Tsaqofah

Menyikapi Kebiadaban Israel


wallpaperisraelTidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan pembantaian IsraelIsrael kembali menumpahkan darah kaum Muslimin di Gaza, Palestina. Ratusan Muslim tewas dirudal zionis yahudi dan ribuan lainnya luka-luka. terhadap rakyat Palestina selain kata “BIADAB”.

Percik darah masih terus tercecer di Serambi Al Quds. Rintihan dari mulut-mulut kecil dan tak berdosa, bocah-bocah malang Palestina menjadi saksi betapa kekejaman kaum Yahudi—laknatullah—masih terus terjadi di bumi suci Palestina.

Ketika darah kaum Muslimin ditumpahkan dengan sewenang-wenang oleh Yahudi Israel, maka bagaimana seharusnya sikap yang harus diambil seorang Muslim?

1. Mendoakan rakyat Palestina dan membaca Qunut Nazilah dalam shalat

Di antara orang yang doanya mustajab adalah doa seorang Muslim terhadap saudaranya dari tempat yang jauh. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallambersabda, artinya, “Tidaklah seorang Muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak berada di hadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata, “Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan”.” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi berkata bahwa hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan seorang Muslim mendoakan saudaranya dari tempat yang jauh. Jika seandainya dia mendoakan sejumlah atau sekelompok umat Islam, maka ia tetap mendapatkan keutamaan tersebut. Karena itu, sebagian ulama Salaf tatkala berdoa untuk diri sendiri, mereka menyertakan saudaranya dalam doa tersebut, karena di samping terkabul, dia akan mendapatkan sesuatu semisalnya.”

Adapun qunut, secara istilah adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani—rahimahullah, “Suatu doa di dalam shalat pada tempat yang khusus dalam keadaan berdiri.” (Fathul Bari, 2/490.) Dan nazilah artinya malapetaka atau musibah yang turun menimpa kaum muslimin dalam bentuk gempa, banjir, peperangan, penganiayaan dan sebagainya.

Qunut nazilah adalah suatu hal yang disyariatkan dan amat disunnahkan ketika terjadi musibah dan kezaliman.

Imam Syafi’i—rahimahullah—berkata, “Apabila turun musibah kepada kaum Muslimin, disyariatkan membaca qunut nazilah pada seluruh shalat wajib.” (Syarhus Sunnah karya Al-Baghawi 2/279).

Soal lafal, tidak ada hadis dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam yang menunjukkan adanya doa khusus dalam qunut nazilah. Karenanya, seseorang boleh berdoa dengan doa yang sesuai dengan keadaan orang yang tertimpa musibah.

Contoh bacaan yang biasa dibaca dalam doa qunut:

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ , اللَّهُمَّ أَذِلََّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ , اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ والمُسْتَضْعَفِينَ فِىْ فِلِسْطِيْنَ وَفِيْ كُلِّ مَكَانٍ . اللَّهُمَّ دَمِّرْ أعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ, اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالشِّرْكَ وَالمُنَافِقِيْنَ , اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِيْ نُحُوْرِ أَعْدَائنا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ, اللَّهُمَّ بَدِّدْ شَمْلَهُم وفَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ كَلِمَتَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَسَلِّطْ عَلَيْهِمْ جُنْدًا مِن جُنُوْدِكَ يَا عَزِيْزُ يَا قَهَّارُ , يَا جَبَّارُ , يَا الله , يَا الله , يَا الله , يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ يَا مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَيَا مُجْرِيَ السَحَابِ وَيَا هَازِمَ الْأَحْزَابِ , اِهْزِمِ الْكُفَّارَ , اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَمَنْ وَالاهُمْ , وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ .اللَّهُمَّ أَنْتَ القَوِىُّ وَ نَحْنُ ضُعَفَاءُ ,نَشْكُوْا ضُعْفَ قُوَّتِنَا , اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا وَنَحْنُ عِبَادُكَ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا شَهَادَةً فِىْ سَبِيْلِكَ , رَبَّنَا آتِنَا فِىْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً , وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ , وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ , وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Lafal qunut di atas tidak semuanya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Olehnya, tidak ada keterkaitan dengannya apalagi menganggapnya sebagai doa yang disunnahkan. Dan bagi yang mampu menyusun doa dalam bahasa Arab yang sesuai dengan keadaan musibah, tidak ada larangan baginya untuk berdoa dengannya.

