Posted in Kisah

PENDETA ROMA MASUK ISLAM


Segala puji bagi Allah. Semoga
shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para
sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya
sebagai petunjuk sampai hari kiamat.

Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada
kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka
memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk
itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang
berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah
atas makhluk-Nya.

Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan
keikhlasan karena Allah Ta’ala, pasti Dia Azza wa Jalla akan menunjukinya
kepada kebenaran tersebut, dan dapat dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di
alam nyata ini, yaitu kenikmati Islam. Semoga Allah merahmati Syaikh kami
Al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan.

“Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan As-Sunnah”.

Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah.:
“Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orang ‘ajam dan pemuda adalah, ketika
dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada
sunnah Rasulullah.

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali
Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya”.

Inilah kalimat tauhid, kalimat yang baik dan kunci surga. Kalimat inilah
stasiun pertama dari jalan panjang yang penuh dengan onak dan duri, kalimat
taqwa bukanlah kalimat yang mudah bagi seseorang insan yang ingin menggerakkan
lisannya untuk mengucapkannya, demikian juga ketika dia ingin mengeluarkannya
dari hatinya yang paling dalam. Karena, ketika seorang insan ingin
mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam, maka dia harus mengetahui
terlebih dahulu, bahwa kalimat itu keluar dengan seizin Allah Ta’ala.

Demikianlah yang dialami oleh Ibrahim (dulu bernama Danial) –semoga Allah
memerliharanya, meluruskannya diatas jalan keistiqomahan, serta menutup
lembaran hidupnya diatas Islam-

Inilah dia yang akan menceritakan kepada kita, bagaimana dia meninggalkan agama
kaumnya (Nasrani) menuju Islam, dan bagaimana dia telah mengorbankan kekayaan
ayahnya serta kemewahan hidupnya, di suatu jalan (hakekat terbesar), demi mencari
kebebasan akal dan jiwa.

Ibrahim (dulu bernama Danial) –semoga Allah memeliharanya, dan mengokohkannya
diatas jalan keistiqomahan- menceritakan :

Saya adalah seorang lelaki dari keluarga Roma, seorang anak dari keluarga kaya,
semasa kecil, saya hidup dengan kemewahan dan kemakmuran. Demikianlah, kulalui
masa kecilku. Ketika masa remajapun, saya banyak menghabiskan waktu dengan
kemewahan bersama teman-temanku, ketika itu saya memiliki sebuah mobil mewah
dan uang, sehingga saya bisa memiliki segala sesuatu dan tidak pernah
kekurangan.

Akan tetapi sejak kecil, saya senantiasa merasa bahwa dalam kehidupan ini ada
yang kurang, dan saya yakin bahwa ada sesuatu yang salah di dalam hidupku,
serta suatu kekosongan yang harus kupenuhi, karena semua sarana kehidupan ini
bukanlah tujuanku.

Saya mulai tertarik dengan agama, dan mulailah kubaca Injil, pergi ke gereja,
serta kusibukkan diriku dengan membaca buku-buku agama Kristen. Dari buku-buku
yang kubaca tersebut, mulai kudapatkan sebagian jawaban atas berbagai
pertanyaannku, akan tetapi tetap saja belum sempurna

Dahulu saya bangun pagi setiap hari dan pergi ke pantai, saya merenungi laut
sambil membaca buku-buku dan shalat Setelah dua bulan dari permulaan hidupku
ini, saya merasa mantap bahwa saya tidak mampu terus menerus menjalani hidupku
seperti biasanya setelah beragama. Ketika itu, saya mendatangi ayahku dan
kukabarkan kepadanya bahwa saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengannya, saya
juga pergi mendatangi ibu dan saudara-saudariku dan kukabarkan kepada mereka
bahwa saya telah mengambil keputusan untuk meninggalkan mereka

Kemudian kusiapkan tasku lalu naik kereta tanpa kuketahui ke mana saya hendak
pergi, hingga saya tiba di kota Polon, kemudian saya masuk ke Ad-Dir [1]
disana, lalu naik gunung yang tinggi. Saya menetap di gunung selama kira-kira
sebulan, saya tidak berbicara dengan siapapun, saya hanya membaca dan
beribadah.

Sekitar tiga tahun, saya senantiasa berpindah-pindah dari satu Ad-Dir ke Ad-Dir
yang lain, saya membaca dan beribadah, kebalikannya para pendeta yang tidak
bisa meninggalkan Ad-Dir mereka, karena saya tidak pernah memberikan janji
untuk menjadi seorang pendeta di suatu Ad-Dir tertentu, dan janji tersebut akan
menghalangiku untuk keluar masuk darinya.

