Posted in Aqidah

Dari Dendam kepada Mu’awwiyah Perang Shiffin Bermula (2)


Perang Shiffin tidak berdiri sendiri, dendam lama pengikut Abdullah bin Saba’ terhadap Muawiyah adalah faktor yang cukup menentukan.

Abdullah bin Saba’ mengaku seorang Muslim. Namun, kelakuannya justru berlawanan dengan pengakuannya. Ia bersama pengikutnya mencoba merongrong wibawa Khalifah. Itu dilakukan sejak masa Khalifah Utsman.
Caranya, dengan menjelek-jelekkan citra pejabat negara, dan menyebarkannya di tengah-tengah rakyat hingga mereka tidak munyukai para pemimpin mereka.

Amru bin Ash, Gubernur Mesir adalah sasaran pertama, hingga beliau diturunkan dari jabatannya. Selanjutnya, ”kelompok Mesir” ini mengajak para pendukungnya yang sudah tersebar di Syam (Syiria), Kufah (salah satu wilayah di Iraq) dan Bashrah untuk melawan gubernur mereka, tapi hanya ”kelompok Kufah” yang bangkit, hingga Said bin Ash pun turun dari jabatannya.

Selanjutnya, dari Kufah bergeser menuju Muawiyah yang berada di Syam. Tetapi upaya mereka menjatuhkan Muawiyah gagal, dan beliau tetap memimpin wilayah Syam.

Muawiyah telah menjabat sebagai gubernur di Syam sejak masa Khalifah Umar bin Al Khattab. Di masa Utsman menjadi khalifah, Muawiyah tetap menjadi gubernur wilayah itu. Keadaan ini tetap berlangsung hingga Ali bin Abi Thalib dibaiat penduduk Madinah, tidak lama setelah Ustman terbunuh oleh kelompok Saba’iyah (pengikut Abdullah bin Saba’).

Posisi Gubernur Muawiyah terjaga dari gerakan makar Saba’iyah disebabkan ada beberapa hal yang mendukung. Pertama, di wilayah itu banyak tinggal para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), seperti Muadz bin Jabal, Ubadah bin As Shamit, Abu Darda, Abu Siad Al Khudri, Syadad bin Aus, Nu’man bin Bashir, Fudhalah bin Ubaid dan yang lainnya. Dengan demikian, penduduk Syam lebih mudah memperoleh pemahaman Islam yang baik dibawah bimbingan para sahabat tersebut, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hasutan Saba’iyah.

Kedua, kedekatan Muawiyah dengan rakyat Syam juga mempersulit gerakan makar ini. Apalagi Muawiyah memahami karekter kelompok ini, karena beliau pernah berhadapan dengan mereka di saat Khalifah Utsman masih hidup. “Telah keluar kepadamu sekelompok penduduk Kufah, untuk membuat fitnah, hadapilah mereka. Jika mereka berbuat baik-baik terimalah, tetapi jika mereka melemahkanmu, maka kembalikan ke Kufah”, pesan Utsman kepada Muawiyah.

Benar adanya, mereka datang kepada Muawiyah, dan meminta agar Muawiyah melepas jabatannya. Muawiyah menjawab, ”Seandainya ada orang lain yang lebih mampu daripada saya, maka saya dan yang lainnya tidak menduduki jabatan ini. Jangan tergesa-gesa, karena hal ini mirip apa yang diharapkan setan.” Kemudian mereka dikeluarkan dari Syam.

Dan setelah wafatnya Utsman, kelompok inilah yang pertama-tama membaiat Ali bin Abi Thalib. Rupanya, kesegeraan mereka melakukan bai’at memiliki misi tersembunyi, yang perlahan-lahan tersingkap setelah berbagai peristiwa yang berkenaan dengan sahabat Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah terjadi.

Permulaan Perselisihan
Sebenarnya, tidak ada perselisihan antara kedua sahabat Rasulullah SAW itu sebelumnya. Yang ada adalah perselisihan antara pengikut Abdullah bin Saba’ dan Muawiyah, disebabkan Muawiyah amat getol menyerukan dilakukannya hukuman hadd (hukuman mati) kepada mereka, atas terbunuhnya Utsman dan beliau yang berhasil membuka kedok kelompok pembuat makar tersebut.

