Posted in Al Qur'an, Aqidah

Aqidah Syi’ah tentang Al-Qur’an


Adapun bila ditemukan pendapat sebagian kecil ulama mereka tentang tidak adanya perubahan dan penyimpangan Al-Qur`an, maka hal itu hanyalah upaya penyembunyian aqidah kufur mereka di hadapan umat Islam. Maka janganlah sekali-kali seorang muslim mempercayainya. Karena mereka adalah orang-orang yang beragama dengan taqiyyah (kedustaan).

Al-Qur`an dalam Tinjaun Syi’ah Rafidhah

Perlu pembaca ketahui bahwasanya Al-Qur`an yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kitab suci dan referensi terbesar umat Islam merupakan kitab suci terakhir yang telah Allah jamin kemurniannya dari berbagai macam usaha pengubahan dan penyelewengan. Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr:9)

Bahkan Allah telah menegaskan dalam firman-Nya yang artinya: “Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur`an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Al-Israa`:88)

Dan juga firman-Nya yang artinya: “Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kalian katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kalian panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar.” (Yuunus:38)

Namun orang-orang Syi’ah Rafidhah dengan beraninya menyatakan bahwa Al-Qur`an yang ada di tangan kaum muslimin ini telah mengalami perubahan dari yang semestinya. Di dalam kitab Ushul Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdillah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata: “Sesungguhnya Al-Qur`an yang dibawa Jibril kepada Muhammad ada 17.000 ayat.” Kalau demikian 2/3 dari Al-Qur`an telah hilang karena jumlah ayat di dalam Al-Qur`an di sisi kaum muslimin tidak lebih dari 6666 ayat !!!

Di dalam juz 1, hal.239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah, namun mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu.” Abu Bashir bertanya: “Apa mushaf Fathimah itu?” Abu Abdillah menjawab: “Sebuah mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian (umat Islam). Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al-Qur`an kalian….”

Bahkan salah seorang ahli hadits mereka yang bernama Husain bin Muhammad Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab yang menjelaskan bahwa Al-Qur`an yang ada di tangan kaum muslimin telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

Ini merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap Al-Qur`an sekaligus sebagai penghinaan kepada Allah, bahwa Dia tidak mampu merealisasikan jaminan-Nya untuk menjaga Al-Qur`an. Ini merupakan salah satu misi Yahudi yang berbajukan Syi’ah Rafidhah sebagai bentuk konspirasi jahat mereka untuk merusak dan mengkaburkan referensi utama umat Islam. Pernyataan kufur mereka ini sama sekali belum pernah dilontarkan sekte-sekte sesat sekalipun seperti Mu’tazilah, Khawarij ataupun Murji`ah.

Beberapa Fakta Pemalsuan dan Penyelewengan Al-Qur`an oleh Syi’ah

Ketika mereka tidak mampu membuat kitab yang semisal dengan Al-Qur`an, maka tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menambah, memalsukan dan menyelewengkan apa yang terdapat di dalam kitab suci Al-Qur`an sesuai dengan hawa nafsu mereka. Perbuatan tercela ini tidaklah beda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap kitab suci mereka. Allah berfirman yang artinya: “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.” (Al-Baqarah:79)

Diantara contoh kedustaan dan penyelewengan mereka terhadap mushaf Al-Qur`an:

1. Dalam Surat Al-Baqarah:257

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ …

“Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan….”
Namun dalam Al-Qur`an palsu mereka:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِوِلاَيَةِ عَلِيّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ …

“Dan orang-orang yang kafir terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib itu, pelindung-pelindung mereka adalah syaithan….”

2. Dalam Surat Al-Lail:12-13

إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى(12) وَإِنَّ لَنَا لَلآخِرَةَ وَالأُولَى(13)

“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.”

Namun dalam Al-Qur`an palsu mereka:

إِنَّ عَلِيًّا لَلْهُدَى(12) وَإِنَّ لَهُ لَلآخِرَةَ وَالأُولَى(13)

“Sesungguhnya Ali benar-benar sebuah petunjuk dan kepunyaan dialah akhirat dan dunia.”