Setelah itu, saya memutuskan untuk berkelilng ke berbagai negeri, maka saya
memulai perjalanan panjangku dari Italia melalui Slovania, Hungaria, Nimsa,
Romania, Bulgaria, Turki, Iran, Pakistan, dari sana menuju India. Semua
perjalanan ini saya tempuh melalui jalur darat. Saya mendengar suara adzan di
Turki, dan saya sudah pernah mendengarnya di Kairo (Mesir) pada perjalananku
sebelumnya, akan tetapi kali ini sangat terkesan, sehingga saya mencintai

Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan seorang muslim Syi’ah di
perbatasan Iran dan Pakistan, dia dan temannya menjamuku dan mulai menjelaskan
kepadaku tentang Islam versi Syi’ah. Keduanya menyebutkan Imam Duabelas dan
mereka tidak menjelaskan kepadaku tentang Islam dengan sebenarnya, bahkan
mereka memfokuskan pada ajaran Syi’ah dan Imam Ali Radhiyallahu ‘anhu, serta
tentang penantian mereka terhadap seorang Imam yang ikhlas, yang akan datang
untuk membebaskan manusia.

Semua diskusi tersebut sama sekali tidak menarik perhatianku, dan saya belum
mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaanku dalam rangka mencari hakekat
kebenaran. Orang Syi’ah itu menawarkan kepadaku untuk mempelajari Islam di kota
Qum, Iran, selama tiga bulan tanpa dipungut biaya, akan tetapi saya memilih
untuk melanjutkan perjalananku dan kutinggalkan mereka.

Kemudian saya menuju India, dan ketika saya turun dari kereta, pertama yang
kulihat adalah manusia yang membawa kendi-kendi di pagi hari sekali dengan
berlari-lari kecil menuju kedalam kota, maka kuikuti mereka dan saya melihat
mereka berthowaf mengelilingi sapi betina yang tebuat dari emas, ketika itu
saya sadar bahwa India bukanlah tempat yang kucari.

Setelah itu, saya kembali ke Italia dan dirawat di rumah sakit selama sebulan
penuh, hampir saja saya meninggal dikarenakan penyakit yang saya derita ketika
di India, akan tetapi Allah telah menyelamatkanku, Alhamdulillah.

Saya keluar dari rumah sakit menuju rumah, dan mulailah saya berfikir tentang
langkah-langkah yang akan saya ambil setelah perjalanan panjang ini, maka saya
memutuskan untuk terus dalam jalanku mencari hakekat kebenaran. Saya kembali ke
Ad-Dir dan mulailah kujalani kehidupan seorang pendeta di sebuah Ad-Dir di
Roma. Pada waktu itu saya telah diminta oleh para pembesar pendeta disana untuk
memberikan kalimat dan janji. Pada malam itu, saya berfikir panjang, dan
keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak memberikan janji kepada mereka
lalu kutinggalkan Ad-Dir tersebut.

Saya merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari Ad-Dir, setelah itu
saya menuju Al-Quds karena saya beriman akan kesuciannya. Maka mulailah saya
berpergian menuju Al-Quds melalui jalur darat melewati berbagai negeri, sampai
akhirnya saya tiba di Siria, Lebanon, Oman dan Al-Quds, saya tinggal disana
seminggu, kemudian saya kembali ke Italia, maka bertambahlah pertanyaan-pertanyaanku,
saya kembali ke rumah lalu kubuka Injil.

Pada kesempatan ini, saya merasa berkewajiban untuk membaca Injil dari
permulaannya, maka saya memulai dari Taurat, menelusuri kisah-kisah para nabi
bani Israel. Pada tahap ini mulai nampak jelas di dalam diriku makna-makna
kerasulan hakiki yang Allah mengutus kepadanya, mulailah saya merasakannya,
sehingga muncullah berbagai pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya,
saya berusaha menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dari
perpustakaanku yang penuh dengan buku-buku tentang Injil dan Taurat.

Pada saat itu, saya teringat suara adzan yang pernah kudengar ketika
berkeliling ke berbagai negeri serta pengetahuanku bahwa kaum muslimin beriman
terhadap Tuhan yang satu, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Dan
inilah yang dulu saya yakini, maka saya berkomitmen : Saya harus berkenalan
dengan Islam, kemudian mulailah ku-kumpulkan buku-buku tentang Islam, diantara
yang saya miliki adalah terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Italia, yang pernah
saya beli ketika berkeliling ke berbagai negeri.

Setelah kutelaah buku-buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa Islam tidak
seperti yang dipahami oleh mayoritas orang-orang barat, yaitu sebagai agama
pembunuh, perampok dan teroris. Akan tetapi yang saya dapati adalah Islam itu
agama kasih sayang dan petunjuk, serta sangat dekat dengan makna hakiki dari
Taurat dan Injil.

Kemudian saya putuskan untuk kembali ke Al-Quds, karena saya yakin bahwa
Al-Quds adalah tempat turunnya kerasulan terdahulu, akan tetapi kali ini saya
menaiki pesawat terbang dari Italia menuju Al-Quds. Saya turun di tempat
turunnya para pendeta dan peziarah dibawah panduan hause bus Armenia di daerah
negeri kuno. Di dalam tasku, saya tidak membawa sesuatu kecuali sedikit
pakaian, terjemahan Al-Qur’an, Injil dan Taurat, kemudian saya mulai membaca
lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi, saya membandingkan kandungan Al-Qur’an
dengan isi Taurat dan Injil, sehingga saya berkesimpulan bahwa kandungan
Al-Qur’an sangat dekat dengan ajaran Musa dan Isa ‘Alaihis salam yang asli

Selanjutnya saya mulai berdialog dengan kaum muslimin untuk menanyakan kepada
mereka tentang Islam, sampai akhirnya saya bertemu dengan sahabatku yang mulia
Wasiim Hujair, kami berbincang-bincang tentang Islam. Saya juga banyak bertemu
dengan teman-teman, mereka menjelaskan kepada saya tentang Islam. Setelah itu,
saudara Wasiim mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengadakan suatu pertemuan
antara saya dengan salah seorang da’i dari teman-temannya para da’i.

