Posted in Fiqih, Ramadhan

Menggapai Lailatul Qadr Dengan Beri’tikaf


normal_masjid_raya_makassarI. TA’RIEF (DEFENISI) I’TIKAF
A. Menurut Bahasa

Ditinjau dari segi bahasa, i’tikaf berasal dari kata:

اِعْتَكَفَ – يَعْـتَكِفُ – اِعْتِكَافٌ atau عَكَفَ – يَعْكُِفُ – عُكُوْفٌ

Yaitu berdiam di suatu tempat dan tetap dalam keadaan demikian untuk melakukan sesuatu pekerjaan(1); yang baik maupun yang buruk(2).

Yang menunjukkan bahwa kata i’tikaf juga digunakan untuk sesuatu yang buruk, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿ وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ ﴾

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah (beri’tikaf) kepada berhala َmereka.” (QS.Al A’raf :138).
B. Menurut Istilah

Adapun pengertian i’tikaf menurut istilah adalah berdiam di masjid dalam rangka ibadah dari orang yang tertentu, dengan sifat atau cara yang tertentu dan pada waktu yang tertentu (3).

II. DALIL-DALIL DISYARIATKANNYA I’TIKAF
A. Dalil dari Al Qur’an

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

﴿ وَلاَ تُـبَاشِرُوْهُنَّ وَأَنْـتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ﴾[ البقرة : 187 ]

“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid.” (QS. Al Baqarah: 187).

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla :

﴿ وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ ﴾ [ البقرة : 125 ]

“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud.” (QS. Al Baqarah : 125).

B. Dalil dari As Sunnah

Dalil tentang i’tikaf banyak disebutkan dalam hadits-hadits, diantaranya hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallohu anhu, beliau berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوَّلَ مِنْ رَمَضَانَ ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ اْلأَوْسَطَ … فَقَالَ : ] إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِي إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ …[

Bahwasanya Nabi shallallohu alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh awal bulan Ramadhan, kemudian beliau beri’tikaf di sepuluh pertengahan, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya saya telah beri’tikaf sepuluh awal (bulan Ramadhan) (untuk) mencari malam Lailatul Qadr kemudian saya beri’tikaf sepuluh pertengahan kemudian saya didatangi (malaikat) lalu dikatakan kepadaku: Sesungguhnya malam Lailatul Qadr itu di sepuluh akhir (bulan Ramadhan), karenanya siapa di antara kalian yang mau beri’tikaf, maka hendaknya dia beri’tikaf! Maka beri’tikaflah manusia (para sahabat) beserta beliau …”.(4)

Demikian pula dalam hadits yang lain, ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha berkata:

) أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ (

“Adalah Nabi shallallohu alaihi wasallam beri’tikaf sepuluh akhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah azza wa jalla, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sesudah (wafat) beliau”.(5)
C. Ijma’

Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Mundzir(6) رحمه الله dan dinukil oleh Ibnu Qudamah رحمه الله serta beliau menyetujuinya (7). Imam Ahmad mengatakan, “Saya tidak mengetahui seorang pun dari Ulama yang berbeda pendapat bahwa i’tikaf hukumnya sunnah”

III. HUKUM I’TIKAF

A. Telah sepakat ulama kita bahwa hukum asal dari i’tikaf adalah sunnah, bahkan Imam Ibnu ‘Arabi Al Maliki dan Ibnu Baththal رحمهما الله memasukkannya ke dalam sunnah mu’akkadah (yang dikuatkan) karena Rasulullah shallallohu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya selama hidupnya.(8) Tabi’in yang mulia Al Imam Ibnu Syihab Az Zuhri berkata, “Sangat mengherankan keadaan kaum muslimin, mereka telah meninggalkan i’tikaf padahal Nabi shallallohu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya sejak masuk ke kota Medinah hingga wafatnya”

Dan hukum asal ini berubah menjadi wajib jika seseorang bernazar untuk melakukannya, berdasarkan sabda Rasulullah shallallohu alaihi wasallam :
[ مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ]

“Barangsiapa yang bernazar untuk melakukan ketaatan kepada Allah maka hendaknya dia melakukannya”.(9)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Umar radhiyallohu anhu menyampaikan kepada Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bahwa pernah beliau radhiyallohu anhu bernazar untuk beri’tikaf satu malam di masjid Haram, maka Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda:

] أَوْفِ بِنَذْرِكَ [
“Tunaikan nazarmu itu”. (10)

1. Hukum i’tikaf ini berlaku baik untuk muslim ataupun muslimah sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits ‘Aisyah رضي الله عنها yang terdahulu (11), dan juga disebutkan dalam hadits Shafiyyah رضي الله عنها ketika beliau menziarahi Nabi shallallohu alaihi wasallam pada saat i’tikaf :

] كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي الْمَسْجِدِ وَعِنْدَهُ أَزْوَاجُهُ …[
“Adalah Nabi shallallohu alaihi wasallam (beri’tikaf) di masjid dan di sisinya terdapat istri-istri beliau (sedang beri’tikaf pula)…”.(12)

Berkata Syaikh Al Albani رحمه الله tentang i’tikaf wanita: “Dan tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut (i’tikaf wanita) sunnah dengan syarat adanya izin dari wali-wali mereka dan amannya dari fitnah serta dari berkhalwat dengan laki-laki, berdasarkan dalil-dalil yang banyak tentang hal tersebut. Sebagaimana pula yang dikenal dalam Kaidah Fiqh : “Menolak mafsadat didahulukan dari pada mengambil maslahat”.(13)

Al Imam Ibnul Mundzir رحمه الله berkata: “Perempuan tidak boleh beri’tikaf hingga dia meminta izin kepada suaminya dan jika perempuan itu beri’tikaf tanpa izin maka suaminya boleh mengeluarkannya (dari i’tikaf). Dan jika seorang suami telah mengizinkan (istrinya) lalu mau mencabut izinnya maka hal itu dibolehkan baginya”.(14)

IV. FAIDAH I’TIKAF, HIKMAHNYA DAN FADHILAHNYA

Allah azza wa jalla telah menyebutkan dalil disyariatkannya i’tikaf sesudah menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan shaum (puasa), hal ini menunjukkan adanya kaitan yang erat antara i’tikaf dan shaum.

Kalau saja ibadah shaum menghendaki seseorang meninggalkan makan dan minum serta hubungan suami istri pada waktu siang hari, maka i’tikaf juga merupakan shaum bahkan lebih dari itu. Karena orang yang beri’tikaf berpuasa pada siang harinya dan shalat pada malam harinya serta tetap menghindarkan diri dari hubungan suami istri pada malam hari.

Orang yang berpuasa jika telah berbuka pada waktu malam hari maka halal baginya segala sesuatu termasuk hubungan suami istri, adapun orang yang beri’tikaf maka dia tidak berbuka kecuali dengan hal yang sangat darurat baginya, berupa makanan dan minuman. Oleh karena itu orang yang beri’tikaf sangat mirip dengan malaikat yang berwujud manusia, karena dia terus berdzikir disamping berfikir dan memutuskan dirinya dari kesibukan-kesibukan dunia lalu mengkonsentrasikannya untuk berhubungan dengan Allah Azza wa Jalla.

Dan i’tikaf merupakan hajat seorang manusia—yang sesuai dengan fitrah—dari sekalian ummat yang ada. Karenanya penyembah-penyembah berhalapun melaksanakan i’tikaf terhadap patung-patung mereka sebagaimana yang kita lihat masih dilakukan hingga hari ini oleh orang-orang Budha di tempat peribadatan mereka. Dan Allah Azza wa Jalla menceritakan kepada kita kisah orang-orang musyrik pada zaman Nabi Ibrahim alaihi wa sallam :

﴿ إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ ﴾ [ سورة الأنبياء : 52 ]

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu beri’tikaf (tekun beribadat) kepadanya?” (QS. Al Anbiya : 52)

Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyah رحمه الله tentang hikmah i’tikaf dan hajat muslim terhadapnya : “Ketika baiknya keadaan hati dan keistiqomahannya dalam perjalanannya menuju kepada Allah azza wa jalla tergantung konsentrasinya kepada Allah, dan menyatukan kembali hati tersebut hanyalah dengan menghadapkan sepenuhnya kepada Allah azza wa jalla …, maka Allah azza wa jalla mensyariatkan i’tikaf yang maksud dan intinya adalah agar hati ini senantiasa berhubungan dengan Allah, konsentrasi kepada-Nya, berkhalwat dengan-Nya, memutuskan kesibukan dengan manusia dan menjadikannya dengan Allah semata sehingga dzikir dan kecintaan kepada-Nya serta hubungan dengan-Nya merupakan hal yang selalu menjadi tujuannya dan yang terlintas dalam pemikirannya … dan tafakkur terhadap hal-hal yang bisa menyampaikannya kepada keridhaan dan mendekatkannya kepada-Nya, sehingga kesenangannya kepada Allah tidak lagi kepada manusia dan tidak ada yang menjadikannya bahagia kecuali Dia azza wa jalla. Maka inilah maksud yang agung dari i’tikaf. (15)

Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hanbali رحمه الله berkata, “Makna dan hakikat i’tikaf adalah pemutusan hubungan dari makhluk-makhluk untuk berhubungan dan berkhidmat kepada Al Kholiq, dan setiap ma’rifat seseorang, kecintaan serta kesukaan kepada Allah kuat maka akan melahirkan pemutusan hubungan (kecuali) kepada Allah subhanahu wa ta’ala secara penuh dalam segala keadaan”.(16)

Adapun fadhilahnya maka i’tikaf mempunyai beberapa keutamaan yang tidak terdapat pada ibadah lainnya. Diantaranya sebagai berikut :

1. I’tikaf merupakan wasilah (cara) yang digunakan oleh Nabi shallallohu alaihi wasallam untuk mendapatkan malam Lailatul Qadr sebagaimana disebutkan pada hadits Abu Said Al Khudri radhiyallohu anhu yang telah lewat.([17])
2. Orang yang beri’tikaf akan mendapatkan pahala menunggu datangnya waktu shalat. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dalam sebuah hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : [ إِنَّ أَحَدَكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتْ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ ….[ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu dari Nabi shallallohu alaihi wasallam beliau bersabda : “Sesungguhnya seseorang tetap terhitung shalat selama shalat menahannya (untuk tetap berada di mesjid)…”[18]

1. I’tikaf juga membuat orang yang melakukannya selalu beruntung atau paling tidak berpeluang besar mendapatkan shaf pertama pada shalat berjama’ah. Dan cukuplah hadits ini menunjukkan keutamaan shaf pertama :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ] لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا [ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwasanya Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda : “Andaikan manusia mengetahui keutamaan adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mampu mendapatkan kecuali setelah berundi, maka tentu mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bercepat-cepat (hadir ke mesjid) maka tentu mereka akan berlomba-lomba dan seandainya mereka mengetahui keutamaan shalat Isya dan Shubuh (secara berjamaah) tentu mereka akan menghadirinya walaupun dengan cara merangkak” [19]

1. I’tikaf juga membiasakan jiwa untuk senang berlama-lama tinggal dalam masjid, dan menggantungkan hatinya pada masjid. Dalam hadits yang sangat masyhur dari shahabat Abu Hurairah radhiyallohu anhu Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :

]سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ …[ متفق عليه

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah pada hari yang tidak ada lagi lindungan kecuali lindungan-Nya…(salah seorang diantara mereka) laki-laki yang hatinya terpaut di mesjid-mesjid…” [20]

1. I’tikaf membantu menguatkan seseorang untuk menjalankan shalat dengan khusyu’ dan penuh kenikmatan. Sebab orang yang beri’tikaf telah memutuskan perhatian pada selain Allah, melepaskan segala kesibukan dan segala pemikiran duniawi atau apa saja yang dapat menghilangkan kejernihan hati serta ketentraman jiwanya dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

﴿ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ(1)الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴾

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya” (QS. Al Mu’minun : 1–2).

1. Kegunaan lain dari i’tikaf adalah membiasakan hidup sederhana, zuhud dan tidak tamak terhadap dunia yang sering membuat kebanyakan manusia tenggelam dalam kenikmatannya.
2. Keutamaan i’tikaf yang lain adalah bahwa i’tikaf ikut menjaga shaum seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa sekecil apapun. Dia juga merupakan sarana untuk menjaga pandangan mata dari melihat hal-hal yang diharamkan serta memelihara telinga dari mendengarkan musik dan nyanyian-nyanyian yang diharamkan.
3. I’tikaf juga berguna untuk mendidik jiwa agar terbiasa berlaku sabar dalam menjalankan amal shaleh serta mendidik berlaku sabar dalam meninggalkan kemaksiatan.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

﴿ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ﴾

[ سورة مريم : 65 ]

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka beribadahlah kepada-Nya dan berteguh hatilah (bersabarlah) dalam beribadat kepada-Nya.(QS. Maryam: 65).

9. Orang yang melakukan i’tikaf akan dengan mudah mendirikan shalat fardhu secara kontinu dan berjamaah bahkan dengan i’tikaf memudahkan pelakunya untuk menjalankan shalat lail yang merupakan salah satu ibadah yang sangat berat untuk diamalkan kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’la.

1. I’tikaf juga merupakan sarana untuk bermuhasabah; mengetahui sejauh mana kekurangan dan kelemahan yang ada. Dalam hal ini i’tikaf dapat diibaratkan sebagai rumah sakit, tempat seseorang melakukan pengobatan terhadap penyakit jiwanya agar tidak bertambah parah karena sebagaimana jasad, jiwa juga membutuhkan pengobatan jika sakit.

Demikian antara lain keutamaan i’tikaf, semua yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak faidah yang ada dalam ibadah i’tikaf. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’la memberikan pertolongan dan taufiq-Nya agar kita mampu meraih fadhilah-fadhilah tersebut.

V. WAKTUNYA

A. I’tikaf boleh dikerjakan kapan saja, namun lebih ditekankan pada bulan Ramadhan, karena itulah yang sering dilakukan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam sebagaimana yang disebutkan di hadits ‘Aisyah radhiyallohu anha ([21]). Dan lebih utama dikerjakan pada sepuluh akhir Ramadhan untuk mendapatkan Lailatul Qadr sebagaimana yang ditunjukkan hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiyallohu anhu tadi.

Adapun dalil bolehnya dikerjakan di luar bulan Ramadhan adalah hadits berikut :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : ] كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ … فَتَرَكَ اْلإِعْتِكَافَ ذَلِكَ الشَّهْرَ ثُمَّ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ [

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها berkata : “Adalah Nabi shallallohu alaihi wasallam beri’tikaf sepuluh akhir di bulan Ramadhan … lalu beliau meninggalkan i’tikaf pada bulan itu kemudian beliau (mengqodho’/mengganti) i’tikafnya sepuluh hari di bulan Syawwal”.[22]

1. I’tikaf yang wajib ; dikerjakan sesuai jumlah hari yang telah dinazarkan, sedangkan i’tikaf yang sunnah tidak ada batasan maksimalnya dan hal ini disepakati oleh keempat ulama madzhab. Namun yang diperselisihkan adalah batasan minimalnya, Jumhur ulama berpendapat tidak ada batasan minimal, sedangkan Imam Malik dan selainnya berpendapat bahwa batasan minimalnya satu hari satu malam[23]. Dalil yang dipegangi oleh Jumhur adalah atsar dari Umar radhiyallohu anhu dimana beliau mengabarkan kepada Nabi shallallohu alaihi wasallam tentang nazar beliau untuk beri’tikaf satu malam di masjid Haram, lalu Rasulullah shallallohu alaihi wasallam memerintahkan kepadanya untuk menunaikan nazarnya.[24]

Imam Nawawi رحمه الله mengatakan : “Boleh seseorang beri’tikaf sesaat dan waktu yang singkat…”.[25] Adapun dalil yang dipegangi oleh ulama yang mengatakan minimal satu hari satu malam adalah disyariatkannya berpuasa untuk orang yang beri’tikaf dan hal ini (puasa) tidak mungkin terlaksana jika hanya malam saja. Wallahu A’lam.[26]

1. Telah ikhtilaf ulama kita tentang kapan awal masuknya seseorang ke dalam masjid jika berniat untuk beri’tikaf. Jumhur ulama berpendapat bahwa orang yang memulai i’tikaf hendaknya memasuki masjid sebelum matahari terbenam, karena sepuluh akhir maksudnya sepuluh malam akhir yaitu di mulai malam ke-21.

Pendapat yang lain bahwa i’tikaf itu dimulai sesudah shalat shubuh, berdasarkan hadits ‘Aisyah رضي الله عنها berikut ini :

]كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ [
“Adalah Nabi shallallohu alaihi wasallam jika hendak beri’tikaf, beliau shalat Shubuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya”.[27]

Pendapat ini dipegangi oleh Al Auza’iy, Al Laits dan Ats Tsauri serta dipilih oleh Al Hafizh Ibnu Hajar[28] dan Al Imam Ash Shon’âni – رحمهم الله –

Jumhur ulama telah menta’wil atsar yang shahih ini bahwa yang dimaksud mu’takaf (tempat i’tikaf) adalah bilik khusus yang beliau siapkan untuk beri’tikaf, adapun masuk ke masjid maka sebelum masuk waktu shubuh. Namun Al Imam Ash Shon’ani رحمه الله mengatakan ta’wil ini jauh dari kebenaran, karena merupakan kebiasaan Nabi shallallohu alaihi wasallam adalah tidak keluar dari rumahnya (untuk ke masjid) kecuali pada saat iqomah.[29]

Dari dua pendapat yang ada maka yang paling dekat dengan dalil adalah pendapat yang kedua, yaitu masuk sesudah shalat shubuh, namun pendapat yang pertama lebih berhati-hati. Wallahu A’lam.

