Uncategorized

Kenabian Mirza Ghulam Ahmad


Para pendakwah Ahmadiyah sering mengelak dan berkilah dari konsep kenabian
Mirza. Sebab, jika diawal mereka terang-terangan mengakui kenabian Mirza,
maka akan mudah lawan-lawan Ahmadiyah menyerangnya dan mengatakannya sesat,
diluar Islam, maka aliran ini akan sulit mendapatkan simpati dan pengikut.

Berikut beberapa teks dari buku-buku yang dikarang sendiri oleh Mirza atau
pengikut aliran ini, yang menunjukan bahwa Mirza Ghulam Ahmad nabi ataukah
manusia biasa:

1. Dari terjemahan buku Ahmadiyah yang berjudul (The Ahmadiyya Movement
in Islam inc.) karangan Louis J. Hamman dari Gettysburg College,
terjemahannya direstui oleh Syekh Mubarrak Ahmad, tertulis sebagai berikut:
“Bagaimanapun sampai umur 41 tahun (1876) Hazrat Ahmad mulai menerima banyak
wahyu yang akan membawanya pada keyakinan bahwa didalam pribadinya telah
genap datangnya Al-Mahdi. “Setelahnya”, sebagaimana kata Zafrullah Khan,
“telah diwahyukan kepadanya bahwa ia juga adalah Al-Masih yang dijanjikan
dan benar-benar seorang nabi yang dating seperti yang telah dikabarkan dalam
agama-agama utama di dunia “. Ia adalah “juara yang berasal dari Tuhan
dengan jubah pakaian semua para Nabi”.
2. Dalam buku yang juga dikeluarkan oleh jamaah Ahmadiyah berjudul
*”Perjalanan
Mirza Ghulam Ahmad” *termuat sebagai berikut:

– Tahun 1876 Hazrat Ahmad berusia kurang lebih 40 tahun ketika ayah beliau
sakit, dan penyakitnya tidaklah begitu berbahaya. Tetapi Allah menurunkan
ilham ini kepada beliau: “*Persumpahan demi langit yang merupakan sumber
takdir, dan demi peristiwa yang akan terjadi setelah tenggelamnya matahari
pada hari ini”.*

Tiba-tiba saya rasakan seperti tidur dan menerima ilham yang kedua: *”Apakah
Allah tidak cukup bagi HambaNya?”*

– Di dalam buku itu, Hazrat Ahmad juga mencantumkan beberapa ilham yang
beliau terima, sebagian diantaranya kami paparkan disini supaya terlihat
bukti-bukti kebenarannya: *”Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia
tidak menerimanya”.*

*”Akan datang kepadamu hadiah-hadiah dari tempat-tempat yang jauh dan
orang-orang banyak akan datang dari tempat-tempat yang jauh”.*

Pendakwaan Diri sebagai Masih Mau’ud

– “Pada tahun 1891 telah terjadi suatu perubahan yang amat besar, yakni
Hazrat Ahmad diberi ilham oleh Allah bahwasannya Nabi Isa yang
ditunggu-tunggu kedatangannya kedua kali itu telah wafat dan tidak akan
datang lagi kedunia ini. Kedatangan nabi Isa kedua adalah orang lain yang
akan datang dengan sifat dan cara seperti nabi Isa, yaitu Hazrat Ahmad
sendiri orangnya.

1. Dalam buku yang dikeluarkan oleh jamaah Ahmadiyah yang
berjudul:*Analisa Tentang Khataman Nabiyyin,
* dinukil beberapa perkataan Mirza:* “Kami beriman bahwa nabi Muhammad
berpangkat Khataman dan sesudah beliau tidak akan ada seorangpun terkecuali
yang dipelihara oleh faidh dan berkatnya dan sudah dinyatakan oleh janjinya
“.*

*”Sesungguhnya nabi kita(Muhammad) adalah khatamul anbiyaa, sesudah beliau
tidak ada seorangpun nabi, terkecuali orang yang diterangi oleh nur beliau
dan yang penzahirannya adalah bayangan dari penzahiran beliau”.*

Lalu penulis buku itu menyimpulkan: “Yang menjadi perbedaan antara kami
jamaah Ahmadiyah dengan golongan Islam lain hanyalah satu, kami percaya
bahwa nabi yang dijanjikan sudah datang, yakni Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad”.

1. Dalam buku *Ajaranku* yang ditulis oleh Mirza sendiri termuat: “Aku
sekali-kali tidak mengingkari keluhuran Hazrah Isa, sungguhpun kepadaku
Tuhan mengabarkan bahwa Masih Muhammadi berkedudukan lebih tinggi dari Masih
Musawi, akan tetapi aku memberi penghormatan yang sangat tinggi terhadap
Masih ibnu Maryam, oleh sebab dalam segi kerohanian aku adalah *Khatamul
Khulafa* di dalam Islam, seperti halnya Masih ibnu Maryam adalah Khatamul
Khulafa di dalam silsilah Israil. Dalam Syariah Musa, Isa ibnu Maryam adalah
Masih Mau’ud, sedangkan di dalam syariah Muhammad SAW akulah Masih Mau’ud.
Oleh karena itu aku menghormati beliau sebagai rekanku, dan barang siapa
yang mengatakan bahwa aku tidak menghormati beliau, dialah seorang pembuat
onar dan seorang pendusta besar”.

Dari beberapa tulisan di atas, jelas dan tidak diragukan lagi bahwa:

– *Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya sebagai nabi dan rasul yang menerima
wahyu*

– *Kadang Mirza juga mengaku sebagai Al-Mahdi, kadang Al-Masih dan kadang
Al-Mau’ud atau Masih Mau’ud*

– *Para** pengikut aliran ini sepakat bahwa Mirza adalah nabi dan menerima
wahyu*
Disinilah kesesatan mereka mulai terihat.

Sumber : Buku Menguak Kesesatan Aliran Ahmadiyah, karangan Dr.Ahmad Lutfi
Fatullah, MA.(Dosen PascaSarjana untuk mata kuliah Hadits dan ilmu Hadits di
UIN Jakarta, UI, IIQ Jakarta, IAIN SGDBandung, Univ.Muhammadiyah, UIN-McGill
Canada, Dosen penguji Siswazah Univ. Kebangsaan Malaysia)

Iklan

Satu tanggapan untuk “Kenabian Mirza Ghulam Ahmad

  1. semoga Allah senantiasa melindungi kita dari segala kesesatan dan tipu daya syetan dari jenis jin dan manusia.
    Laa ilaha illa Allah Muhammadur Rasulullah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s