2. Mengumpulkan bantuan baik dana maupun harta benda dan mengirimkannya melalui LSM terpercaya

Pada peristiwa perang Tabuk, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallammembuka kesempatan kepada para sahabatnya untuk bersedekah sebagai bekal pasukan perang. Maka berinfaklah para sahabat, kaya maupun miskin. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan seluruh hartanya. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menginfakkan setengah hartanya. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menginfakkan 100 kuda dan 300 unta lengkap dengan pelananya (dalam riwayat lain disebutkan 900 unta dan 100 kuda). Kaum wanita pun tak ketinggalan menginfakkan perhiasan-perhiasan mereka.

Namun ada pula para sahabat yang karena kemiskinan mereka hanya mampu menginfakkan 60 gantang sampai 120 gantang kurma. Kurma yang sedikit untuk membekali pasukan yang berjumlah besar? Benar, ia sedikit. Akan tetapi, yang mereka infakkan adalah seluruh dari apa yang mereka punyai. Mereka ingin memberikan makan kepada tentara berhari-hari. Bagi sebagian orang, mungkin infak mereka tersebut tidak berarti. Akan tetapi bagi mereka, infak tersebut banyak. Begitu juga di sisi Allah. Infak tersebut banyak, dan sangat banyak.

Ada ribuan saudara kita yang saat ini meregang nyawa di Palestina. Mereka butuh uluran tangan dan doa kita.

3. Memotivasi para ulama, da’i, khatib dan para penulis untuk menjelaskan kezhaliman Israel dan musuh-musuh Islam

Kita menyayangkan sikap aktivis LSM yang selama ini dikenal sebagai pejuang keadilan masyarakat, namun tidak banyak berbicara—bahkan terkadang membisu—ketika umat Islam yang jadi korban. Juga menyesalkan sikap media massa—yang didominasi oleh kaum kuffar—yang pemberitaannya tidak seantusias jika yang jadi korban adalah nonmuslim. Jika korban dari kalangan nonmuslim, meski hanya satu orang, mereka heboh bukan main dengan membawa-bawa alasan pelanggaran HAM, korban terorisme, dan seterusnya. Jika yang jadi korban adalah umat Islam, maka banyak fakta yang tidak akan diungkap, atau fakta itu sengaja diputarbalikkan untuk menyudutkan kaum Muslimin.

Di sinilah peran para ulama, dai, khatib, maupun media milik umat Islam untuk menjelaskan fakta yang sebenarnya kepada umat.

4. Mengintrospeksi diri terhadap kelalaian dari niat berjihad

Dien Allah (Islam) tidak akan menang hanya dengan omong kosong belaka. Negeri-negeri Islam juga tidak akan terjaga hanya dengan pantun, lagu, dan syair.

Percik darah di Serambi Al Quds ini akan menaikkan tensi ghirah kita kepada Islam. Terutama kaum Muslimin Palestina. Jika bocah-bocah Palestina dengan lantang mengatakan, “Beri aku senjata, maka demi Allah, aku akan melawan mereka!” Maka bagaimana dengan kita?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam telah bersabda, artinya, “Barangsiapa meninggal dunia dan belum pernah berjihad atau belum meniatkan dirinya untuk berjihad, maka ia mati pada salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Mari kita tanyakan pada diri kita, ketika kita menyaksikan pembantaian rakyat Palestina oleh zionis Israel, pernahkah terbetik dalam hati kita untuk berjihad? Ataukah hanya sebatas empati dan ucapan, “Kasihan”?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda, artinya, “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara Al-‘Inah dan kalian telah ridho dengan perkebunan dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang (Allah) tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian”. (HR. Abu Daud)

5. Memahamkan generasi muda Islam akan permusuhan Yahudi dan musuh-musuh Islam lainnya

Tanyakan pada anak-anak muda, siapa idola mereka? Maka Anda akan mendengar kebanyakan jawaban mereka adalah para artis dan olahragawan. Tanpa peduli apapun agamanya. Karenanya, mereka bangga ketika bisa mengikuti tingkah dan budaya idola mereka, meskipun hal itu telah merambah daerah ritual keagamaan, seperti turut memperingati natal, tahun baru, dan ritual-ritual keagamaan lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah: 120).