Karena itu, kelompok ini cepat-cepat membaiat Ali ketika menantu Rasulullah SAW ini diangkat menjadi khalifah. Dr. Hamid Muhammad Khalifah, dalam buku Al Inshaf (hal. 418), menyebutkan, ”Sesungguhnya sebab-sebab yang membuat meruncingnya hubungan Ali dan Muawiyah adalah adanya para ”provokator” dalam barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang ingin memerangi Muawiyah.”

Perselisihan dimulai setelah Ali memutuskan untuk mengganti Muawiyah dengan sahabat Sahl bin Hunaif. Pengganti yang telah ditunjuk tersebut bersama rombongan pergi Syam. Sesampai di wilayah Tabuk, sejumlah pasukan Muawiyah menemui rombongan itu dan meminta mereka kembali. Mengetahui demikian, Ali mengirim surat kepada Muawiyah sebagai Gubernur Syam, tetapi surat itu tidak dibalas hingga tiga bulan setelah syahidnya Utsman.

Sampai akhirnya Muawiyah mengutus Qubishah Al Abasi untuk menyampaikan kepada Amir Al Mukminin Ali bahwa alasan penduduk Syam tidak melakukan baiat, karena mereka meminta agar pelaku atas pembunuhan Utsman diadili. Ali pun mengatakan, ”Ya Allah, sesungguhnya saya berlepas diri kepada Engkau dari darah Utsman.”

Setelah Qubishah keluar kaum Saba’yah mengatakan, ”Ini anjing, ini utusan anjing, bunuhlah dia!” Saat itu kelompok ini mengerumuni Qubishah, namun Bani Mudhar mencegah mereka.

Periwayatan ini menunjukkan bahwa kaum Saba’iyah memang masih menyimpan dendam karena gagal menjatuhkan Muawiyah dari jabatannya sebagai Gubernur Syam untuk kesekian kalinya.

Al Asytar dan Ali bin Abi Thalib
Sebagaimana disebutkan dalam barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib ada kelompok ”provokator”, salah satu dari pemimpin mereka adalah seorang laki-laki yang bernama Al Asytar An Nakhai. Disebutkan dalam sebuah riwayat, sebelum meninggalkan Bashrah, Ali bin Abi Thalib menunjuk Ibnu Abbas untuk ”memegang” wilayah itu. Al Asytar An Nakhai tidak menerima keputusan Amir Al Mukminin tersebut. Dengan penuh amarah ia pergi meninggalkan beliau.

Bahkan kelompok Al Asytar sempat juga mengancam Ali bin Abi Thalib tatkala salah satu sahabat Al Asytar, Al Asy’as bin Qais berkata kepada beliau, ”Apakah kita hanya memperhatikan hukuman Al Asytar?” Amir Al Mukminin menjawab, ”Apa hukumannya?” Al Asy’as berkata, ”Hukumannya adalah timbulnya peperangan antara kita.” Beliau menjawab, ”Tidakkah ada yang membakar bumi, kecuali Al Asytar?”
Sesampainya di Kufah, Amir Al Mukminin Ali bin Abi Thalib mengutus sahabat Jarir bin Abdullah Al Bajali kepada Muawiyah untuk kembali menyeru agar Muawiyah melakukan baiat, dan memberi kabar bahwa kalangan Muhajirin dan Anshar telah membaiatnya.

Sekali lagi, Al Asytar tidak menyukai sikap yang diambil oleh Amir Al Mukminin dikarenakan kemuliaan akhlak yang dimiliki Jarir. Utusan ini kembali ke Kufah dengan memberi kabar bahwa Muawiyah enggan melakukan baiat, dikarenakan belum ditegakkan hukum hadd kepada si pembunuh Utsman. Jika ditegakkan hadd, maka beliau bersedia melakukan baiat.

Mendengar penuturan Jarir, Al Asytar mengatakan kepada Amirul Mukminin, ”Bukankah saya telah melarangmu untuk mengutus Jarir? Kalau engkau mengutusku, maka Muawiyah tidak akan membuka pintu kecuali aku yang menutupnya.”

Jarir tak tinggal diam, ”Kalau engkau yang datang mereka akan membunuhmu disebabkan terbunuhnya Utsman,” katanya kemudian.

