Wajibnya Mencintai Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam


zulfiqar_by_porscherMukadimah
Mencintai sahabat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam secara tepat dan proposional adalah suatu tuntutan syar’i. Artinya cinta terhadap para sahabat Nabi Radhiallaahu anhum merupakan sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Untuk merealisasikan cinta tersebut, maka kita perlu mengenal diri sahabat dan kedudukan mereka; Bagaimana penilaian Allah Ta’ala dan Rasul-Nya atas diri mereka; Bagaimanakah perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sehubungan dengan sikap muslim terhadap sahabat. Dan bagaimana sikap sekelompok pihak yang mengatasnamakan Islam tetapi mencaci-maki sahabat, perlu kiranya diketengahkan di dalam tulisan yang singkat ini, insya Allah.

Siapa Sahabat itu
Mundzir Al As’ad di dalam kitabnya ‘Baraa’atush Shahabah Minan Nifaq’ mengetengah kan perkataan Syaikh Muhammad Abu Syuhbah bahwa, menurut definisi para ulama dan ahli hadits, sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di dalam keadaan mu’min dan meninggal di dalam keimanan. Maka bagi yang murtad dan meninggal di atas kemurtadan batal sebutannya sebagai sahabat. Bagi yang bertaubat dan kembali kepada Islam, menurut pendapat yang lebih benar kembali pula disebut sebagai sahabat. Bagi yang menyatakan keislaman dan menyimpan kekufuran seperti orang munafik, maka dia bukan termasuk sahabat. Allah dan Rasul-Nya telah menjamin terungkapnya kemunafikan mereka.

Masih di dalam kitab yang sama –Mundzir Al As’ad- mengutarakan bahwa, menurut pendapat jumhur bagi yang lebih lama bersahabat dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, mendengar dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam , berperang bersama beliau atau berkurban dengan jiwa dan hartanya untuk membela Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, mereka lebih berhak untuk dimuliakan dan didahulukan daripada yang lain. Orang yang tidak mendengar dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka haditsnya adalah mursal (ditinjau) dari segi riwayatnya, sekalipun ia mempunyai kemuliaan sebagai sahabat.

Ahli Sunnah telah sepakat bahwa-sanya para sahabat adalah adil. Artinya, mereka tidak pernah sengaja untuk mendustakan atau mengkhianati Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, baik dengan lisan maupun perbuatan. Mereka memiliki ilmu dien yang dalam, iman dan taqwa yang tangguh, akhlaq yang mulia dan keberanian yang luar biasa di dalam membela Al Islam dan kaum muslimin. Maksud adil di sini bukan berarti maksum (terjaga) dari salah dan lupa. Akan tetapi kebaikan mereka yang banyak dapat menutupi kekurangan yang manusiawi.

Sifat dan Kedudukan Sahabat
Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menginformasikan kepada kita bahwa sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memiliki sifat dan kedudukan yang mulia, di antaranya: Termasuk ummat Islam yang adil dan pilihan (Qs. 2:143); Sebagai ummat terbaik yang senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar (Qs. 3:110); Memiliki karakter berkasih sayang terhadap orang beriman dan keras terhadap orang kafir, ruku’ dan sujud hanya mencari karunia dan keridhaan Allah Ta’ala. Dan hal ini digambarkan pula di dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an (Qs. 48:29); Mereka termasuk orang-orang yang telah mendapat jaminan diampuni kesalahan-nya oleh Allah Ta’ala (Qs. 9:117); Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat predikat ridwanullah ‘alaihim ajma’in/ telah diridhai oleh Allah Ta’ala (Qs. 9:100/ 48:18-19); Secara umum merekalah orang-orang yang akan masuk Surga lebih dahulu dan di antara mereka ada 10 orang yang dijamin sebagai ahli surga (Qs. 56:10-14) dan lain-lain ayat yang begitu banyak menggambarkan tentang sifat dan kedudukan sahabat

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pun telah bersabda tentang kedudukan para sahabat, yang artinya: ” Sebaik-baik manusia adalah pada abadku, kemudian abad sesudah-nya kemudian abad sesudah itu.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, dll).

