Tragedi “Pin Wajah Nabi” kemarin (Harian Fajar, 14 Oktober 2009) mengingatkan saya pada tragedi kesyirikan pertama yang terjadi di atas muka bumi ini. Tragedi itu terjadi setelah rasul pertama, Nuh ‘Alaihissalam menghadap Allah. Tepatnya setelah generasi ulama dan orang-orang saleh umat Nabi Nuh ‘Alaihissalam satu persatu juga meninggal dunia.
Sepeninggal mereka kemudian muncul sebuah ide untuk memvisualkan wujud orang-orang saleh itu ke alam nyata. Alasan awal para pelopor kesyirikan itu kelihatannya “sangat sederhana”. Bahkan cenderung sangat religius dan kelihatan “aneh” jika ada yang menolaknya.
Agar wujud visual orang-orang saleh itu dapat memberi motivasi beribadah saat mereka terjangkit kemalasan dan kelemahan dalam beribadah. Dan itu tentu saja berangkat dari sebuah rasa cinta yang sangat mendalam kepada orang-orang saleh tersebut. Dan tidak ada yang melarang mereka. Semuanya dibiarkan begitu saja, karena tujuannya dianggap baik.
Maka berjalanlah waktu demi waktu melewati pembiaran demi pembiaran itu. Dengan alasan: “Tidak masalah karena itu adalah wujud kecintaan”. Alasan “kecintaan” itulah yang Baca entri selengkapnya »
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan (Sulsel) KH Sanusi Baco LC, dengan tegas dalam fatwanya mengharamkan pengedaran gambar dan foto-foto yang dianggap sebagai wajah dan sosok Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Para anggota milisi Basij Iran yang ditakuti, melakukan perkosaan terhadap para tahanan wanita yang masih perawan sebelum para tahanan wanita itu dihukum mati. Mereka yang diperkosa adalah para tahanan wanita yang divonis hukuman mati dan masih perawan. Perkosaan ini adalah “ritual” wajib , kata salah satu anggota milisi Basij tersebut.

Restoran:
Terhitung 6 hari serangan Israel terhadap “kota kecil” Gaza. Ribuan nyawa warga sipil melayang, 6 masjid hancur








Komentar Terakhir