6. Mengingatkan kaum Muslimin akan keutamaan jihad

Karena kecintaan terhadap dunia, orang Islam jadi takut berjihad. Padahal, keutamaan jihad sangat banyak. Di antaranya (sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih):

-Geraknya mujahid di medan perang diberikan pahala oleh Allah.

-Jihad adalah perdagangan yang untung dan tidak pernah rugi.

– Jihad lebih utama daripada meramaikan Masjidil Haram dan memberikan minum kepada jama’ah haji.

-Jihad merupakan satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid).

-Orang yang berjihad, meskipun dia sudah mati syahid namun ia tetap hidup dan diberikan rizki.

-Orang yang berjihad seperti orang yang berpuasa tidak berbuka dan melakukan shalat malam terus-menerus.

-Surga memiliki 100 tingkatan yang disediakan Allah untuk orang yang berjihad di jalan-Nya. Antara satu tingkat dengan yang lainnya berjarak seperti langit dan bumi.

-Surga di bawah naungan pedang mujahidin.

-Orang yang mati syahid mempunyai 6 keutamaan: (1) diampunkan dosanya sejak tetesan darah yang pertama, (2) dapat melihat tempatnya di Surga, (3) akan dilindungi dari adzab kubur, (4) diberikan rasa aman dari ketakutan yang dahsyat pada hari Kiamat, (5) diberikan pakaian iman, dinikahkan dengan bidadari, (6) dapat memberikan syafa’at kepada 70 orang keluarganya.

-Orang yang pergi berjihad di jalan Allah itu lebih baik dari dunia dan seisinya.

-Orang yang mati syahid, ruhnya berada di qindil (lampu/lentera) yang berada di surga.

-Orang yang mati syahid diampunkan seluruh dosanya kecuali hutang.

7. Menggunakan segala cara yang dapat mendatangkan kerugian bagi Israel sekutu-sekutunya, seperti melakukan boikot terhadap barang-barang yang mereka produksi atau perusahaan-perusahaan yang aktiv memberikan sokongan dana bagi Israel. dan

8. Menggunakan seluruh potensi yang ada untuk menyiapkan kekuatan dalam menghadapi musuh

Dulu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa sallam memuliakan Masjidil Aqsha dan Palestina. Para sahabat kemudian membebaskannya dan menjadikannya sebagai wilayah Islam. Kini Palestina terjajah dan dizalimi. Darah bersimbah di bumi Palestina. Lalu apa yang telah kita persiapkan?
Wallahul Musta’ân wa Ilaihil Musytakâ
Sumber : Wahdah.or.id

Iklan

Satu tanggapan untuk “Menyikapi Kebiadaban Israel

  1. Sulit untuk di pahami kemana ara Umat muslim sekarang ini.
    Apa hanya karena di kasih cobaan/ material lebih dari Allah SWT sehingga jadi lalai dengan muslim yang lainya, tengoklah liga arab begitu tidak berdaya menghadapi zionis atau mungkin rasa solidaritas sesama muslim sudah terkikis dan hanya mementingkan golongan sendiri.
    Begitupun dalam Negeri kita masih ingat Garda Bangsa NU Dengan gagahnya ingin menumpas / bantai FPI sekarang saudara kita sesama muslim teraniaya di jalur gaza mana ada yang mau muncul untuk berjihad sungguh sangat memprihatinkan dan tidak bisa dipungkiri ketika komandanya saja Kopral Gus adalah Selebritisnya zionis tidak beda dengan LSM lainanya yang hanya bersumber dari tadah hujan Zionis
    Bersatulah Umat Muslim karena zionis dan missionaris telah dekat di sekitar kita

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s