Sikap Bagi Generasi Setelah Sahabat
Sebagai generasi yang sanggup mawas diri (siapa saya dan siapa saha-bat), maka layak kiranya kita perhatikan firman Allah Ta’ala berikut ini, yang artinya: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (sesudah muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a, “Ya Robb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian di dalam hati kami terhadap orang-orang beriman; Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang . ” (Qs. 59:10)

Di samping selalu berdo’a seperti digambarkan ayat di atas, maka kita seharusnya berusaha dengan sepenuh daya yang ada untuk menempuh cara/ manhaj/jalan/metodologi yang telah ditempuh sahabat di dalam beragama dan inilah hakikat mencintai mereka. Jika tidak demikian berarti kita akan tergolong ke dalam lingkaran ahlul bid’ah wal furqah, lawan dari ahlus sunnah wal jama’ah. Mari kita perhatikan firman Allah Ta’ala, artinya: “Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang beriman (mu’min). Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan Kami masukkan ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. 4:1I5).

Ancaman ini ditujukan kepada siapa saja yang berani menentang Rasul yakni menyelisihi Sunnah beliau dan mengikuti jalan bukan jalannya orang-orang mu’min. Sabilul mu’minin pada ayat ini tafsirnya adalah jalannya para shahabat, sebagaimana penafsiran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam muqoddimah kitab Naqdul Mantiq dan lain-lain.

Ketika turun ayat 115 Surat An Nisaa ini, tidak ada orang mu’min yang lain di permukaan bumi ini selain para shahabat, kemudian orang-orang mu’min sesudah mereka dapat masuk ke dalam ayat yang mulia ini dengan syarat mereka mengikuti jalannya orang-orang mu’min yang pertama dari kalangan para shahabat.

Ibnul Jauzi (wafat: 597 H ), dalam kitab Talbis Iblis, hlm 15, menukil laporan Ibnu Umar, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, artinya: “Sungguh benar-benar pasti akan terjadi pada ummatku sebagaimana apa-apa yang telah datang kepada Bani Israil seperti sepasang sandal. Sampai-sampai jika di kalangan Bani Israil ada yang menzinai ibunya dengan terang-terangan, tentu akan ada yang berbuat demikian di kalangan ummatku. Sesungguhnya Bani Israel telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya di neraka kecuali golongan yang satu. Para sahabat bertanya, “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Golongan yang aku dan para sahabatku ada di atasnya.” (Riwayat At-Tirmidzi)

Lalu beliau juga menukil laporan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwa dia berdiri untuk berkhutbah, lalu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah berdiri di tempat kami berdiri ini. Lalu beliau bersabda, artinya: “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahli Kitab telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya ummatku akan segera terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka dan yang satu di Surga. Dan dia adalah al Jama’ah . Sesungguhnya akan muncul di kalangan ummatku beberapa kaum yang dibelit oleh bid’ah-bid’ah seperti penyakit anjing gila (bila telah menyerang) mangsa-mangsanya.” (Riwa-yat Abu Dawud).

Selain Ibnul Jauzi, masih banyak ulama lainnya yang menukil hadits-hadits tentang ini -yang dikenal dengan hadits iftiroq- dalam kitab mereka masing-masing. Hadits mutawatir atau sekurang-kurangnya hadits masyhur ini adalah shahih.

Al-‘Allamah Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat, yang artinya: “Maka ikutilah jalan itu dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lainnya.” (Qs. 6:153)”, menyatakan, “Sesungguhnya jalan Allah disebut dengan kata tunggal (mufrad) tidak lain dan tidak bukan hanyalah karena Al Haq itu hanya satu. Karena itulah jalan-jalan setan disebut dengan bentuk jamak (as-subul) adalah karena bermacam-macam. Sebagaimana firman AIlah.. (lalu beliau menukil surat Al-Baqarah ayat 257). Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid II, hlm. 256.

Dan yang dimaksud al jama’ah adalah jama’ah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti manhaj shahabat. Lafadz Al Jama’ah disebut dengan bentuk tunggal (mufrad) karena tidak ada jama’ah-jama’ah (dengan bentuk jamak, al jamaa’aat) di dalam Islam. Yang ada hanya satu jama’ah, yaitu jama’ah para shahabat, berikut orang-orang yang mengikutinya.