3. Dalam Surat Al-Insyiraah:7

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila kamu (Muhammad) telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”

Sedangkan dalam Al-Qur`an palsu mereka:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصِبْ عَلِيًّا لِلْوِلاَيَةِ

“Maka apabila kamu (Muhammad) telah selesai (dari suatu urusan), maka berilah Ali kepemimpinan.”

Bahkan sebelum ayat ini ada tambahan:

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ بِعَلِيٍّ صِهْرِكَ

“Dan Kami angkat penyebutanmu (Muhammad) dengan Ali sang menantumu.”

Para pembaca, bila kita telusuri keyakinan atau aqidah bathil ini, ternyata merupakan sebuah kesepakatan yang ada pada mereka. Tidak satupun di antara ulama-ulama jahat mereka yang menyelisihi kesepakatan ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang ulama mereka yaitu Al-Mufid bin Muhammad An-Nu’man dalam kitab Awai’ilul Maqalaat hal. 49.

Adapun bila ditemukan pendapat sebagian kecil ulama mereka tentang tidak adanya perubahan dan penyimpangan Al-Qur`an, maka hal itu hanyalah upaya penyembunyian aqidah kufur mereka di hadapan umat Islam. Maka janganlah sekali-kali seorang muslim mempercayainya. Karena mereka adalah orang-orang yang beragama dengan taqiyyah (kedustaan).
Wallaahu A’lam.

Sumber: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 28/II/II/1425. Terbitan Yayasan As Salafy Jember.

16 thoughts on “Aqidah Syi’ah tentang Al-Qur’an

  1. Al Qur’an di mata Syi’ah [2]

    Ternyata ada ulama syiah yang belum menelaah riwayat perubahan Al Qur’an, mungkinkah demikian? atau hanya kura-kura dalam perahu…”

    Dari makalah bagian pertama, akhirnya kita ketahui bahwa perubahan Al Qur’an adalah salah satu aksioma [hal yang tidak bisa lagi ditawar-tawar] dalam mazhab syi’ah imamiyah. Ini merupakan konsekwensi logis dari keterangan di atas barusan. Di antara ulama syi’ah yang “konsekuen” pada konsekuensi logis di atas adalah:

    Abu Hasan Al Amili
    Dia mengatakan: bagi saya, perubahan Al Qur’an telah demikian jelasnya, karena saya telah mengkonfirmasi dan menelusuri seluruh riwayat, yang mana dapat dikatakan bahwa keyakinan terhadap perubahan Al Qur’an adalah salah satu keyakinan pokok [aksioma] dalam mazhab syi’ah dan salah satu tujuan perebutan khilafah [dari yang berhak].
    Lihat Muqaddimah kedua pasal ke empat dari tafsir Miraatul Anwar wa Mishkatul Asrar, dicetak sebagai pengantar bagi Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani.

    Ternyata demikian jelas, bahwa meyakini perubahan Al Qur’an adalah wajib bagi penganut syi’ah, jika masih ingin dianggap sebagai syi’ah. Karena riwayat yang begitu banyaknya –sampai derajat mutawatir bahkan lebih- harus diterima oleh penganut syi’ah yang katanya mengikuti ahlulbait Nabi. Bagaimana dia mau mengikuti Nabi dan tetap berada dalam mazhab syi’ah sementara dia menolak isi riwayat yang jelas mutawatir -bahkan lebih-? Bagaimana bisa menjadi syi’ah dengan menolak isi kitab literaturnya? Menolak meyakini perubahan Al Qur’an berarti menolak mazhab syi’ah.

    Begitu juga Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani mengatakan:
    Meyakini perubahan Al Qur’an adalah salah satu aksioma mazhab mereka [syi’ah]. Masyariq Syumus Ad Durriyah hal. 126

    Karena banyaknya riwayat tentang perubahan Al Qur’an, akhirnya ulama syi’ah [yang konsekuen] menyimpulkan bahwa seseorang tidak bisa menjadi syi’ah jika masih meyakini keaslian Al Qur’an yang ada saat ini. Begitu juga ulama syi’ah menyatakan bahwa seluruh syi’ah bersepakat meyakini bahwa Al Qur’an telah diubah. Di antaranya:

    Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani
    Setelah menukilkan banyak riwayat yang menunjukkan perubahan Al Qur’an, Adnan mengatakan : riwayat telah begitu banyak tak terhitung jumlahnya, bahkan telah melebihi syarat mutawatir sehingga tidak berguna lagi untuk disampaikan setelah keyakinan tentang perubahan Al Qur’an tersebar luas di kalangan kedua kelompok, bahkan sudah dijadikan aksioma oleh sahabat dan tabi’in, dan ijma’ [kesepakatan] golongan yang benar [syi’ah imamiyah], dan keyakinan itu menjadi sebuah pokok mazhab mereka dan banyak riwayat dari kitab syi’ah yang menyatakan demikian. Lihat Masyariq Syumus Ad Durriyah fi Ahaqqiyyati Mazhabil Akhbariyyah hal 126.

