Ramalan Bintang


At-Tanjim masdar dari kata ( نَجَّمَ ) ditasydidkan jimnya yang artinya mempelajari ilmu nujum (perbin-tangan) atau meyakini bahwa bintang mempunyai pengaruh.
Ilmu perbintangan terbagi atas dua :
I. Ilmu Astronomi
Ilmu ini terbagi atas dua bagian :
1. Mengambil petunjuk lewat perjalanan bintang untuk kemaslahatan dien (agama) , seperti digunakan untuk me-nentukan arah kiblat, maka hal ini hu-kumnya wajib dan mempelajarinya juga termasuk suatu kewajiban, karena ilmu ini memiliki manfaat yang sangat besar.
2. Mengambil petunjuk lewat perjalanan bintang untuk kemaslahatan duniawi, maka ini dibolehkan, dan cara ini mem-punyai 2 bentuk yaitu :
a. Mengambil petunjuk dengan bintang tersebut untuk mengetahui arah, seperti untuk mengetahui bahwasanya kutub/ poros berada di bagian utara. Allah  berfirman :
وَعَلاَمَاتٍ وَبِالــنَّجْمِ هُمْ يـَـهْتَدُونَ  النحل :16
“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penun-juk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl : 16)
b. Mengambil petunjuk lewat bintang untuk mengetahui iklim. Ilmu ini dikenal dengan ilmu manazilul qamar (kedudu-kan/ posisi bulan), dan hal ini sebahagian salaf memakruhkan dan sebagian yang lain membolehkan, namun pendapat yang kuat -insya Allah- bahwasanya per-buatan tersebut tidak makruh atau di-bolehkan.
II. Ilmu Astrologi
Ilmu ini terbagi atas tiga bagian :
1. Meyakini bahwa bintang-bintang terse-but mempunyai pengaruh dan dia lah yang berbuat, dengan kata lain bahwasa-nya bintang-bintanglah yang mencipta-kan kejadian-kejadian dan akibat-akibat, maka hal ini termasuk syirik besar, karena barangsiapa yang meyakini bah-wa ada pencipta selain Allah  maka dia termasuk orang yang musyrik.
2. Menjadikan bintang sebagai sebab bahwa dengannyalah seseorang menge-tahui perkara-perkara ghaib, dengan berdalilkan gerakan-gerakan, perpinda-han-perpindahan serta perubahan-peru-bahan bintang, bahwa akan terjadi begini dan begitu, karena bintang tersebutlah akan terjadi begini dan begitu, seperti perkataan : “Orang tersebut kehidupan-nya akan sengsara karena ia lahir pada zodiak (bintang) ini”, atau “Orang itu kehidupannya akan bahagia karena ia dilahirkan pada zodiak (bintang) itu”. Maka perbuatan ini merupakan suatu bentuk pengambilan ilmu perbintangan sebagai wasilah (perantara) untuk mengaku-ngaku mengetahui perkara yang ghaib, dan pengakuan terhadap perkara ghaib adalah perbuatan kufur yang dapat mengeluarkan pelakunya dari dien ini, kerena Allah  telah berfirman :
 قُلْ لاََ يــَعْلَمُ مَنْ فِي السَّــمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ  النمل :65
“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. Al Naml: 65)
Dalam ayat lain Allah  berfirman :
 قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِــنَـفْسِي نَفْـعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَ لَـوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْـثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نــَذِيرٌ وَبــَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  الأعراف : 188
“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehen-daki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.(QS. Al A’raf : 188)
Hal ini telah jelas bahwasanya tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan menimpa seseorang di kemudian hari, kecuali Allah . Dan Dia hanya memberitahu sebagian dari perkara yang ghaib kepada para Rasul yang diridhai-Nya, Allah  berfirman :
 عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا  إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَـيْنِ يَدَيــْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا  الجن : 26-27
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.  Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”. (QS. Al Jin :26-27)
Mengaku-ngaku bisa mengetahui garis perjalanan hidup seseorang melalui garis tangan, garis tanah, perdukunan, ramalan nasib maupun ramalan bintang, berarti mengingkari ayat-ayat tersebut di atas dan merupakan pengingkaran terha-dap ke-Esaan Allah . Oleh sebabnya perbuatan ini terlarang di dalam Islam, Rasulullah  telah bersabda:
 مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْـبَـلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبـَــعـِينَ لَيـْلَةً  رواه مسلم
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal (ahli nujum), lalu ia menanyakan sesuatu ke-padanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam” (HR. Muslim)
dan di hadits lain Rasulullah  bersabda :
 مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنـــْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ   رواه أحمد
“Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian dia membenarkan apa yang dia katakan, maka sesungguhnya dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ” (HR. Ahmad)
Demikianlah Islam telah melarang ummatnya untuk mengaku-ngaku me-ngetahui hal-hal yang ghaib atau mem-percayai kata-kata orang yang seperti itu.