Oleh karena itu, Rasulullah dalam kuliah shubuh –yang menurut para shahabat dianggap sebagai kuliah perpisahan- memberikan wasiat penting kepada ummat Islam,yakni apabila mendapati perpecahan, agar berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnahnya para shahabat. Beliau bersabda, artinya: “Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa ar-Rasyidin al-Mahdliyyin. Gigitlah sunnah tersebut dengan geraham kalian. Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru yang diada-adakan, maka sesungguhnya tiap-tiap bid’ah adalah sesat. ” (Riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Beliau berkata, “Hadits hasan shahih”). Ini adalah penggalan dari hadits yang lebih panjang dan dikenal sebagai hadits Al Irbadl bin Sariyah.

Wasiat untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi dan sunnah para shahabat ketika merebaknya berbagai perselisihan, benar-benar wasiat yang penting. Karena memang itulah satu-satunya jalan keselamatan. Siapa yang mengabaikannya, tentu akan celaka.

Larangan Membenci/Mencaci Sahabat
Sifat dan kedudukan sahabat yang mulia seperti digambarkan di dalam firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah n di atas, membuat kita paham dan menyadari bahwa tidak layak bagi kita yang mengaku muslim, justru bersikap menentang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya yakni tidak mendo’akan para sahabat; membiarkan hati berpenyakit/ dengki; tidak mengikuti manhaj para sahabat di dalam beragama; bahkan membenci dan mencaci sahabat (kita berlindung kepada Allah Ta’ala atas perilaku setan tersebut). Hal itu semua (bersikap negatif terhadap sahabat) adalah terlarang. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah , artinya: “Janganlah kalian mencaci maki sahabatku. Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalau sekiranya seseorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, (hal itu) tidak akan menyamai infak satu atau setengah mud dari salah seorang dari mereka. ” (Mutaffaq ‘alaih).

Larangan mencaci sahabat telah jelas, kita layak mematuhinya, kecuali bagi mereka yang memiliki penyakit hati yang sulit diobati, dan membuat pelakunya melesat lepas dari Islam, seperti golongan Rafidhah/Syi’ah.

Rujukan: Bara’atus Shahabah min an-Nifaq, Mundzir Al-Asad, Aqidah Al-Aimmah Al-Arba’ah, Abdul Muhsin At-Turky, NII dalam timbangan Aqidah, Suroso Abdussalam, Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, Kitabut Tauhid, Syaikh Al-Fauzan, Tafsir Ibnu Katsir. (Suroso Abdussalam)

40 thoughts on “Wajibnya Mencintai Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

  1. assalamu’alikum kpd penulis artikel diatas mohon ijin copas dan tetap ikhtiar,tabah,sabar dan istiqomah

    Suka

  2. Assalamua’alaikum,

    Untuk Al akh @imem…. Masya Allah, perangi terus syi’i pendusta ini ya akhi, semoga antum dimudahkan dalam segala urusan antum, kalau antum ada waktu dan tidak keberatan, antum bisa mengirimkan email ke info@syiah.net ana jadi ingin kenalan dengan antum :). Jazaakallah.

    Untuk @admin: salam kenal dan Jazaakallahu khairul jazaa’.

    Suka

  3. Kalau ente tidak mau mencintai para sahabat, berarti sama saja dengan menyelisihi Rasulullah. Karena rasul sangat mencintai mereka, terutama sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Rasulullah sendiri sering di muka umum menunjukkan kecintaannnya terhadap mereka tanpa membeda-bedakan satu sama lain seperti yang ente lakukan. Demikian juga sahabat Ali sangat mencintai Abu bakar, Umar dan usman. Ketika ditanya siapa orang yang paling baik setelah Rasulullah, beliau menjawab Abu Bakar dan Umar. Tapi kenapa ente malah membenci keduanya. Berarti ente sama saja menyalahkan Ali karena mencintai Abu Bakar dan Umar. Wah ini namanya ente merasa lebih baik dibanding Rasulullah dan Ali.
    Wahai saudaraku hentikanlah membenci dan mencaci maki sahabat yang tidak pernah dilakukan oleh sahabat Ali dan keturunannya. Kalau ente menganggap sahabat Abu Bakar dan umar orang yang tidak baik, berarti sama saja menuduh Rasulullah gagal mendidik keduanya. Padahal keduanya dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Sedang ente tidak ada yang menjamin masuk surga. Janganlah mencaci maki orang yang dicintai oleh Rasulullah dan sahabat Ali. Karena hal itu sama saja dengan mencaci beliau berdua.