    Muhammad bin Nu’man [juga dijuluki dengan Al Mufid] mengatakan:
    Penganut Imamiyah sepakat meyakini bahwa banyak orang yang sudah mati akan kembali hidup lagi di dunia sebelum hari kiamat, mereka juga bersepakat meyakini Allah bersifat bada’, imamiyah juga bersepakat meyakini bahwa pemimpin sesat telah menyelewengkan ayat Al Qur’an, mereka juga menyimpang dari ajaran Al Qur’an dan sunnah Nabi. Lihat Awa’ilul Maqalat hal. 48-49.

    Semua ini menguatkan kesimpulan bahwa: seseorang tidak mungkin menjadi syi’ah tanpa meyakini perubahan Al Qur’an.

    Mengapa?

    Karena mengingkari perubahan Al Qur’an sama dengan mengingkari prinsip Imamah, karena hadits yang menyatakan perubahan Al Qur’an dan Imamah sama-sama banyak dan dimuat di kitab yang sama. Mengingkari prinsip imamah sama saja dengan keluar dari mazhab syi’ah imamiyah.

    Di atas kita singgung ulama syi’ah yang konsekuen dengan mazhabnya, yaitu menyatakan bahwa Al Qur’an telah diubah. Jika ada ulama syi’ah yang konsekuen, ada juga ulama syi’ah yang tidak konsekuen karena mereka menolak meyakini perubahan Al Qur’an, padahal mereka juga meyakini imamah. Padahal semestinya mereka juga meyakini perubahan Al Qur’an.

    Salah satu ulama yang “tidak konsekuen” adalah Muhammad Ridha Muzaffar. Dalam karyanya yang berjudul Aqaidul Imamiyah hal 59, Muzaffar mengatakan:
    Kami meyakini bahwa Al Qur’an adalah wahyu ilahi yang diturunkan dari Allah ta’ala melalui lisan NabiNya yang mulia, memuat keterangan tentang segala sesuatu, Al Qur’an adalah mu’jizat yang kekal sepanjang masa, yang mana manusia tidak mampu meniru balaghah dan kefasihannya, juga tidak mampu meniru isinya yang mengandung hakekat dan ilmu yang tinggi, tidak mengalami perubahan dan penyelewengan.

    Di sini Muzaffar menandaskan bahwa syi’ah meyakini bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini terjaga dari penyelewengan dan perubahan. Di atas telah kita lihat bahwa syi’ah imamiyah sepakat bahwa Al Qur’an telah diubah. Berarti ada dua kemungkinan, yang pertama Muzaffar memang tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang syi’ah.

    Dalam pengantar kitabnya itu “Aqaid Al Imamiyah” tertulis sekelumit biografi penulisnya “Muhammad Ridha Muzaffar” kita simak sedikit kutipannya:

    .. dia mengikuti seluruh pelajaran yang harus ditempuh di tingkat “sutuh” [tingkatan pendidikan ala hauzah ilmiyah syi’ah di Najaf] syaikh[Muhammad Ridha Muzaffar] unggul dalam seluruh pelajaran tingkatan itu……Dia juga mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh kakaknya Muhammad Hasan dan Muhammad Husein, begitu juga mengikuti pelajaran syaikh Aqa Dhiya’uddin Al Iraqi yagn mengajarkan ushul fiqh, juga mengikuti pelajran syaikh mirza muhammad husein An Na’ini yang mengajarkan fiqh dan ushul fiqh, mengikuti pelajaran syaikh Muhammad Husein Al Asfahani secara privat dan intensif..