Al Asytar juga belum mau kalah, ”Kalau Amir Al Mukminin mematuhiku, maka ia akan mengurungmu beserta orang-orang sepertimu hingga perkara ini menjadi lebih baik.” Jarir marah, hingga beliau memutuskan untuk keluar dari Kufah menuju Firqisiya’ wilayah yang pernah beliau pimpin saat menjadi gubernur di masa Utsman.
Sikap buruk yang membuat sahabat Jarir keluar di atas menunjukkan para pembuat fitnah sudah berada dalam tubuh kekhalifahan. Dan peristiwa ini juga menunjukkan bagaimana usaha mereka untuk selalu menggagalkan usaha perdamaian. *Thoriq/Suara Hidayatullah

Bukan Perebutan Kursi Kekuasaan

Usaha perdamaian selalu gagal karena ada provokatornya.
Kelompok Saba’iyah makin resah. Itu karena kedoknya sebagai pembunuh Khalifah Ustman bin Affan kian terbongkar. Apalagi penduduk Syam menuntut dilaksanakan hukuman hadd terhadap diri mereka.
Tidak ada cara lain bagi mereka kecuali mendesak Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib untuk menghadapi Muawiyah. Disebutkan dalam Al Bidayah wa An Nihayah (8/10), ”Maka para tokoh yang secara langsung terlibat pembunuhan Utsman yang berada di sekitar Ali bin Abi Thalib memberi saran agar beliau memecat Muawiyah dari jabatannya sebagai Gubernur Syam.”

Saat itu, Amir Al Mukminin pun melihat bahwa pelaksanaan hadd tidak bisa dilakukan kacuali setelah baiat bisa diselesaikan. Apalagi para pelakunya berkeliaran di sekitar beliau dan jumlah mereka pun banyak, ini semakin menyulitkan posisi beliau.

Menolak Perang
Suatu kali, Khalifah Ali mengirimkan pasukan pembuka ke Syam, berjumlah 8 ribu tentara. Tak lama kemudian Ali menyusul juga membawa ribuan pasukan.

Pasukan pembuka itu hendak menyeberang lewat wilayah ‘Anat. Tetapi apa yang terjadi, penduduk kota wilayah itu menghalangi mereka. Tidak bisa melalui ‘Anat, pasukan hendak melalui penyeberangan lainnya yang berada di wilayah Hiit. Di sini, mereka juga dihalangi penduduk setempat.

Selanjutnya penduduk Qirqisiya’ menghalangi pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib itu, sedangkan penduduk Ar Riqah mengumpulkan seluruh perahu mereka dan enggan membantu pasukan itu menyeberang menuju Shiffin, hingga mereka memutuskan untuk menyeberang di wilayah Manbaj.

Sikap Khalifah Ali yang lemah lembut terhadap mereka yang menghalangi perjalanan pasukannya menunjukkan bahwa tujuan utama bukanlah menumpahkan darah, melainkan melakukan ishlah.

Hal itu berbeda dengan yang dilakukan Al Asytar, yang juga berada dalam barisan yang sama terhadap mereka yang enggan membantu penyeberangan. Ia mengancam, ”Jika tidak kalian lakukan, aku benar-benar akan membunuh para laki-laki, merusak tanah atau mengambil harta.”

Awalnya, Khalifah masih mempercayai Al Asytar karena ia adalah salah satu pemimpin Khawarij. Namun, ada indikasi bahwa akhirnya Ali mengubah pandangan tersebut. Diceritakan Al Hakim dalam Al Mustadrak (3/107), penduduk Nakha’ berkumpul di dalam rumah Al Asytar. Ali bin Abi Thalib menyeru kepada mereka, ”Apakah di dalam rumah hanya ada Al Asytar?” Mereka menjawab, ”Tidak.” Khalifah kembali mengatakan, ”Umat ini bersandar kepada kaluarga yang paling baik, akan tetapi mereka telah membunuhnya (Utsman).
Sesungguhnya kami memerangi Bashrah karena baiat yang kami takwilkan, sedangkan kalian bergerak menuju sebab kaum yang kami tidak dibaiat oleh mereka (Syam), handaklah setiap orang melihat dimana pedang harus diletakkan.”

Dialog di atas menunjukkan bahwa Amirul Mukminin telah memperingatkan Al Asytar mengenai keputusannya untuk pergi ke Shiffin, dan menjelaskan bahwa tidak perlu dilakukan pertempuran di sebuah wilayah yang tidak terikat oleh baiat, semisal Syam.