    Suka

  4. hehehehe. kok nanya??

    siapa yang belaga pro sunni?? pernah baca komen saya bela sunni? enggak khan !!. sy cuma kasih tahu orang lain yang baca bahwa imam imam yang kalian bawa bawa itu imam imam nya wahabi dan sheik sheik yang kalian bawa ya sheik sheiknya wahabi dan supaya mereka tau bahwa ente pengikut salah satu dari 4 mahzab ahlusunnah.

    ente belum tahu wahabi??
    kalau syafei…..imam nya syafei….
    kalau hanafi….imamnya abu hanifah
    kalau maliki…imamnya malik bin anas
    kalau hambali…imamnya ahmad ibn hanbal

    kalau wahabi imamnya muhammad bin abdul wahab…..kitab rujukannya, ibn taimiyah ….idola idola ente.
    makanya ente wahabi !!!! kalau di zaman nabi, ente ente pada nih yang dibilang nabi asfiatul baghiyah. alias anak buah muawiyah…….

    makanya hadist hadist yang dibawa, hadist hadist pinggir jalan.
    contoh:

    rasul saw bersabda: wajib bagi umatku menjalankan sunahku dan sunah khulafah ar rasyidin……..
    orang yang pakai otak sedikit ajah langsung tahu ini palsu.
    1. semenjak kapan nabi mewajibkan sesuatu yang sunah ???
    2. sunnah adalah perkataan dan perbuatan nabi. apa sahabatnya juga nabi ??

    nah…ketahuan khan palsunya……

    Admin : Bismillah, Ternyata anda tidak paham apa itu sunnah, sunnah itu tidak sesempit pikiran anda. Anda langsung mengatkn hadits yang sahih ini palsu. Ternyat anda lebih hebat dari ulm yang mensohihkan hadits trsbt. Tapi Insya Allah untuk hal ini akan kami bahas dlm sebuah tulisan.

    Kami ucapkn terima kasih ats kemontar and, karena Alhmdulillah hal ini memotifasi kami untuk menambah ilmu lebih dalm lagi.

    Suka

  5. lha….salah ngingetin mas falseto……
    mereka bukan di kecohin sama ulama wahabi …..

    ya mereka ini wahabi !!!!

    pura pura jadi sunni !!!

    Admin :Wahabi itu apa??? Jangan main tuduh. Kalian semua yg pro syiah kl sdh tersudut dan kalah argumen kayak gini, main ketawa2 aja. Pura-pura pro sunni. Syiah laknatullah alaih.

    Suka

  6. “Hari kamis! Betapa tragis hari itu!” Kemudian Ibnu Abbas menangis keras sehingga air matanya mengalir ke pipi. Kemudian ia menambahkan (Rasulullah bersabda), “Ambikan sebuah tulang pipih atau kertas serta tinta agar aku dapat menuliskan pernyataan yang akan membuat kalian tidak tersesat sepeninggalku.” Mereka berkata, “Sesungguhnya Rasulullah sedang meracau!” (HR. Muslim)

    Sebagain sahabat menilai Nabi ‘yahjur” (bicara tidak karuan akibat sakit berat)…

    Apakah saya harus mencintai sahabat yang menilai nabi meracau? Ami-amit. Sumpah, naudzubillahi min dzalik.

    Suka

  7. @atasku

    Lha emang gimana dengan syi’ah rafidhah? lebih parah lagi! ngakunya pengikut ahlul bait, tapi ngambil ajarannya dari kitab2 bikinan ulama2 mrk sendiri… bahkan hampir sebagian besar adalah dha’if… itu kata ulama mereka sndr lho spt Al-Majlisi… trs apanya yg dibanggain dr Rafidhah? mrk itu kaum yg keras kepala, bodo nanging ngeyel! mempertahankan tradisi si Ibnu Saba’ al-Yahudi… kasihan ahlul bait, diperalat oleh mereka dr dulu hingga skrg, pura2 memihak mereka.. eh malah merekalah yang memberi cobaan yg berat thd ahlul bait… ingat ya Dajjal bakal keluar dari tempat mereka itu… hati2 .. wuakakakak…

    Suka

  8. udah….jangan debat…… kita bicara kenyataannya ajah………

    1. ahlu sunnah itu ngakunya pengikut sunnah…..tp sunnah bikinan sendiri. bikinan orang orang yang dengki sama nabi dan keluarga nya. bukan sunnah dari nabi. cuma belaga belaga dari nabi. makanya ceritanya semua muter muter dan kacau tabrakan melulu antara hadis ini sama itu. gak karuan.