Adapun akhir waktu i’tikaf maka keempat Imam Madzhab sepakat bahwa i’tikaf berakhir saat matahari terbenam pada hari akhir bulan Ramadhan, namun sebagian ulama diantaranya Imam Malik memandang lebih baik untuk tinggal sampai hari ‘Ied dan keluar dari masjid keesokan harinya untuk menuju ke lapangan shalat ‘Ied.[30]

VI. SYARAT-SYARAT I’TIKAF [31]

Orang yang beri’tikaf syaratnya ialah :

1. Seorang muslim
2. Mumayyiz (sudah mampu membedakan yang baik dan buruk).
3. Berakal.
4. Suci dari janabat, haidh, dan nifas.

Keempat syarat ini merupakan syarat yang umum untuk ibadah yang lain seperti shalat, dan ada satu syarat yang diikhtilafkan bagi orang yang mau beri’tikaf di luar Ramadhan yaitu shaum (puasa).

1. Pendapat pertama bahwa shaum merupakan syarat i’tikaf; pendapat ini dipegangi oleh Abu Hanifah, Malik, Al Auza’iy رحمهم الله dan disandarkan kepada beberapa sahabat diantaranya ‘Aisyah رضي الله عنها dan Abdullah bin ‘Umar radhiyallohu anhuma [32]. Dalil mereka :

Atsar dari ‘Aisyah رضي الله عنها , beliau berkata :

) وَ السُّـنَّةُ فيِ مَنِ اعْتَكَفَ أَنْ يَصُوْمَ (

“Dan sunnah bagi yang beri’tikaf berpuasa”. [33]

Keterangan: Jika salah seorang sahabat mengatakan sunnah maka maksud dari sunnah adalah perbuatan atau perkataan Nabi shallallohu alaihi wasallam dan (hukumnya marfu’) bukan sunnah menurut pengertian fuqoha.[34]

Ibnu Qayyim Al Jauziyah رحمه الله berkata: “Tidak pernah dinukil bahwa Nabi shallallohu alaihi wasallam pernah i’tikaf dalam keadaan berbuka, bahkan ‘Aisyah رضي الله عنها berkata: “Tidak ada i’tikaf kecuali berpuasa”. Dan Allah azza wa jalla tidak pernah menyebut i’tikaf kecuali beserta shaum dan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam tidak pernah beri’tikaf kecuali dalam keadaan berpuasa. Karena itu pendapat yang rojih yang sesuai dalil dan merupakan pendapat Jumhur Salaf adalah: Shaum merupakan syarat i’tikaf dan pendapat inilah yang dirojihkan oleh Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah رحمه الله “.[35]

1. Pendapat kedua bahwa shaum bukan syarat i’tikaf; pendapat ini dipegangi Imam Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Hasan Al Bashri, Said bin Musayyib, Atho’ bin Abi Rabâh, Umar bin Abdul Aziz رحمهم الله dan disandarkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallohu anhu dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu anhu [36]. Dalil mereka:

1) Perkataan Umar radhiyallohu anhu yang menyampaikan kepada Nabi shallallohu alaihi wasallam bahwa beliau pernah bernazar beri’tikaf satu malam. Lalu Rasulullah shallallohu alaihi wasallam memerintahkannya untuk menunaikannya. Dan sebagaimana diketahui bahwa puasa tidak mungkin dilakukan pada waktu malam.

Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata : “Ini menunjukkan bahwa Umar radhiyallohu anhu tidak menambah dari nazarnya sedikitpun dan menunjukkan bahwa i’tikafnya tanpa berpuasa serta menunjukkan pula bahwa tidak ada batasan (minimal) yang ditentukan (untuk beri’tikaf)”.[37]

2) Nabi shallallohu alaihi wasallam pernah beri’tikaf di bulan Syawwal, dan sebagaimana yang diketahui orang tidak boleh berpuasa di hari pertama bulan Syawwal.

3) Perkataan Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma : “Tidak wajib bagi orang yang beri’tikaf berpuasa kecuali dia menazarkannya”.[38]

Adapun jawaban mereka terhadap dalil pendapat yang pertama:

* Berkata Abu Umar Ibnu Abdil Barr رحمه الله tentang atsar ‘Aisyah رضي الله عنها : “Tidak seorang pun yang mengatakan pada hadits ‘Aisyah : “Ini Sunnah”, kecuali Abdurrahman bin Ishaq, dan perkataan ini tidaklah shahih dari Aisyah melainkan dia adalah perkataan Az Zuhri[39]“. Dengan demikian maka tidaklah dikatakan bahwa perkataan ini hukumnya marfu’ kepada Nabi shallallohu alaihi wasallam.
* Ibnu Hajar Al ‘Asqalani رحمه الله –ketika menanggapi hujjah yang disebutkan oleh Ibnul Qoyyim yang mensyaratkan berpuasa—, beliau (Al Hafizh) mengatakan: “Disebutkannya i’tikaf sesudah perintah shaum tidaklah menunjukkan bahwa shaum merupakan syarat bagi orang yang beri’tikaf, karena jika kita mengatakan demikian maka harus juga kita katakan bahwa seorang yang shaum mesti juga beri’tikaf namun tidak seorang pun yang berpendapat demikian.[40]
* Ash Shon’ani رحمه الله berkata: “Telah ikhtilaf tentang pensyaratan shaum bagi yang i’tikaf dan atsar ‘Aisyah menunjukkan disyariatkannya, dan ada juga hadits-hadits yang menafikannya dan ada juga yang menetapkannya, namun kesemuanya (merupakan pendapat) tidak bisa dijadikan hujjah … dan sekedar perbuatan (fi’il) Nabi shallallohu alaihi wasallam tidaklah menjadi hujjah disyariatkannya”. Dan beliau berkata lagi: “Dan ijtihad dalam masalah ini (persyaratan shaum) medannya luas (boleh-boleh saja)”. [41]
* Imam Nawawi رحمه الله berkata : “Imam Syafi’i dan pengikutnya berpendapat yang afdhal (utama) i’tikaf dengan berpuasa dan bila ia tidak berpuasa juga boleh”.[42]

VII. RUKUN-RUKUN I’TIKAF [43]

1. Niat, karena tidak sah suatu amalan melainkan dengan niat.

Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :

] إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى …[ متفق عليه

“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat dan seseorang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan yang diniatkannya…” [44]

1. Tempatnya harus di masjid. Dalilnya firman Allah azza wa jalla :

﴿ وَلاَ تُـبَاشِرُوْهُنَّ وَأَنْـتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ﴾ [ سورة البقرة : 187 ]

“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid”(QS. Al Baqarah: 187).

Berkata Ibnu Hajar Al ‘Asqalani رحمه الله ketika menjelaskan kenapa ayat ini dijadikan dalil tentang keharusan masjid dijadikan tempat untuk beri’tikaf: “Seandainya (i’tikaf itu) sah dikerjakan di selain masjid, tentu tidak dikhususkan pengharaman bercampur di masjid, karena jima’ itu membatalkan i’tikaf menurut ijma’ (walaupun bukan di masjid). Maka diketahuilah dari penyebutan masjid bahwa maksudnya adalah i’tikaf itu tidak sah pelaksanaannya kecuali di masjid-masjid”.[45]

Keharusan beri’tikaf di masjid ini berlaku pula untuk wanita, dalam hal ini merupakan pendapat Jumhur Ulama bahwa wanita tidak sah beri’tikaf di masjid rumahnya karena tempat itu tidaklah dikatakan masjid lagi pula keterangan yang shahih menerangkan bahwa istri-istri Nabi shallallohu alaihi wasallam melakukan i’tikaf di masjid Nabawi.

Al Imam An Nawawi رحمه الله menuturkan: “I’tikaf tidak sah kecuali di masjid, karena Nabi shallallohu alaihi wasallam dan istri-istri beliau serta para sahabat hanya beri’tikaf di masjid, padahal sangat sulit bagi seseorang untuk selalu berdiam di masjid. Jika seandainya i’tikaf boleh dikerjakan di rumah tentu mereka pernah melaksanakannya di rumah walaupun hanya sekali terutama bagi wanita yang hajat mereka untuk i’tikaf di rumah lebih besar”.[46]

Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله menjelaskan tentang i’tikaf istri-istri Nabi shallallohu alaihi wasallam di masjid: “Hal ini menunjukkan disyariatkannya i’tikaf di masjid, karena seandainya tidak, tentu para istri-istri Nabi shallallohu alaihi wasallam akan beri’tikaf di rumah-rumah mereka karena mereka telah diperintahkan untuk berlindung atau berdiam di rumah”. [47]

VIII. MASJID YANG SAH DIPAKAI BUAT I’TIKAF

Telah dijelaskan di atas bahwa tidak sah i’tikaf kecuali jika dikerjakan di masjid, kemudian para ulama berikhtilaf tentang sifat masjid yang boleh digunakan untuk i’tikaf atas 6 (enam) pendapat [48]:

Pertama: I’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja walaupun tidak dilaksanakan shalat berjama’ah padanya; ini pendapat Imam Malik[49], Asy Syafi’i[50], Al Bukhari[51], Al Baghowi[52], dan lain-lain رحمهم الله.