Niatan Amirul Mukminin untuk tidak mengutamakan kekuatan senjata didukung dengan riwayat yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wa An Nihayah (8/127). Ibnu Katsir menyebutkan, Khalifah Ali mengirim utusan ke Syam untuk mengetahui ketaatan penduduk Syam terhadap Muawiyah. Ketika perkara itu sampai kepada Muawiyah, beliau naik mimbar masjid dan mengatakan kepada jama’ah, ”Sesungguhnya Ali telah berdiri di penduduk Iraq untuk kalian. Apa pendapat kalian?” Para jamaah tidak berkata-kata hingga seorang ada yang mengatakan, ”Anda yang berpikir, kami yang melaksanakan.”

Akhirnya, Muawiyah memerintahkan agar mereka bersiap-siap membentuk pasukan menjadi tiga bagian. Setelah itu, kembalilah utusan menuju Khalifah Ali bin Abi Thalib lalu mengabarkan apa yang terjadi di Syam. Khalifah Ali akhirnya naik mimbar dan mengatakan kepada jamaah, ”Muawiyah telah mengumpulkan pasukan untuk memerangi kalian, apa pendapat kalian?” Semua hadirin terheran dan berbicara satu sama lain. Khalifah Ali akhirnya turun dari mimbar dengan mengatakan, ”la haula wa la quwwata ila billah.”

Upaya Perdamaian di Shiffin
Setelah pasukan Syam dan Kufah sampai di wilayah Shiffin, kedua pihak mengambil posisi masing-masing. Utusan keduanya sibuk melakukan perundingan dengan mengharap pertempuran bisa terhindar.

Dalam Al Bidayah wa An Nihayah (7/272) disebutkan bahwa Abu Muslim Al Khaulani beserta beberapa orang mendatangi Muawiyah dengan mengatakan, ”Apakah engkau melawan Ali ataukah engkau juga sepertinya?”
Muawiyah menjawab, ”Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui kalau ia (Ali) lebih baik dariku, lebih utama dan lebih berhak dalam masalah ini (kekhalifahan) daripada aku. Akan tetapi bukanlah kalian mengetahui bahwa Utsman terbunuh dengan keadaan terzalimi, sedangkan saya adalah sepupunya yang berhak meminta keadilan. Katakan kepadanya, agar ia menyerahkan pembunuhnya, maka saya menyerahkan persoalan ini kepadanya.”

Dari periwayatan di atas semakin jelas, memang kedua belah pihak, baik Khalifah Ali dan Muawiyah tidak berselisih mengenai jabatan kekhalifahan, dan keduanya memang tidak bermaksud menyerang satu sama lain kecuali pihak pengikut Saba’iyah yang berada di barisan Amirul Mukminin yang selalu menginginkan adanya konflik antara Khalifah Ali dan Muawiyah. Dan Muawiyah tetap berdiri tegak guna melawan para pengikut Abdullah bin Saba’ yang berada dalam pasukan Khalifah. *Thoriq/Suara Hidayatullah JULI 2009

Boks:
Mengapa Ali Tak Menghukum Shaba’iyah?

Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wa An Nihayah (7/242) menjelaskan, setelah Ali dibaiat, para tokoh sahabat beserta Thalhah dan Zubair menemui dia dan meminta agar dilaksanakan hukuman kepada para pembunuh Utsman. Khalifah Ali menyatakan udzur untuk melaksanakan hal itu, karena kekuatan mereka yang besar dan memiliki pendukung. Bahkan Khalifah Ali meminta kepada Zubair untuk memerintah Kufah dan Thalah untuk memerintah Bashrah, dan beliau siap membekali keduanya dengan pasukan, agar bisa memperkuat dalam menghadapi kekuatan kaum Shaba’iyah itu.

Akhirnya, para sahabat, termasuk Thalhah dan Zubair mendatangi lagi Khalifah Ali, setelah menunggu beberapa waktu dan melihat Khalifah belum melakukan ”apa-apa” untuk menghukum kaum Shaba’iyah.
”Wahai saudaraku, bukannya saya tidak mengerti masalah itu, tetapi apa yang mampu saya perbuat atas sebuah kaum yang menguasai kita tetapi kita tidak menguasa mereka? Mereka berada di sekitar kalian, sesuka hati mereka, apakah kalian melihat ada peluang untuk melakukan hal yang kalian inginkan?”