    2. kalangan ahlu sunah itu sekumpulan orang yang keras kepala dalam mempertahankan tradisi dari zaman bani umayah. makanya ciri ciri kalangan ahlu sunah itu bodoh dan keras kepala. gak pernah berpikir logis. contohnya waktu dibilangin bahwa ayat yang artinya ” ikutilah allah rasulnya, dan orang yang menunaikan zakat pada saat dia rukuk”. jelas ayat ini buat ali bin abithalib, tp mereka bilang bukan. itu buat rasulallah. makanya dibilang ulama bodo. tolol dan keras kepala. masa’ allah bilang ikutilah allah, rasulnya, dam rasulnya lagi?? pasti!! orang ketiganya orang lain.

    3. “kalangan ahlu sunah tidak terima kalau keluarga nabi itu di beri kelebihan oleh allah ta’ala dari semua mahluk yang lain”. ciri ini sama persis….sama yang diusir dari surga karena gak terima adam yang diberi kelebihan sama allah.

    4. ahlu sunnah wal jamaah…….kata kata yang baik di gunakan buat maksud yang salah…… sama seperti waktu muawiyah perang udah kalah…. belaga belaga pakai kata “tidaka da hukum kecuali hukum allah” benar benar kata kata yang haq tapi sayang…..dipakai buat nipu……

    Suka

  9. I’m coming back..

    Engga usah kemana-mana dulu gimana tanggapan ente ttg hadis2 yg bermasalah yg merendahkan derajat Nabi dlm kitab “sahih: Bukhori ? Contoh yg terakhir adalah riwayat bahwa Nabi doyan jimak (bersetubuh). Bayangkan sehari semalam 9 istri digilir ! Ini kitab hadis soalnya sdh beredar ke seluruh dunia melalui internet. Siapa kalo bgt yg bikin malu ?

    Rofidhoh and orientalis sama aja.. ga bisa memahami hadits dengan bener, bisanya menyerang hadits2 sesuai selera sendiri.. hehe.. ga heran gw..

    Maksud ente riwayat yang ini:

    Diriwayatkan dari Qatadah berkata bahwa Anas bin Malik pernah bercerita kepada kami bahwa Nabi saw pernah menggilir isteri-isterinya dalam satu waktu sehari semalam dan jumlah mereka ada sebelas orang. Qatadah mengatakan,’Aku bertanya kepada Anas,’Seberapa kuat beliau saw?’ Dia menjawab,’Kami pernah memperbincangkannya bahwa kekuatan beliau saw sebanding dengan (kekuatan) tiga puluh orang.” Said berkata dari Qatadah,’Sesungguhnya Anas menceritakan kepada mereka bahwa jumlah isteri-isterinya saw adalah sembilan orang.” (HR. Bukhori)

    Apanya yang aneh? Kalo seseorang mempunyai istri lebih dari satu, ya memang harus kuat, dan Allah lah yang memberi kekuatan tersebut, sehingga Rasulullah bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya, kalo Rasulullah tidak diberi kekuatan bagaimana beliau bisa berbuat adil? Gw mo nanya, ente dah punya istri blom? Kalo belom jgn ngomong dech, krn blom nyampe ilmunye, tapi kalo udah , brp istri ente? Jika masih satu, Gw yakin ente bisa ngrasain perlunya kekuatan untuk jimak dengan istri padahal mgkn cuma satu, ente bayangin jika ente punya istri lebih dari satu… apanya yg aneh coy… this is natural.. suatu keniscayaan! Kayak 1+1=2 sangat jelas!