Dalil mereka adalah keumuman ayat 187 surah Al Baqarah, namun demikian jika selama beri’tikaf ada hari Jum’atnya, maka Imam Malik رحمه الله mensyaratkan di masjid Jami’ (masjid yang digunakan shalat Jum’at di dalamnya), sedang Imam Syafi’i رحمه الله menganggap hal tersebut (mesjid Jami’) bukan syarat namun lebih disukai dan dia harus keluar dari tempat i’tikafnya pada hari Jum’at untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Kedua: I’tikaf tidak sah kecuali di masjid Jami’; ini adalah pendapat Imam Az Zuhri dan Hammâd رحمهما الله. Dalilnya adalah perkataan ‘Aisyah رضي الله عنها :

] … وَلاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ فيِ مَسْجِدٍ جَامِعٍ [

“Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid Jami’”.[53]

Namun riwayat ini mempunyai dua cacat, yaitu :

1. Perkataan masjid Jami’ merupakan riwayat yang syadz (ganjil) karena diriwayatkan oleh Abdurrahman saja lalu bertentangan dengan riwayat Ibnu Juraij sebagaimana di sunan Ad Dâraquthni[54] dan riwayat ‘Uqail bin Kholid sebagaimana di sunan Al Baihaqi yang keduanya menyebut: مسجد جماعة (masjid yang dilaksanakan shalat jama’ah).[55]
2. Imam Ad Dâraquthni رحمه الله berkata: “Dikatakan bahwa ini bukanlah sabda Nabi shallallohu alaihi wasallam namun perkataan Az Zuhri”[56]. Dan Imam Al Baihaqi رحمه الله menyatakan : “Sepertinya ini adalah perkataan rawi sesudah ‘Aisyah”.

Ketiga: I’tikaf tidak sah kecuali di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah padanya, ini adalah madzhab Abu Hanîfah dan Imam Ahmad serta perkataan Hasan Al Bashri dan ‘Urwah bin Zubair رحمهم الله . Dalil mereka adalah atsar ‘Aisyah رضي الله عنها terdahulu yaitu riwayat Ad Dâraquthni dan Al Baihaqi yang menyebut:

] وَلاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ فيِ مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ [

“Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah”.[57]

Dan inilah perkataan yang pertengahan dan paling dekat dengan kebenaran terutama jika kita mengatakan shalat berjama’ah hukumnya wajib ‘ain bagi kaum laki-laki. Ibnu Qudamah رحمه الله menjelaskan:“Disyaratkannya i’tikaf di masjid yang dilaksanakan shalat jama’ah, karena shalat jama’ah itu wajib, dan ketika seseorang beri’tikaf di masjid yang tidak dilaksanakan shalat jama’ah akan mengakibatkan salah satu dari dua hal:

1. 1. Meninggalkan shalat jama’ah yang merupakan kewajiban,
2. Keluar untuk shalat di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah dan hal ini akan sering berulang padahal masih mungkin untuk menghindarinya, dan sering keluar dari tempat i’tikaf itu bertentangan dengan maksud/tujuan i’tikaf …”.[58]

Jika seseorang i’tikaf di masjid jama’ah yang tidak dilaksanakan shalat Jum’at maka wajib atasnya untuk keluar shalat Jum’at dan i’tikafnya tidak batal karena dia keluar disebabkan udzur yang dibenarkan syariat dan hal tersebut hanya sekali dalam sepekan, dan ini merupakan pendapat Abu Hanîfah, Said bin Jubair, Hasan Al Bashri, Ibrahim An Nakha’iy, Imam Ahmad, Ibnul Mundzir, Dâwud Azh Zhohiri, Ibnu Qudâmah, dan lain-lain رحمهم الله .

Keempat: I’tikaf tidak sah kecuali di masjid Haram dan masjid Nabawi, dan ini adalah pendapat Atho’ bin Abi Rabah رحمه الله.

Kelima: I’tikaf tidak sah kecuali di masjid Nabawi saja, dan ini adalah pendapat Said bin Musayyib رحمه الله.

Keenam: I’tikaf tidak shah kecuali di tiga masjid, dan ini adalah pendapat shahabat Hudzaifah radhiyallohu anhu dan dipilih oleh Syaikh Al Albani رحمه الله. Dalilnya adalah apa yang beliau radhiyallohu anhu riwayatkan marfu’ kepada Nabi shallallohu alaihi wasallam :

] لاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ فيِ الْمَساَجِدِ الثَّلاَثَةِ : الْمِسْجِدِ الْحَرَامِ وَ مَسْجِدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَمَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ [

“Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid: masjid Haram, masjid Nabawi dan masjid Al Aqsho”.[59]

Penjelasan Ulama terhadap hadits ini:

1. Telah diikhtilafkan apakah hadits ini marfu’ (perkataan Nabi shallallohu alaihi wasallam) ataukah mauquf (perkataan Hudzaifah radhiyallohu anhu), namun yang shahih adalah mauquf, karena Imam Abdurrazzâq di kitabnya Mushannaf dan Ath Thabrani di Al Mu’jam Al Kabir[60] meriwayatkan secara mauquf dan kedua riwayat ini lebih baik keadaan sanadnya dari riwayat Ath Thahawi di atas..
2. Diantara hal yang menunjukkan kelemahan kabar Hudzaifah radhiyallohu anhu ini adalah sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu anhu tidak menerima riwayat Hudzaifah radhiyallohu anhu ini bahkan menolaknya. Seandainya ini hadits marfu’ maka tidak mungkin Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu anhu menolaknya, sebab beliau adalah termasuk diantara sahabat yang paling teguh memegang sunnah dan termasuk fuqoha sahabat, lalu beliau berfatwa bertentangan dengan riwayat Hudzaifah radhiyallohu anhu.Ibnu Mas’ud radhiyallohu anhu berkata kepada Hudzaifah radhiyallohu anhu : “Mungkin kamu lupa lalu orang-orang mengingatnya atau kamu salah dan mereka benar”. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallohu anhu meragukan perkataan Hudzaifah radhiyallohu anhu tersebut dan menganggapnya telah menggabungkan dengan hadits :

] لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَةِ … [

“Tidak boleh mengadakan perjalanan (untuk mencari berkah) kecuali ke tiga masjid …”.[61]

Imam Asy Syaukani رحمه الله berkata : “Perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu anhu menunjukkan bahwa beliau tidak menganggap ini hadits dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, juga menunjukkan bahwa beliau menyelisihinya dan menganggap boleh beri’tikaf di setiap masjid, andaikan itu adalah hadits tentu Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu anhu tidak menyelisihinya”. [62]

1. Matan (redaksi) hadits ini ada ikhtilaf (perbedaan) dan syak (keraguan). Dalam riwayat Said bin Manshur رحمه الله , Hudzaifah radhiyallohu anhu berkata : “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid” atau “…kecuali di masjid jama’ah”.

Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm رحمه الله menjelaskan : “Keraguan ini dari Hudzaifah radhiyallohu anhu atau rawi sesudahnya dan tidak mungkin dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam. Seandainya ini adalah sabda Nabi shallallohu alaihi wasallam tentu Allah subhanahu wa ta’ala akan memeliharanya untuk kita dan tidak diriwayatkan secara ragu, karena itulah kita yakini bahwa yang benar adalah Nabi shallallohu alaihi wasallam tidak pernah bersabda demikian”.[63]

1. Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi رحمه الله mengatakan hadits ini mansûkh (hukumnya sudah dihapus) dan yang menâsikhnya (yang menghapusnya) adalah QS. Al Baqarah : 187, karena ayat ini menyebutkan masjid secara umum (tanpa ada pengkhususan) dan adalah kaum muslimin telah beri’tikaf di masjid-masjid di negeri mereka masing-masing.[64]
2. Hadits ini kalaupun dianggap shahih maka sekedar menunjukkan keutamaan dan kesempurnaan sebagaimana sabda Nabi shallallohu alaihi wasallam :

] لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَـهُ [

“Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah”.[65]

1. Seandainya hadits ini shahih, maka tidak mungkin ummat Islam bersepakat untuk meninggalkan dari mengamalkannya dan tidak seorang pun dari para imam yang mengambil zhohir hadits tersebut kecuali Hudzaifah radhiyallohu anhu. Kalau ada yang mengatakan bahwa hadits ini dipegangi pula oleh Said bin Musayyib dan Atho’ رحمهما الله maka dijawab bahwa penukilan dari Said bin Musayyib رحمه الله masih diikhtilafkan, karena Ibnu Hajar Al ‘Asqalani رحمه الله mengatakan bahwa Said bin Musayyib رحمه الله hanya mengkhususkan masjid Nabawi (lihat pendapat kelima di atas). Adapun Atho’ رحمه الله maka beliau tidak menyebut masjid Al Aqsho, seandainya beliau berpegang pada hadits tersebut tentu beliau akan menyebutkannya pula. Karena itu diketahui bahwa perkataan Atho’ رحمه الله adalah sekedar fatwa dan ijtihad beliau bukan berpegang pada hadits Hudzaifah radhiyallohu anhu.

