Renungan

Renungan Hari Asyura


Keutamaan-Bulan-MuharramTuhanku, hanya bagiMu segala puji yang berulang

Selamanya, dan tidak untuk siapa pun selain Engkau

Wahai Yang menumbuhkan bebunga wangi berkembang

Takkan rugi kapan pun orang yang mendoa dan berhadapkepada Engkau

 

Amma ba’du,

Sungguh, dialah al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib –semoga limpahanrahmat dan ridha selalu terlimpah kepadanya dan kepada ayahnya-, cucu dan raihanahjiwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia dan saudaranyaadalah 2 penghulu kaum muda penghuni surga.

Ia datang bagai tetes air yang jernih…bagai sekuntum bunga yangmekar…bak sebatang pohon yang indah yang disirami dengan air ilmu dan ibadah.Dan seperti itulah keadaannya, hingga ia syahid pada hari itu dalam keadaanterzhalimi.

Duhai, kita sungguh berlepas diri kepada Allah dari siapa pun yang relaterhadap pembunuhannya; entah di zaman itu atau setelahnya hingga Hari Akhir!

Tapi…

Apakah puasa pada Hari Asyura adalah sebuah bid’ahyang diciptakan oleh Bani Umayyah, sebagai wujud kegembiraan mereka atasterbunuhnya al-Husainalaihissalam??!

Atau apakah ia adalah sesuatu yang telah disyariatkansebelum kewajiban puasa Ramadhan, lalu kewajibannya dihapus (dinasakh)oleh puasa Ramadhan??

Apakah ia telah disyariatkan di zaman Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam dan hingga hari ini ia tetap disyariatkan??

Beruntung atau merugikah orang yang meninggalkannya??

Untuk menjawab itu semua, bacalah kalimat-kalimat berikut ini…

DALIL-DALILDISYARIATKANNYA PUASA ASYURA

 

1.      Dari Abu al-Hasan alaihissalam,ia mengatakan:

صام رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يوم عاشوراء

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasapada Hari Asyura.”

(Lih. Tahdzib al-Ahkam 4/29, al-Istibshar 2/134, Wasa’il al-Syi’ah7/337, Jami’ Ahadits al-Syi’ah 9/475, al-Hada’iq al-Nadhirah 13/370-371, ShiyahAsyura hal. 112)

2.     Dari Ja’far, dari ayahnya alaihimassalam,bahwa ia berkata:

صيام يوم عاشوراء كفارة سنة

“Puasa pada Hari Asyura itu akan menghapuskan dosasetahun.”

(Lih. Tahdzib al-Ahkam 4/300, al-Istibshar 2/134, Jami’ Ahaditsal-Syi’ah 9/475, al-Hada’iq al-Nadhirah 13/371, Wasa’il al-Syi’ah 7/337)

3.     Dari al-Shadiq rahimahullah, iaberkata:

من أمكنه صوم المحرم فإنه يعصم صاحبه من كل سيئة

“Barang siapa yang memungkinkan baginya berpuasa bulanMuharram, maka itu akan melindungi pelakunya dari segala kejahatan.”

(Lih. Wasa’il al-Syi’ah 7/347, al-Hada’iq al-Nadhirah 13/377, Jami’Ahadits al-Syi’ah 9/474)

4. Muhammad bin Muslim bin Zurarah bin A’yun pernah bertanya kepada AbuJa’far al-Baqiralaihissalam tentang Puasa Asyura, lalu ia menjawab:

كان صومه قبل شهر رمضان فلما نزل شهر رمضان ترك

Dahulu ia dilaksanakansebelum bulan Ramadhan, namun ketika turun (kewajiban puasa) bulan Ramadhan,maka ia pun ditinggalkan (baca: tidak wajib lagi).”

Kemudian juga dinukilkan dari rujukan-rujukan di atas, dari Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam,beliau bersabda:

إن أفضل الصلاة بعد صلاة الفريضة الصلاة في جوف الليل ,وإن أفضل الصيام من بعد شهر رمضان صوم شهر الله الذي يدعونه المحرم

“Sesungguhnya shalat yang palingutama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malam. Dan sungguh puasaterbaik setelah (puasa) bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang merekasebut (sebagai) Muharram.”

