Kekhalifahan dan Keutamaan Umar al-Faruq


Umar-Bin-Khattab

(Ilustrasi)

(102) Kemudian (kekhalifahan itu kami tetapkan) untuk Umar bin Khaththab—semoga Allah meridhainya.

Matan di atas adalah penggalan matan ke-102—dan masih akan dilanjutkan pada beberapa edisi mendatang, insya Allah. Seperti penggalan sebelumnya, matan ini menegaskan keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah tentang keutamaan para shahabat, khususnya yang disebut oleh Rasulullah sebagian calon penghuni surga, dan kali ini adalah al-Faruq Umar bin Khaththab. Akidah ini berbeda dengan akidah Syi’ah yang selain membenci Umar bin Khaththab, mereka juga menyatakan kefasiqan, kemunafikan, dan kekafiran beliau. Mereka pun menyebut beliau sebagai berhala Quraisy kedua setelah Abu Bakar ash-Shiddiq.

Gelar al-Faruq
Abu Umar Dzakwan berkata, “Kepada Aisyah aku bertanya, ‘Siapa yang menggelari Umar dengan al-Faruq?’ Baca lebih lanjut

Daurah Syar’iyyah bersama Syaikh Abdullah Az-Zaidani (Murid Syaikh al-Utsaimin rahimahullah)


books21-640x480Sehubungan dengan kedatangan Syaikh Abdullah Az-Zaidani (Murid Syaikh al-Utsaimin rahimahullah) ke Makassar,maka diundang kepada seluruh Kaum Muslimin, Ikhwah dan Akhwat untuk mengikuti Daurah Syar’iyyah pada Hari Selasa, 08 April 2014 mulai pukul 13.00 di Masjid Durul Hikmah (Belakang Kantor DPP Wahdah Islamiyah – Antang) yang akan membahas Syarah Qawaidh al Arba’ karya Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhab.

Sebarkan….!

Sumber Info : FB Ustadz Syaibani Mujiono

Ahlussunnah dan Pemilu


Ahlus Sunnah dan PemiluSalah satu kriteria ahlussunnahwaljamaa’ah adalah komitmen mereka terhadap sunnah dan kesatuan jamaah.

Olehnya itu seharusnya dalam menyikapi persoalan ummat seharusnya keberpihakan dan perhatian mereka kepada kemaslahatan ummat haruslah didahulukan.

Alangkah sedihnya untuk sebuah masalah “Pemilu” sikap ahlussunnah dan para tokohnya berbeda-beda. Tidak ada kesatuan visi, kebersamaan pandangan terhadap pentingnya keikutsertaan dalam pemilu. Semua pihak kokoh mempertahankan pendapat masing-masing dan “enggan” meninggalkan pendapatnya yang tentunya masih dapat dikompromikan untuk kemaslahatan ummat.

Apa jadinya ahlussunnah pada masa yang akan datang jika keadaan negara jauh lebih genting, di saat ahlulbathil berkuasa dan mencengkeramkan kuku-kukunya di wilayah Indonesia. Kalau untuk kasus pemilu saja ahlussunnah belum bisa melakukan koordinasi yang kuat, apalagi dalam agenda yang lebih besar…??? Baca lebih lanjut