    Mungkin yg jadi pertanyaan ente mengapa Rasulullah melakukannya dalam waktu sehari semalam, Kalau beliau memang mampu, kenapa tidak? Justru hal tsb menunjukkan keinginan beliau untuk memberikan hak para istri dan berlaku sangat adil terhadap semua istri-istrinya dalam satu waktu, serta menghabiskan perhatian beliau kepada mereka pada satu waktu.. ya ga ada masalah bahkan patut dipuji, karena pada dasarnya suami dan istri semakin sering bertemu adalah semakin baik.. dan itu memang merupakan tanggung jawab Rasulullah karena mempunyai istri lebih dari satu, dan ingat hal itu tidak dilakukan terus menerus oleh Rasulullah.. sayang ente melihatnya dari sisi negative! persis orientalis! Dengan perkataan ente bahwa Rasul Doyan Jimak menunjukkan negative thinking ente yg membebek orientalis! dan menunjukkan ketidakhormatan ente kepada pribadi Nabi shalallahu alaihi wa sallam.. Naudzubillah… Mangkanye bersihin tuch virus rofidhoh ente itu biar ga PIKTOR!

    surat Al-Kahfi 23-24 berikut ini :
    “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,”

    Ayat ini ente tafsirkan dg satu riwayat yg seolah-olah Nabi ditegur oleh Allah ! Justru di sinilah kesalahannya. Ente tanpa penelitian lagi pake hadis dhaif yg memojokkan Nabi. Padahal khittob ayat itu bukan kpd Nabi tapi kpd kaum muslimin.

    Walah ente yg ngawur! Jelas khittob ayat tsb adalah untuk Nabi, kalo ente bilang untuk kaum muslimin kata2 “kamu” dalam ayat tsb adalah dalam bentuk tunggal bukan jamak, dan itu adalah untuk Rasulullah sendiri.. jangan coba2 menghindar Ah! Dengan argumentasi yg kyk gitu.. lucu tau! Pake ngomong dhaif lagi! Jgn asbun ente!

    Kmdn ente juga menafsirkan dg ra’yi ente bahwa QS Al-Isra’ 74 menunjukkan bahwa Nabi saw tdk maksum ! Makanya ente baca lagi baik2 ayat tsb :”Dan sekiranya Kami tidak memperteguh hatimu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kpd mereka.” Kalimat tsb bersifat pengandaian dg kata “sekiranya….”. Artinya jikalau Allah tdk memperkuat hati Nabi maka Nabi niscaya hampir condong….Tapi kenyataannya Allah selalu memperkuat hati Nabi saw. kan ? Dg kata lain Allah senantiasa tdk memberi peluang sedikitpun kpd Nabi saw untuk meluapkan hasrat2nya. Memang kalau ente bacanya secara terpotong-potong, ayat tsb menjadi”…..maka Nabi niscaya hampir condong…”. Makanya baca dan fahami secara utuh.
    Walhasil proses hati untuk mendekati dosa itu tidak terjadi dalam diri2 Nabi karena Allah Swt segera menghentikannya ! Itulah maksud QS Al-Isra 74 yg sebenarnya.

    Wah tolong perhatiin lagi ye.. Gw tidak mengingkari kemaksuman (keterjagaan) Nabi dalam ayat Al-Isra’ 74 tersebut demikian juga Yusuf:24, tetapi itu adalah salah satu diantara cara-cara Allah menjaga Rasul-Nya dan kenyataan dalam Al-Kahfi 23-24 di atas, Allah telah mendidik Nabi-Nya dengan mengkoreksi apa yg terlewat dari Rasulullah.. dan ayat tsb sangat jelas sekali bagi orang yg mudenk bahasa Arab.. dan ayat ini bukanlah menjatuhkan kedudukan Rasulullah, justru menunjukkan bahwa Allah selalu menjaga Nabi-Nya jika beliau melakukan kesalahan.. jadi langsung ditegur dan dikoreksi oleh Allah.. Jadi jangan ente spt orang kafir yang menerima sebagian ayat dan menolak sebagian ayat yg laen dlm rangka membela paham ente yg salah!

    Kemudian ente pun selalu melebih-lebihkan Umar dg mengutip hadis (yg jelas dhaif) yg kira2 berbunyi :”Kalau ada Nabi sesudahku, maka Umarlah orangnya.” He he he ternyata hadis palsu itu dibuat untuk menandingi hadis sahih yg berbunyi :”…Kedudukan engkau (Ali) di sisi ku seperti Harun di sisi Musa. Hanya saja tidak ada Nabi setelahku…”

    Ok lah hadis itu mau ditampilkan. Tapi coba kita cross-check apa benar Umar pantas menjadi Nabi ?Coba simak informasi2 dibawah ini :

    Tidak melebih-lebihkan, memang itu adalah hadits dari Rasulullah, kalo ente bilang dhaif tolong buktikan dg ilmu hadits yg ilmiyah jgn ASBUN aja ente sukanya.. bagi gw semua sahabat mempunyai kelebihan-kelebihan sendiri, Abu Bakar punya, Umar punya, Utsman punya dan Ali pun juga punya.. dan mereka adalah sahabat utama Rasul..

