Posted in Sejarah Islam

Pelopor Gebyar Maulid Nabi


maulidTiga kurun waktu yang mulia dan utama berlalu, namun tidak ada seorangpun dari para sahabat Nabi, para tabi’iin dan tabi’it Tabi’in yang melakukan maulid nabi, padahal mereka sangat mencintai Nabi , dan manusia yang paling mengerti tentang Sunnah Nabi . Sampai akhirnya muncullah Banu Ubaid al-Qaddah yang menamakan dirinya sebagai Fathimiyyin, mengaku sebagai keturunan Fathimah dan Ali ibn Abi Thalib secara dusta.

Maulid Nabi pertama: Berikut ini adalah kesaksian para ulama bahwa pelopor Maulid Nabi adalah kaum Syi’ah kebatinan Banu Ubaid Fathimiyyah: 1. Taqiyyuddin al-Maqrizi as-Syafi’i . Dalam kitab al-Khuthath berkata: “Menyebut hari-hari di mana para khalifah Fathimiyyah menjadikannya sebagai hari raya dan musim perayaan, pesta besar bagi rakyat dan banyak kenikmatan di dalamnya untuk mereka.” Lalu dia mengatakan: “Adalah para khalifah Fathimiyyah di sepanjang tahun memiliki hari-hari raya dan hari-hari besar, yaitu: Hari Raya Tahun Baru, Hari Raya Asyura`, Hari Raya Maulid Nabi , Hari Raya Maulid Ali ibn Abi Thalib , Maulid Hasan dan Husain , Maulid Fathimah , Maulid Khalih al-Hadir (yang sedang berkuasa), Malam Awal Rajab, Malam Nishfu Sya’ban, Malam Ramadhan, Ghurrah (awal) Ramadhan (megengan) dst…..” (al-Mawa’izh wal-I’tibar bi dzikril-Khuthath wal Atsar: 1490)

2. Mufti Diyar al-Mishriyyah yang dulu, Syaikh Muhammad ibn Bukhait al-Muthi’i berkata: “Sesungguhnya orang pertama yang mengadakan mauludan di Kairo adalah para Khalifah Fathimiyyah, yang pertama sekali dari mereka adalah al-Muiz Lidinillah (pada tahun 362 H). (Ahsanul Kalam Fima Yata’allaq bis Sunnati wal Bid’ati minal Ahkam: 44)

3. Syaikh Ali Mahfuzh, salah seorang ulama besar Mesir berkata: “Dikatakan bahwa yang pertama kali mengadakan mauludan di Kairo adalah para khalifah Fathimiyyah di abad ke-4. Mereka membuat bid’ah 6 maulid: maulid Nabi, maulid Imam Ali, maulid Sayyidah Fathimah al-Zahra`, maulid Hasan, maulid Husain, dan maulid Khalifah al-Hadhir (yang ada).” (Al-Ibda’ fi Madharr al-Ibtida’: 251; Hasan Ibrahim Hasan, Tarikhul Islam, 3/454))

4. DR. Hasan Ibrahim Hasan (mantan Rektor Universitas Asyuth) dan DR. Thaha Ahmad Syaraf (Pemeriksa materi-materi kemasyarakatan di departemen pendidikan) dalam kitab mereka yang berjudul Al-Muiz Lidinillah, di bawah judul perayaan-perayaan dan pesta, mengatakan: “Sesungguhnya al-Muiz ikut bersama-sama rakyatnya merayakan Tahun Baru Hijriyyah, maulid Nabi, malam awal Rajab, pertengahan Rajab, awal Sya’ban dan Nishfu Sya’ban, dan musim awal Ramadhan agar tidak membangkitkan perasaan benci di hati ahlis sunnah dan untuk mendekatkan jarak perbedaan antara Sunnah dan Syiah. Al-Muiz juga memanfaatkan hari-hari besar ini untuk menyebarkan madzhab Ismaili dan akidahnya. Oleh karena itu, ia juga merayakan hari Asyura` untuk menghidupkan peringatan wafatnya Husain, sebagaimana ia menghidupkan hari kelahiran banyak imam, peringatan maulid khalifah al-Qaim bil Amr. Begitulah al-Muiz menjadikan perayaan hari-hari besar ini sebagai sarana untuk menarik simpati rakyat dan untuk menyebarkan madzhab Ismaliyyah.” (Al-Muiz Lidinilah: 284)

