Posted in Aqidah

Dari Dendam kepada Mu’awwiyah Perang Shiffin Bermula (1)


Kejadian perang itu tak berdiri sendiri. Dendam lama pengikut Abdullah bin Saba’ terhadap Muawiyah adalah faktor pemicunya. Abdullah bin Saba’ mengaku seorang Muslim. Namun, kelakuannya justru berlawanan dengan pengakuannya. Sejak masa kekhalifahan Utsman bin Affan, ia dan para pengikutnya kerap melakukan makar.

Mereka menjelek-jelekkan citra pejabat negara. Berita bohong mereka sebar ke tengah masyarakat. Mereka ingin rakyat tak lagi menyukai para pemimpin mereka.

Amru bin Ash, gubernur Mesir, adalah korban pertama sasaran mereka. Ia diturunkan dari jabatannya.
Gerakan ini menjalar. ”Kelompok Mesir” mengajak para pendukungnya di Syam, Kufah, dan Bashrah, untuk melawan gubernur mereka. Untunglah, hanya ”kelompok Kufah” yang terbujuk rayu hingga sang gubernur, Said bin Ash, turun dari jabatannya.

Selanjutnya, dari Kufah, gerakan ini bergeser menuju Syam. Sasarannya apa lagi kalau bukan Muawiyah.
Rupanya kali ini upaya para pengikut Abdullah bin Saba’ seperti ”membentuk tembok”. Muawiyah tetap memimpin wilayah Syam hingga Ali bin Abi Thalib dibaiat penduduk Madinah. Ali menggantikan Utsman yang dibunuh oleh kelompok Saba’iyah.

Muawiyah telah menjabat gubernur Syam sejak masa Khalifah Umar bin al-Khaththab. Posisi Muawiyah terjaga dari gerakan ”makar Saba’iyah” disebabkan beberapa hal.

Pertama, di wilayah itu banyak tinggal sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) seperti Muadz bin Jabal, Ubadah bin As Shamit, Abu Darda, Abu Siad Al Khudri, Syadad bin Aus, Nu’man bin Bashir, Fudhalah bin Ubaid dan yang lainnya.

Di bawah bimbingan para sahabat tersebut, penduduk Syam lebih mudah memperoleh pemahaman Islam yang benar. Mereka tak mudah terpengaruh oleh hasutan Saba’iyah.

Kedua, kedekatan Muawiyah dengan rakyat Syam. Apalagi Muawiyah sangat memahami karekter kaum Saba’iyah. Beliau pernah berhadapan dengan mereka saat Khalifah Utsman masih hidup.
Utsman pernah berkata kepada Muawiyah, “Telah keluar kepadamu sekelompok penduduk Kufah untuk membuat fitnah. Hadapilah mereka! Jika mereka berbuat baik-baik terimalah, akan tetapi jika mereka melemahkanmu, kembalikan ke Kufah!”

Benar adanya. Mereka datang kepada Muawiyah dan meminta agar Muawiyah melepas jabatannya. Muawiyah menjawab, ”Seandainya ada orang lain yang lebih mampu dari saya, maka saya dan yang lainnya tidak akan menduduki jabatan ini. Jangan tergesa-gesa, karena hal ini mirip apa yang diharapkan setan.” Kemudian mereka dikeluarkan dari Syam oleh Muawiyah.

Setelah Utsman wafat, kelompok Saba’iyah langsung membaiat Ali bin Abi Thalib. Rupanya, kesegeraan mereka melakukan bai’at memiliki misi tersembunyi. Misi ini perlahan-lahan tersingkap setelah terjadi berbagai peristiwa berkenaan dengan Ali dan Muawiyah.

Permulaan Perselisihan

Sebenarnya, tidak ada perselisihan antara kedua sahabat Rasulullah SAW itu. Yang ada adalah perselisihan antara pengikut Abdullah bin Saba’ dan Muawiyah.

Perselisihan ini disebabkan Muawiyah amat getol meminta agar kaum Saba’iyah yang terlibat dalam pembunuhan Khalifah Utsman diberi hukuman hadd (hukuman mati). Terlebih lagi, Muawiyahlah yang membuka kedok keterlibatan kelompok pembuat makar tersebut atas terbunuhnya Utsman.