Jadi inilah perkataan para imam yang telah demikian jelas disebutkandalam rujukan-rujukan utama Syiah. Sanadnya jelas, demikian pula paraperawinya.

Inilah kitab-kitabnya, dan inilah ucapan serta para imam yang mulia itu.

Lalu masih adakah orang berakal yang akan mengatakan: bahwa Puasa Asyuraitu adalah sebuah bid’ah dan kesesatan??!

Puasa Asyura adalah sunnah di setiap tahunnya.

“Dan sungguh telah ada dalam diri Rasulullah teladanyang baik bagi kalian.” (al-Ahzab: 21)

Mungkin ada yang akan berani mengatakan: “Sanad hadits ini mengandung ‘illat(penyakit), hadits ini lemah!” Ini sama sekali tidak aneh. Karena iniadalah muslihat kuno dan jalan yang sesat.

Namun sebuah hati yang jujur dan tulus akan terus berjalan di alam rayaini…ia berjalan…penuh semangat…terus mencari kebenaran.

Hati yang beriman akan selalu merdeka dan terbebaskan. Ia tidak akanmeninggalkan kebenaran meski teriakan-teriakan memenuhi pendengarannya…meskibegitu banyak tekanan dan ancaman yang mengintainya…Itu semua sama sekali tidakbernilai apa-apa baginya. Karena ia selalu mencari kebenaran, melintasi ruangdan waktu.

 

UNGKAPAN-UNGKAPANPARA IMAM AHLUL BAIT

TENTANGPAHALA PUASA ‘ASYURA

 

Wahai para pecinta Ahlul Bait!

Kini telah tiba saatnya bagimu untuk mulai meraba jalanmu, berlarimenuju Allah, bersimpuh di hadapanNya, memohon pertolongan hanya padaNya, bersandardan bertawakkal hanya padaNya, serta meminta padaNya dengan hati yang tundukdan air mata yang menetes, agar Ia memperlihatkan kebenaran untukmu danmengaruniakan kekuatan padamu untuk mengikutinya.

Mintalah agar Ia menunjukkan jalan yang lurus kepadamu; yaitu jalanorang-orang yang diberi nikmat, dan bukan jalan orang-orang yang sesat lagidimurkai.

Carilah Sunnah Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam, danperhatikanlah apa yang dikatakan oleh Imam kita, ‘Ali alaihissalam tentangPuasa Asyura yang menghapuskan dosa:

Dari ‘Ali alaihissalam, ia berkata:

صوموا يوم عاشوراء التاسع والعاشر احتياطاً، فإنه كفارةالسنة التي قبله، وإن لم يعلم به أحدكم حتى يأكل فليتم صومه

“Berpuasalah kalian pada hari Asyura, (hari) ke 9 danke 10 untuk berjaga-jaga, karena ia akan menjadi penghapus dosa bagi tahunsebelumnya. Dan jika seorang dari kalian tidak mengetahuinya sampai ia makan,maka hendaklah ia menyempurnakan (melanjutkan) puasanya.” (Lih. Mustadrakal-Wasa’il 1/594, Jami’ Ahadits al-Syi’ah 9/475)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

إذا رأيت هلال المحرم فاعدد، فإذا أصبحت من تاسعه فأصبحصائماً قلت ( أي الراوي):كذلك كان يصوم محمد صلى الله عليه وآله؟ قال: نعم

“Apabila engkau melihat hilal bulan Muharram, makabersiaplah (berhitunglah). Maka bila engkau telah tiba di pagi harikesembilannya, maka masukilah pagi itu dalam keadaan berpuasa. Saya (perawi) bertanya:‘Seperti itukah dahulu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa?’ Iamenjawab: ‘Iya’.” (Lih. Iqbal al-A’mal hal. 554, Wasa’ilal-Syi’ah 7/347,Mustadrak al-Wasa’il 1/594, Jami’ Ahaditsal-Syi’ah 9/475)

Perhatikanlah bahwa riwayat-riwayat Puasa Asyura justru datang darijalur-jalur sanad yangmu’tabar (dipercaya) di kalangan Syiah. Sementarariwayat-riwayat yang menyebutkan pelarangannya justru datang melalui jalursanad yang lemah. Dan hal ini telah diakui oleh Syekh al-Haj al-Sayyid MuhammadRidha al-Husainy al-Hairy dalam bukunya, Najat al-Ummah fi Iqamah al-‘Aza’‘ala al-Husain wa al-Aimmah (Cetakan Qum, Iran, 1413 H, hal, 145-146, 148)

Hadits-hadits Syiah yang menjelaskan bahwa Puasa Asyura terlarang karena“Ibnu Mirjanah, Alu Ziyad dan orang-orang Syam” berpuasa di hari itu untukmengungkapkan kegembiraan mereka atas kematian al-Husain alaihissalam jelasmerupakan riwayat-riwayat yang harus dikritisi.

