Posted in Kisah

Pasien Terakhir


Bunga_LayuUntuk kedua kalinya wanita itu pergi ke Dokter Hanung, seorang Dokter spesialis kulit dan kelamin di kota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelunmya. Sudah beberapa pekan dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari saluran kencingnya (vaginal discharge).

Ketika wanita itu datang, dia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu per satu pasien yang berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucap salam dia memasuki kamar periksa Dokter Hanung.

Sejenak Dokter Hanung menatap pasiennya. Tidak seperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese), Dokter Hanung membuka amplop hasil laboratorium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboratorium. Rasanya adalah hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin orang berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang yang sering berganti-ganti pasangan seksual?

Dengan wajah tenang, Dokter Hanung melakukan anamnese lagi secara cermat.

+ “Saudari masih kuliah?
“* “Masih, Dok.”
+ “Semester berapa?”
* “Semester tujuh, Dok!”
+ “Fakultasnya?”
* “Sospol!”
+ “Jurusan komunikasi massa ya?”

Kali ini ganti pasien terakhir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap Dokter Hanung dari balik cadarnya.

* “Kok Dokter tahu?”
+ “Aah…….. tidak, hanya barangkali saja!”

Pembicaraan antara Dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakitnya itu.

* “Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?”

Pasien terakhir itu tampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.

* “Ada apa sih, Dok…., kok tanya macam-macam?”
+ “Aah, enggak…, barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang Saudari derita.”

Pasien terakhir itu tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal dia menjawab.

* “Saya dari Pekalongan.”
+ “Kost-nya?”
* “Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63.”
+ “Di kampus sering mengikuti kajian Islam?”
* “Ya, … kadang-kadang, Dok!”
+ “Sering mengikuti kajian Bang Jalal?”

Sekali lagi pasien terakhir itu menatap Dokter Hanung.

* “Bang Jalal siapa?” Tanyanya dengan nada yang agak tinggi.
+ “Tentu saja Jalaluddin Rahmat! Di Bandung, siapa lagi Bang Jalal selain dia? Kalau di Yogya ada Bang Jalal Muksin.”
* “Ya, kadang-kadang saja saya ikut.”
+ “Di Pekalongan…, (sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan Ahmad Baraqba?”

Pasien terakhir itu tampak amat terkejut dengan pertanyaan yang terakhir itu, tetapi dia segera menjawab.

* “Tidak! Siapa yang Dokter maksudkan dengan nama itu dan apa hubungannya dengan penyakit saya?”

Pasien terakhir itu tampak semakin jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan dokter yang semakin tidak mengarah itu. Tetapi justru Dokter Hanung manggut-manggut dengan keterkejutan pasien terakhirnya. Dia menduga bahwa penelitian penyakit pasiennya itu hampir selesai.

Akhirnya dengan suara yang penuh dengan tekanan Dokter Hanung berkata,

+ “Begini Saudari, saya minta maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya yang ngelantur tadi, sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur demi untuk terapi penyakit yang Saudari derita…”

Sekarang ganti pasien terakhir itu yang mengangkat muka mendengar perkataan Dokter Hanung. Dia seakan terbengong dengan pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh dokter yang memeriksanya kali ini.

+ “Sebenarnya saya amat terkejut dengan penyakit yang Saudari derita, rasanya tidak mungkin seorang ukhti mengidap penyakit seperti ini.”

* “Sakit apa dok?”

Pasien terakhir itu memotong kalimat Dokter Hanung yang belum selesai dengan amat penasaran.

+ “Melihat keluhan yang Anda rasakan serta hasil laboratorium semuanya menyokong diagnosis Gonore, penyakit yang disebabkan karena hubungan seksual.”

Seperti disambar gledek, perempuan berjilbab biru dan bercadar itu berteriak,

* “Tidak mungkin!!!”

Dia lantas terduduk di kursi, lemah seakan tak berdaya, mendengar keterangan Dokter Hanung. Pandang matanya kosong seakan kehilangan harapan dan bahkan seperti tidak punya semangat hidup lagi.

Sementara itu pembantu Dokter Hanung yang biasa mendaftar pasien yang akan berobat tampak mondar-mandir seperti ingin tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya Dokter Hanung memeriksa pasien begitu lama seperti sore ini. Barangkali karena dia pasien terakhir sehingga merasa tidak terlalu tergesa-gesa, jadinya pemeriksaannya berjalan agak lama. Tetapi kemudian dia terkejut mendengar jerit pasien terakhir itu sehingga ia merasa ingin tahu apa yang terjadi.

Dokter Hanung dengan pengalamannya selama praktik, tidak terlalu kaget dengan reaksi pasien terakhirnya sore itu. Hanya, yang dia tidak habis pikir, kenapa perempuan berjilbab rapat itu mengidap penyakit yang biasa menjangkiti perempuan-perempuan rusak? Sudah dua pasien dia temukan akhir-akhir ini yang mengidap penyakit yang sama.

Dan uniknya, sama-sama mengenakan busana Muslimah. Hanya yang pertama dulu tidak mengenakan cadar seperti pasien yang terakhirnya sore itu. Dulu pasien yang pernah mengidap penyakit yang seperti itu juga menggunakan pakaian Muslimah. Ketika didesak, akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya biasa kawin mut’ah. Pasiennya yang dulu itu telah terlibat jauh dengan pola pikir dan gerakan Syi’ah yang ada di Bandung ini.

Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi’ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan Syi’ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada di depannya sore itu.