5. Dan masih banyak lagi para ulama yang menyatakan hal serupa, seperti Ustadz Ali Fikri dalam kitabnya al-Muhadharat al-Fikriyyah, Syaikh Ismail al-Anshari dalam kitabnya al-Qaul al-Fashl fi Hukmil Ihtifal Bimaulid Khairil Rusul, Syaikh Ibnu Mani’ dalam bantahannya terhadap Alwi al-Maliki, dan ulama-ulama lain seperti yang disebutkan oleh Syaikh DR. Masyhur Hasan Salman dalam komentarnya terhadap kitab al-Baits ala Inkari al-Bida’ wal Hawadits, halaman 96.

Siapa banu Ubaid itu?

Banu Ubaid yang mengaku sebagai fathimiyyun, tidak diakui oleh para ulama sebagai keturunan ahlul bait, bahkan mereka mengingkari dan menghukumi mereka sebagai orang zindiq sesat. Berikut ini sebagian kesaksian ulama:

1. Al-Baqillani al-Syafi’i (al-Qodhi Abû Bakar al-Baqillaniy ; Muassis kedua bagi madzhab al-Asy’arî, belajar dari 3 murid Imâm al-Asy’arî; Abû ‘Abdillâh at-Thâ’i, Abû `l-Hasan al-Bâhilî dan Abû ‘Abdillâh as-Syirazi (371 H). al-Baqillani digelari Syaîkhu `s-Sunnah, wafat di Baghdad tahun 403 H), dia berkata: هُمْ قَوْمٌ يُظْهِرُوْنَ الرَّفَضَ، وَيُبْطِنُوْنَ الْكُفْرَ الْمَحْضَ “Mereka adalah kaum yang menampakkan penolakan (kepada khalifah Abu Bakar dan Umar) dan menyembunyikan kekufuran murni.” (mengutip dari Ibn katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah: 11/387)

2. Ibnu Katsir As-Syafi’i ad-Dimisyqi (774 H). Dia berkata: “Yang menjadi raja dari mereka pertama kali adalah al-Mahdi, dia seorang tukang besi dari Salimiyah. Dia adalah seorang Yahudi yang masuk ke Negeri Maghrib dan menyebut dirinya dengan Ubaidillah. Dia mengaku-aku sebagai Syarif Alawi Fahimi (orang mulia keturunan Ali dan Fatimah, kalau di Indonesia disebut Habib). Dia mengaku sebagai Imam Mahdi. Kedustaan al-kadzdzab ini ternyata laris di kalangan orang-orang bodoh di Maghrib. Akhirnya ia punya negara dan membangun kota yang disebut al-Mahdiyyah. Ia menjadi raja yang ditaati yang menampakkan penolakannya kepada (khulafaur rasyidin) dan menyembunyikan kekufuran murni.

Ia diganti oleh putranya al-Qaim Muhammad, kemudian putranya al-Manshur Ismail, kemudian putranya al-Muiz. Dialah yang pertama kali masuk Mesir, dan membangun kota Kairo dan istana-istana (lalu memelopori mauludan). Kemudian putranya al-Aziz Nizar, kemudian putranya al-Hakim Manshur, kemudian putranya al-Thahir Ali, kemudian putranya al-Mustanshir Muid, kemudian putranya al-Musta’li Ahmad, kemudian putranya al-Aamir Manshur, kemudian putra pamannya al-Hafizh Abdul Majid, kemudian putranya al-Zhafir Ismail, kemudian al-Faiz Isa, kemudian putra pamannya al-Adhidh Abdullah. Dia adalah yang terakhir. Jadi, jumlah mereka 14 raja selama rentang waktu lebih dari 280 tahun. (297-567/909-1171).