Karena itu, kelompok ini cepat-cepat membaiat Ali ketika menantu Rasulullah SAW ini diangkat menjadi khalifah. Dr. Hamid Muhammad Khalifah, dalam buku Al Inshaf (halaman 418) menyebutkan, ”Sesungguhnya sebab-sebab yang membuat meruncingnya hubungan Ali dan Muawiyah adalah adanya para ”provokator” dalam barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib, yang ingin memerangi Muawiyah.”

Perselisihan dimulai setelah Ali memutuskan untuk mengganti Muawiyah dengan sahabat Sahl bin Hunaif. Pengganti yang telah ditunjuk tersebut bersama rombongan pergi Syam. Sesampai di wilayah Tabuk, sejumlah pasukan Muawiyah menemui rombongan itu dan meminta mereka kembali.

Mengetahui demikian, Ali mengirim surat kepada Muawiyah. Namun, surat itu tidak dibalas hingga tiga bulan setelah meninggalnya khalifah Utsman.

Muawiyah akhirnya mengutus Qubishah al-Abasi untuk menyampaikan kepada Amirul Mukminin Ali bahwa alasan penduduk Syam tidak melakukan bai’at karena mereka meminta agar pelaku pembunuhan Utsman diadili.

Ali pun mengatakan, ”Ya Allah, sesungguhnya saya berlepas diri kepada Engkau dari darah Utsman.”
Setelah Qubishah keluar, kaum Saba’yah mengatakan, ”Ini anjing. Ini utusan anjing. Bunuhlah dia!” Kelompok ini langsung mengerumuni Qubishah. Untunglag, Bani Mudhar mencegah mereka menghabisi Qubishah.
Periwayatan ini menunjukkan bahwa kaum Saba’iyah memang masih menyimpan dendam karena gagal menjatuhkan Muawiyah dari jabatannya sebagai Gubernur Syam untuk ke sekian kalinya.

Al Asytar dan Ali bin Abi Thalib

Al Asytar an-Nakhai adalah satu dari sekian banyak pemimpin kaum provokator di barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Suatu ketika, disebutkan dalam sebuah riwayat, sebelum meninggalkan Bashrah, Ali bin Abi Thalib menunjuk Ibnu Abbas untuk ”memegang” wilayah itu.

Al Asytar an-Nakhai yang ketika itu bersama Ali merasa kecewa atas penunjukan itu. Dengan penuh amarah ia pergi meninggalkan rombongan sang Amirul Mukminin.

Bahkan, al-Asy’as bin Qais, salah seorang sahabat al-Asytar sempat mengancam Ali bin Abi Thalib. Dia mengatakan bahwa sikap Ali kepada al-Asytar bisa menyulut peperangan antara mereka.

Ali menjawab ancaman itu dengan mengatakan, ”Tidakkah ada yang membakar bumi, kecuali al Asytar?”
Sesampainya di Kufah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengutus sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali kepada Muawiyah untuk mengabarkan bahwa kaum Muhajirin dan Anshar telah membaiat Ali seraya mengajak sahabat Rasulullah itu ikut membai’atnya.

Sekali lagi, al-Asytar tidak menyukai sikap Amirul Mukminin yang menunjuk Jarir ini.
Utusan yang dipimpin Jarir kembali ke Kufah dengan membawa kabar bahwa Muawiyah tetap enggan melakukan baiat karena belum tegaknya hukum hadd kepada para pembunuh Utsman.
”Jika ditegakkan hadd, maka beliau bersedia melakukan bai’at,” kata Jarir memberi laporan.

Mendengar penuturan Jarir, al-Asytar berkata kepada Amirul Mukminin, ”Bukankah saya telah melarangmu untuk mengutus Jarir? Kalau engkau mengutusku, maka Muawiyah tidak akan membuka pintu, kecuali aku yang menutupnya.”

Jarir segera menimpali perkataan al-Asytar ini. ”Kalau engkau yang datang, mereka akan membunuhmu, disebabkan terbunuhnya Utsman.”

Al Asytar tak mau kalah, ”Kalau Amirul Mukminin mematuhiku, maka ia akan mengurungmu, beserta orang-orang sepertimu, hingga perkara ini menjadi lebih baik.”

Jarir marah. Beliau mememutuskan untuk keluar dari Kufah menuju Firqisiya’, wilayah yang pernah ia pimpin saat menjadi gubernur di masa Utsman.

Peristiwa demi peristiwa ini jelas menunjukkan bagaimana usaha kaum Saba’iyah menggagalkan usaha perdamaian. *Thoriq/Suara Hidayatullah JULI 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s