Dan diantara akibat buruk dari ke-biasaan melihat ramalan-ramalan seperti ini adalah bahwasanya ramalan-ramalan tersebut akan menjadikan orang terbuai oleh janji-janji dan khayalan tentang apa yang akan terjadi, sehingga bisa melalai-kannya dari berusaha yang sebenarnya.
Untuk menghindari kebiasaan buruk seperti ini memerlukan perjuangan yang berat, karena syaithan akan terus beru-paya agar manusia tetap dengan kebia-saan membaca dan mempercayai rama-lan nasib.
Syaithan bahkan bisa memperindah ramalan bintang tersebut di mata manusia sehingga dapat membuatnya tercengang karena sebagian dari ramalan itu ternyata benar-benar terjadi, padahal sebenarnya hal tersebut tidak ada hubu-ngannya sama sekali antara ramalan tersebut dengan kejadian yang merupa-kan takdir Allah . Peristiwa itu akan tetap terjadi, diramal ataupun tidak di-ramal.
3. Meyakini bahwa bintang sebagai sebab terjadinya kebaikan dan keburukan yaitu ketika terjadi sesuatu, maka ia menyan-darkan hal tersebut kepada bintang dan ia tidak menyandarkannya kecuali setelah hal tersebut telah terjadi. Maka hal ini termasuk syirik kecil.
Faidah diciptakannya bintang
Allah  berfirman :
 وَلَقَدْ زَيَّــنَّـا السَّمَاءَ الدُّنْـيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْــنَاهَا رُجُومًا لِلشَّــيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ الملك :5
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelem-par syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala” (QS. Al Mulk:5)
Imam Bukhari berkata dalam shahihnya : Qatadah berkata :
خَلَقَ اللهُُ هَذِهِ الـنُّجُومَ لِـثَلاَثٍ جَعَـلَـهَا زِينَـةً لِلسَّــمَاءِ وَرُجُومًا لِلشَّــيَاطِينِ وَعَلاَمَاتٍ يُـهْتَدَى بِهَا فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيهَا بِغَيْرِ ذَلِكَ أَخْطَأَ
“Allah menciptakan bintang-bintang karena tiga hal : Sebagai perhiasan langit. sebagai alat pelempar untuk melempar syaithan dan sebagai tanda-tanda yang dijadikan sebagai petunjuk dengannya, maka barang siapa yang menta’wil tentang bintang selain ketiga diatas sungguh ia telah salah”
Berdasarkan kedua dalil diatas maka dapat disimpulkan bahwa fungsi utama diciptakannya bintang adalah :
1. Sebagai perhiasan langit
Apabila kita melihat langit bersih/ cerah di malam hari yang bukan malam bulan purnama, maka akan kita dapatkan bintang-bintang itu begitu indah dan menawan, karena Allah  telah ber-firman :
 وَلَـقَدْ زَيَّــنَّـا السَّـمَاءَ الدُّنْـيَا بِمَصَابِيحَ  الملك :5
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang” (QS. Al Mulk :5)
2. Sebagai alat pelempar syaithan
Syaithan yang dimaksudkan adalah syaithan dari golongan jin bukan syaithan dari golongan manusia, karena syaithan dari golongan manusia tidak mampu untuk mencapai langit, berbeda halnya dengan syaithan dari golongan jin me-reka telah dapat mencapai langit karena mereka lebih mampu untuk hal tersebut. Allah  telah menjelaskan tentang pekerjaan-pekerjaan mereka yang me-nunjukkan adanya kekuatan yang Allah berikan kepada mereka. Allah  ber-firman :
وَالشَّـــيَاطِينَ كُلَّ بَــنَّـاءٍ وَغَوَّاصٍ ص:37
“Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan, semuanya ahli bangunan dan penyelam” (QS. Shaad : 37)
dan di ayat lainnya Allah  berfirman :
قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَـبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَـيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ  النمل : 39
“Berkata `Ifrit dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singga-sana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. (QS. An Naml : 39)
dan di ayat lain Allah  telah menye-butkan perkataan para jin yang ingin mencuri dengar berita langit :
 وَأَنَّا كُـنَّـا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّــمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ اْلآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا  الجن :9
“Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)” (QS. Al Jin:9)
3. Tanda-tanda yang dengannya diambil petunjuk.
Sebagaimana firman Allah  :
 وَأَلْقَى فِي اْلأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنــــْهَارًا وَسُبُلاً لَعَلَّكُمْ تَـهْتَدُونَ  وَعَلاَمَاتٍ وَبِالـنَّـجْمِ هُمْ يَـهْتَدُونَ  النحل :15-16
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,  Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk”(An-Nahl : 15-16)
Di ayat ini Allah  menyebutkan dua bagian dari tanda-tanda yang dijadikan petunjuk :
a. Bumi, ini mencakup apa saja yang Allah  ciptakan di bumi maka ia termasuk tanda-tanda seperti gunung, sungai, jalan-jalan, lembah-lembah dan lainnya.
b. Langit, dan ini mencakup semua jenis bintang tidak ada yang dikhususkan dan setiap kaum/ suku mempunyai cara tersendiri dalam menentukan arah baik itu di daratan maupun di lautan.
Tidaklah Allah  menciptakan bin-tang, bulan dan seluruh jagat raya ini kecuali terdapat hikmah-hikmah di dalamnya. –Wallahu A’lam-

-Abu Hamzah-

Maraji’ : Al Qaul Al Mufid, Fadhilatu Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin.

Sumber : Buletin Al Fikrah Thn II NO 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s