Raja-raja Fathimiyyah adalah penguasa yang paling kaya, paling congkak paling kejam, raja-raja paling najis, perjalanan mereka paling keji. Pada masanya negara dipenuhi oleh bid’ah dan kemungkaran, banyak orang jahat, sedikit orang shalih baik ulama maupun ubbad. Di wilayah Syam banyak orang Kristen, Duruz (kaum zindik kebatinan) dan Hasyisyiyyah.” (diringkas dari al-Bidayah wan-Nihayah) Intinya menurut Ibnu Katsir, orang-orang fathimiyyah itu adalah “kafir, fasik, fajir (bejat), mulhid (atheis), zindiq, pengingkar dan penentang Islam, serta meyakini akidah Majusi.” (al-Bidayah wan-Nihayah: 11/46)

3. Abu Syamah, sejarawan yang ahli hadits, dalam kitabnya al-Raudhatain Fi Akhbar al-Daulatain (200-202), berkata tentang Fathimiyyin Ubaidiyyin: “Mereka menampakkan diri kepada manusia sebagai para Habib Fathimi sehingga mereka mnguasai negara dan menindas manusia. Para ahli ilmu menyebutkan bahwa mereka tidak layak menjadi penguasa dan nasab mereka tidak benar. Yang benar, mereka adalah Banu Ubaid. Orang tua Ubaid adalah dari keturunan al-Qaddah al-Majusi, ada yang mengatakan al-Yahudi berasal dari Salamiyyah dari negri Syam, seorang tukang besi.

Ubaid ini namanya Said. Ketika memasuki Maghrib mengaku bernama Ubaidillah dan mengaku sebagai keturunan Ali dan Fathimah. Tidak seorangpun dari para ulama nasab yang menulis tentang nasab Alawi yang menetapkananya, bahkan mereka menyebutkan yang berbeda dengannya. Kemudian keadaan terus meningkat hingga menjadi raja dan bergelar al-Mahdi. Dia membangun kota al-Mahdiyyah di Maghrib. Dia seorang zindik kotor musuh Islam, menampakkan diri sebagai orang Syiah (pro ahlul bait) dan menyembunyikan diri dengannya, berambisi melenyapkan agama Islam. Banyak para ahli fikih dan ahli hadits yang dibunuh….

Ini adalah petaka bagi Islam sejak awal kerajaan mereka hingga akhirnya yaitu dari Dzulhijjah tahun 299 H hingga 567 H. Pada zamannya banyak kaum Rafidhah dan kuat cengkramannya. Mereka mewajibkan pajak atas manusia, menjadi percontohan bagi yang lain (dalam kezaliman pajak). Mereka merusak akidah masyarakat desa dan pegunungan yang tinggal di perbatasan Syam seperti Nushairiyah, Duruz (Durziyah) Hasyisyiyah… Pada zamannya orang Eropa banyak mencaplok negri yang ada di Syam dan Jazirah hingga Allah menganugerahi umat Islam dengan munculnya keluarga Atabiki seperti Shalahuddin al-Ayyubi, maka mereka dapat mengambil kembali negri yang telah dijajah oleh kaum Salib, dan melenyapkan Dinasti Ubaidiyyah ini dari leher masyarakat.

Mereka menyebut Daulah Fatimiyyah dan Daulah Alawiyyah padahal ia adalah Daulah Majusiyyah atau Yahudiyyah Bathiniyyah Mulhidah (atheis). Di antara keburukan mereka adalah memerintahkan para khathib untuk menyebut mereka di khutbah-khutbah, bahwa mereka adalah keturunan Ali dan Fatimah. Mereka menulis hal itu di dinding masjid dan lainnya.

Budak mereka Jauhar (as-Shaqalli, w. 358)) yang menaklukkan Mesir dan membangun Kairo (al-Muizziyyah) untuk mereka berkhutbah sendiri dengan mengatakan: “Ya Allah berselawatlah atas hamba-mu dan wali-mu, buah hati nubuwwah, dan keturunan al-Hadiyyah al-Mahdiyyah Muid Abu Tamim al-Imam al-Muiz Lidinillah Amirul Mukminin, sebagaimana engkau bersalawat atas leluhurnya yang suci dan nenek moyangnya yang pilihan, para imam yang rasyidin.” Telah berdusta musuh Allah ini, tidak ada kebaikan padanya maupun pada pendahulunya juga pada keturunannya, sedangkan keluarga dan keturunan Nabi tidak ada kaitannya dengan mereka.