Mereka menjawab, ”Tidak”. Khalifah Ali mengatakan, ”Tidak, demi Allah saya tidak melihat, kacuali apa yang telah kalian lihat, insyaallah.”

Jelas, dari penjelasan di atas, Khalifah Ali sendiri berkeinginan untuk menegakkan hadd kepada para pembunuh Utsman, tapi beliau merasa kesulitan, karena mereka sendiri berada di sekeliling Khalifah, dan kekuatan mereka tidak bisa diremehkan, hingga para sahabat pun mengakui hal tersebut. *Thoriq/Suara Hidayatullah JULI 2009

Shaba’iyah Berbalik Menikam Khalifah

Seakan membela, padahal merekalah pembuluh Khalifah Ali.

Para utusan terus melakukan perundingan, dan pasukan kedua belah pihak sama-sama menahan diri untuk melakukan serangan, hingga berakhirnya bulan haram di tahun 37 H. Pasukan Kufah menyeru kepada pasukan Syam, ”Amir Al Mukminin telah menyeru kepada kalian, ‘Aku telah memberi tenggang waktu untuk kalian agar kembali kepada al haq, dan saya telah menegakkan atas kalian hujah, akan tetapi kalian tidak menjawab…”
Pasukan Syam menyambut seruan itu dengan mempersiapkan diri di shafnya masing-masing. Pada Rabu, 7 Safar pertempuran berlangsung hingga Jumat malam Sabtu. Dalam Al Aqdu Al Farid (4/3140) disebutkan, kedua pihak bersepakat bahwa mereka yang terluka harus dibiarkan begitu pula mereka yang melarikan diri tidak boleh dikejar. Mereka yang meletakkan senjata akan aman, tidak boleh mengambil benda milik mereka yang meninggal, serta mereka mendoakan dan menshalati jenazah yang berada di antara kedua belah pihak.
Mayoritas sahabat tidak ikut serta dalam pertempuran ini. Pada saat itu jumlah mereka sekitar 10 ribu, sedangkan yang ikut serta tidak lebih dari 30 sahabat saja, sebagaimana riwayat yang disebutkan dalam Minhaj As Sunnah (6/237).

Meninggikan Mushaf
Peristiwa penting dalam perang Shiffin adalah pangangkatan tinggi-tinggi mushaf al-Qur`an hingga pertempuran itu berakhir. Disebutkan dalam beberapa periwayatan bahwa ketika pertempuran berlangsung amat sengit banyak para ulama yang menyeru, baik dalam barisan pasukan Syam maupun Kuffah, ”Jika kita besok baru berhenti (bertempur), maka Arab akan sirna, dan hilangnya kehormatan…”

Muawiyah yang juga mendengar khutbah itu membenarkan, ”Benar, demi Rabb Ka’bah, jika kita masih berperang esok, maka Romawi akan mengincar para wanita dan keturunan kita. Sedangkan Persia akan mengincar para wanita dan keturunan Iraq (Kufah). Ikatlah mushaf-mushaf di ujung tombak kalian,” seru Muawiyah kepada pasukannya.

Maka saat itu, pasukan Syam menyeru, ”Wahai pasukan Iraq, di antara kami dan kalian adalah Kitabullah!” Muawiyah memerintahkan seorang utusan untuk menghadap kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib, ”Iya, di antara kami dan kalian adalah Kitabullah, dan kami telah mendahulukan hal itu,” jawab beliau.

Tetapi, sebagaimana yang terjadi sebelumnya para pengikut Abdullah bin Saba’ enggan menerima usulan untuk berdamai, mereka ingin agar Khalifah Ali meneruskan pertempuran.

Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (8/336) bahwa kaum Shaba’iyah mendatangi Khalifah dengan pedang di atas pundak mereka, ”Wahai Amir Al Mukminin, tidakkah sebaiknya kita menyongsong mereka, hingga Allah memberi keputusan antara kita dan mereka.”

Usulan itu ditentang keras oleh sahabat Sahl bin Hunaif Al Anshari. ”Tuduhlah diri kalian! Kami telah bersama Rasulullah SAW saat peristiwa Hudaibiyah. Kalau sendainya kami berpendapat akan berperang, maka kami perangi (tapi kenyataannya mereka tidak berperang)”

Sahl juga menjelaskan bahwa setelah perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu turunlah surat Al Fath kepada Rasulullah SAW. Khalifah Ali pun menyambut pendapat Sahl, ”Wahai manusia, ini adalah fath (hari pembebasan),” seru Ali bin Abi Thalib. Akhirnya pertempuran itu pun berakhir.

