Posted in Aqidah

Mendahulukan Akidah Sebelum Ukhuwah


“Tinggalkanlah fikih untuk memelihara akhlak atau pilihlah fikih yang lebih memelihara persaudaraan ketimbang fikih yang menimbulkan perpecahan”. Ajakan Jalaluddin Rakhmat ini nampaknya baik-baik saja, yaitu mengedepankan persaudaraan (ukhuwah), dan menjauhkan dari hal-hal yang menyebabkan perpecahan. Tapi sebenarnya bisa merusak agama. Pes

an yang hendak disampaikan adalah, fikih memicu perpecahan. Fikih di sini adalah pemvonisan ini halal, haram, benar, salah, selamat, sesat dan sebagainya. Sepertinya, fikih didudukkan sebagai tersangka biang kekerasan.Persoalannya, ajakan di atas menyempitkan makna akhlak dan ‘memarahi’ fikih. Akhlak dibaca sebagai etika untuk kearifan sosial saja. Padahal, seperti ditulis oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, ber-akhlak adalah berfikir, berkehendak dan berperilaku sesuai dengan fitrah manusia (www.hamidfahmy.com). Sedangkan fitrah itu kecenderungan jiwa yang beriman. Jadi syarat utama ber-akhlak adalahberiman (berakidah benar). Yaitu, baik secara sosial sekaligus baik secara spiritual (iman).Orang beriman pasti mentaati hukum halal-haram, salah-benar, selamat-dan sesat (berfikih). Non-muslim tidak bisa disebut ber-akhlak, tapi bisa saja bermoral.
Jelas saja, seruan tersebut di atas sejatinya proyek pelemahan akidah. Atau sebuah upaya membuka peluang penyimpangan. Alasannya cukup jelas. Jika vonis benar dan salah lenyap, atau dipinggirkan dalam keberagamaan, maka tidak boleh ada tersangka bahwa si fulan sesat atau menyimpang. Akhirnya membangkitkan relativisme beragama.Akhir-akhir ini kata ukhuwah bagaikan ‘permen manis’. Sedangkan orang ta’at kepada syariat hampir mirip dengan orang sadis. Lebih baik ber-ukhuwah, meski ajaran Nabi dicaci dan dihina. Fatwa Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Jawa Timur pada Januari 2012 bahwa Syiah sesat dituduh biang kekerasan Sunnah-Syiah. Padahal MUI memberi peringatan, pembunuhan, penyerangan fisik dan tidak kekerasan lainnya adalah tindak kriminil yang harus dicegah. Namun, penyimpangan harus diluruskan. Pelurusannya juga tidak memakai pedang atau bom, tapi dengan dakwah. KH. Ma’ruf Amin, ketua bidang fatwa MUI Pusat, pernah mengatakan, perbedaan bisa ditoleransi, tapi penyimpangan harus ‘diamputasi’.

Ukhuwah sebenarnya bukan sekedar berati persaudaraan dalam arti luas. Ukhuwah adalah persudaraan yang diikat oleh keimanan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw, “Kamu melihat orang-orang mu’min di dalam saling belas kasih, saling mencintai, dan saling menyayangi adalah bagaikan tubuh yang satu, apabila salah satu anggota tubuh mengeluh kesakitan maka seluruh anggota yang lain akan menunjukkan pembelaan “.(HR. Bukhari). Maknya, Allah swt mengatakan orang mu’min itu bersaudara. Sehingga, yang tidak beriman, yang menista ajaran Allah bukan saudara.

Imam al-Qurtubi mengatakan faktor pemersatu adalah berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Meninggalkan keduanya menjadi sebab perpecahan. Allah swt berfirman, “Berpegang teguhlah kalian pada tali agama Allah, janganlah kalian bercerai-berai” (QS. Ali Imran:103). Maka, jika ingin berukhuwah, maka harus kembali kepada akidah yang diajarkan Nabi dan sahabatnya dulu. Yaitu kembali kepada ajaran fitrah.

Golongan yang memecah adalah golongan yang meninggalkan Kitab Allah dan Sunnah Nabi. Karena dengan itu mereka telah keluar dari rel-rel ajaran Islam. Maka solusi untuk mempersatukan ummat adalah mengembalikan mereka-mereka yang telah keluar dari rel Islam.

Adanya perbedaan prinsipil antara Sunnah-Syiah memang benar adanya. Kita tidak perlu menyembunyikannya atau memungkiri dengan aneka kampanye bahwa keduanya sama-sama saja. Ahlussunnah (Sunnah) menghormati semua sahabat Nabi saw, Syiah menaruh hormat sedikit saja di antara sahabat, yaitu Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Ammar bin Yasir dan Miqdad bin Aswad ra dan sahabat dari kalangan Ahlul Bait. Pengikut Ahlussunnah diajarkan mengatakan radhiallahu ‘anhu jika mendengar atau menulis nama sahabat. Sedangkan Syiah menista sahabat di luar yang tiga tersebut. Sunnah meyakini otentisitas al-Qur’an, sedangkan ada kelompok Syiah yang berpendapat terjadi tahrif al-Qur’an.

Keduanya tidak bisa disamakan, karena perbedaannya bukan lagi pada dalil dzaniyyat lagi tapi sudah memasuki ranah qath’iyyat. Bahkan, dalam bidang furu’ juga terdapat perbedaan-perbedaan cukup tajam. Apalagi ada ajaran penistaan sahabat dalam Syiah. Maka, penyelesaiannya bukan dengan pendekatan (taqrib), tapi dengan toleransi. Bukan dengan ukhuwah, tapi dengan pengaturan tata cara mu’amalah.

Jangan diharap ada ukhuwah dan taqrib, jika ada penistaan dan penipuan. Dalam Sunnah, tetap tidak bisa diterima ajaran pengkafiran atau pemurtadan terhadap sahabat Nabi saw, menista Aisyah ra, kecaman terhadap hadis Bukhari-Muslim, dan meyatakan al-Qur’an itu mengalami perubahan. Jika ada penistaan pasti akan disambut dengan kecaman. Bahkan pertentangan. Cara-cara dakwah mengelabuhi juga memicu pertentangan dan memantik kekisruhan. Syiahisasi dengan cara memberikan image netral, dan memakai wajah Sunni (Syi’i biwajhin Sunniyyin) bukanlah dakwah yang baik. Cara dan usaha tidak ber-akhlak seperti ini menodai persaudaraan.

Bagi Ahlussunnah, menjaga akidah itu lebih penting. Justru pengokohan akidah itu pengikat ukhuwah. Setelah akidah terbenahi, ukhuwah dengan sendirinya terjaga dengan baik. Sedangkan para pengikut ajaran lain yang berbeda secara prinsipil, dapat diselesaikan dengan toleransi, bukan ukhuwah. Toleransi pun tidak diperkenankan ada olok-olok dan caci maki.

Mari kita galang persaudaran muslim. Hanya dengan ukhuwah Islamiyah kita akan menjadi ummat yang tangguh dan berwibawa. Persatuan tidak akan terealisasi bila saling egois, fanatik berlebihan, dan mengedepankan ambisi duniawi. Yang lebih penting lagi,ukuwah Islamiyah harus didasari pada akidah yang sama. Tidak akan terbentuk ukhuwah bila tidak didasar pada akidah yang haq.

Sumber : Hidayatullah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s