Posted in Fadhilah, Tahukah Anda

Cegukan, dan Refleksi Keajaiban Nikmat Lisan


Seharian tadi (Rabu 27 Rajab 1432H/29 Juni 2011), saya mengalamai apa yg mungkin dialami oleh banyak orang. Hal yg mungkin terkesan remeh. Yakni CEGUKAN.. Hanya saja, pengalaman pribadi sdh beberapa kali, meski dgn jeda yg lumayan lama tatkala gejala itu muncul terkadang tak segera pergi kecuali dgn jeda yg sebentar, lalu ketika terpacu batuk, maka cegukan itu datang lagi.

Begitupun dgn seharian tadi. Dari mulai bangun tidur, cegukan sdh mengahmpiri diriku. Ketika itu saya berharap, saat jeda yg lumayan lama dgn iqamah shubuh cegukan itu sudah hilang. Tapi, ternyata…saya terpaksa meminta seorang jamaah untuk menggantikan posisi sebagai imam, karena cegukan tak juga hilang. Trauma dengan kejadian bberapa tahun lalu, saat cegukan pas menjadi imam, dari belakang terdengar anak2 kecil yang menirukan. Ba’da Shubuh, saya bersegera meluncur menuju lokasi dimana saya harus berbicara dihadapan audiens. Sepanjang perjalanan, cegukan blm juga reda. Maka saya sempatkan meminta saran teman2 di fb utk memberikan tips. Alhamdulillah, bertabur komentar dan saran yang sebagian bisa langsung saya lakukan di lokasi sebelum naik mimbar.
Walhamdulillah, saat berbicara, Allah menyngkirkan cegukan dari saya, meski setelah usai, ternyata datang lagi. Dan malam ini, terpaksa saya ijin memberikan kajian dengan alasaan yang sama.

Ini mengingatkan saya akan nikmat besar bernama lisan dan suara yang demikian ajaib, seperti digambarkabn oleh Ibnul Qayyim al-jauziyah dalam kitabnya Miftah Daaris Sa’adah, “Perhatikanlah suara yang keluar dari tenggorokan, sistem anatominya, proses bicara dan keteraturannya; huruf beserta makhrajnya, jedanya dan intonasinya… Anda akan mendapati hikmah yang luar biasa dari hembusan udara yang mengalir dari dalam, lalu melewati rongga tenggorokan hingga berakhir di pangkal mulut, lidah, bibir dan gigi. Kemudian muncullah dari situ berbagai awalan, akhiran dan ketukan yang masing-masing terdengar lain dan terpisah, hingga menciptakan sebuah huruf… padahal itu suara biasa yang hakikatnya satu; ia mengalir di saluran yang sama hingga berakhir di berbagai persimpangan dan perbatasan, lalu anda mendengar 29 huruf yang berkisar padanya seluruh pembicaraan: perintah, larangan, kabar, pertanyaan, puisi, narasi, khutbah, nasihat, dan obrolan lainnya. Diantara suara tersebut ada yang mampu membuat orang lain tertawa, menangis, berputus asa, ambisius, takut, gembira, sedih, ciut nyali, terbakar seemangatnya, membuat orang sehat jadi sakit dan sebaliknya.

Suara yang keluar itu juga bisa berakibat hilangnya kenikmatan, datangnya siksa, tertolaknya bala, datangnya karunia, hanyutnya hati, bersatunya pihak yang saling berseteru atau sebaliknya.
Karena lisan pula, ada kata-kata yang dianggap remeh pelakunya, namun menjerumuskan ke Neraka sedalam-dalamnya, sedang kata-kata yang lain mengangkat pelakunya ke derajat yang setinggi-tingginya di jannah.
Subhanallah, maha suci Allah yang menciptakan ini semua dari sebuah udara biasa yang keluar dari dada, yang tidak tahu untuk apa dia, kemana ia berakhir dan dimanakah tempatnya. Belum lagi perbedaan bahasa dan dialek yang hanya Allah saja yang dapat menghitungnya.

Perhatikanlah ketika sejumlah orang dari berbagai negara berkumpul, lalu masing-masing bicara dengan bahasanya, kemudian Anda mendengar berbagai macam bahasa yang teratur, padahal mereka tidak tahu apa yang diucapkan orang lain meski lisan mereka sama bentuknya. Demikian pula struktur tenggorokan, gigi dan bibir mereka pun demikian, ucapan mereka jauh berbeda…siapakah yang menimbulkan perbedaan dari tempat yang mirip tadi selain Allah U, Sang Pencipta yang Maha Mengetahui?”.

Demikian besar potensi lisan untuk mendatangkan pahala dan kebaikan. Bahkan, saat berbagai kebaikan tak mampu dikerjakan lantaran keterbatasan, maka lisan menjadi ‘penutup’ harganya.
Ketika seorang Arab badui bertanya kepada Nabi e tentang amalan apa yang bisa memasukkannya ke dalam Surga, beliau menjawab,
“Pertanyaanmu singkat, namun maknanya padat…bebaskan budak dan merdekakan hamba sahaya!”, “Bukankah keduanya sama?”, tanya lelaki tersebut. “Tidak, membebaskan budak ialah bila engkau melakukannya seorang diri, sedang memerdekakan hamba sahaya ialah bila engkau ikut membayar harganya. Kemudian jadilah orang yang suka memberi dan berbuat baik kepada yang menzhalimi… bila engkau tak mampu melakukannya, maka beri makan orang yang kelaparan, beri minum orang yang kehausan, perintahkan yang ma’ruf dan larang yang mungkar… tapi bila engkau tak mampu juga, maka tahanlah lisanmu kecuali dari yang baik!” (HR Ahmad)

Begitulah, lisan menjadi harga pengganti dari berbagai kebaikan sebagai tiket ke jannah.
Di balik besarnya potensi kebaikan yang dihasilkan oleh lisan, ia juga menyimpan bahaya besar bavi yang salah menggunakan. Bahkan, ketika Mu’adz radiyallahu anhu bertanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Adakah orang yang binasa disebabkan karena lisannya?” Beliau menjawab,
ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“Celaka wahai Mu’adz, adakah yang lebih berpelung untuk membenamkan wajah seseorang ke neraka selain dari hasil lisannya?” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan “shahih”)

Semoga Allah menuntun kita untuk mensyukuri nikmat lisan, dengan menggunakannya sesuai kehendak-Nya. (Abu Umar Abdillah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s