Riwayat-riwayat ini bertentang dengan dalil-dalil naqli danargumentasi rasional.

Secara naqli, jelas sekali ia bertentangan dengan riwayat-riwayatshahih dari para imam Ahlul Bait yang disebutkan di atas.

Secara rasional, pensyariatan Puasa Asyura terjadi jauh sebelumterbunuhnya al-Husainalaihissalam.

Itulah sebabnya, al-Muhaqqiq Syekh Muhammad Ja’far Syams al-Dinmengatakan dalamHasyiyah-nya setelah menyebutkan hadits yangdiriwayatkan ‘Abd al-Malik saat ia bertanya kepada Abu ‘Abdillah alaihissalamtentang Asyura: “Hadits ini dhaif menurut pandangan yang masyhur.”

 

MERENUNGLAH SEJENAK!BERPIKIRLAH SEBENTAR!

Saudaraku…

Apakah setelah semua penjelasan ini: engkau masih lebih mengedepankanperkataan manusia atau perkataan Sayyid (pemimpin) mereka, Muhammad shallallahu‘alaihi wa sallam?

Siapa pun yang menginginkan surga, maka ia tidak akan mengikuti apapunselain kebenaran, meskipun ia harus menyelisihi seluruh manusia di bumi ini!

‘Menghidupkan’Hari Kematian al-Husain alaihissalam?

SeharusnyaKita Juga ‘Menghidupkan’ Hari Kematian Sosok yang Lebih Mulia Darinya!

Sesungguhnya kematian al-Husain alaihissalam adalah musibah.Bahkan musibah yang teramat besar. Tapi lebih daripada itu adalah kematian Imam‘Ali alaihissalam. Bahkan yang lebih lagi daripada itu adalah kematianRasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Tetapi…

Mengapa kita tidak ‘menghidupkan’ hari kematian Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam?Bukankah itu lebih besar dan berat dari terbunuhnyaal-Husain alaihissalam?

Mengapa al-Hasan dan al-Husain tidak melakukan perayaan duka tahunanatas kematian ayahanda mereka, Imam Ali alaihissalam?

Bukankah beliau lebih baik dari al-Hasan dan al-Husain??

Tidakkah ini menggelitik nalar dan nuranimu untuk segera menyadaribagaimana jerat sorban-sorban hitam itu memintal bid’ah dan kesesatan dikepalamu??

 

Apa yangSeharusnya Engkau Lakukan Saat Ditimpa Musibah?

Menjadi kewajiban seorang muslim saat mendapatkan musibah untukmengatakan dan melakukan apa yang dikatakan Allah dalam FirmanNya:

“Orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah,mereka berkata: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ Sesungguhnya kami adalahmilik Allah dan sesungguhnya kami hanya kepadaNya akan kembali.’” (al-Baqarah:156)

Lalu Imam Ali alaihissalam mengatakan:

من ضرب فخذه عند مصيبة فقد حبط عمله

“Barang siapa yang memukul-mukulpahanya ketika ditimpa musibah, maka sungguh telah terputus amalnya.” (Lih. Nahjal-Balaghah 4/34)

Ja’far al-Shadiq alaihissalam juga mengatakan:

من ضرب يده على فخذه عند المصيبة فقد حبط أجره

“Barang siapa yangmemukul-mukulkan tangannya ke pahanya saat (mendapatkan) musibah, maka sungguhtelah putus pahalanya.” (Lih. Wasa’il al-Syi’ah 7/347, al-Hada’iqal-Nadhirah 13/377, Jami’ Ahadits al-Syi’ah 9/474)

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang melakukan lebih dari itu semuasaat ‘merayakan’ Hari Asyura?

Bagaimana dengan mereka yang meraung-raung kesetanan saat itu?