Itulah beberapa jawaban ulama kita terhadap dalil pendapat yang keenam tentang masalah masjid yang dipakai untuk i’tikaf. Sebagai kesimpulan dari keenam pendapat yang ada maka yang dekat dengan kebenaran adalah pendapat kedua dan ketiga. Dan tentu saja kalau selama beri’tikaf ada hari Jum’at maka lebih utama jika dilaksanakan di masjid Jami’. Wallahu A’lam.

IX. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN I’TIKAF

1. Jima’ (bersetubuh/ bersenggama).

Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala :

﴿ وَلاَ تُـبَاشِرُوْهُنَّ وَأَنْـتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ﴾ [ سورة البقرة : 187 ]

“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid”(Al Baqarah : 187)

Dan tidak mengapa menyentuh istri tanpa disertai dengan syahwat [66]. Adapun menciumnya dan menyentuhnya disertai dengan syahwat maka itupun diharamkan, namun diikhtilafkan apakah membatalkan atau tidak. Imam Malik رحمه الله mengatakan batal sedangkan yang lain mengatakan tidak membatalkan kecuali jika keluar mani.[67]

1. Murtad atau melakukan perbuatan syirik besar

Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala :

﴿ وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴾ [ الزمر : 65 ]

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”(QS. Az Zumar : 65)

1. Hilang akal
2. Haidh
3. Nifas
4. Keluar dari masjid tanpa hajat yang dibolehkan, walaupun hanya keluar sebentar. Keluar dari masjid membatalkan i’tikaf karena tinggal di masjid adalah rukun i’tikaf.

X. HAL-HAL YANG DIBOLEHKAN SEWAKTU I’TIKÂ F

1. Keluar untuk suatu keperluan yang tidak dapat dielakkan.

Dalilnya hadits :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : ] وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيُدْخِلُ عَلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا [

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها berkata : “Dan adalah Rasulullah sedang beri’tikaf di masjid, lalu beliau memasukkan kepalanya maka saya menyisirnya dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena hajat seorang manusia”.[68]

Imam Az Zuhri رحمه الله menafsirkan hajat insan (kebutuhan yang manusiawi) sebagai kencing dan buang air besar, dan kedua hal ini merupakan ijma’ tentang bolehnya keluar masjid disebabkan kedua hal tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mundzir رحمه الله. [69]

Imam Malik رحمه الله berkata : “Tidaklah seseorang dikatakan beri’tikaf hingga dia meninggalkan hal-hal yang harus dia tinggalkan seperti menjenguk orang sakit, shalat jenazah, dan masuk ke rumah kecuali dengan adanya hajat insan”.[70] Dan beliau juga mengatakan seandainya keluar itu boleh bagi orang yang beri’tikaf tentu menjenguk orang sakit dan shalat jenazah serta mengantarkannya tidak dilarang.[71]

Asy Syaikh Al ‘Utsaimin رحمه الله telah merinci masalah ini, beliau berkata, “Jika orang yang i’tikaf keluar dengan sebagian anggota tubuhnya maka itu tidak mengapa sebagaimana disebutkan pada hadits ‘Aisyah tadi dan jika keluar dengan seluruh anggota tubuhnya maka itu terbagi tiga:

1. a. Keluarnya untuk urusan yang tidak dapat dielakkan secara tabi’at dan syari’at, seperti membuang hajat (kencing dan buang air besar), berwudhu yang wajib, mandi yang wajib, makan dan minum. Maka untuk hal-hal ini dibolehkan keluar selama tidak mungkin dikerjakan di masjid, namun jika bisa dikerjakan di masjid maka tidak boleh keluar, seperti adanya kamar mandi di masjid, atau ada yang menyediakan baginya makan dan minum, karena saat itu tidak ada lagi keperluan untuk keluar.
2. b. Keluar dalam urusan ketaatan, namun tidak wajib.

Contoh: mengunjungi orang sakit, menghadiri jenazah, dan yang semisalnya. Maka seperti ini tidak dibolehkan keluar, kecuali dia telah bersyarat sebelum memulai i’tikaf, misalnya ada seorang yang sakit lalu dia mau menjenguknya dan khawatir akan kematiannya, maka dia mensyaratkan hal tersebut sebelum memulai i’tikaf, maka hal tersebut tidak mengapa.

1. c. Keluar untuk urusan yang menafikan maksud i’tikaf.

Contoh: keluar untuk berjual beli, berjima’, atau bersenang-senang dengan istrinya atau yang semacamnya. Maka hal ini tidak boleh walaupun dia telah mensyaratkan hal tersebut sebelum memulai i’tikaf, karena perbuatan seperti ini bertentangan dan menafikan makna i’tikaf. [72]

Dan barangsiapa keluar karena hajat yang tidak dapat dielakkan (hajat insan) maka tidak boleh baginya mengerjakan yang lain kecuali hal tersebut. Ibnu Qayyim رحمه الله mengatakan : “Adalah Nabi shallallohu alaihi wasallam jika keluar karena hajat, beliau melewati orang yang sakit di perjalanan namun beliau tidak menghampirinya dan dia tidak pula menanyakan tentang keadaannya”.[73]

1. Menyisir rambut dan merapikannya, sebagaimana yang diceritakan di hadits ‘Aisyah رضي الله عنها yang tadi.

Kata Al Khaththabi رحمه الله mengomentari hadits tersebut : “Dan yang semakna dengan hal itu adalah mencukur rambut, memotong kuku, dan membersihkan badan dari kotoran dan daki”.[74]

1. Membawa kasur dan perlengkapan lainnya ke masjid.
2. Menerima tamu dan mengantarkannya hingga ke pintu masjid.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Husain rahimallohu anhu :

] أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ فَقَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَعَهَا يَقْلِبُهَا حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ بَابَ الْمَسْجِدِ …[

“Adalah Shofiyyah رضي الله عنها – istri Nabi shallallohu alaihi wasallam – mengabarkan kepadanya bahwa dia (Shofiyyah) menziarahi Nabi shallallohu alaihi wasallam yang sedang beri’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan, lalu Shofiyyah رضي الله عنها berbicara di sisinya beberapa lama kemudian bangkit untuk pulang dan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam juga berdiri untuk mengantarnya hingga di pintu masjid …”. [75]

1. Dan dibolehkan makan dan minum di dalam masjid dengan tetap memelihara dan menjaga kebersihan dan kemuliaan masjid. Wallahul Muwaffiq.

IX. ADAB-ADAB I’TIKAF

Ada beberapa adab yang hendaknya seseorang yang beri’tikaf memperhatikannya dan berusaha untuk melaksanakannya sesuai dengan kesanggupan baik di waktu siang ataupun malam.

Diantara adab-adab tersebut adalah :

1. Disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf memperbanyak ibadah-ibadah sunnah, seperti shalat, membaca Al Qur’an, berdzikir, membaca shalawat kepada Nabi shallallohu alaihi wasallam, berdo’a dan ibadah-ibadah lainnya yang mendekatkan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
2. Termasuk juga dalam hal ini disunnahkan menuntut ilmu, membaca/menelaah kitab-kitab tafsir dan hadits, membaca riwayat para Nabi dan orang-orang yang shalih, serta mempelajari kitab-kitab aqidah dan fiqh.
3. Disunnahkan juga bagi orang yang beri’tikaf untuk membuat bilik-bilik di masjid untuk digunakan berkhalwat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallohu alaihi wasallam, terutama jika ada wanita yang ikut beri’tikaf, maka wajib atas wanita untuk membuat bilik-bilik tersebut agar terhindar dari ikhtilat (bercampur) dan saling pandang-memandang dengan lawan jenis. Namun hendaknya bilik-bilik tersebut dibuat di tempat yang tidak mengganggu bagi orang yang melaksanakan shalat berjama’ah, juga tidak boleh saling bermegah-megahan atau saling berbangga-banggaan dengan bilik yang dibuat, karena Nabi shallallohu alaihi wasallam pernah meninggalkan beri’tikaf di bulan Ramadhan ketika melihat istri-istri beliau saling berlomba dan bermegah-megahan dengan bilik yang mereka buat.[76]
4. Hendaknya seorang yang beri’tikaf meninggalkan perdebatan dan pertengkaran walaupun dia berada di pihak yang benar, sabda Nabi shallallohu alaihi wasallam :

] أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا [

“Saya menjamin rumah di bagian bawah surga bagi yang meninggalkan pertengkaran/ perdebatan walaupun dia benar …”.[77]