    Artinya Syaikh Muhammad Ridha Muzaffar bukanlah seorang santri biasa atau syi’ah amatiran[seperti teman-teman syi’ah indonesia yang baru pulang dari iran] yang asal menulis buku. Tak lupa kita nukilkan sedikit dari muqadimah “kata pengantar” bukunya “Aqaidul Imamiyah”:
    Saya menuliskan keyakinan-keyakinan ini, saya hanya berniat untuk menuliskan seluruh pengetahuan saya tentang pemahaman Islam ala ahlulbait.

    Tetapi pembaca telah melihat sendiri bahwa riwayat mutawatir, bahkan lebih dari mutawatir dari jalan periwayatan syi’ah imamiyah, telah menegaskan bahwa Al Qur’an telah diubah. Sedangkan Muhammad Ridha Muzaffar adalah seorang figur yang jelas tidak memiliki kredibilitas untuk “melawan” riwayat yang banyak itu.

    Atau Muzaffar hanya “kura-kura dalam perahu” pura-pura tidak tahu?

    Wallahu A’lam, hanya Allah yang tahu apa isi hati Muzaffar, tapi yang jelas pernyataannya dalam kitab itu harus kita teliti lagi validitasnya karena menyelisihi riwayat dari ahlulbait yang sudah jelas-jelas maksum, ditambah pula riwayat itu memiliki banyak jalur sehingga disebut mutawatir.

    Masih ada lagi contoh dari ulama syi’ah yang “tidak mau konsekuen” terhadap keyakinan imamah, yaitu tidak mau menyatakan bahwa Al Qur’an yang ada saat telah diubah, seperti ditegaskan oleh riwayat syi’ah yang lebih dari mutawatir. Dialah Muhammad Husein Al Kasyiful Ghita, yang menulis kitab Ashel Syi’ah wa Ushuluha. Dia menyebutkan bahwa riwayat yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah riwayat yang lemah lagi menyimpang dari kebanyakan riwayat yang valid. Dalam kitabnya itu pada hal 220, terbitan Mu’assasah Imam Ali Alaihissalam, cet. Sitarah dia menyatakan:

    Kitab Al Qur’an yang ada di tengah kaum muslimin hari ini adalah kitab yang diturunkan oleh Allah untuk membuktikan kebesaran allah dan menantang kaum kafir untuk membuat kitab seperti Al Qur’an, juga untuk mengajarkan hukum-hukum agama, menjelaskan yang halal dan yang haram, tidak pernah mengalami pengurangan, penyelewengan atau penambahan, pendapat ini adalah kesepakatan seluruh kaum muslimin. Kelompok mana saja di kalangan kaum muslimin yang beranggapan bahwa ada isi Al Qur’an hari ini telah mengalami penyelewengan dan pengurangan, maka pendapatnya itu adalah keliru, dibantah oleh ayat Al Qur’an: sungguh Kami telah menurunkan peringatan, dan Kami akan menjaganya. Seluruh riwayat dari kitab kami maupun mereka yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah menyimpang dan lemah, dan hadits ahad tidak dapat menjadi dasar ilmu maupun amal.

    Ada beberapa hal yang harus dikomentari dari kutipan ini, yang paling mencolok adalah pernyataan bahwa riwayat-riwayat perubahan Al Qur’an dalam kitab syi’ah adalah dho’if dan menyimpang. Padahal pembaca sudah melihat sendiri pernyataan yang dikutip dari ulama-ulama besar syi’ah masa lampau bahwa riwayat perubahan Al Qur’an adalah mutawatir, sama seperti riwayat imamah. akhirnya kita bertanya-tanya, apakah Al Kasyiful Ghita bersikap pura-pura tidak tahu? Atau memang dia benar-benar tidak tahu? Jika kita lihat ajaran taqiyah di kalangan syi’ah, kita semakin yakin bahwa Al Kasyiful Ghita hanya berpura-pura tidak tahu, untuk menghibur kaum muslimin yang “intelek tapi bodoh” dan “bodoh tapi intelek (bergelar sarjana S2 dan S3)” bahwa syi’ah dan sunni tidaklah berbeda, dan tuduhan seperti itu hanyalah tuduhan yang tanpa bukti. Sayangnya para intelek-intelek itu mau saja ditipu. Bahkan ada seorang “intelek” bergelar DOKTOR yang sering muncul di TV, menulis buku membela syi’ah dengan berdasar pada buku Kasyiful Ghita ini.