+ “Bagaimana Saudari? Penyakit yang Anda derita ini tidak mengenai kecuali orang-orang yang biasa berganti-ganti pasangan seks. Rasanya itu tidak mungkin terjadi pada seorang Muslimah seperti diri Anda. Kalau itu masa lalu Saudari, baiklah, saya memahaminya dan semoga dapat sembuh. Bertaubatlah kepada Allah. Atau mungkin ada kemungkinan lain….?”

Pertanyaan Dokter Hanung itu telah membuat pasien terakhirnya mengangkat muka sejenak, lalu menunduk lagi seperti tidak memiliki cukup kekuatan lagi untuk berkata-kata. Dokter Hanung dengan sabar menanti jawaban. Beliau beranjak dari kursi memanggil pembantunya agar mengemasi peralatan untuk segera tutup setelah selesai menangani pasien terakhirnya itu.

* “Saya tidak percaya dengan perkataan Dokter tentang penyakit saya!” Katanya terbata-bata.
+ “Terserah Saudari…, tetapi toh Anda tidak dapat memungkiri kenyataan yang Anda sandang kan?”
* “Tetapi bagaimana mungkin mengidap penyakit laknat tersebut, sedangkan saya selalu berada di dalam suasana hidup yang taat kepada hukum Allah?”
+ “Saya pun berprasangka baik demikian terhadap diri Anda, tetapi kenyataan yang Anda hadapi itu tidak dapat dipungkiri!”

Sejenak dokter dan pasien itu terdiam. Ruang periksa itu sepi. Kemudian terdengar suara dari pintu yang dibuka pembantu dokter yang mengemasi barang-barang peralatan administrasi pendaftaran pasien. Pembantu dokter itu lantas keluar lagi dengan wajah penuh dengan tanda tanya mengetahui Dokter Hanung yang menunggui pasien terakhirnya itu.

+ “Cobalah instrospeksi diri lagi, barangkali ada yang salah. Sebab, secara medis tidak mungkin seseorang mengidap penyakit ini kecuali dari sebab tersebut.”
* “Tidak Dokter, selama ini saya benar-benar hidup secara baik menurut tuntunan syariat Islam. Saya tetap tidak percaya dengan analisa Dokter.”

Dokter Hanung mengerutkan keningnya mendengar jawaban pasien terakhirnya itu. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisanya. Untuk apa marah kepada orang sakit, paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja. Dan lagi, analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh pasiennya. Dengan penuh kearifan Dokter itu bertanya lagi,

+ “Barangkali Anda biasa kawin mut’ah?”

Pasien terakhir itu mengangkat muka.

* “Iya, Dokter! Apa maksud Dokter?” + “Itu kan berarti Anda sering kali ganti pasangan seks secara bebas?” * “Lho…., tapi itu kan benar menurut syariat Islam, Dok!”

Pasien terakhir itu membela diri.

+ “Ooo…., jadi begitu…., kalau dari tadi Anda mengatakan begitu, saya tidak perlu bersusah payah mengungkapkan penyakit Anda. Tegasnya, Anda ini pengikut ajaran Syi’ah yang bebas berganti-ganti pasangan mut’ah semau Anda. Ya, itulah petualangan seks yang Anda lakukan. Hentikan itu kalau Anda ingin selamat.”

* “Bagaimana Dokter ini, saya kan hidup secara benar menurut syariat Islam sesuai dengan keyakinan saya, Dokter malah melarang saya dengan dalih-dalih medis!”

Sampai di sini Dokter Hanung terdiam. Sepasang giginya terkatup rapat dan dari wajahnya terpancar kemarahan yang sangat terhadap perkataan pasien terakhirnya yang tidak punya aturan itu. Kemudian keluarlah perkataan yang berat penuh tekanan.

+ “Terserah apa kata Saudari membela diri…, Anda lanjutkan petualangan seks Anda, dengan resiko Anda akan berkubang dengan penyakit kelamin yang sangat mengerikan itu, dan sangat boleh jadi pada suatu tingkat nanti Anda akan mengidap penyakit AIDS yang sangat mengerikan itu…, atau Anda hentikan dan bertaubat kepada Allah dari mengikuti ajaran bejat itu kalau Anda menghendaki kesembuhan.”
* “Ma…maaf Dok, saya telah membuat Dokter tersinggung!”

Dokter Hanung hanya mengangguk menjawab perkataan pasien terakhirnya yang terbata-bata itu.

+ “Begini Saudari…, tidak ada gunanya resep saya berikan kepada Anda kalau toh tidak berhenti dari praktik kehidupan yang selama ini Anda jalani. Dan semua dokter yang Anda datangi pasti akan bersikap sama…., sebab itu terserah kepada Saudari. Saya tidak bersedia memberikan resep kalau toh Anda tidak mau berhenti.”
* “Ba….bbaik, Dok! Insya Allah akan saya hentikan.”

Dokter Hanung segera menuliskan resep untuk pasien terakhirnya itu, kemudian menyodorkan kepadanya.

* “Berapa, Dok?”
+ “Tak usahlah…., saya sudah amat bersyukur kalau Anda mau menghentikan cara hidup binatang itu dan kembali kepada cara hidup yang benar menurut tuntunan yang benar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Saya relakan itu untuk membeli resep.”

Pasien terakhir Dokter Hanung itu tersipu-sipu mendengar jawaban Dokter Hanung.

* “Terimakasih, Dok! Permisi!”

Sumber: Buku “Mengapa Kita Menolak Syi’ah” hal. 254-257, Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi’ah, LPPI, Jakarta, Juli 1998. -Al Fikrah-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s