia ini??? Apakah Ali Radiyallahu Anhu juga benci kepada Abu Bakar?? Tunjukkan buktinya???

20 07 2009
imem

Iya itu si Yusuf, ayat yang ente baca itu adalah Al-Qur’an, ente sekarang bisa dengan mudah membaca Al-Qur’an salah satunya adalah karena jasa Abu Bakar ra, dalam hal ini Imam Ali saja mengakuinya, sedangkan ente yg mengaku pengikut beliau tidak mengakuinya.. itu namanya pengakuan pada mulut ajah.. kalo ente meragukan Abu Bakar, bagaimana ente bisa tidak meragukan Al-Qur’an? padahal Al-Qur’an tidaklah sampai ke tangan kita kecuali melalui para sahabat Rasul dan diantaranya yang berjasa besar dalam pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf adalah Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu.. ngerti ga seh lo..

Ironi sekali, mengaku bahwa Al-Qur’an di atas segalanya tetapi mencerca para pengumpul, pembawa dan pembelanya yaitu para sahabat.. Naudzubillah dech dari keyakinan sesat semacam itu..

20 07 2009
yusuf

Karena saya meyakini al-Qur’an makanya saya berpendapat demikian. Karena al-Quran itu tidak bisa diubah, ditambah atau dikurangi oleh siapa pun.

20 07 2009
imem

Karena itulah mestinya ente juga seharusnya percaya bahwa Allah menjaga Al-Qur’an ini dengan mereka para sahabat Rasulullah.. mereka adalah salah satu alat yang digunakan oleh Allah menjaga kitab-Nya..

Jika mereka merupakan salah satu alat penjagaan Al-Qur’an, maka mereka adalah musti orang-orang pilihan Allah yang jujur dan adil.. karena jika mereka bukan orang yang jujur dan adil maka selayaknya Al-Qur’an yang ada sekarang ini diragukan keotentikannya dan tentunya Allah tidak akan menjadikan mereka sebagai salah satu alat penjaga kitab-Nya..

Jika ente yakin akan keotentikan Al-Qur’an maka ente harus yakin juga kepada para pengumpul, pengkodifikasi dan penyampainya yaitu para sahabat Rasul, tetapi jika ente ragu kepada akan kejujuran dan keadilan para pengumpul, pengkodifikasi dan penyampai Al-Qur’an ini, seharusnya ente ragu juga terhadap Al-Qur’an yang ada pada kita saat ini.. silahkan direnungkan..

21 07 2009
yusuf

Ketika saya meyakini keotentikan al-Quran, apakah saya juga harus mempercayai sejarah kodifikasi al-Qura’an sebagaimana saya meyakini al-Quran?

Ini adalah hal yang berbeda. karena kodifikasi al-Quran mempunyai banyak versi. dan sejarah bisa dibikin untuk menaikkan kelompok tertentu dan merendahkan yang lainnya.

Coba renungkan deh…

21 07 2009
Pecinta Sunnah

@Yusuf anda itu bagaikan kacang yang lupa akan kulitnya. Tidak tau berterima kasih. Memang begitulah, barang siapa yang akan disesatkan oleh Allah maka tidak yang dapat menolongnya. Semoga anda bertaubat sebelum ajal menjemput. Abu Bakar sudah jelas masuk surga, biar anda hujat bagaimanapun itu tdk akan berpengaruh, malah akan berpengaruh dengan posisi anda kelak diakhirat.
Wallahu A’lam

21 07 2009
imem

@yusuf

Ini adalah hal yang berbeda. karena kodifikasi al-Quran mempunyai banyak versi. dan sejarah bisa dibikin untuk menaikkan kelompok tertentu dan merendahkan yang lainnya.

Yang jelas Al-Qur’an yang ada saat ini adalah mushaf Utsmani, bahkan mushaf Utsmani yang asli masih ada dan tersimpan dengan baik kok sampai sekarang, ente percaya ga sama Al-Qur’an ini?

Tinggalkan komentar