Asal-Usul Kalender Masehi


Sejarah Kalender MasehiSetiap kali tahun Romawi (Miladi) berakhir, dan mulai berganti dengan tahun yang baru, kaum muslimin merasa risih dengan prilaku orang-orang yang mengaku-aku sebagai pengikut al-Masih , juga karena dimulainya putaran baru bagi bulan-bulan Romawi, yaitu bulan-bulan yang diberi nama dengan nama-nama berhala yang diakui oleh orang-orang Romawi dan Yunani atau dengan nama thaghut-thaghut mereka. Perasaan muak tersebut semakin bertambah seiring dengan penggunaannya sebagai kalender informatika, dinas perkantoran, dan pendidikan. Hal itu sangat berpengaruh untuk kemunduran akal dan agama kaum muslimin, yang telah dipaksa melakukannya akibat kalah dalam perang dunia II.

Karena “dijajah (dipaksa)” menggunakan penanggalan Romawi sejak kedatangan pasukan penjajah dari kaum Salib bangsa Eropa ke rumah-rumah kaum muslimin, maka penggunaan tersebut menjadi hal yang lumrah. Padahal penanggalan tersebut mengandung kesalahan sejarah, dan nama-nama bulan tersebut berarti melestarikan agama keberhalaan kuno, thaghut-thaghut bangsa Romawi yang menjajah manusia dan memerangi agama Allah Ta’ala.

Marilah kita menjelajah untuk mengenali asal usul nama-nama bulan Romawi, serta pelajaran dari penyebutannya sebagai tahun Miladiah (kelahiran al-Masih) untuk memastikan bentuk penghormatan terhadap penanggalan tersebut.

1. Januari, bangsa Romawi menamainya dengan nama ini dari nama sembahan mereka yang bernama Yanus, yaitu Dewa Matahari -menurut anggapan mereka-. Mereka menggambarkannya dengan bentuk seorang laki-laki yang membawa semacam orang di tangan kanannya dan membawa sebuah kunci di tangan kirinya. Sebagai Dewa Matahari, orang-orang Romawi selalu menuju (berkonsentrasi) kepada Dewa ini pada saat memulai dan selesai dari aktifitas. Pintu kuil di Romawi yang dikhususkan untuk Dewa ini selalu terbuka di tengah peperangan, dan tidak akan tertutup kecuali pada saat damai.

2. Februari, namanya di tengah bangsa Romawi adalah Anius Hchru, maknanya adalah “penebusan” dan “pengampunan”. Pada tanggal 15 Februari mereka merayakannya sebagai hari kesucian “Taqdis” yang dikhususkan bagi Dewa Lubukus. Sementara dukun Dewa tersebut menyembelih persembahan berupa kambing atau seekor anjing kemudian mengusapkan darahnya ke kening-kening mereka.
Termasuk di antara khurafat mereka adalah mereka memotong-motong kulit hewan persembahan itu, kemudian mengelilingi kuil Dewa Lubukus dengan membawa potongan-potongan kulit hewan tersebut. Jika mereka memukulkan potongan kulit itu kepada wanita yang mandul, maka dia akan sembuh dari penyakitnya.
Potongan kulit ini mereka sebut biua fe –Febru, dan dengan Dewa ini mereka memiliki sebuah hari raya yang mereka namakan Februteii.
Adapun bentuk dewa ini pada khayalan bangsa Romawi adalah seorang wanita yang mengenakan kain, sementara di tangannya terdapat seekor burung kecil. Di sisinya adalah sebuah lubang air yang mengalir dengan deras, dan di bawah kedua kakinya seekor burung, Dewa kesedihan.

3. Maret, dinisbatkan kepada bintang Mirrikh (Mares), Dewa Peperangan, penolong bangsa Romawi dan pelindung mereka -sebagaimana yang mereka kira-. Pada abad-abad yang lalu Dewa itu disebut sebagai Dewa untuk angin, atau untuk matahari kemudian menjadi dewa untuk pertanian dan tumbuhan!! Pendek kata ia adalah Dewa yang memiliki keahlian banyak sesuai dengan hawa nafsu manusia.

4. April, dengan bahasa Latin Apcilis derivasi kata Apcirc yang berarti terbuka dan bersinar, dilambangkan dengan bintang Venus. Adapun rupanya menurut Bangsa Romawi adalah berbentuk seorang pedansa yang berdansa mengikuti irama musik. Menurut orang-orang kuno, ia adalah bulan awal tahun.
Sikap mempermainkan bulan-bulan ini –di mana bulan awal tahun dipindah dari Maret ke April, kemudian dipindah lagi ke Januari– tampak jelaslah bentuk-bentuk keganjilan dalam kalender Romawi (baca: Masehi). Kemudian pesta dansa dipindah dari awal April ke awal Januari, yang kemudian disebut oleh orang-orang awam sebagai perayaan tahun dansa.

5. Mei, dengan bahasa latin Mains, Dewi kaum wanita bangsa Yunani dan Romawi. Dia adalah putri Dewa Atlas dan ibu dari Dewa Hermes, dalam sebuah hikayat Ibu ‘Utharid. Dewa-dewi tersebut melahirkan dan dilahirkan seperti layaknya manusia saja.
Di awal bulan ini, Bangsa Romawi memilih seorang gadis yang paling cantik untuk dinobatkan sebagi Ratu yang diberi mahkota. Tahukah anda sekarang dari mana asal usul pemilihan ratu “kecantikan dunia” (Miss Universe)?!
Pada masa antara tanggal 28 April hingga 2 Mei dilangsungkan perayaan hari Floura, Dewi-dewi Bunga!