1. Juga bagi orang yang beri’tikaf hendaknya menghindari dari mengumpat, berghibah, dan berkata-kata yang kotor, karena hal-hal tersebut terlarang di luar i’tikaf maka pelarangannya bertambah pada saat i’tikaf.
2. Secara umum seluruh perbuatan dan perkataan yang tidak bermanfaat hendaknya ditinggalkan, karena semua perkataan dan perbuatan yang dosa serta tidak bermanfaat tidak mencerminkan kepribadian seorang muslim dan mukmin yang baik dan perbuatab semacam itu akan mengurangi pahala beri’tikaf, Allah azza wa jalla berfirman (artinya), “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (QS. Al Mu’minun : 1-3)

Nabi shallallohu alaihi wasallam bersabda:

] مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ [

“Diantara kebaikan Islam seseorang (dia) meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya”. [78]

Namun tidak boleh pula seseorang yang i’tikaf bernazar untuk tidak berbicara sama sekali, karena hal tersebut bukanlah perbuatan kebaikan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits bahwa Abu Israil radhiyallohu alaihi wasallam bernazar untuk terus berdiri (di terik matahari), tidak akan duduk, tidak mau bernaung, dan tidak mau berbicara serta akan terus berpuasa, maka Nabi shallallohu alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat :

] مُرُوهُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَلْـيَسْتَظِلَّ وَلْـيَقْعُدْ وَلْـيُتِمَّ صَوْمَهُ [

“Suruhlah ia berbicara, bernaung, duduk, dan hendaknya ia meneruskan puasanya”. [79]

Inilah beberapa adab yang hendaknya diperhatikan bagi orang yang beri’tikaf, agar i’tikafnya benar-benar berwujud taqarrub kepada Allah subhanahu wata’ala dan jangan menjadikan tempat (masjid) sebagai tempat untuk melaksanakan kebiasan-kebiasannya yang buruk, sehingga i’tikafnya tidak ubahnya seperti orang yang berpindah tempat saja.

Berkata Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah رحمه الله sesudah beliau menyebutkan adab-adab Nabi shallallohu alaihi wasallam dalam beri’tikaf : “Keseluruh (adab-adab) ini dilakukan untuk mendapatkan tujuan dan ruh dari i’tikaf tersebut, kebalikan dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil dengan menjadikan tempat i’tikaf sebagai tempat pertemuan keluarga/ teman-teman dan sebagai tempat untuk menerima orang-orang yang mau berziarah kepadanya, lalu mulailah mereka ngomong dan ngobrol kesana-kemari, dan i’tikaf seperti itu adalah suatu warna (model) dan i’tikaf Nabi shallallohu alaihi wasallam mempunyai warna (model) yang lain, Wallahul Muwaffiq”.[80]

XII. BEBERAPA MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN I’TIKAF

1. Barangsiapa yang telah berniat dan telah memulai i’tikaf lalu membatalkannya maka disunnatkan baginya untuk mengqodho’nya (menggantinya) jika i’tikafnya sunnat. Adapun i’tikaf yang wajib maka wajib pula untuk mengqodho’nya.
1. Barangsiapa yang bernazar untuk i’tikaf di salah satu dari 3 masjid (masjid Haram, Nabawi, dan Aqsho’) maka wajib atasnya untuk menunaikannya sesuai dengan nazarnya, namun jika dia beri’tikaf di masjid yang lebih afdhal dari yang dia nazarkan maka itu boleh.

Adapun jika bernazar di salah satu masjid selain ketiga masjid tersebut maka tidak wajib atasnya i’tikaf di masjid tersebut bahkan dibolehkan baginya beri’tikaf di masjid mana saja.

1. Dibolehkan bagi wanita yang istihadhah untuk beri’tikaf.
2. Barangsiapa yang bercampur dengan istrinya padahal dia beri’tikaf maka batallah i’tikafnya dan dia harus memulainya kembali namun tidak wajib atasnya kaffarah (membayar denda) karena tidak ada dalil yang memerintahkannya.

XIII. PENUTUP DAN KESIMPULAN

Inilah akhir dari risalah i’tikaf yang merupakan Silsilah Risalah Ramadhan II, dan berikut ini beberapa kesimpulan tentang i’tikaf :

1. I’tikaf adalah berdiam di masjid secara terus-menerus untuk melaksanakan ibadah.
2. I’tikaf adalah ibadah yang disyari’atkan berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’.
3. Hukum i’tikaf sunnah dan sebagian menganggap sunnah muakkadah dan dia menjadi wajib ketika dinazarkan. Dan hukum ini berlaku pula untuk wanita dengan tetap memperhatikan beberapa syarat.
4. Hikmah disyari’atkannya i’tikaf adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan membersihkan hati dari hal-hal yang menghalangi seorang hamba dari berhubungan dengan-Nya.
5. Salah satu faidah i’tikaf adalah wasilah yang paling utama untuk mendapatkan Lailatul Qadr.
6. Sunnah mengerjakan i’tikaf di bulan Ramadhan dan afdhal pada sepuluh akhir di bulan tersebut, namun boleh saja dikerjakan di luar Ramadhan.
7. Tidak ada batasan maksimal ataupun minimal untuk beri’tikaf.
8. Awal masuknya seseorang ke mu’takaf (tempat i’tikaf) adalah sesudah shalat shubuh, adapun masuk ke masjid maka Jumhur Ulama melihat sebaiknya sebelum terbenamnya matahari pada malam harinya.
9. I’tikaf mempunyai syarat-syarat, rukun-rukun, dan adab-adab yang harus diperhatikan.
10. I’tikaf dikerjakan di masjid yang dilaksanakan shalat jama’ah dan lebih afdhal di masjid Jami’ (masjid yang dilaksanakan shalat Jum’at padanya).

Kemudian orang yang berniat untuk beri’tikaf hendaknya melihat maslahat dan mudharat. Jika dia adalah seorang pemuda yang sangat dibutuhkan oleh orang tuanya maka hendaknya dia mendahulukan hak orang tuanya karena hal tersebut wajib, namun jika dia diizinkan untuk beri’tikaf maka itulah yang utama. Demikian pula dengan orang yang bekerja di bidang jasa dan kepentingan masyarakat umum hendaknya mendahulukan kepentingan umum dari kepentingan pribadi dan sungguh Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui apa yang diniatkan oleh hamba-hamba-Nya.

Adapun bagi mereka yang Allah subhanahu wa ta’ala muliakan dengan memberikan kesempatan untuk beri’tikaf di tahun ini hendaknya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, raihlah hikmah dan faidah i’tikaf, perhatikanlah adab-adabnya serta jauhkanlah dari hal-hal yang terlarang dan janganlah menjadi orang yang i’tikafnya tidak ubahnya dari sekedar berpindah tempat tidur saja. Mudah-mudahan dengan i’tikaf ini anda bisa mendapatkan malam yang lebih mulia dari seribu bulan : “Lailatul Qadr”. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Dan bagi yang menginginkan penjelasan tentang Lailatul Qadr, Insya Allah akan kami sebutkan pada tulisan tersebut

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmu ash sholihaat.

DAFTAR MAROJI’

1. Lisanul ‘Arab, Al Allamah Ibnul Manzhur.
2. An Nihayah Fii Gharib Al Hadits, Al Hafizh Ibnul Atsir.
3. Al Muwaththo’, Al Imam Malik bin Anas.
4. Al Umm, Al Imam Asy Syafi’i
5. Al Mughni, Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi
6. Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd Al Qurthubi
7. Fathul Bari, Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani.
8. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Al Imam Ibnu Katsir.
9. Ma’alim At Tanzil, Al Imam Al Baghawi.
10. Za’adul Ma’ad, Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah.
11. Shohih Ibnu Khuzaimah, Al Imam Ibn Khuzaimah
12. Subul As Salam, Al Imam Ash Shon’ani.
13. Al Fatawa Al Kubro, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
14. Al Minhâj Fii Syarh Shohih Muslim, Al Imam An Nawawi.
15. Al Ijma’, Al Imam Ibnul Mundzir.
16. Al Adzkâr, Al Imam An Nawawi.
17. At Tamhid, Imam Ibnu Abdil Barr
18. Misykâtul Mashobih, Al Imam At Tibridzy.
19. Nailul Authar, Al Imam Asy Syaukani.
20. Fiqhus Sunnah, Asy Syaikh Sayyid Sabiq.
21. Taisir Al Karim Ar Rahman, Al Allamah As Sa’di.
22. Majâlis Syahri Ramadhan, Asy Syaikh Al ‘Utsaimin.
23. Fatawa Ash Shiyam, Asy Syaikh Al ‘Utsaimin.
24. Taudhihul Ahkâm, Asy Syaikh Abdullah Al Bassâm
25. Taisir Al ‘Allâm, Asy Syaikh Abdullah Al Bassâm
26. Ramadhaniyyat, Asy Syaikh ‘Athiyah Salim
27. Qiyam Ramadhan, Al Muhaddits Al Albani.
28. Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, DR. Wahbah Az Zuhaili
29. Shifatu Shaum An Nabi Fii Ramadhan, Asy Syaikh Ali bin Hasan dan Asy Syaikh Salim Al Hilaly.
30. Al Inshaf Fii Ahkam Al I’tikaf, Asy Syaikh Ali Al Halabi.
31. Daf’ul I’tisaaf ‘An Mahalli Al I’tikaaf, Asy Syaikh Jasim bin Sulaiman Ad Dausari.
32. Hakikat Al I’tikaf, Asy Syaikh Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar Asy Syinqithi (kaset).
33. Al I’tikaf wa Ahkamuhu, Asy Syaikh Al Amin Al Hajj

(1) Lihat Tamhid (8 : 325)

(2) Lihat Al Mughni (4 : 455) dan Al Majmu’ (6 : 500)

(3) Lihat Bidayatul Mujtahid (1 : 583), Al Minhaj (8 : 307) dan Fathul Bari (4 : 344)

(4) HR. Bukhari (669), Muslim (Al Minhaj 8 : 302 no. 2763) dan lafazh ini baginya.