Pertemuan itu berlangsung dengan saudara yang mulia Amjad Salhub, kemudian
terjadilan perbincangan yang bagus tentang agama Islam. Diantara perkara yang
paling mempengaruhiku adalah kisah sahabat yang mulia, Salman Al-Farisi
Radhiyallahu ‘anhu, karena didalamnya ada kemiripan dengan ceritaku tentang
pencarian hakekat kebenaran.

Kami berkumpul lagi dalam pertemuan yang lain dengan saudara Amjad beserta
teman-temannya, diantaranya Fadhilatusy Syaikh Hisyam Al-Arif Hafidhohullah,
maka berlangsunglah dialog tentang Islam dan keagungannya, kebetulan ketika itu
saya memiliki beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh Syaikh.

Setalah itu, saya terus menerus berkomunikasi dengan saudara Amjad yang dengan
sabar menjelaskan jawaban atas mayoritas pertanyaan-pertanyaannku. Pada saat
seperti itu di depan saya ada dua pilihan, antara saya mengikuti kebenaran atau
menolaknya, dan saya sama sekali tidak sanggup menolak kebenaran tersebut
setelah saya meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar.

Pada saat itu juga, saya merasakan bahwa waktu untuk mengucapkan kalimat tauhid
dan syahadat telah tiba. Ternyata tiba-tiba saudara Amjad mendatangiku
bertepatan dengan waktu dikumandangkannya adzan untuk shalat dhuhur. Waktu itu
benar-benar telah tiba, sehingga tiada pilihan bagiku kecuali saya mengucapkan.

“Asyhadu An Laa Ilaha Illallahu Wa Anna Muhammadan Rasulullah”

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali
Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.

Maka serta merta saudara Amjad memeluku dengan pelukan yang ramah, seraya
memberikan ucapan selamat atas ke-Islamanku, kemudian kami sujud syukur
sebagaimana ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah nikmat ini.
Kemudian saya diminta mandi [2] dan berangkat ke Masjid Al-Aqsho untuk menunaikan
shalat dhuhur.

Di tempat tersebut setelah shalat, saya menemui jama’ah shalat dengan syahadat,
yaitu persaksian kebenaran dan tauhid yang telah Allah anugerahkan kepadaku.
Setelah saya mengetahui bahwa siapa saja yang masuk Islam wajib baginya berkhitan,
maka segala puji dan anugerah milik Allah, saya tunaikan kewajiban berkhitan
tersebut sebagai bentuk meneladani bepaknya para nabi, yaitu Ibrahim Alaihis
sallam yang melakukan khitan pada usia 80 tahun.[3]

Itulah diriku, saya telah memulai hidup baru dibawah naungan agama kebenaran,
agama yang penuh dengan kasih sayang dan cahaya. Saya senantiasa menuntut ilmu
agama dari kitab Allah Ta’ala dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam sesuai dengan manhaj salaf (pendahulu) umat ini, dari kalangan para
sahabat Radhiyallahu ‘anhum beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan
baik sampai hari kiamat.

Segala puji bagi Allah atas anugerah Islam dan As-Sunnah.

[Dialihbahasakan oleh Abu Zahro Imam Wahyudi Lc dari majalah Ad-Da’wah
As-Salafiyah – Palestina edisi Perdana, Muharram 1427H halaman 21-24]

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Vol 5 No 3 Edisi 27 – Shafar
1428H. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Jl Sidotopo Kidul No. 51
Surabaya]
__________
Foote Note
[1]. Ad-Dir = Istilah untuk gereja yang terpencil di pedalaman.
[2]. Sebagaimana hadits Qoish bin Ashim, beliau menceritakan : “ Ketika beliau
masuk Islam. Rasulullah memerintahkannya untuk mandi dengan air yang dicampur
bidara” [HR An-Nasari, At-Tummudzi dan Abu Daud. Dishahihkan oleh Al-Albani
dalam Al-Irwa no. 128]
[3]. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ibrahim
berkhitan ketika umur 80 tahun dengan “Al-Qoduum” (nama alat atau tempat)” [HR
Al-Bukhari 3356 dan Muslim 2370]
Diposting oleh ibnuisa di 19:06 0 komentar
Jangan Tinggalkan Aku
“KIRA-KIRA jam tiga berserulah Yesus dengan
suara nyaring : “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Tuhan-ku,
Tuhan-ku, MENGAPA KAU TINGGALKAN AKU ?”( Injil Matius 27:46)

One thought on “PENDETA ROMA MASUK ISLAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s