Apakah semua itu adalah ajaran para Imam Ahlul Bait?

Demi Allah, berikanlah satu dalil saja untuk membuktikan jika perayaandan ratapan itu adalah sunnah para Imam Ahlul Bait!

 

SikapSeorang Mukmin atas Terbunuhnya

 Imam al-Husain alaihissalam

Ingatlah selalu bahwa Imam al-Husain –semoga Allah selalu meridhai danmerahmatinya- adalah seorang syahid, dan bahwa musibah kematian yang menimpanyaadalah sesuatu yang telah ditakdirkan dan ditulis oleh Allah Ta’ala.

Ingatlah pula bahwa semua ratapan dan apapun yang kau lakukan ataskematiannya sama sekali tidak akan mengubah apa pun yang telah ditakdirkanNya.

Kesyahidannya telah berlalu ratusan tahun yang lalu, sehinggakemarahanmu tidak akan mengubah apa pun.

Jadi yang harus engkau lakukan sekarang adalah bersabar dan menyerahkansemuanya kepada Sang Penciptanya.

Diriwayatkan dari Yahya bin Khalid:

Ada seorang pria datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalubertanya: “Apakah yang dapat memutuskan pahala saat musibah?” Maka beliau punmenjawab:

تصفيق الرجل يمينه على شماله , والصبر عند الصدمة الأولى, من رضي فله الرضا , ومن سخط فله السخط

“Tepukan tangan kanan seseorangke tangan kirinya. Dan kesabaran itu (terbukti) ketika hantaman/timpaan(musibah) pertama kali. Maka barang siapa yang ridha, maka baginya keridhaan(Allah). Namun siapa yang marah (kecewa), maka baginya kemurkaan (Allah).” 

Beliau juga bersabda:

أنا بريء ممن حلق و صلق ورفع صوته

“Aku berlepas diri dari orangyang mencukur rambut dan bulunya serta mengeraskan suaranya (saatmusibah-pent).” (Lih. Jami’ Ahadits al-Syi’ah 3/489, Mustadrakal-Wasa’il1/144)

Dalam keterangan lain, disebutkan dari Imam Ali alaihissalam:

ثلاث من أعمال الجاهليةلا يزال فيها الناس حتى تقوم الساعة: الاستسقاء بالنجوم، والطعن في الأنساب،والنياحة على الموتى

“Ada tiga yang termasuk amalan-amalan Jahiliyah yangmasih selalu dilakukan manusia hingga Hari Kiamat terjadi: meminta hujan kepadabintang-bintang, mencela/melontarkan tuduhan pada nasab orang lain dan meratapiorang-orang yang telah meninggal dunia.”(Lih. Bihar al-Anwar 82/101),Mustadrak al-Wasa’il 1/134-144, Jami’ Ahadits al-Syi’ah 3/488)

Demikianlah…

Semoga engkau sadar bahwa mereka hanya memperbodohkanmu atas nama AhlulBait…Mereka bukanlah pengikut Ahlul Bait…Jika tidak percaya, tanyakanlah kepadamereka: dari mana mereka tahu bahwa ajaran yang mereka perintahkan padamu benar-benarterbukti dari Ahlul Bait?

Semoga Allah mengumpulkan kita semua bersama Rasulullah, para Ahlul Baitdan para pecintanya di dalam Surga.

_____________________________________________________________________________

DI HARIASYURA,

BERHENTILAHSEJENAK DAN MERENUNGLAH…!

Editor: Abu‘Ali al-Sajjad

Sumber : Diambil dari Facebok Ustadz Muh. Ihsan Zainuddin

Iklan

2 thoughts on “Renungan Hari Asyura”

  1. saya pribadi menikmati tulisan2 anda,walau banyak yg sy tidak setuju,tapi paling tidak pengetahuan sy bertambah,bid’ah bid’ah … bosan juga denger kata2/urusan itu,mengingat masih terlalu banyak hal2 yg lebih urgent,kalo mau jujur bid’ah yg paling terlihat skarang adalah sebuah negri yg diambil alih oleh sebuah ‘klan’ dan dinamai dgn nama keluarga,
    apakah itu di-perbolehkan dlm Islam,ato itu termasuk bid’ah yg trpaksa di-boleh-kan,
    cape juga yaa…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s