(5) HR. Bukhari (2026) dan Muslim (Al Minhaj 8 : 308 no. 2776)

(6) Lihat Al Ijma’ (hal. 16)

(7) Lihat Al Mughni (4 : 456)

(8) Lihat Fathul Bari (4 : 346)

(9) HR. Bukhari (6696) dari ‘Aisyah رضي الله عنها

(10) HR. Bukhari (2032) dan Muslim (Al Minhaj 11 : 126 no. 4268)

(11) Lihat catatan kaki no. 5

(12) HR. Bukhari (2038) dan Muslim (Al Minhaj 14 : 381 no. 5643)

(13) Qiyam Ramadhan (hal. 41)

(14) Lihat Fathul Bari (4 : 351)

(15) Zâdul Ma’âd (2 : 82)

(16) Lathaif Al Ma’arif (hal. 349)

([17] ) Lihat catatan kaki no. 4

([18]) HR. Bukhari (649) dan Muslim (Al Minhaj 5:168)

([19]) HR. Bukhari (615) dan Muslim (Al Minhaj 4:378)

([20]) HR. Bukhari (660) dan Muslim (Al Minhaj 7:122)

([21]) lihat bagian II dari risalah ini

([22]( HR. Bukhari (2033) dan Muslim (Al Minhaj 8 : 309 no. 2777). Rasulullah shallallohu alaihi wasallam tidak beri’tikaf pada bulan Ramadhan di tahun itu karena sesuatu sebab yang akan kami jelaskan nanti pada bagian adab-adab beri’tikaf, Insya Allah.

([23]) Lihat Bidayatul Mujtahid (1:586) dan Al Fiqh Al Islami (2 : 695)

([24]) Lihat Takhrijnya di catatan kaki no.10

([25]) Al Minhaj (8 : 307)

([26]) Untuk lebih jelasnya lihat pembahasan tentang syarat-syarat i’tikaf dalam risalah ini.

([27]) HR. Bukhari (2041), Muslim (Al Minhaj 8 : 309 no. 2777) dan lafazh ini bagi Muslim.

([28]) Lihat Fathul Bari (4 : 351)

([29]) Subul As Salam (2 : 238)

([30]) Lihat Al Muwaththa’ (1 : 259)

([31]) Baca : Al Fiqh Al Islami (2:704) dan Fiqh As Sunnah (1:420)

([32]) Lihat : At Tamhid (11:199) dan Fiqh As Sunnah (1:422)

([33]) HR. Abu Dawud (2473) dan Al Baihaqi (4 : 317) serta dinilai shohih oleh Al Albani

([34]) Lihat : Ulumul Hadits (hal. 50) dan Al Jauhar An Naqiyy (4 : 317)

([35]) Zâdul Ma’ad (2 : 83)

([36]) Baca : At Tamhîd (11:200) dan Fiqh As Sunnah (1:422)

([37]) Fathul Bari (4 : 349)

([38]) Diriwayatkan oleh Ad Daaraquthni (2 : 199) dan Hakim (1 : 605 no. 1605) serta beliau menilai isnadnya shahih. Keduanya meriwayatkan hadits ini secara marfu’, namun Baihaqi mentarjihkan bahwa hadits ini mauquf pada Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma dan bukan sabda Nabi shallallohu alaihi wasallam ,lihat As Sunan Al Kubro (4 : 319)

([39]) At Tamhid (8:331)

([40]) Fathul Bari (4 : 349)

([41]) Subul As Salam (2 : 359 – 360)

([42]) Al Majmu’ (6 : 508)

([43]) Lihat : Fiqh As Sunnah (1:421)

([44]) HR. Bukhari (1) dan Muslim (1907)

([45]) Fathul Bari (4 : 345)

([46]) Al Minhaj (8 : 308)

([47]) Fathul Bari (4 : 352)

([48]) Daf’ul I’tisaaf ‘An Mahalli Al I’tikaaf (hal. 2)

([49]) Lihat Al Muwaththa (1 : 258)

([50]) Lihat Al Umm (2 : 147)

([51]) Lihat Fathul Bari (4 : 344 – 345)

([52]) Lihat Ma’alimut Tanzil (1 : 209)

([53]) Diriwayatkan oleh Abu Dawud (2473)

([54]) Sunan Ad Daaraquthni (2 : 201)

([55]) As Sunan Al Kubro (4 : 315)

([56]) Sunan Ad Daaraquthni (2 : 201)

([57]) Sunan Ad Daaraquthni (2 : 201) & As Sunan Al Kubro (4 : 315)

([58]) Al Mughni (4 : 461)

([59]) HR. Ath Thahawi dalam Syarh Musykil Al Atsar (7 : 201 no. 2771) dan Al Baihaqi (4 : 316) serta dishahihkan oleh Al Albani dalam Qiyam Ramadhan (hal. 36)

([60]) Al Mu’jam Al Kabir (9 : 301 – 302 no. 9508 – 9511)

([61]) HR. Bukhari (1197) dan Muslim (Al Minhaj 9 : 108 no. 3248)

([62]) Nailul Authar (4 : 318)

([63]) Al Muhalla (5 : 195 – 196)

([64]) Syarh Musykil Al Atsar ( 7 : 205 )

([65]) HR. Al Baihaqi (6 : 288) dan Ahmad (10 : 438 no. 12324) serta dinilai hasan oleh Al Albani dalam Takhrij Misykah Al Mashobih (1 : 17)

([66]) Sebagaimana yang akan disebutkan pada bagian (X)

([67]) Lihat Bidayatul Mujtahid (1 : 589 – 590) dan Al Fiqh Al Islami (2 : 720)

([68]) HR. Bukhari dan Muslim serta lafazh ini baginya

([69]) Lihat Al Ijma’ (hal. 16)

([70]) Al Muwaththa (1 : 257)

([71]) Ibid

([72]) Majâlis Syahri Ramadhân (hal. 245 – 246)

([73]) Zâdul Ma’ad (2 : 85)

([74]) Ma’alim As Sunan ( 2 : 578)

([75]) HR. Bukhari (2035) dan Muslim (Al Minhaj 14 : 381 no. 5643)

([76]) HR. Bukhari (2033) dan Muslim (Al Minhaj 8 : 309 no. 2777).

([77]) HR. Abu Dawud (4800) dan dinilai hasan oleh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shohîhah (273)

([78]) HR. Tirmidzi (2317) dan Ibnu Majah (3976) serta dinilai shahih oleh Al Albani

([79]) HR. Bukhari (6704) dan Abu Dawud (3300) serta lafazh ini baginya.

([80]) Zâdul Ma’âd (2 : 85 – 86)

One thought on “Menggapai Lailatul Qadr Dengan Beri’tikaf

  1. Nambahin biar InsyAllah lengkap:

    Al-Alamah Ibnul Qayyim berkata : “Manakala hadir dalam keadaan sehat dan istiqamah (konsisten) di atas rute perjalanan menuju Allah Ta’ala tergantung pada kumpulnya (unsur pendukung) hati tersebut kepada Allah, dan menyalurkannya dengan menghadapkan hati tersebut kepada Allah Ta’ala secara menyeluruh, karena kusutnya hati tidak akan dapat sembuh kecuali dengan menghadapkan(nya) kepada Allah Ta’ala, sedangkan makan dan minum yang berlebih-lebihan dan berlebih-lebihan dalam bergaul, terlalu banyak bicara dan tidur, termasuk dari unsur-unsur yang menjadikan hati bertambah berantakan (kusut) dan mencerai beraikan hati di setiap tempat, dan (hal-hal tersebut) akan memutuskan perjalanan hati menuju Allah atau akan melemahkan, menghalangi dan menghentikannya.

    Rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang menghendaki untuk mensyariatkan bagi mereka puasa yang bisa menyebabkan hilangnya kelebihan makan dan minum pada hamba-Nya, dan akan membersihkan kecenderungan syahwat pada hati yang (mana syahwat tersebut) dapat merintangi perjalanan hati menuju Allah Ta’ala, dan disyariatkannya (i’tikaf) berdasarkan maslahah (kebaikan yang akan diperoleh) hingga seorang hamba dapat mengambil manfaat dari amalan tersebut baik di dunia maupun di akhirat. Tidak akan merusak dan memutuskannya (jalan) hamba tersebut dari (memperoleh) kebaikannya di dunia maupun di akhirat kelak.