Peristiwa Tahkim
Tahkim adalah penunjukkan dua pihak yang berselisih terhadap seseorang yang adil dengan tujuan agar memberi keputusan terhadap dua pihak tersebut. Kedua pihak yang terlibat pertempuran Shiffin, yakni Ali dan Muawiyah telah sepakat memilih Abu Musa Al Asy’ari untuk menjadi penengah.

Sesuai dengan yang ditulis oleh Ibnu Hibban dalam At Tsiqat (2/293), tahkim memutuskan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib ditetapkan membawahi wilayah Kufah dan penduduknya, sedangkan Muawiyah ditetapkan membawahi wilayah Syam beserta para penduduknya, tidak ada penggunaan senjata, dan hal ini berlaku dalam satu tahun. Jika sudah melewati masanya, kedua belah pihak bisa menolaknya atau bisa memperpanjang.

Dari kandungan perjanjian tersebut, bisa disimpulkan bahwa Muawiyah tidak ada keharusan untuk membaiat Khalifah Ali. Begitu juga Khalifah Ali, tidak ada keharusan untuk menghukum pembunuh Utsman.
Dengan demikian, tidak ada lagi peperangan antara Syam dan Kufah. Tetapi bukan berarti konflik selesai. Konflik bergeser antara Khalifah Ali dengan kaum Shaba’iyah yang semula menjadi pendukung Amir Al Mukminin itu.

Kaum Shaba’iyah tidak menyukai perdamaian antara Kufah dan Syam. Lantas mereka mengisukan bahwa Khalifah Ali tidak setuju dengan hasil yang telah diputuskan. Hingga akhirnya Khalifah menegaskan, ”Barang siapa mengira bahwa aku tidak setuju dengan hasil tahkim, maka ia telah berbohong, barang siapa berpikiran demikian maka ia telah sesat.”

Akhirnya, kaum Shaba’iyah keluar dari masjid dengan mengatakan, ”la hukma illa lillah”, atau tidak ada hukum selain hukum Allah. Karena mereka keluar, lalu ada yang mengatakan kepada Khalifah, ”Mereka telah keluar dari ketaatan terhadapmu.”

Gerakan Shaba’iyah tidak berhenti sampai di sini, mereka masih tetap bernafsu tidak hanya membunuh Muawiyah, tapi juga Khalifah Ali bin Abi Thalib serta Amru bin Ash. Khalifah menjadi incaran karena mereka merasa bahwa kedok mereka sudah terbuka dihadapan Khalifah, dan tidak ada yang bisa ditutupi dari gerakan mereka. Dan pembunuhan itu masih belum sempurna kecuali jika menyertakan Muawiyah dalam terget serupa. Sedangkan Amru bin Ash ikut menjadi target karena ia adalah musuh pertama kelompok ini di saat ia berkuasa di Mesir, sehingga jika ia tidak dibunuh, maka keberadaannya juga berpotensi untuk mengancam gerakan kelompok ini.

Ditugaskan tiga orang untuk membunuh tiga orang mulia itu. Ibnu Muljim, sahabat dekat Ibnu Saba’ dari kalangan Khawarij menyerang Khalifah Ali bin Abi Thalib di malam ke 17 dari bulan Ramadhan tahun 40 H dengan menebaskan pedang hingga mengenai kening beliau. Setelah bertahan selama dua hari, Khalifah Ali bin Abi Thalib akhirnya wafat. Sedangkan Al Burk bin Abdullah Al Khariji yang bertugas membunuh Muawiyah malah terbunuh terlebih dahulu oleh beliau dengan pedangnya sendiri. Sedangkan Amru bin Bukair yang ditugaskan membunuh Amru bin Ash, malah membunuh salah satu petugas yang disangkanya sasarannya hingga kedua sahabat itu selamat dari pembunuhan.

Inilah peristiwa beruntun yang dilakukan kelompok Abdullah bin Sabba’ terhadap para sahabat mulia hingga terjadi fitnah besar yang menyebabkan bertumpahnya banyak darah. Mudah-mudahan umat Islam bisa mengambil ibrah dari rentetan peristiwa ini. Allahu’alam bishawab. *Thoriq/Suara Hidayatullah JULI 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s