    Mungkin pembaca heran, bagaimana mengingkari kenyataan begitu mudah bagi Kasyiful Ghita, atau jangan-jangan Kasyiful Ghita hanyalah seorang syi’ah “amatiran”?

    Bagaimana dia bisa tidak tahu bahwa riwayat syi’ah yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah mutawatir seperti pernyataan ulama-ulama yang lebih senior?

    Ini sungguh membuat malu mazhab syi’ah, karena bagaimana orang seperti itu bisa jadi ulama? Ini pertanyaan yang mungkin timbul dari pembaca yang awam.

    Begitu juga katanya ada riwayat tahrif dalam buku sunni, tetapi kita tidak pernah melihat hal itu, kecuali riwayat yang menyatakan adanya nasakh tilawah, sedangkan nasakh tilawah boleh dan terjadi dalam Al Qur’an, dan nasakh tilawah adalah perubahan dari Allah semasa hidup Nabi, bukan perubahan dari tangan-tangan sahabat Nabi, seperti dalam riwayat syi’ah. Apakah kita menyamakan nasakh tilawah dan tahrif/perubahan versi syi’ah? Nyatanya banyak tokoh “intelek” menyamakannya.

    Akhirnya orang awam yang tidak tahu terpengaruh, tapi insya Allah setelah membaca makalah ini anda tidak lagi terpengaruh.

    Juga orang awam akan bertanya-tanya, apakah setiap pernyataan ulama syi’ah masa kini harus dicek dulu agar kita tahu apakah pernyataan itu sesuai dengan literatur syi’ah atau tidak. Lebih jauh lagi, sebuah pertanyaan “berbahaya” akan muncul;

    Kalau begitu, apakah kita layak mempercayai ucapan ulama syi’ah? Siapa yang menjamin bahwa mereka tidak akan mengatakan hal yang berbeda dengan isi kitab literatur syi’ah?[contoh kasus, masalah perubahan Al Qur’an yang sedang kita bahas]

    Suka

  2. @abuthalhah:
    Allah Ta’ala berfirman: {إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ }الحجر9

    15:9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

    Ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa Allah -subhanahu taala- menjamin kemurnian Al-Quran dan kesempurnaannya sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad -Shalallahu alihi wasallam-, karena Allah ta’ala sebagai penjaga dan yang memeliharanya.”

    Justru itu saya sebelumnya sdh bilang bahwa Allah melalui kaum muslimin dari generasi ke generasi selanjutnya mengafal ayat2 Al-Quran dan secara mutawatir meriwayatkannya dan sekaligus mengawal serta menjaganya pula dan dg demikian menutup kemungkinan adanya tahrif. Berarti setiap ada kelainan dlm ayat2 Al-Quran maka secara otomatis akan terjadi koreksi oleh kaum muslimin. Makanya Kalau anda sampai mempercayai riwayat2 tahrif yg ada dlm kitab2 hadis Syi’ah sebagaimana juga terdapat dlm kitab2 hadis Sunni yg oleh masing2 ulamanya dianggap dhaif, berarti anda sebenarnya tdk meyakini QS 15:9 diatas dan seolah-olah Al-Quran tdk terjaga dari pengurangan dan atau penambahan.

    @abuthalhah:
    “Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh orang-orang syiah tentang Al-Quran….
    Adnan Al-Bahrani berkata: Kesimpulannya bahwa kabar-kabar (riwayat-riwayat) dari Ahlul bait sangatlah banyak, bahkan bisa dikatakan mutawatir yang mengatakan bahwa Al-Quran yang ada pada kita bukanlah Al-Quran secara sempurna sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Muhammad -shalallahu alaihi wasallam-. Akan tetapi terdapat pada Al-Quran apa yang menyelisihi apa yang diwahyukan oleh Allah -subhanahu wata’ala- serta terjadi tahrif dan perubahan padanya.”