    Dan disyariatkannya i’tikaf bagi mereka yang mana maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah Ta’ala dan kumpulnya hati kepada Allah, berkhalwat dengan-Nya dan memutuskan (segala) kesibukan dengan makhluk, hanya menyibukkan diri kepada Allah semata. Hingga jadilah mengingat-Nya, kecintaan dan penghadapan kepada-Nya sebagai ganti kesedihan (duka) hati dan betikan-betikannya, sehingga ia mampu mencurahkan kepada-Nya, dan jadilah keinginan semuanya kepadanya dan semua betikan-betikan hati dengan mengingat-Nya, bertafakur dalam mendapatkan keridhaan dan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Sehingga bermesraan ketika berkhalwat dengan Allah sebagai ganti kelembutannya terhadap makhluk, yang menyebabkan dia berbuat demikian adalah karena kelembutannya tersebut kepada Allah pada hari kesedihan di dalam kubur manakala sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya, dan (manakala) tidak ada lagi yang dapat membahagiakan (dirinya) selain daripada-Nya, maka inilah maksud dari i’tikaf yang agung itu” [Zaadul Ma’ad 2/86-87]

    Makna I’tikaf
    Yaitu berdiam (tinggal) di atas sesuatu, dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai mu’takif dan ‘Akif. [Al-Mishbahul Munir 3/424 oleh Al-Fayumi, dan Lisanul Arab 9/252 oleh Ibnu Mandhur]

    Disyari’atkannya I’tikaf
    Disunnahkan pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainya sepanjang tahun. Telah shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritikaf pada sepuluh (hari) terakhir bulan Syawwal[1] Dan Umar pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini pernah bernadzar pada zaman jahiliyah (dahulu), (yaitu) aku akan beritikaf pada malam hari di Masjidil Haram’. Beliau menjawab : Tunaikanlah nadzarmu”.
    Maka ia (Umar Radhiyallahu ‘anhu) pun beritikaf pada malam harinya. [Riwayat Bukhari 4/237 dan Muslim 1656]

    Yang paling utama (yaitu) pada bulan Ramadhan beradasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering beritikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari dan manakala tibanya tahun yang dimana beliau diwafatkan padanya, beliau (pun) beritikaf selama dua puluh hari. [Riwayat Bukhari 4/245]

    Dan yang lebih utama yaitu pada akhir bulan Ramadhan karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali beritikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Yang Maha Perkasa dan Mulia mewafatkan beliau. [Riwayat Bukhari 4/266 dan Muslim 1173 dari Aisyah]

    Syarat-Syarat I’tikaf
    [a] Tidak disyari’atkan kecuali di masjid, berdasarkan firman-Nya Ta’ala.
    “Artinya : Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu[2] sedangkan kamu beritikaf di dalam masjid” [Al-Baqarah : 187]
    [b] Dan masjid-masjid disini bukanlah secara mutlak (seluruh masjid ,-pent), tapi telah dibatasi oleh hadits shahih yang mulai (yaitu) sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak ada I’tikaf kecuali pada tiga masjid (saja). [3]

    Dan sunnahnya bagi orang-orang yang beritikaf (yaitu) hendaknya berpuasa sebagaimana dalam (riwayat) Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang telah disebutkan. [4]

    Perkara-Perkara Yang Boleh Dilakukan
    [a] Diperbolehkan keluar dari masjid jika ada hajat, boleh mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dicuci dan disisir (rambutnya). Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata.
    “Dan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukkan kepalanya kepadaku, padahal beliau sedang itikaf di masjid (dan aku berada di kamarku) kemudian aku sisir rambutnya (dalam riwayat lain : aku cuci rambutnya) [dan antara aku dan beliau (ada) sebuah pintu] (dan waktu itu aku sedang haid) dan adalah Rasulullah tidak masuk ke rumah kecuali untuk (menunaikan) hajat (manusia) ketika sedang I’tikaf” [5]
    [b] Orang yang sedang Itikaf dan yang yang lainnya diperbolehkan untuk berwudhu di masjid berdasarkan ucapan salah seorang pembantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu di dalam masjid dengan wudhu yang ringan” [Dikeluarkan oleh Ahmad 5/364 dengan sanad yang shahih]
    [c] Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang I’tikaf untuk mendirikan tenda (kemah) kecil pada bagian di belakang masjid sebagai tempat dia beri’tikaf, karena Aisyah Radhiyallahu ‘anha (pernah) membuat kemah (yang terbuat dari bulu atau wool yang tersusun dengan dua atau tiga tiang) apabila beliau beri’tikaf[6] dan hal ini atas perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Sebagaimana dalam Shahih Muslim 1173]

    [d] Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang beritikaf untuk meletakkan kasur atau ranjangnya di dalam tenda tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika i’tikaf dihamparkan untuk kasur atau diletakkan untuknya ranjang di belakang tiang At-Taubah.[7]

    I’tikafnya Wanita Dan Kunjungannya Ke Masjid
    [a] Diperbolehkan bagi seorang isteri untuk mengunjungi suaminya yang berada di tempat i’tikaf, dan suami diperbolehkan mengantar isteri sampai ke pintu masjid. Shafiyyah Radhiyallahu ‘anha berkata.
    “Artinya : Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tatkala beliau sedang) i’tikaf [pada sepuluh (hari) terkahir di bulan Ramadhan] aku datang mengunjungi pada malam hari [ketika itu di sisinya ada beberapa isteri beliau sedang bergembira ria] maka aku pun berbincang sejenak, kemudian aku bangun untuk kembali, [maka beliaupun berkata : jangan engkau tergesa-gesa sampai aku bisa mengantarmu] kemudian beliaupun berdiri besamaku untuk mengantar aku pulang, -tempat tinggal Shafiyyah yaitu rumah Usamah bin Zaid- [sesampainya di samping pintu masjid yang terletak di samping pintu Ummu Salamah] lewatlah dua orang laki-laki dari kalangan Anshar dan ketika keduanya melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka keduanyapun bergegas, kemudian Nabi-pun bersabda : “Tenanglah[8], ini adalah Shafiyah binti Huyaiy”, kemudian keduanya berkata : ‘Subhanahallah (Maha Suci Allah) ya Rasullullah”. Beliaupun bersabda : “Sesungguhnya syaitan itu menjalar (menggoda) anak Adam pada aliran darahnya dan sesungguhnya aku khawatir akan bersarangnya kejelakan di hati kalian -atau kalian berkata sesuatu”[9]
    [b] Seorang wanita boleh i’tikaf dengan didampingi suaminya ataupun sendirian. berdasarkan ucapan Aisyah Radhiyallahu ‘anha : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian isteri-isteri beliau i’tikaf setelah itu”.[Telah lewat takhrijnya]

    Berkata Syaikh kami (yakni Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah, -pent) :”Pada atsar tersebut ada suatu dalil yang menunjukkan atas bolehnya wanita i’tikaf dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu dibatasi (dengan catatan) adanya izin dari wali-wali mereka dan aman dari fitnah, berdasarkan dalil-dalil yang banyak mengenai larangan berkhalwat dan kaidah fiqhiyah.

    “Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat”
    ________________________________________
    Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.
    ________________________________________
    Foote Note.

    1. 1. Riwayat Bukhari 4/226 dan Muslim 1173
    2. 2. Yakni “Janganlah kami mejimai mereka” pendapat tersebut merupakan pendapat jumhur (ulama). Lihat Zaadul Masir 1/193 oleh Ibnul Jauzi
    3. 3. Hadits tersebut shahih, dishahihkan oleh para imam serta para ulama, dapat dilihat takhrijnya serta pembicaraan hal ini pada kitab yang berjudul Al-Inshaf fi Ahkamil I’tikaf oleh Ali Hasan Abdul Hamid
    4. 4. Dikeluarkan oleh Abdur Razak di dalam Al-Mushannaf 8037 dan riwayat 8033 dengan maknanya dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas.
    5. 5. Hadits Riwayat Bukhari 1/342 dan Muslim 297 dan lihat Mukhtashar Shahih Bukhari no. 167 oleh Syaikh kami Al-Albani Rahimahullah dan Jami’ul Ushul 1/3452 oleh Ibnu Asir
    6. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari 4/226
    7. Dikeluarkan oleh Ibnu Majah 642-zawaidnya dan Al-Baihaqi, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Bushiri dari dua jalan. Dan sanadnya Hasan
    8. Janganlah kalian terburu-buru, ini bukanlah sesuatu yang kami benci.
    9. Dikeluarkan oleh Bukhari 4/240 dan Muslim 2157 dan tambahan yang terkahir ada pada Abu Dawud 7/142-143 di dalam Aunul Ma’bud

    source: I’TIKAF (BERDIAM DIRI) Oleh

    1. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
    2. Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

    ________________________________________
    SHIFATI SHAUMIN NABIYII SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM FII RAMADHAN
    ________________________________________

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s