6. Juni, ini adalah nama sebuah suku Romawi, akan tetapi mengapa bulan tersebut dinamakan dengan nama suku ini?
Meskipun sebab penamaan tersebut diperselisihkan, akan tetapi cukup bagi kita untuk mengetahui bahwa penyebab penamaan bulan-bulan itu kebanyakan adalah untuk mengabadikan Dewa-Dewa dan para pembesar Bangsa Romawi yang hakikatnya adalah agama keberhalaan.

7. Juli, bulan ini diberi nama dengan nama Caesar Kayus Yulius sebagai bentuk pengabadian dan pengagungan, karena dia dilahirkan pada bulan ini. Sementara nama bulan itu sebelum kelahirannya adalah Quinlilis yang artinya bulan ke lima.

8. Agustus, dinamakan dengan nama kaisar pertama Romawi, sebagai bentuk pengagungan kepadanya. Sebelumnya bulan itu dikenal dengan nama Sexliis yang berarti bulan ke enam. Dan para penasihat Romawi menjadikan 31 hari dengan mencontoh bulan Juli agar kaisar tidak merasa lebih rendah kedudukannya daripada Yulius. Rupa bulan itu menurut orang-orang Romawi adalah seorang laki-laki yang telanjang, memiliki rambut yang tebal, acak-acakan, dan di tangannya terdapat sebuah wadah tempat ia minun.

9. September, Oktober, Nopember, dan Desember.
Keempat bulan ini, namanya tetap sama dengan nama-nama yang dulu.
September diambil dari Seplcm artinya adalah tujuh
Oktober diambil dari Okto artinya delapan, adalah termasuk perayaan khamr (miras)
Nopember diambil dari Novem, artinya adalah sembilan
Desember diambil dari Decm, artinya adalah sepuluh.
Sebagai catatan, bahwa asal bulan pertama adalah bulan Maret, sebelum penanggalan Pauliusi. Maka Jelaslah bagi kita akan urutan bulan-bulan terakhir ini. Hal ini menguatkan adanya kekeliruan dalam penanggalan Romawi.

DR. Anis Farihah berkata: “Mereka telah berusaha untuk merubah nama bulan-bulan ini dengan nama-nama biarawan. Misalnya, mereka berupaya merubah Nopember menjadi Tobarius, Oktober menjadi Jurmanus atau Antonius. Akan tetapi upaya tersebut gagal karena berbagai sebab politik maupun sektarian.
Bulan-bulan Suryani atau Romawi atau Masehi:
Yaitu, Kanun II, Syabath, Adzar, Nisyan, Ayar, Haziran, Tamuz, Ab, Ailuul, Tasyrin I, Tasyrin II, Kanun I.

Bulan-bulan tersebut digunakan di Syam dan Iraq. Bulan-bulan tersebut sebagaimana padanannya yang digunakan di Syam dan Iraq adalah berasal dari agama berhala dalam penamaannya.

Kesimpulan pembahasan ini:
Sesungguhnya penanggalan itu adalah bagian dari peradaban suatu umat, bahkan termasuk bagian dari syiar-syiar agama mereka. Sementara penanggalan kita umat Islam adalah Hijriyah. Mengambil makna ini dengan penunjukan makna yang paling dalam, karena terikatnya sebagian rukun-rukun Islam, syi’arnya, dan hari raya kaum muslimin dengan hijrah Rasulullah . Yaitu penanggalan yang bulannya dimulai dengan tampaknya hilal, yang dengannya aturan massa ini dimulai saat Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi. Allah Ta’ala berfirman:

•إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّہُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَہۡرً۬ا فِى ڪِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡہَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ۬‌ۚ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. at-Taubah: 36)

Dan Nabi bersabda:
« الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ »
“Zaman (ini) telah bergulir sebagaimana keadaannya pada hari Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi, setahun itu 12 bulan, diantaranya adalah empat bulan haram (suci), yang tiga (di antaranya) berurutan, (yaitu) Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, (sementara) Rajab Mudhar yang terletak di antara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Bukhari (2958), Muslim (3179))

Antara Keberhalaan dan Islam
Sekarang pangkal kesadaran haruslah diperkuat. Generasi kita harus ambil bagian dalam masalah penanggalan ini dengan perhatian ekstra. Tidak mungkin hari-hari puasa Ramadhan dipindah ke penanggalan yang lain. Kedua hari raya; Idul Fitri dan Idul Adhha tidak mungkin dipindah dari awal Syawal dan hari kesepuluh dari Dzulhijjah ke hari dan bulan selain keduanya. Tidak mungkin 10 Muharram atau satu malampun bisa dipindah. Penanggalan kita adalah hitungan syar’i yang detil, yang merupakan bagian dari syi’ar dari agama kita.

Dari sini maka muncul pertanyaan, apakah pantas seorang muslim tidak hafal bulan-bulan Islam? Apakah dapat dibenarkan seorang muslim yang mampu mengulang-ulang nama-nama Dewa agama berhala kuno, yaitu nama-nama bulan Romawi, kemudian merasa kesulitan menyebutkan nama-nama bulan Islami?

Sesungguhnya orang Yahudi merasa bangga dengan penanggalan mereka. Mereka telah menghidupkannya setelah dihapus bersama bahasa mereka.

Orang-orang Nasranipun demikian, telah bangga dengan penanggalan mereka yang tergolong bentuk kepanjangan dari budaya Romawi. Lalu di manakah kita kaum muslimin?!

Sumber : FB Majalah Qiblaty dengan judul asli “Kalender Masehi Antara Agama Keberhalaan Dan Islam”

About these ads

One thought on “Asal-Usul Kalender Masehi

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s