    Sebenarnya penjelasan saya sebelumnya sdh cukup jelas bahwa hadis2 tahrif dlm riwayat2 Syi’ah sama sekali tdk ada yg mutawatir. Artinya semuanya dhaif dan sdh ditolak oleh para ulama Syi’ah yg terkemuka dan masyhur/dikenal. Saya katakan para ulama yg masyhur/dikenal karena yg anda pegang adalah pendapat dari ulama2 Syi’ah yg tdk dikenal/masyhur spt Nikmatullah Jazairi, Husein Nuri yg telah membuat blunder, Sayyid Adnan yg di kalangan Syi’ah sendiri ditolak pendapatnya. Kalau org/ulamanya majhul maka pendapatnyapun batal pula atau paling tdk, tdk dpata dijadikan sandaran pendapatnya. Begitupun dg tafsir Ali bin Ibrahim yg anda kutip adalah suatu kitab tafsir yg dikarang oleh orang lain YG DINISBAHKAN KPD ALI BIN IBRAHIM.

    Kenapa anda tdk memegang pendapat para ulama Syi’ah yg masyhur dan terkemuka spt :
    1. Syaikh Mirza Mahdi Al-Burujerdi
    2. Al-Allamah Hilli
    3. Allamah Syahsyahani
    4. Syeikh Shaduq
    5. Syeikh Mufid
    6. Sayid Murtadha Ali bin Husein Alamul Huda
    7. Syeikh Hasan Thusi
    8. Syeikh Ja’far Kabir Kasyiful Ghitha’
    9. Syeikh Muhammad Husein Ali Kasyiful Ghitha’
    10. Allamah Abu Ali Fadhl bin Hasan Thabarsi
    11. Muhaqqiq Ardabili
    12. Syeikh Nur Amili
    13. Allamah Thabathaba’i
    14. Ayatullah Abul Qasim Khu’i
    15. Imam Khomeini
    dan masih banyak ulama2 terkemuka/masyhur lainnya yg pada prinsipnya menolak riwayat2 tahrif.

    Sebagai intelektual/ilmuwan yg menjunjung tinggi prinsip2 obyektivitas dan fairness dlm mencari kebenaran yg sejati anda seharusnya merefer pula pendapat para ulama Syi’ah yg saya sebutkan diatas yg bisa dianggap mewakili Syi’ah.

    Di kalangan Ahlu Sunnahpun, sebagaimana sdh saya ungkapkan, ada sekelompok org yg kerjanya hanya mengumpulkan hadis dan kurang memperhatikan kandungannya. Oleh karena itu diantara hadis2 yg mereka kumpulkan bercampur aduk antara yg sahih dan tdk sahih diantaranya masalah tahrif, bahkan menuturkan hal2 yg tak berguna. Kelompok ini pada masa lalu disebut Hasyawiyah dan saat ini dikenal dg nama Salafiyyun. Sgmana halnya di kalangan Syi’ahpun ada kelompok serupa yg disebut Akhbariyyun. Perbuatan kelompok ini tdk boleh dimasukkan dalam kategori muhaqqiqin baik untuk kalangan Sunnah maupun Syi’ah.

    Saya ambil contoh riwayat tahrif dlm riwayat2 Ahlu Sunnah secara ringkas saja :

    1. Ayat Rajam.
    Khalifah Umar mengira bahwa ayat Rajam pernah ada dlm Al-Quran dan tdk dibawa oleh para sahabat pada saat pengumpulan Al-Quran.

    2. Ayat Raghbah
    Khalifah Umar mengira bahwa dlm Al-Quran pernah ada ayat Rghbah dan telah hilang.

    3. Ayat Jihad
    Khalifah Umar juga mengira ayat Jihad telah hilang dari Al-Quran.

    4. Ayat al-Firasy
    Khalifah Umar mengira bahwa suatu ungkapan yg disebut al-Firasy adalah salah satu dari ayat2 Al-Quran, padahal itu adalah hadis mutawatir dari Rasulullah saw.

    5. Jumlah huruf Al-Quran
    Khalifah Umar mengira bahwa huruf2 Al-Quran itu berjumlah 1027.000. Padahal huruf Al-Quran tdklebih dari 323.671.

    6. Prasangka Abdullah bin Umar
    7. Perang Yamamah
    Sebagian mengira bahwa akibat Perang Yamamah yg mengakibatkan terbunuhnya banyak sahabat adalah penyebab dari hilangnya sebagan Al-Quran.