Dia bergelar al-Mahdi -semoga Allah melaknatnya-, dia mengangkat orang-orang bodoh untuk membunuh para ulama dan fuqaha dan kaum muslimin. Dia banyak berbuat zhalim, merampas, dan memnbunuh. Dia memiliki para dai yang menyesatkan manusia sesuai dengan tingkatan mereka. Mereka berkata pada sebagian orang: “Dia adalah al-Mahdi putra Rasulullah dan Hujjah Allah atas manusia.” Berkata pada yang yang lain, “Dia adalah Rasulullah dan hujah-nya.” Berkata pada yang lain, “Dia adalah Allah Maha Pencipta dan Maha Memberi Rizki.” Lailaha illalllah, tidak ada sesembahan yang benar selain Allah, Maha suci Allah dari ucapan orang zhalim ini. Ketika ia binasa, digantikan oleh anaknya yang lebih jahat dan kejam lagi. Dia terang-tengaan mencaci maki para nabi. Dia berteriak di pasar-pasar kota al-Mahdiyyah dan lainnya, “Laknatilah Aisyah dan suaminya, laknatilah gua (Hira) dan isinya.” Semoga Allah bershalawat kepada nabi-Nya , para sahabatnya, dan para istrinya yang suci, dan semoga Allah melaknat para fajir yang atheis tersebut. (secara ringkas)

Mengapa mereka mebuat perayaan maulid? Minimal ada 3 alasan yang melatarbelakangi pengadaan acara mauludan, yaitu: 1. Untuk meyakinkan masyarakat bahwa nasab mereka benar-benar berasal dari  ahlul bait.

2. Memikat hati rakyat, karena mereka menghamburkan uang dan makanan serta hiburan di hari itu untuk masyarakat, sehingga mereka selalu menunggunya dan merindukannya, terus menjadi akidah di hati mereka. Begitu cerdik dan liciknya Bani Ubaid ini. Mereka mengetahui bahwa orang Mesir sangat menyukai samar dan pesta malam, maka mereka mengadakan ini untuk memuaskan perasaan orang-orang Mesir secara keagamaan dan untuk membesarkan gerakan tasawwuf.

3. Menyibukkan masyarakat sehingga tidak memeliki kesempatan untuk mengoreksi penguasa. Hal ini dikemukakan oleh Ustadz Jamal Badawi dalam Kitab Fathimiyyah Daulah al-Tafariih wat-Tabariih.

Karena Daulah Ayyubiyyah yang didirikan oleh Shalahuddin al-Ayyubi memahami tujuan-tujuan politik yang buruk ini maka acara maulid ini dilenyapkan.

Dan untuk tujuan politik yang serupa, sejarawan Abdurrahman al-Jabarti menyebutkan bahwa Napoleon Bonaparte sangat perhatian pada acara mauludan ini pada tahun 1213 H/ 1798, melalui pengiriman biaya mauludan sebesar 300 Real Perancis ke kekediaman as-Syaikh al-Bakri (pimpinan para Asyraf/ habaib di Mesir) di kampung al-Azbikiyyah. Dia juga mengirim jidor besar serta kendil-kendil (lampu-lampu). Dan di malam hari diadakan pesta kembang api untuk merayakan hari kelahiran Nabi . Pada tahun berikutnya Napoleon juga melakukan hal yang sama untuk memikat hari rakyat Mesir yang doyan perayaan malam agar senang kepada misi Perancis dan para komandannya.!!

Tujuan politik melalui acara mauludan masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak sekali para pemimpin politik mendukung dan mendanai acara maulud dan yang serupa maupun perkumpulan-perkumpulan shufiyyah untuk melancarkan misi dan tuntutan mereka yang tidak ada kaitannya dengan Islam. Sehingga tidak heran jika di antara pengunjung maulud di Mesir adalah duta besar Amerika!!

Sungguh mengherankan! Yang menanam benih akidah Syiah dan Rofidhoh adalah orang Yahudi, Abdullah ibn Saba`. Dan yang memelopori maulid adalah kaum Ubaidiyyah anak keturunan Yahudi Ubaidillah ibn Maimun al-Qaddah!!

Oleh Agus Hasan Bashori Lc., M.Ag. dari Majalah Qiblati

Footer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s