Uncategorized

FATWA MUI LEBIH DARI SEKALI


KE I

Majelis Ulama Indonesia dalam Musyawarah Nasional II tanggal 11-17 Rajab
1400 H/26 Mei – 1 Juni 1980 M. di Jakarta memfatwakan tentang jama’al
Ahmadiyah sebagai berikut :

Sesuai dengan data dan fakta yang diketemukan dalain 9 (sembilan) buah
buku tentang Ahmadiyah, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa Ahmadiyah
adalah jama’ah *di luar Islam, sesat dan menyesatkan.*
1. Dalam menghadapi persoalan Ahmadiyah hendaknya Majelis Ulama
Indonesia selalu berhubungan dengan Pernerintah. Kemudian Rapat Kerja
Nasional bulan 1- 4 Jumadil Akhir 1404 H./4 – 7 Maret 1984 M.,
merekomendasikan tentang jama’ah Ahamdiyah tersebut sebagai : berikut :
2. Bahwa Jemaat Ahmadiyah di wilayah Negara Republik Indonesia
berstatur sebagai badan hukum berdasarkan Surat Keputusan
Menteri Kehakiman
RI No. JA/23/13 tanggal 13-3-1953 (Tambahan Berita Negara:
tangga131-3-1953
No. 26), bagi ummat Islam menimbulkan :

1. Keresahan karena isi ajarannya bertentangan dengan ajaran agama
Islam
2. Perpecahan, khususnya dalam hal ubudivah (shalat), bidang
munakahat dan lain-lain.
3. Bahaya bagi ketertiban dan keamanan negara. Maka dengan
alasan-alasan tersebut dimohon kepada pihak yang berwenang
untuk meninjau
kembali Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI JA/22/ 13,
tanggal 31-3-1953
(Tambahan Berita Negara No. 26, tanggal 31– – 1953).
*Menyerukan :*

1. Agar Majelis Ulama Indonesia, Majelis Ulama Daerah Tingkat I,
Daerah Tingkat II, para ulama, dan da’i di seluruh Indonesia, menjelaskan
kepada masyarakat tentang sesatnya Jema’at Ahmadiyah Qadiyah
yang berada di
luar Islam.
2. Bagi mereka yang telah terlanjur mengikuti Jema’at Ahmadiyah
Qadiyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang benar.
3. Kepala seluruh ummat Islam supaya mempertinggi kewaspadaannya,
sehingga tidak akan terpengaruh dengan faham yang sesat itu

*KE II*

*KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor : 11/MUNAS VII/MUI/15/2005
Tentang
ALIRAN AHMADIYAH*

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawaran Nasional MUI VII, pada 19-22
Jumadil Akhir 1426H./ 26-29 Juli 2005 M. setelah
MENIMBANG :

1. Bahwa sampai saat ini aliran Ahmadiyah terus berupaya untuk
mengembangkan pahamnya di Indonesia, walaupun sudah ada fatwa MUI dan telah
dilarang keberadaannya;
2. Bahwa upaya pengembangan paham Ahmadiyah tersebut telah menimbulkan
keresahaan masyarakat;
3. Bahwa sebagian masyarakat meminta penegasan kembali fatwa MUI tentang
faham Ahmadiyah sehubungan dengan timbulnya berbagai pendapat dan berbagai
reaksi di kalangan masyarakat;
4. Bahwa untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan menjaga kemurnian aqidah
Islam, MUI memandang perlu menegaskan kembali fatwa tentang aliran
Ahmadiyah.

MENGINGAT :

1. Firman Allah SWT.,
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara
kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi; dan adalah Allah
Maha mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Ahzab [33]: 40)
Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu di
perintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa (QS. Al- An’am [6]: 153)
Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu. Tiadalah orang yang sesat
itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk….
(QS. Al-Ma’idah [5]: 105)
2. Hadist Nabi S.A.W.; A.l.:
Rasulullah bersabda: Tiadak ada Nabi sesudahku (HR. al-Bukhari).
Rasulullah bersabda: “Kerasulan dan kenabian telah terputus; karena itu,
tidak ada Rasul maupun Nabi sesudahku (HR Tirmidzi)

MEMPERHATIKAN :

1. Keputusan Majma al-Fiqh al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Nomor 4 (4/2) dalam Muktamar II di Jeddah, Arab Saudi, pada tanggal 10-16
Rabi’ al-Tsani 1406H./22-28 Desember 1985M tentang Aliran Qodiyaniyah, yang
antara lain menyatakan; bahwa aliran Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam
Ahmad sebagai Nabi sesudah Nabi Muhammad dan menerima wahyu adalah murtad
dan keluar dari Islam karena mengingkari ajaran Islam yang qath’i dan di
sepakati oleh seluruh Ulama Islam bahwa Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul
terakhir.
2. Keputusan Majma’ al-Fiqh Rabitha’ Alam Islami.
3. Keputusan Majma’ al-Buhuts.
4. keputusan Fatwa MUNAS II MUI pada tahun1980 tentang Ahmadiyah
Qodiyaniyah.
5. Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

*M E M U T U S K A N*

MENETAPKAN : *FATWA TENTANG ALIRAN AHMADIYAH*

1. Menegaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam Munas II Tahun 1980 yang
menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan
menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari
Islam)’
2. Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Aliran ahmadiyah supaya segera
kembali kepada ajaran Islam yang haq (al-ruju’ ila al-haqq), yang sejalan
dengan al-Qur’an dan al-Hadis.
3. Pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham Ahmadiyah di
seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat
kegiatannya.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : *22 Jumadil Akhir 1426 H*
29 Juli 2005 M

*MUSYAWARAH NASIONAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA,
Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa*

Ketua, Sekretaris,

K.H. MA’RUF AMIN HASANUDIN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s