    8. Mushaf Aisyah
    Dlm mushaf Aisyah terdapat tambahan yg tdk ada pada mushaf2 lainnya.

    9. Pernyataan Aisyah tentang adanya ayat yg hilang
    10. Pernyataan Abu Musa Asy’ari tentang ayat yg hilang
    11. Pernyataan yg dinisbahkan kpd Ubay bin Ka’ab dan Aisyah.
    12. Prasangka Malik bin Anas: seperempat Surat Al-Bara’ah telah hilang.
    dsb.
    Juga, masih dikalangan Sunnah, ada kitab kontemporer yg berjudul Al-Furqon yg ditulis oleh Muh Abdul Latief dari Mesir, dimana dia menganggap semua riwayat tahrif itu sahih hanya karena tercantum dlm Shihah as-Sittah. Kitab ini menimbulkan kericuhan di Mesir sampai akhirnya Universitas Al-Azhar meminta kpd negara untuk menarik kitab tsb. Penuls kitab berkeyakinan bahwa ada perubahan2 dan penyelewengan2 dlm Al-Quran sebelum Usman.

    Dengan mengacu kpd QS 15:9 diatas sangatlah jelas bahwa riwayat2 tahrif baik yg ada dlm riwayat Sunnah maupun Syi’ah adalah riwayat2 yg harus ditolak dan tdk bisa dijadikan sandaran karena memang bertentangan dg jaminan Allah dlm QS 15:9 dimana Allah senantiasa menjamin keutuhan dan keaslian Al-Quran sampai Hari Kiamat. Artinya walaupun riwayat2 tahrif ini yg notabene dhaif dan tertolak tercantum dlm kitab2 hadis baik Sunnah maupun Syi’ah tapi dlm kenyataannya secara faktual tdk akan pernah terjadi ! Dg kata lain wujud tahrif dlm kitab2 hadis tdk secara otomatis harus terwujud di lapangan. Dan kaum Syi’ah, di luar kaum Akhbariyyun memang secara faktual tdk pernah meyakini adanya tahrif dlm Al-Quran.

    Dg masih ngototnya anda menuduh adanya Al-Quran Syi’ah yg berbeda dg yg ada saat ini, maka sebenarnya anda tidak meyakini kebenaran QS 15:9, yakni tdk meyakini bahwa Allah mampu menjaga kesucian dan keutuhan Al-Quran sampai Hari Kiamat !

    @abuthalhah:
    “Seorang imam syiah An-Nuri At-Thabrasi dalam kitabnya : Fashul Khithab fi tahrif kitab rabbil arbab mensifati Al-Quran dengan perkataannya: bahwa sebagian ayat-ayat Al-Quran adalah ayat-ayat tolol.”

    Saya koreksi bahwa Nuri bukanlah salah satu dari Imam Syi’ah yg 12. Dia hanyalah seorang ulama Syi’ah biasa yg menulis kitab yg sebagiannya berisi riwayat2 dimana Nuri mengira bahwa riwayat2 itu berhubungan dg tahrif. Padahal spt sdh saya jelaskan bahwa pernyataan Nuri itu adalah kesalah-fahaman dia atas riwayat2 yg terdapat dlm Al-Kafi.

    Walaupun Nuri sdh berbuat kesalahan, saya tdk yakin dia smp mengatakan bahwa sgbn ayat2 Al-Quran adalah ayat2 tolol mengingat dewasa ini semakin gencar saja usaha pemutar-balikan fakta dan pemelintiran informasi mengenai Syi’ah termasuk lobi terhdp para penerbit/percetakan untuk mengubah kitab2 tertentu yg dilakukan oleh para musuh Syi’ah, khususnya para salafi wahabi nashibi. Mereka dg dana yg berlimpah membiayai seluruh kegiatan di seluruh dunia termasuk Indonesia yg bertujuan untuk menghancurkan dakwah Ahlul Bait/Syi’ah.

    Walaupun anda masih terus ngotot memanfaatkan informasi yg dimanipulasi musuh2 Syi’ah, tetapi saya sendiri tdk akan memanfaatkan riwayat2 dlm kitab2 Sunni yg ironisnya dianggap sahih khususnya yg berhubungan dg masalah Tauhid dan Nubuwwah, dimana banyak riwayat2 yg bertentangan dg kemurnian tauhid spt Tajsim dan Tasybih yg dinisbahkan kpd Zat Allah dan riwayat2 yg mendiskreditkan dan melecehkan Nabi Muhammad saw, untuk menghantam pihak lain, karena saya yakin hadis2 tsb adalah hadis2 palsu.