    Hehehe ga perlu dicroscheck.. Umar memang pantas mendapat pujian dari Nabi tsb.. perkara2 yg berhubungan dg Umar (jika riwayat itu benar, krn kebanyakan riwayat yg ente sebutkan belum jelas kesahihannya) hanyalah masalah istinbat dalam hal hukum-hukum fiqih yg furu’ aja.. hal wajar jika antar sahabat berbeda dlm perkara2 fiqih, tetapi kenyataan ide, keputusan Umar lebih banyak benarnya daripada tidaknya dan pantaslah pujian Rasulullah bahwa Umar adalah termasuk Muhadatsun umat ini.. hehehe ente mo kesel, iri, dengki akan hal ini ya silahkan saja., cukup Rasulullah panutan kami.. cukup ente tau ajah.. Iran (Persia) yg sekarang jadi Negara Rofidhoh, Umar-lah yang menaklukkannya dan memudahkan ajaran Islam menyebar di Persia.. tapi sayang Rofidhoh mewarisi dendam orang2 majusi krn penaklukan tsb.. bukannya terima kasih eh malah kuburan si majusi pembunuh Umar pun disembah-sembah.. emang lucu rofidhoh itu.. pikirannya byk yg kebalik.. Jadi yg perlu dibuang jauh-jauh adalah kitab2 sampahnya rofidhoh yg mengadopsi akidahnya Ibnu Saba’ Al-Yahud itu.. wuakakakak..

    Ada lagi hadis tentang keutamaan Abu Bakar yg diklaim isyarat sbg pengganti Nabi saw sbb :”Wahai pamanku! Sesungguhnya Allah menjadikan Abu Bakar sebagai Khalifah penggantiku atas nama Allah, maka dengarkanlah dia dan taatilah niscaya engkau beruntung.”

    He he ternyata hadis ini mardud. Yg menyatakan hadis ini mardud adalah ulama hadis ente sendiri yaitu Al-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal. Dalam bukunya ini Dzahabi mencacat seorang perawi bernama Ibrahim bin Khalid sbg pendusta.

    Hehehe.. memang hanya hadits itu ajah mengenai isyarat kekhalifahan Abu Bakar? kasiann dech lo..

    Sekali lagi masalah ke-Imamahan/Khilafah. Konsep Sunni yg menganggap Imamah/Khilafah setelah Nabi adalah jabatan yg setiap orang bisa mendudukinya karena hanya mengurus keduniaan semata semata-mata bertentangan dg QS Al-Baqarah 124 yg menegaskan bahwa ke-Imamahan tdk mencakup org2 dzalim. Artinya figurnya harus maksum. Dalam suatu riwayat dari Abdullah bin Mas’ud Nabi saw bersabda:”Imamah tidak akan mencakup org2 yg pernah sujud kpd berhala.” Jadi jelas bahwa figur spt Abu Bakar, Umar dan Usman yg pernah sujud kpd berhala secara syar’i tdk berhak menduduki jabatan ke-imamahan/khilafah, sekalipun secara defacto mereka adalah para khalifah.

    Ah itukan menurut pemahaman ente yg ga jelas! Ga usah diperhatiin! Jelas ngacaunya! Kenyataan Imam Ali membai’at mereka! Berarti Imam Ali salah donk! Ato entenya yg salah & sesat pemahaman shg ga ittiba’ thd Imam Ali.. yg terakhir yg tepat gw kira.. jadi pengakuan rofidhoh bahwa mereka pengikut ahlul bait adalah palsu!..

    Suka

  10. TAKUTLAH KEPADA ALLAH KETIKA BERBICARA \ MENULIS TENTANG SAHABAT SAHABAT RASULULLAH . SEKALI LAGI T A K U T L A H K E P A D A ALLAH.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s