    Tauhid dan Nubuwwah adalah dua kerangka dasar keyakinan seorang muslim. Ketika kita menggambarkan Allah duduk diatas ‘arsy spt manusia duduk di atas kursi, berwajah spt manusia, bermata, bertempat, bertangan, berjari-jari, berpinggang, berbetis, berkaki, berdada, bernafas, bersuara, berbicara dan tertawa spt manusia, maka Tauhid kita sdh dicemari dg faham tajsim dan tasybih (KH. Siradjuddin Abbas, I’tiqad Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah, Pustaka Tarbiyah, Jakarta, 1985).

    Selain Tajsim dan Tasybih ada juga faham Jabriyah dan Qadariyah dlm referensi Sunni dimana dlm faham Jabariyah Allah digambarkan sbg Tuhan Yg Maha Menentukan shg semua perbuatan manusia sdh ditentukan sebelumnya. Artinya seorang yg tekun beribadah akan tetap saja masuk neraka karena dia sdh ditakdirkan Allah masuk neraka. Sedangkan Qadariyah memandang hanya manusialah yg menentukan nasibnya.
    Sampai sekarang faham Jabriyah ini masih dianut oleh sebagian muslim Sunni.

    Begitu juga penggambaran pribadi Nabi yg sering berbuat “salah” dapat kita temukan dlm “Sahih” Bukhori. Namun sekali lagi perlu diingatkan bahwa yg salah bukan Bukhorinya, karena beliau hanyalah seorang ulama yg mengumpulkan dan menyeleksi hadis yg tak terlepas dari keyakinan mazahab dan tekanan penguasa Sunni yg ada pada waktu itu serta keterbatasan umur.

    Disamping itu kewajiban untuk mengikuti faham Asy’ari dlm bidang Ketuhanan dan para Imam 4 mazhab dlm bidang fiqih juga tdk ada dasarnya dlm hadis2 Nabi.

    Saya hanya ingin mengatakan : Apakah anda berani bertanggung jawab apabila terjadi permusuhan dan perpecahan di kalangan kaum muslimin akibat penyebar-luasan/publikasi hal2 yg sebenarnya tdk ada faktanya pada suatu kaum ?

    Suka

  3. @abuthalhah:
    “Al-Qur’an disusun dimasa pemerintahan Syaidina Utsman ra.. dan syaidina Ali ra merupakan Khalifah Ur-Rasyidin setelahnya… Tentunya beliau (Syaidina Ali ra) akan memperbaiki kalau seandainya banyak kesalahan seperti yang dituduhkan kaum bahlul syiah… bukankah Syaidina Ali ra tentu lebih mengetahui kebenaran ayat2 Allah yang turun ke Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam…”

    Anda keliru. Pengumpulan dan penyusunan Al-Quran dlm bentuk spt sekarang ini, tdk terjadi dalam satu masa, tapi berlangsung selama beberapa tahun atas upaya beberapa orang dan berbagai kelompok. Al-Quran sdh disusun sejak khalifah Abu Bakar bahkan segera setelah Nabi saw wafat. Khalifah Usman pada dasarnya hanya menyeragamkan bacaannya saja.

    @abuhalhah:
    “Tentunya beliau (Syaidina Ali ra) akan memperbaiki kalau seandainya banyak kesalahan seperti yang dituduhkan kaum bahlul syiah… bukankah Syaidina Ali ra tentu lebih mengetahui kebenaran ayat2 Allah yang turun ke Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam…”

    Saya kira yg bahlul adalah org atau kelompok yg ngotot menuduh Syi’ah meyakini tahrif Al-Quran.

    Suka

  4. Imam Syiah melecehkan Al-Quran

    Seorang imam syiah An-Nuri At-Thabrasi dalam kitabnya : Fashul Khithab fi tahrif kitab rabbil arbab mensifati Al-Quran dengan perkataannya: bahwa sebagian ayat-ayat Al-Quran adalah ayat-ayat tolol.

    Ya Allah… hanya kepada Engkau saya adukan kedustaan dan kejahatan orang-orang syiah terhadap kitab-Mu dan lindungilah kaum muslimin dari makar mereka!…amiin.

    (lihat kitabnya yang diberi warna kuning dan digaris bawahi!).

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s